Aside
6

i-miss-you-i-need-you-i-love-you

I NEED YOU…

Donghae butuh Narin – sama seperti matahari membutuhkan langit sebagai tempatnya bersandar.

Saat tubuhnya terasa berat, yang Donghae lakukan adalah mendatangi Narin. Narin adalah tempat yang ia tuju saat ia membutuhkan seseorang untuk meringankan bebannya.

Donghae akan membaringkan tubuhnya yang terasa sakit di sofa berwarna coklat tua milik Narin dan memandangi gadis yang duduk tak jauh darinya, yang seperti malam-malam biasa, sibuk berkutat dengan kertas-kertas dan tugas kuliahnya.

Saat tanpa sadar menarik nafas panjang, Narin akan langsung menelusup dibelakangnya, memeluk tubuhnya erat. Kedua tangan Narin akan melingkar di bahunya, menariknya, hingga Donghae akan menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada gadis itu.

Narin akan menarik dagu Donghae dan menatap kedalam matanya. “Ada sesuatu yang mengganggumu.” Nada suara gadis itu bukan sedang bertanya. Dan Donghae tak tahu bagaimana caranya Narin bisa menebak hal seperti itu hanya dengan melihat matanya.

Narin akan kembali memeluknya erat seakan-akan mengatakan ia akan aman dalam pelukannya. “Kau mau aku bertanya atau kau mau aku diam saja?”

Donghae menjawab pertanyaan itu dengan membenamkan wajahnya di lengan Narin yang memeluknya erat.

“Baiklah. Aku akan duduk manis disini dan mengunci bibirku rapat-rapat. Begitu kan??”

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya.

Narin meletakkan dagunya diatas bahu Donghae, kemudian berbisik di telinganya, “Kalau kau memerlukan bahuku, kiri dan kanan semua milikmu.”

 

Donghae butuh Narin – seperti ombak yang selalu datang mencari pantai karena tak ingin sendiri.

Malam sudah larut, dan Donghae merasa sangat kesepian. Di negara lain, di kamar hotel tempatnya menginap setelah mereka menyelesaikan Super Show, Donghae berbaring sendiri. Dingin dan kesepian.

Donghae membutuhkan Narin.

Donghae menunggu hingga suara nada sambung diseberang sana berganti menjadi suara gadis yang begitu ingin ia dengar. Setelah menunggu beberapa lama tanpa ada suara, Donghae melirik jam dan memutuskan untuk menyerah.

Saat hendak menutup teleponnya, terdengar suara riang gadis itu.

“Hey,,”

Donghae mendesah lega setelah akhirnya bisa mendengar suara itu. “Aku kesepian.” bisiknya pelan.

Terdengar suara dengusan diseberang, Donghae sangat yakin kalau gadis itu pasti sedang menertawakan tingkah konyolnya.

“Konyol. Bukankah aku selalu ada?”

 

Donghae butuh Narin – seperti secarik kertas membutuhkan sebuah pensil untuk mengisi kekosongan.

Sebelum bertemu Narin, dalam lembaran hidupnya hanya ada jadwal latihan, jadwal manggung, jadwal drama, jadwal variety show, jadwal concert, fansign, iklan dan lainnya. Seperti itulah jadwal hidup seorang Lee Donghae berulang hari demi hari.

Namun Narin datang dan mulai menyisip masuk disela-sela jadwal hidupnya yang monoton, memberi warna-warni dan surprise yang membuatnya bisa tersenyum.

Nde, gomapseumnida…

Donghae tersenyum pada gadis yang sengaja datang untuk meminta tanda tangannya di acara fansign sore itu. Senyum itu bukanlah senyum biasa miliknya melainkan senyum yang sudah ia latih selama hampir 9 tahun belakangan ini. Senyum yang akan ia keluarkan saat ia sudah merasa sangat letih dan jenuh.

Gadis itu tersenyum, kemudian melonjak-lonjak kegirangan sambil berkali-kali mengucapkan ‘oppa saranghaeyo…‘, ‘oppa narang kyeronhaeyo..‘ dan Donghae lagi-lagi memasang senyum palsunya. Gadis itu akhirnya beranjak pergi setelah Manager hyung menariknya menjauh.

Lelah. Ia hanya ingin semuanya cepat selesai. Hingga ia bisa melanjutkan ke schedule berikutnya dan berikutnya dan berikutnya.

Donghae menarik nafas panjang. Suara manager terdengar memanggil gadis berikutnya yang mengantri meminta tanda tangan.

Donghae langsung menarik album yang disodorkan gadis itu padanya tanpa terlebih dahulu tersenyum, ia sudah tak lagi punya energi untuk berpura-pura tersenyum.

Cepat-cepat ia membuka halaman dimana wajahnya terpampang jelas agar ia bisa menandatanganinya. Terselip sebuah notes didalamnya.

Donghae membacanya dan terkesiap. Ia mendongak dan menemukan Narin yang sedang tersenyum hangat dan mengedipkan mata padanya. Donghae yang tak menyangka kalau Narin akan datang di acara fansignnya shock untuk beberapa waktu, namun kemudian tersadar dan membalas senyuman gadis itu.

Ia memberikan sign-nya di album Narin dan menuliskan sesuatu di bawahnya. Ia menyodorkan album itu kembali pada Narin dengan tidak rela, namun manager sudah menyuruhnya untuk bergerak sedikit lebih cepat.

Narin menerima kembali album miliknya kemudian tersenyum dan melambai pergi, Donghae membalas lambaian itu dan memandangi punggung Narin hingga menghilang diantara kerumunan orang banyak.

Donghae tersenyum lebar. Senyum miliknya. Senyum asli milik Lee Donghae. Kini ia siap menjalani jadwal berikutnya dan berikutnya.

saranghae

 

Donghae butuh Narin – seperti malam gelap butuh bintang untuk memberikan setitik cahaya terang.

Donghae meringkuk dengan kedua tangan diatas kepala berusaha melindungi tubuhnya dari cengkraman tangan orang-orang yang ingin menyentuhnya. Tangan-tangan itu menarik bajunya, tangannya, lengannya. Berusaha menyentuh dan meraih wajahnya, rambutnya, seluruh tubuhnya. Mereka tersenyum padanya, namun senyum itu seakan-akan mengatakan kalau ini adalah hari terakhirnya.

Donghae berusaha melarikan diri, tapi orang-orang itu sudah mengepungnya. Ia tak punya jalan keluar. Kepalanya pusing. Tak ada udara. Ia tak bisa bernafas. Ia butuh udara. Donghae mencengkram lehernya. Ia akan mati. Ia akan….

“Hae-hae!!!.. Hae-hae!!”

Donghae membuka matanya, nafasnya tersengal-sengal. Rambut dan keningnya basah dengan keringat. Donghae memandang ke sekelilingnya. Tidak ada orang-orang seperti zombie yang mengerumuninya seakan-akan ingin memakannya. Hanya ada Narin yang kini berjongkok sambil memandanginya cemas.

“Mimpi buruk??” tanya Narin cemas. Tangan Narin bergerak menghapus keringat yang membasahi wajahnya. Setelah beberapa lama, Donghae akhirnya tersadar kalau ia tertidur di sofa cream di ruang tengah dorm Narin saat menunggui gadis itu mandi sehabis pulang dari kampusnya.

Donghae mengangguk. Kedua tangan Narin menariknya kedalam pelukan.

Gwenchanna, hanya mimpi buruk.” bisik gadis itu dengan suara yang menenangkan. Tangan Narin itu mengelus elus punggungnya hingga Donghae merasa aman.

“Aku pasti menjagamu.” janji gadis itu.

 

Donghae butuh Narin – seperti dirinya yang butuh udara untuk hidup karena Narin adalah… hidupnya.

Narin berjalan mondar-mandir di dapur kecil yang ada di dormnya. Ia sedang sibuk memasak cream spaghetti untuk makan malam. Tadinya Narin hanya ingin sesuatu yang simple untuk malam ini, ramyun sudah cukup. Tapi ternyata seseorang datang tiba-tiba dan merengek meminta dimasakkan cream spaghetti. Dan seseorang itu kini sedang duduk malas-malasan di bangku tinggi di balik konter dapurnya, dengan sebelah tangan menopang dagu.

“Hhhh~~” Narin mendesah. “Tadinya kupikir kau akan ikut membantu memasak. Ternyata kau hanya duduk malas-malasan saja. Benar-benar…” Narin menggeleng-geleng sambil membuka kemasan keju dan mulai memarutnya. “Apa menurutmu, duduk dan mengamati itu termasuk membantu, eh Lee Donghae??”

Narin membersihkan pinggiran piring dari saus yang berlepotan kemudian meletakkannya diatas konter, “Cream spaghetti, kkeut…” ucapnya.

Narin mendongak sambil tersenyum memandangi Donghae, namun kemudian berubah cemas saat melihat Donghae yang terus menatapnya. Dan kalau dipikir-pikir sejak tadi Donghae sama sekali tidak bergerak dari posisinya sejak ia mulai memasak. Sejak tadi Narin bisa merasakan tatapan Donghae bahkan dari balik punggungnya.

“Hey… ada masalah??” tanya Narin khawatir. Ia berjalan memutari konter dan berdiri di hadapan Donghae. Tangan kanan Narin kini berada di pipi Donghae.

Donghae tersenyum, membuat Narin menarik nafas lega. “Hanya baru menyadari sesuatu.”

“Apa itu??”tanya Narin.

Donghae tersenyum lebih lebar, menarik tangan Narin yang ada di pipinya dan mengecupnya. “Rahasia.”

I Need You.

 

-enD-

udah laaaaaammaaa bgt gak mampir ke haelien home, terakhir x sejak itu hae-hae pergi meninggalkan saya dan saya pun meninggalkan haelien home. Hahahha…

But today, i really miss Lee Donghae en sambil dengerin lagu Hyorin-lonely, saya nulis ini.

Buat yang masih sering mampir kemari, annyeong… Being an adult is difficult and reality keep calling me, makes me have no time melarikan diri ke dunia maya…

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

6 thoughts on “I Need You…

  1. Kyaaaaa, akhirnya eonnie update juga ^^ miss you! ^^
    Suka banget sama ff ini terutama pas bagian fansign sama yang masak spaghetii itu😀 keren ^^. So sweet banget. KIra-kira nnti ada part giliran Nara yang bilang dia butuh Hae juga ga ya?😀 semoga ada deh ^^

    Semangat terus eonnie!!!! ^^ aku akan tetap setia menunggu tulisanmu berikutnya😀

    • Hahaha…
      Saya juga kaget saya punya inspirasi buat nulis lagi, hahahahhaha….

      Narin… bukan Nara… ada gak ya partnya Narin?? entar kalo kesambet buat nulis lagi, mungkin bisa.. tapi gak janji.. haha..

      Terimakasih bnyk lho, mau nungguin.. walaupun gk tau kapan update lagi.. I love youuuu ♥♥♥♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s