Aside
3

I Miss You…

image

Narin bergerak dengan sangat perlahan setelah yakin kalau ia mendengar dengkuran pelan Donghae yang tertidur di sofa ruang tamunya. Ia kemudian meraih kamera polaroid miliknya yang kebetulan ada didekat sofa dan mulai mengambil foto Donghae yang sedang tertidur sambil berusaha menahan tawanya.

Setelah puas Narin kemudian mengambil sebuah kotak dan kemudian mengisinya dengan hadiah ulang tahun yang sudah sebulan ini ia persiapkan. Sebuah syal berwarna biru tua yang ia rajut sedikit demi sedikit sampai dia harus bergadang beberapa hari agar bisa menyelesaikan seluruhnya.

Narin memeluk syal itu dan menciumnya. Ia lalu membungkusnya dengan hati-hati dan sangat perlahan berusaha agar Donghae tidak terbangun. Narin meraih laci meja kemudian mengambil secarik kertas dan pena. Tubuhnya membeku saat ia melihat Donghae bergerak dari sudut matanya. Narin pun membalikkan badan dan bernafas lega saat melihat Donghae yang bergerak hanya untuk membenamkan kepalanya lebih dalam ke sofa.

Tak bisa menahan diri, tangannya terulur dan mengelus rambut hitam Donghae yang menutupi matanya. Rambut indah yang akan menghilang esok pagi. Narin tersenyum sedih, menahan diri untuk tidak menangis. Lagi.

Narin kembali meraih pena dan mulai menulis,

 

사랑하는 Lee Donghae,

Aku tahu aku tak akan mungkin bisa mengucapkan ini semua dihadapanmu. Lagipula kau tidak akan mungkin membiarkanku mengatakannya tanpa menertawakanku. Jadi kuputuskan untuk menulis surat saja.

Happy Birthday, Lee Donghae. Aku tak tahu entah apa yang ada di pikiranmu sehingga memilih hari ini jadi hari keberangkatanmu untuk pergi wajib militer. 

Kau membuatku bingung. Sangat bingung. Kau membuatku harus menyukai hari ini karena ini hari ulang tahunmu, tapi di saat yang bersamaan juga harus membenci hari ini karena hari ini kau akan meninggalkanku untuk waktu yang sangat lama. 

Aku juga tak tahu apa harus tersenyum sambil memberimu hadiah, atau harus memukulmu karena sudah membuatku menangis dan meninggalkanku sendirian. Tapi tentu saja aku akan memakluminya. Memangnya siapa yang tahu apa isi otak dari seorang alien aneh sepertimu.

Lee Donghae, 

Aku menulis ini sambil memandangimu yang sedang tertidur di sofa ruang tamuku, dengan air liur yang menetes dari sudut bibirmu, tenang saja aku akan menyimpan fotonya baik-baik.

Aku menulis sambil berpikir, bisakah aku tanpamu selama 2 tahun? Bisakah aku tanpa mencarimu selama 2 tahun? Atau bisakah aku berhenti membutuhkanmu untuk waktu yang cukup panjang itu? Bahkan saat menulis ini, aku merindukanmu.

Sudah begitu banyak waktu yang kulewatkan dengan menatap punggungmu yang pergi menjauh. Pergi dan meninggalkanku. Aku masih ingat bagaimana dulu aku selalu diam-diam menangis di bandara setiap kali mengantarmu pergi untuk concert atau hal lainnya. Seharusnya aku sudah terbiasa. Karena aku tahu pada akhirnya kau pasti akan kembali. 

Tapi apa yang bisa kuperbuat? Disetiap angin yang berhembus menusuk kulitku. Disetiap musik yang terdengar. Di setiap langkah yang kupijak. Di setiap memoriku, hari-hariku. Aku tak tahu, tapi aku membutuhkanmu. Aku tak tahu kenapa duniaku bergantung pada kehadiranmu.

Donghae-ah,

Di setiap sudut rumahku, aku bisa melihat bayangmu. Di sofaku, di dapurku, setiap gelas yang kupegang, televisiku, mimpiku, kau selalu ada. Kemana aku harus pergi agar aku tak merindukanmu?

Bahkan setelah sekian lama aku masih selalu berpikir betapa beruntungnya aku memilikimu. (Bukannya aku tidak pernah mengingatkan kalau kau bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dariku.)

Hae-hae,

Banyak sekali yang kutakutkan saat nanti kau pergi. Aku takut tak lagi bisa mendengar tawa riangmu yang selalu kusukai. Aku takut tak lagi bisa mendengar bisik lembutmu yang selalu membuatku tersenyum. Aku takut tak lagi ada orang yang bisa kucari setiap kali hujan turun. Dan aku takut tak lagi bisa melihat dua mata bening yang selalu membuatku jatuh cinta. Aku ragu apa aku bisa bertahan tanpa itu semua.

Lee Donghae,

Dua tahun tidaklah sebentar. Dan untuk waktu yang panjang itu harus kuakui, akan sangat berat bagiku tanpamu. Esok dan esok lagi, aku harus terbiasa tanpa memanggil namamu. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Hanya saja aku berharap kau bisa cepat kembali. Tapi tentu saja kau tidak akan bisa mempercepat masa wamilmu hanya karena aku merindukanmu.

Jadi aku akan menunggumu. Seperti yang selama ini selalu kulakukan setiap kali kau pergi. Kau tau aku cukup baik dalam hal menunggu, ya kan? 

Sekali lagi Happy Birthday Hae-hae. Selama sebulan belakangan ini aku diam-diam belajar merajut. Aku membuatkan syal untuk hadiah ulang tahunmu agar kau tetap hangat di musim dingin ini. Aku tahu militer bukanlah hal yang mudah untuk orang yang gampang kesepian sepertimu, jadi aku akan berdoa agar kau punya banyak teman disana. 

Kalau kau merasa kesepian, bayangkan kalau aku sedang memelukmu dan menghapus air matamu, karena itulah juga yang akan kulakukan selama kau tak ada disampingku. Dan berjanjilah, cari aku kalau kau butuh seseorang. Aku ini kan pendengar yang baik.

사랑해 내 사랑, Lee Donghae~~..

 

Seseorang yang akan selalu merindukanmu,

 

Yeonngie~

 

P.S Aku akan cari cara agar tak terlalu merindukanmu, walau aku takut tak akan bisa menemukannya…

 

3 thoughts on “I Miss You…

  1. Eonnie >< FF-nya….. huweeeee T_T kangen sama tulisan eonnie😀 keren eonnie, penasaran sama reaksi Hae setelah nerima kado dan baca suratnya Narin, ada sequelnya ga eon?😀 Semoga Hae ngajak Narin ketemuan dan kasih pelukan ke Narin ^^ Nice ff eonnie ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s