[OneShot] Call Me (^_-)

Call Me Note

“Tolong nadanya dinaikkan sedikit.”

Pemuda yang sedang berdiri di tengah ruangan recording itu melakukan seperti apa yang diperintahkan. Ia memejamkan mata, menarik nafas panjang dan menarik nada tinggi memamerkan urat-urat leher yang membuatnya tampak begitu sexy. Narin tak tahu bagaimana caranya ia masih sanggup menahan diri untuk duduk diam di kursinya.

Setelah beberapa kali retake dibagian refrain dan bridge, Narin menyimpan rekaman suara terakhir yang ia perlukan dan meraih microphone yang ada disamping kirinya. “Sudah selesai untuk hari ini Donghae-ssi. Kau sudah bekerja keras. Kamsahamnida.”

Penyanyi solo bernama Lee Donghae yang masih berdiri di ruang recording yang tertutup rapat kemudian membungkuk dan mendekati microphone dan mengucapkan terima kasih berkali-kali lalu berjalan keluar.

Narin tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak memandangi pemuda itu. Wajah pucatnya yang tanpa noda, rambut hitamnya yang lembut, tulang rahangnya yang tajam, senyum manisnya yang tampak tulus dan tatapan matanya yang tampak begitu teduh. Donghae juga sangat baik hati dan perhatian terhadap orang-orang disekitarnya. Ia tidak pernah marah atau komplain walau Narin menyuruhnya mengulang bait lagu yang sama berkali-kali. Donghae juga sering bertanya pada Narin apa ia bisa menolong sesuatu (yang membuat Narin tersipu dan menjawab dengan terbata-bata). Donghae juga terkadang membelikan Narin makan siang atau cappuccino hangat kesukaannya. Tak jarang juga Donghae datang di pagi hari dengan sekotak susu strawberry yang kemudian diletakkannya di hadapan Narin. Bagi Narin hanya satu kata untuk menggambarkan Lee Donghae. Perfect.

Narin sudah hampir 5 tahun menjadi seorang sound editor, dan sudah ratusan project lagu yang ia kerjakan. Ia memang tidak menciptakan lagu tapi ia sudah tahu akan menjadi seperti apa lagu itu hanya dengan mendengar penjelasan dari penciptanya. Tak jarang sang pencipta lagu tak bisa hadir saat rekaman studio dan disinilah keahlian Narin dibutuhkan. Hanya dengan beberapa permintaan dari sang pencipta lagu, ditambah guide song dan keahlian dari sang penyanyi, maka terciptalah sebuah lagu.

Sudah banyak penyanyi terkenal maupun yang masih pemula yang diarahkan oleh Narin, tapi tak ada yang membuat jantungnya berdegup kencang seperti setiap kali ia melihat Lee Donghae. Hampir semua penyanyi lain yang bekerja sama dengannya berwajah tampan, tapi baru Lee Donghae yang membuat Narin untuk pertama kalinya dimarahi Jonghyun sunbae karena lupa menekan tombol record saking terlalu asik memandangi sang penyanyi.

Sebagai seorang wanita, Narin cukup cantik. Ia masih muda namun sudah memiliki pekerjaan yang menjanjikan. Beberapa penyanyi lelaki berusaha mendekatinya namun Narin hanya tersenyum dan menolak dengan sopan ajakan dari mereka. Narin tak pernah berpikir untuk menjadi kekasih seorang public figure. Beban yang harus ditanggung terlalu berat. Harus menjadi sorotan kamera, cercaan para fans dan hidup yang tak akan pernah bebas. Alasan klise, karena Narin tau alasan sebenarnya adalah ia tidak tertarik pada mereka.

Namun Donghae berbeda. Ada sesuatu hal yang spesial tentang Lee Donghae yang membuat Narin seakan-akan terhanyut. Entah itu wajahnya yang tampan, kepribadiannya yang baik, kerendahan hatinya atau tatapan matanya atau suara lembutnya atau mungkin kombinasi dari semuanya, Narin tak mengerti. Yang ia tahu pasti ia punya perasaan lain pada penyanyi tampan itu dan Narin tak tahu apa yang harus ia perbuat dengan perasaan itu.

Narin memasang headphone di telinganya dan mulai mendengarkan satu persatu hasil rekaman hari ini. Dengan mata terpejam Narin tersenyum. Bahkan walau Donghae salah menyanyikan nada, namun suaranya tetap terdengar begitu indah, lembut dan menenangkan. Kalau saja Narin punya pilihan, ia akan menyimpan semua rekaman suara Donghae yang tidak masuk seleksi, mengumpulkannya jadi satu dan menjadikannya sebuah album pengantar tidur, lullaby, miliknya sendiri. Sungguh angan-angan yang menyenangkan. Namun Narin tak ingin Donghae menganggapnya seorang stalker gila kalau sampai ia ketahuan.

Narin kembali fokus mendengarkan track selanjutnya. Track dimana Donghae menarik nada terlalu tinggi hingga saat ditengah-tengah suaranya terdengar meliuk turun dan Donghae pun tertawa kencang setelahnya. Suara tawanya yang terekam membuat Narin ikut tersenyum. Dari balik kelopak matanya yang tertutup, ia bisa membayangkan wajah Donghae yang tertawa kencang hingga matanya menutup. Begitu tampan dan membuatmu tak henti untuk tersenyum.

Karena terlalu asik dengan khayalannya, Narin tak mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

“Bagaimana rekamannya?”

Narin terlalu terkejut sampai ia melompat dari kursi dan menarik lepas headphone yang masih menempel di telinga dari jack audio komputernya. Narin berbalik dan dengan cepat menarik mundur wajahnya saat menyadari betapa dekatnya wajah Donghae yang sedang menunduk memandangi komputer miliknya.

“Joh… Joh… Maksudku bagus. Semuanya bagus. Kau penyanyi yang hebat.”

Narin menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat dirinya terlihat seperti gadis aneh. Ia hampir saja mengucapkan ‘Johahaeyo’ pada seorang Lee Donghae.

Donghae tersenyum. Senyum indah yang Narin harap bisa ia lihat setiap hari. “Senang mendengarnya.” ucap Donghae. Ia pun menarik tangan Narin dan menyodorkan segelas kopi ukuran Large yang sejak tadi dipegangnya ke tangan Narin. Narin mendongakkan kepalanya dan memandangi Donghae bingung. “Sudah malam. Jangan bekerja terlalu keras dan itu Mocha Frapuccino untuk menghangatkan badan.”

Narin yang terlalu terpaku tak lagi bisa merespon dengan benar. Beruntung kepalanya masih mengangguk.

“Kalau begitu aku pulang sekarang. Terima kasih atas kerja kerasnya. Sampai jumpa besok.”

Donghae menepuk puncak kepala Narin dua kali kemudian melambai pergi sambil tersenyum. Narin balas melambaikan tangannya kemudian berbalik menghadap komputernya dengan wajah memerah.

Dari semua staff yang bekerja di studio rekaman, ia memang yang paling muda. Semua orang selalu berbicara informal padanya dan menganggapnya dongsaeng. Tapi belum pernah ada yang menepuk-nepuk kepalanya seperti itu.

Narin memutar-mutar Frapuccino yang diberikan Donghae. Ia menarik kertas berisi nomor telepon coffee shop yang menempel dibawahnya dan mengamatinya sesaat. Ia pun tersenyum lebar dan menyimpan kertas itu kedalam tasnya, berjanji akan menjadi langganan baru coffee shop itu.

59198hrthuy4syh
….

Cho Narin sebenarnya gadis yang pemalu, tapi entah keberanian apa yang membuatnya menginginkan nomor telepon seorang Lee Donghae. Narin selalu membayangkan bagaimana rasanya mendengarkan suara lembut Donghae melalui telepon. Apakah ada yang berbeda? Apa akan terdengar selembut aslinya atau justru jauh lebih lembut dari itu? Membayangkan Donghae mengucapkan ‘Jaljayoo’ padanya sesaat sebelum ia tertidur atau sesekali saat ia sedang gila, membayangkan Donghae menyanyikan sebuah lagu untuknya melalui telepon. Benar. Ia pastilah sudah gila.

“Narin-ssi, kau baik-baik saja?”

“Eh??”

“Aku memanggilmu beberapa kali, tapi kau…. Apa ada masalah?”

“Err, itu.. tidak. Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Ya, ada yang bisa kubantu?”

“Err—itu, aku… maksudku, kau—apa… apa kau suka susu strawberry?” Narin mendorong kotak susu yang tadi memang sengaja dibelinya sebagai pengganti makan siang pada Donghae sambil mengutuki bibirnya yang tak pernah berbicara dengan benar disaat-saat genting seperti ini. Akibatnya sekarang Donghae memandanginya seakan-akan ia gadis aneh. “Maksudku… itu karena kau selalu membelikanku kopi jadi aku ingin membalasnya.”

Donghae tertawa, “Tak perlu seperti itu. Itu hanya sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah bekerja keras mengerjakan albumku.”

“Tetap saja—“

Donghae tersenyum, “Jangan terlalu memikirkannya.” Donghae mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk puncak kepala Narin yang hanya sebatas bibirnya itu, membuat Narin makin bersemu merah.

Donghae berbalik saat manager memanggilnya, “Maaf, aku harus pergi. Masih ada schedule lain.” Donghae membuka karton susu yang diberikan Narin dan meneguk isinya kemudian tersenyum, “Dan terima kasih susunya. Aku sangat menyukainya.” Dan ia pun pergi bersama manager yang sudah menunggu, meninggalkan Narin yang masih terpaku dengan senyum manis Donghae hingga melupakan misinya untuk mendapatkan nomor telepon.

59198hrthuy4syh

“Donghae-ssi ini cd yang kau cari!” ucap Narin mengulurkan sebuah album cd penyanyi lama era 60-an pada Donghae. Matanya menatap ke segala arah selain ke arah Donghae.

Donghae menaikkan sebelah alisnya namun hanya sejenak karena setelah itu ia memekik girang, “Wahh.. aku tak tahu kau memilikinya Narin-ssi. Aku sudah lama sekali mencarinya.” Donghae membuka sampul cd yang dipegangnya dengan mata berbinar-binar. “Tapi– darimana kau tahu aku sedang mencarinya? Rasanya aku tak pernah—“

“Err– itu..itu…” Narin tergagap. Bagaimana kalau Donghae tahu kalau ternyata ia mendengarkan percakapan Donghae dengan Kim Jonghyun, komposer senior mereka. Bisa-bisa Donghae menganggapnya salah satu sasaeng fansnya.

Saat itu Narin sedang mengerjakan track ke-7 di album Donghae. Dengan headphone besar di telinganya, ia memastikan tak ada sound yang berisi noise yang merusak lagu. Tiba-tiba saja Jonghyun, yang duduk disebelah Narin memanggil Donghae mendekat. Narin walaupun dengan telinga tertutup headphone besar masih bisa mendengar suara langkah kaki Donghae dan itu membuatnya gelisah. Tangannya bergerak mempause sound yang sedang berjalan dan dengan mata yang melekat pada layar monitor komputer, Narin diam-diam mendengarkan percakapan mereka.

“Itu… Jonghyun sunbae yang tanpa sengaja menceritakannya padaku..” ucap Narin setelah akhirnya menemukan alibi yang terasa pas.

“Lalu apa kau memberikan ini untukku?” tanya Donghae penuh harap.

“Ya. Tentu saja. Aku memberikannya untuk Donghae-ssi.”

“Benarkah? Apa kau yakin? Bagaimana denganmu?”

“Tak apa. Aku sudah punya copy-annnya..”

Tiba-tiba Donghae menarik tangan Narin dan meremasnya pelan. “Gomawoyo Narin-ssi.. Aku pasti menggunakannya dengan baik.” Donghae memberikan senyum malaikatnya pada Narin. “Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi terima kasih.”

Setelah akhirnya Donghae pergi meninggalkan Narin yang meremas-remas tangannya yang terasa panas baru Narin tersadar kalau usahanya sepanjang hari mengobrak-abrik toko vintage yang ada di Hongdae demi mendapatkan cd tahun 60-an sia-sia sudah karena pada akhirnya ia lupa menanyakan nomor telepon Donghae.

59198hrthuy4syh

Sepanjang minggu Narin berjalan dengan percaya diri ke arah Donghae namun harus berakhir dengan dirinya yang bertingkah bodoh atau mengucapkan hal-hal aneh.

‘Kenapa menanyakan itu susah sekali!!?’ Narin menyeruput capuccino yang baru saja dibelinya dari coffee shop yang ada disamping studio dengan kesal. Dia berjalan kembali ke studio sambil menendang batu-batu kecil tak bersalah yang menghalangi jalannya. Hari ini tak ada bedanya dengan hari-hari kemarin. Hari ini juga ia sudah bertingkah bodoh didepan Donghae. Karena saat Donghae menatap matanya saat itu juga semua nyalinya terbang melayang.

Narin berhenti sejenak. Didepan studio berdiri seorang gadis yang sangat cantik sedang sibuk dengan ponselnya. Melihat dari postur tubuhnya dan penampilannya, gadis itu pasti bukanlah gadis biasa. Tubuhnya tinggi kurus dan berkulit pucat. Wajahnya yang kecil dan matanya yang bulat membuat Narin yakin gadis itu pasti berteman baik dengan aegyeo.

Saat berjalan melewati gadis itu Narin merasa sikunya ditarik pelan.

“Err– maaf apa kau bekerja di studio ini?” suara gadis itu terdengar riang.

Tidak cukup wajahnya yang cantik, bahkan suaranya juga, tipe suara yang membuat lelaki pasti tidak akan segan-segan mengabulkan apapun permintaannya. Lembut dan terdengar manja.

Nde?? Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Narin setelah berhasil mengusir pergi semua rasa irinya.

“Apa kau kenal dengan Lee Donghae? Eh, tentu saja kau mengenalnya. Maksudku, apa dia sedang ada di studio? Aku sudah berusaha meneleponnya tapi tak diangkat juga. Dia memang selalu seperti itu kalau sudah berhubungan dengan musik. Seharian ini apa kau sudah melihatnya?”

Gadis itu berbicara cepat, sesekali menggumam pada dirinya sendiri. Senyum manis tak pernah hilang dari wajahnya. Gadis itu juga tampak ramah. Kalau saja gadis itu tidak sedang mencari Donghae, Narin pasti akan senang berteman dengannya.

“Ya, Donghae-ssi ada didalam. Apa kau mau aku memanggilnya?” Walau enggan, bagaimanapun juga Narin tak punya alasan untuk tidak membantu gadis itu.

Gadis itu tersenyum lebar, “Kalau kau tidak keberatan tentu aku akan berterima kasih sekali.”

“Kalau aku boleh tahu, dari mana… maksudku bagaimana aku harus memberitahunya?”

“Bilang saja kalau kekasihnya datang.”

Narin terbatuk, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering, “Ke.. Kekasih??”

Eung.” Gadis itu mengangguk masih dengan senyum lebarnya.

Narin terpaku beberapa saat ditempat. Ia tidak seharusnya terkejut. Orang se-perfect Donghae tidak mungkin tidak memiliki kekasih. Dan memiliki kekasih secantik gadis dihadapannya ini pastilah hal yang sangat wajar bagi Donghae.

“Kalau begitu aku masuk dulu. Aku akan langsung memberitahunya kalau kau datang mencari.”

Narin berlari masuk ke studio. Ia melemparkan kopinya yang masih berisi ke bak sampah yang dilewatinya. “Tentu saja… tentu saja… Aku tidak seharusnya cemburu..” gumamnya berkali-kali sambil berjalan kearah Donghae yang sedang berbicara dengan Jonghyun, menduduki kursi kerja Narin yang memang terletak tepat disebelah meja kerja Jonghyun.

“Err—Donghae-ssi…” panggil Narin.

Donghae langsung berdiri dengan cepat, “Ah, maaf aku sudah menduduki kursimu tanpa ijin.” ucap Donghae sambil menggaruk pipinya.

Narin mengibaskan tangan, “Anieyo. Ada seseorang di luar yang sedang mencarimu.”

“Seseorang?”

“Katanya dia kekasihmu.” Narin mendecak pelan, tak suka mendengar kata-kata itu meluncur dari bibirnya.

Donghae mengerutkan keningnya beberapa saat, namun kemudian menepuk kedua tangannya dan tersenyum lebar, seakan berhasil mengingat sesuatu yang menyenangkan.

“Jadi dia benar-benar datang? Benar dia ada diluar?” ucap Donghae bersemangat, “Gomawoyeo Narin-ssi.” Donghae menepuk punggung Narin pelan kemudian berlari meninggalkan studio.

Melihat wajah riang Donghae membuat Narin merasa kesal. Ia tidak seharusnya seperti ini. Donghae bukanlah miliknya. Benar, dia memiliki perasaan pada Donghae, tapi bukan berarti Donghae juga harus punya perasaan padanya. Narin mendesah panjang. Walau ia berusaha berpikir secara logika tapi tetap saja ia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa cemburu.

“Jonghyun sunbae, aku sedang tidak enak badan. Bolehkah aku pulang lebih cepat? Besok aku pasti datang lebih awal. Aku janji. Annyeonggigaseyeo~~” tanpa menunggu jawaban dari Jonghyun, Narin menarik tasnya dan menyudahi harinya di studio.
….

59198hrthuy4syh
….

Narin berjalan masuk ke studio dengan lesu. Setelah dua hari absen dari studio dan menyuruh asisten untuk menggantikannya, hari ini Narin memutuskan untuk masuk kembali. Selama dua hari itu ia habiskan dengan bermalas-malasan di sofa barunya. Menonton drama favoritnya dan termenung. Memberikan waktu untuk dirinya yang sedang patah hati. Walau terdengar seperti anak remaja belasan tahun tapi Narin harus mengakui kalau ia memang sedang patah hati.

Selama dua hari berpikir panjang, satu-satunya solusi yang ia temukan adalah jarak. Narin harus menjaga jarak dari Donghae agar patah hatinya bisa sedikit berkurang. Dan hal itu harus ia mulai dari sekarang.

Langkah awal yang dilakukan Narin untuk menjaga jarak adalah dengan meminta Jonghyun menggantikannya menjadi editor Donghae saat rekaman. Beruntung Jonghyun langsung mengiyakan tanpa bertanya apapun.

Hari pertama Jonghyun menggantikan pekerjaanya, Narin sibuk dengan usaha mengabaikan tatapan penuh tanya Donghae yang tertuju padanya dari dalam ruang recording. Saat Donghae berjalan keluar dari ruangan, dengan cepat Narin meraih gelas kopinya dan berjalan keluar.

Hari-hari berikutnya Narin hanya menjawab ‘iya’ dan ‘tidak’ setiap kali Donghae menanyakan sesuatu padanya. Tak jarang ia hanya mengangguk atau berpura sedang sibuk dengan pekerjaannya. Setiap kali Donghae berjalan kearahnya, secepat mungkin Narin pergi menghindar atau menarik seseorang untuk berbicara. Namun Donghae bukannya menyerah justru tampak semakin gigih. Narin sering kali mendapati, dari sudut matanya, Donghae sedang mengamati dirinya yang berusaha fokus dengan rekaman suara yang dikerjakannya.

Hal ini terus berlangsung sampai akhirnya Donghae tak bisa menahan diri lagi. Dia diam-diam mendatangi Narin yang sedang berbicara dengan Jonghyun, membelakanginya. Ia bergerak pelan agar Narin tidak sadar dengan kedatangannya dan tak punya waktu untuk menghindar. Jonghyun hanya menaikkan alis melihatnya yang berjalan mengendap-endap.

“Ehhmm..” Donghae berdeham pelan agar Narin melihatnya, “Narin-ssi, bisa kita bicara sebentar?”

Narin yang tak menyangka Donghae sudah berdiri disampingnya terpaku sesaat namun kemudian melirik kesekelilingnya mencari cara untuk kabur. “Tapi… Tapi aku sedang ada urusan serius dengan Jonghyun sunbae. Mianhae Donghae-ssi..” ucap Narin sambil menggerak-gerakkan alisnya memberi sinyal pada Jonghyun. Namun Jonghyun yang melihat sinyal itu hanya mengernyitkan kening. “Apa pembicaraan tentang eskrim di seberang jalan begitu serius??” tanyanya dengan wajah bingung.

Narin mengutuki sunbae-nya itu dalam hati karena sudah membuatnya terjebak dalam situasi yang sulit. Ia mendongak menatap Donghae yang memandangi dengan alis terangkat seakan-akan menunggunya memberikan alasan lain. Donghae kemudian menarik pelan Narin dari tempat duduknya dan membawanya ke ujung studio.

“Narin-ssi, apa aku sudah melakukan kesalahan padamu?”

Anieyo.” Narin menggumam pelan.

“Lalu kenapa kau menghindariku?”

“Aku tidak menghindarimu.” gumamnya lagi.

“Jelas kau menghindariku. Biasanya kau selalu bicara padaku. Tapi sekarang kau bahkan tak lagi mau melihat kearahku, seakan-akan aku punya penyakit menular. Kau juga menyuruh Jonghyun hyung menggantikan pekerjaanmu.”

“Aku hanya sedang sibuk.” Narin menunduk memandangi sepatunya yang entah bagaimana tampak sangat menarik.

“Jonghyun hyung orang paling sibuk di studio ini.” ucap Donghae mematahkan alasan Narin. Gadis itu terdiam sambil menggigiti bibir bawahnya.

“Lihat, bukankah kita berteman? Kalau aku punya kesalahan, kau bisa langsung mengatakannya padaku.” Narin menaikkan alisnya menatap Donghae. Mata Donghae tampak serius namun juga tampak seperti bingung.

“Aku hanya sound editor-mu. Kita bahkan masih bicara bahasa formal.”

“Tidak, kau temanku. Aku bicara formal karena kita hanya bertemu di lingkungan kerja. Mungkin kalau kita sesekali bertemu di luar studio, kita bisa… kita bisa saling mengenal… eh, lebih dekat lagi. “ Donghae menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Matanya bergerak-gerak kesekeliling berusaha menutupi dirinya yang salah tingkah.

Namun Narin yang sudah terlebih dahulu kehilangan harapan tidak melihat hal itu. “Tentu. Kita bisa keluar sesekali.” ucapnya dengan nada datar dan beranjak hendak pergi, namun Donghae kembali menarik lengannya.

“Aku tak mengerti.” ucap Donghae. Ada nada frustasi dari suaranya. “Apa salahku? Kenapa kau begitu berusaha keras menghindariku? Dulu hubungan kita cukup baik. Kenapa hanya dalam satu malam tiba-tiba kau melihatku seperti orang asing? Bahkan orang asing jauh lebih baik. Setidaknya kau tidak menghindari orang asing. Kau seperti ketakutan setiap kali melihatku.”

Johahanikka.”

“Eh??”

Johahanikka geuraeseo..” bisik Narin memandangi kakinya lagi.

Mwo…Mworago?”

Johahandago..” pekik Narin, membuat Donghae terkejut. Bahkan dirinya sendiri pun ikut terkejut. “Donghae-ssi johahaeyo. Setiap kali ada disampingmu, rasanya aku tak bisa berpikir dengan benar. Aku selalu melakukan hal-hal bodoh setiap kali kau bicara denganku. Aku selalu merasa gugup dan tak percaya diri setiap kali melihatmu. Bagaimana bisa kau tampak begitu sempurna sementara aku…aku– Lalu kupikir itu tak masalah. Kupikir aku mungkin punya kesempatan. Kemudian aku mencoba mencari cara agar bisa lebih dekat denganmu. Melakukan segala hal agar mendapatkan nomor ponselmu namun hanya– akhirnya hanya membuatku tampak seperti gadis aneh. Hingga akhirnya suatu hari aku melihatnya dan tahu aku tak punya harapan.” Narin menarik nafas panjang. “Naneun… geunyang andwaeyo.” lirihnya tampak kalah.

Wae andwaeyo??”

“Itu… karena aku tidak… Eh??” Narin yang tersadar dengan kata-kata Donghae, mendongak dan menatap Donghae yang menyilangkan kedua tangannya didepan dada dengan alis yang terangkat seperti yang dilakukannya didalam studio saat menantang Narin memberinya sebuah alasan.

“Wae andwaeyo?” ulang Donghae lagi.

Kedua alis tipis Narin mengerut bingung, “Donghae-ssi yeojachingu itjjanhaeyo..”

Yeojachingu?” Donghae mengernyitkan keningnya. “Obseoyeo.”

Isseoyeo. Gadis cantik seperti model yang kemarin datang ke studio. Dia sendiri yang bilang kalau dia itu.. kekasihmu..” ucap Narin dengan nada kesal tanpa ia sadar.

“Maksudmu Jinhee noona?? Dia bukan kekasihku. Dia itu tunangan hyung-ku.” ucap Donghae sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan berusaha untuk tidak tertawa. “Kau pikir dia kekasihku??”

“Dia sendiri yang mengatakannya..” gumam Narin pelan, memainkan kakinya ke lantai.

“Jinhee noona memang seperti itu. Dia selalu bilang aku lebih tampan dari hyungku, dan merasa sayang kenapa tidak aku saja yang jadi kekasihnya tapi malah jatuh cinta pada hyungku. Itu kenapa dia terkadang menyebutku sebagai namjachingu-nya walau tanggal pernikahan mereka sudah dekat. Kemarin itu yang pertama kalinya kami bertemu setelah mereka menikah.”

Narin mengedip, “Jadi kalau begitu…”

“Jadi aku senang kau memberitahuku, karena… na do Narin-ssi johahaeyo.”

Butuh waktu beberapa lama agar kata-kata itu meresap ke dalam otaknya. Kemudian Narin cepat-cepat berpegangan, hampir tersandung kakinya sendiri, karena yang benar saja

Mworago??” Narin memekik, dengan kedua mata melebar. Dia pasti sudah salah dengar, tidak mungkin Lee Donghae….

Donghae tertawa, “Aku serius. “ucapnya. “Na.., Narin-ssi johahaeyo. Dan aku sangat senang kau memberitahuku.” Donghae perlahan mengerutkan kening dan menambahkan. “Atau apa mungkin itu hanya sekedar— “

Annieyo!!” Narin setengah berteriak. “Annieyo. Na Donghae-ssi johahaeyo. Jjinjaro..”

Johta!!” Donghae tersenyum girang dan berjalan mendekat. “Karena aku sudah lama ingin melakukan ini.”

Dan sebelum Narin sempat memproses segalanya. Donghae meraih wajahnya kemudian mengecup sudut bibirnya dengan lembut.

Narin terpaku. Ini bahkan suatu hal yang tak pernah ia impikan. Lebih tepatnya, tak berani ia impikan. Bibir Donghae yang membentuk sebuah senyuman, tawa pelannya yang terdengar indah dan deru nafasnya yang menggelitik hidung. Narin rasanya benar-benar seperti sedang bermimpi. Mimpi indah.

Setelah Donghae menarik wajahnya, Narin merasa kepalanya berputar. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai-sampai ia meletakkan tangannya diatas dada. Itu karena Donghae berdiri begitu dekat, sambil tersenyum dengan bibir merah dan mata indahnya yang teduh, dan demi Tuhan, benar ini bukan mimpi?

Donghae melepaskan tangannya dari pipi Narin, namun sebagai gantinya meletakkan kedua tangannya di bahu gadis itu. “Kembalilah ke mejamu. Kau akan menemukan sesuatu.” ucapnya sambil mendorong bahu Narin pelan.

Narin yang masih belum sembuh dari shocknya, hanya bisa berbalik dan memandangi Donghae yang beranjak pergi sambil tertawa. Beruntung Narin masih sanggup mengangkat tangan saat Donghae melambai padanya dan meneriakkan ‘Sampai jumpa besok.’

Narin bergegas berlari ke mejanya dan menemukan secarik kertas yang menempel di layar monitor komputernya. Narin menarik kertas tersebut dan memandanginya hingga akhirnya menyadari kalau kertas itu tidak asing. Kertas itu adalah kertas yang berisi nomor telepon coffee shop tempat Donghae membelikkannya Frappucino beberapa waktu yang lalu. Kertas itu masih ia simpan dengan baik diatas meja belajarnya (dengan alasan ia akan menelpon coffee shop itu dan menjadi langganan baru walau sampai sekarang belum sempat ia lakukan). Hanya saja sekarang kertas itu ditambahi dengan tulisan ‘Call me‘ dan sebuah emoticon smile yang lucu.

Belum sempat berpikir lebih jauh, Narin terperanjat saat ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama dengan nomor yang sekarang dipegangnya.

“Narin-ssi, jangan menganggapku seorang stalker karena meminta nomor mu dari Jonghyun sunbae. Aku sudah lama ingin menelponmu, hanya saja karena kau begitu pemalu, aku takut kau merasa terganggu. Jadi diam-diam aku memberikan nomorku dan berharap kau akan menghubungiku. Aku tak menyangka kau akan mengira itu nomor telepon coffee shop. Karena sekarang kau sudah tahu, aku menunggu teleponmu. (^_-)

Narin meloncat dari kursi kerjanya dan menari-nari kegirangan. Saat Jonghyun mendekat, Narin menarik sunbae-nya itu dan mengajaknya berputar-putar.

Ya!!! Micheseo??

Nde!!! Na micheseoyo sunbaenim… Hahahaha”

 

 -enD-

Jjajan~~ Finally, postingan baru. Setelah berjanji bakal posting cepat, tapi ada aja halangannya..
antara lain hpku yg slama ini dijadikan modem is DEAD alias chugeosso (=_=)

En ternyata rindu juga baca komen2 dari err… para pengkomen (?), alias kalian-kalian yang baik hati dan rajin menabung yang sudah menyempatkan diri mau baca en ngomen, walau gak tau setelah lama gak muncul masih ada ato gak yang ingat buat mampir ke rumah alien ini. I just wish you still remember me…😀😀

En baru tau kalau Shindong oppa udah gak sama Nari onnie lagi… Ah sayangnya, padahal udh hampir married.. TT.TT Shindong oppa…. wae?? Padahal aku suka Nari onnie T_T (walopun tak tau gimana wajahnya.) Nari onnie Himnaesaeyo!!!

Dan kemarin donlod drama baru Haehae, bela-belain donlod yg HD quality, eh ternyata baru tau kalau dia gak muncul dri episode pertama.. tsk..tsk *poorme* Trus knapa msti film horror gitu sih? Gk bisa drama romance aja ya? Gimana nontonnya tuh tengah2 malam?? ==”

Nb. Yang gak ngerti arti bhasa koreanya tuh, kusaranin banyak banyak nonton drama ajah.. (^。^)

I MISS U ALL ^^

 

 

 

18 thoughts on “[OneShot] Call Me (^_-)

  1. Halo Noona annyeong ^^)/ udah lama gak menebar komen tak berguna di blog ini *terhura/? :”D

    Fanfic-nya bikin ngakak :v romantis gitu xD sesekali yang agak action dong noona x”D
    Aku cuman gak ngerti arti “Himnaesaeyo” =3=)v
    Totally keren :v

    Btw udah nonton konser D&E yang di Jepang ?

    • Alowww~~~
      saia juga udh lama gak menebar posting di home ini..😀

      Thank u, but action?? wah, request-an yg susah tu. Nulis romantis yg abal2 aja saia belum lulus, apalagi nulis action, yg msti detail gitu.. Mesti belajar keras dulu kayaknya tuh. ^;^

      Himnaesaeyo, artinya tetap semangat.

      BELUUUMMMM… Emang ada konsernya yang bisa didonlod?? kasih tau dunk linknya, biar aq donload..
      tapi bukan fancam kan??

      • Romantis dapet gitu feel-nya masa dibilang abal” –v Mesti dicoba nun :v pasti bisa deh buat perpaduan action-romance-comedy

        gak ada yg gak fancam –v

      • kalo dh dapat ide dulu deh baru dicoba, soalnya yg ini aja masih belum pede.. -v-

        fancam males nontonnya, suka pusing, abis goyang2..

  2. Akhrna ada cerita baru n beda
    Biasanya hae2 kan kyk bocah,manja alay lol
    Tp dsni dy lbh dwsa,sring2 gni dung
    Narin dsni jg g evil ma hae2
    Tgu ksah lainna deh,n da cho kyupil dung
    Psti lcu

    • Yeahhh,, akhirnya.. *phew*
      soalnya dia emang kayak bocah alay onnie, jadi susah membayangkan dia itu dewasa, kesannya jadi bukan seorang lee donghae.

      hahaha.. Cho kyupil?? aq juga rindu tuh ma dia..
      dah lama gak liat2 dia lagi..

  3. ih aku baru tau kalo Shindong g ama pacarx lagi, terus skrg gimana? balikan g? aduh aku nyari dimana “call me”nya e ternyata no yg dikira no t4(????) kopi itu udah nox Hae, Narin maka mau minta bersusah payah bgt padahal udah ditangan, akhirnya sama2 saling menyukai. untung blm ada yg punya, yo weslah

    • Kmren kan ada fotonya shindong jalan sama model pegangan tangan. Gak tau masih jalan pa gak…

      Iya, Narin nya agak lelet nangkep nya.. Hahaha…

  4. Ini manis banget. ><
    Jadi, merwka jadian?😀
    Mereka kea abg yg baru prtama kaki jth cinta ajah. Slng ngungkpn perasaan aja malu malu gitu. Tp disitu manisnua. ;;D

    • Thankyuuu….
      Udah lama gak maen ke wp, jadi gak tau ada komen. Maap ya baru balas..

      Biasa, si idongek kan umurnya aja yg udah tua. Sbenarnya masih anak abg itu dy. Malu2 tapi mau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s