[OneSpace] Mine!! Only Mine!!

donghae-cover-sfs-3

….

03 January 2014, Dorm 12–

“Oh,kau sudah datang??”

Donghae mendongak dari tempat duduknya didepan piano yang ada dikamarnya di dorm 12, tersenyum pada makhluk favoritnya yang berdiri bersandar pada pintu kamar dengan kedua tangan tersilang didepan dada dengan wajah tampak tidak senang namun bercampur cemas.

“Kau sakit dan tidak memberitahuku. Dan rasanya menyedihkan karena aku baru mengetahuinya dari sebuah blog. Kemarin kau meneleponku dan tertawa-tawa, membuatku tak tahu apa-apa padahal mungkin saja kau menelponku sambil berbaring di ranjang rumah sakit.”

Kalimat sepanjang itu Narin ucapkan dengan satu tarikan nafas, membuatnya sedikit terengah namun tetap berusaha mempertahankan ekspresi kaku di wajahnya. Namun Donghae yang tadinya sempat terkejut karena mendapat omelan kini malah tertawa kencang.

Narin berusaha tidak terpengaruh pada senyum manis pemuda dihadapannya. Walau wajahnya jelas terlihat lebih pucat dari biasa tapi senyum manis itu tidak berubah. Masih tetap membuat jantungnya berdetak aneh.“ Jangan tertawa Lee Donghae. Tidak ada yang lucu. Apa kau pikir dengan tertawa kencang seperti itu kau bisa membohongiku dan mengatakan kalau kau tidak sakit?”

“Aku tidak sakit.” ucap Donghae dengan senyum kecil di wajahnya.

Gotjimalhajima… Bukankah kau bilang kau tidak akan pernah membohongiku, Lee Donghae?”

“Karena aku memang tidak sedang berbohong, Cho Narin..” balas Donghae dengan nada yang sama yang digunakan Narin padanya. Senyumnya masih tetap melekat.

“Lalu kenapa sampai ada berita kalau masuk rumah sakit?”

“Hanya satu malam, bukan apa-apa..”jawab Donghae acuh sambil mengangkat kedua bahunya, seakan-akan itu hanya hal kecil. Dan memang itu hanya masalah kecil baginya. “Kemarin aku memang sakit, tapi sekarang tidak. Itu artinya aku tidak membohongimu.”

Narin mendesah berat, ekspresi kakunya kini benar-benar berubah, “Lee Donghae..” ucapnya cemas.

Donghae menjulurkan tangannya, mengisyaratkan Narin untuk mendekat, “Kemarilah..” Donghae memutar posisi duduknya hingga kini membelakangi piano dan mengalungkan kedua tangannya di pinggang Narin dan membenamkan wajahnya di perut gadis itu.

“Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir.” ucap Donghae tanpa mengangkat wajahnya hingga suaranya terdengar seperti gumaman namun masih terdengar jelas.

“Kau yakin??” tanya Narin, tangannya memainkan rambut hitam Donghae yang sedikit berantakan. Donghae mengangguk.

Narin mendesah lagi, “Kau benar-benar membuatku khawatir. Lalu apa itu enteritis? Apa itu masalah serius? Namanya saja terdengar mengerikan. Saat aku cari tahu di internet katanya radang lambung. Apa ada masalah dengan lambungmu??” tanya Narin bertubi-tubi, yang langsung membuat Donghae mengerang tanpa suara, karena setelah sekian waktu tak bisa bertemu dengang gadis kesayangannya itu, menjelaskan tentang sebuah penyakit bukanlah hal yang ingin Donghae lakukan.

“Aku merindukanmu Yeonng..” Donghae mengeratkan pelukannya. “Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Bagaimana malam tahun barumu? Apa menyenangkan?”

“Apa kau sedang berusaha mengalihkan pembicaraan??”

Donghae mengangkat wajahnya, “Apa berhasil?”

“Tidak.” Narin memukul punggung Donghae pelan dan keduanya pun tertawa bersama.

“Ehemm…”

Terdengar suara dehaman dan Ryeowook berdiri dipintu kamar Donghae, di tempat yang sama Narin berdiri tadi. Narin pun mendongak kemudian dengan cepat mendorong pelan bahu Donghae yang masih membenamkan wajahnya agar menjauh sedikit.

“Rin, kalau tidak mengganggu apa kau bisa bantu oppa??” tanya Ryeowook mengabaikan Donghae yang kembali melingkarkan tangannya di pinggang Narin.

Narin memukul punggung Donghae dan berusaha mendorongnya, namun Donghae justru semakin mengeratkan pelukannya, “Apa itu oppa??”

Oppa tidak tahu bagaimana membuat saus bbq, apa kau bisa melakukannya?”

Narin baru ingat kalau alasan ia datang ke dorm 12 hari ini selain karena ingin melihat Donghae yang ia baru tahu dari sebuah blog sakit juga untuk ikut meramaikan acara bbq yang diadakan member Super Junior untuk merayakan tahun baru dan ulang tahun Sungmin yang sempat terlewatkan karena mereka ada schedule di China.

Narin mengangguk dan kali ini benar-benar mendorong Donghae menjauh darinya, “Okay oppa..” Ia mengangkat kedua ibu jarinya pada Ryewook dan tersenyum kemudian membiarkan Ryeowook berjalan pergi terlebih dahulu. Narin pun berbalik dan memandang Donghae. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat dan Donghae menggunakan kesempatan itu untuk memohon pada Narin tanpa mengeluarkan suara.

‘Jangan pergi.’

Narin menatap Donghae selama beberapa detik kemudian tertawa kencang, “Hae-hae, nanti aku kembali..” ucapnya, menepuk pipi Donghae pelan dan berjalan keluar.

Donghae meraih boneka alien yang ada di dekat piano dan membenamkan wajahnya. Tak lama ia menggigit telinga boneka itu dan mengerang frustasi.

59198hrthuy4syh

Donghae membaringkan tubuhnya diatas sofa yang ada disudut ruangan dorm 12. Matanya terpejam sesaat setelah bertemu dengan bantal empuk. Keadaannya memang sudah membaik tapi tubuhnya masih terasa lemah dan tenaganya belum kembali seperti semula. Sambil mendengarkan suara orang-orang yang sibuk di dapur juga suara denting sendok dan piring yang bertemu, Donghae menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan menarik nafas panjang.

Matanya membuka saat merasakan sofa tempatnya berbaring diduduki seseorang dan sebuah tangan mungil dan hangat mengusap-usap lengannya perlahan, “Kau baik-baik saja?” Narin bertanya khawatir.

Donghae menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil, “Tentu.” Jawabnya menyakinkan gadis itu.

“Ada yang sakit??” Narin bertanya lagi, masih dengan wajah khawatir.

Kali ini Donghae menggelengkan kepalanya, “Tidak ada, Yeonng~” senyumnya. Donghae mengangkat tubuhnya sejenak kemudian berputar hingga kini kepalanya mendarat nyaman di pangkuan Narin. Jelas jauh lebih nyaman daripada bantal sofa yang empuk sekalipun. Apalagi kini jari-jemari Narin yang lentik memainkan rambutnya.

“Ahh, nyaman sekali..” ucap Donghae sambil membenamkan wajahnya di perut Narin. Setelah semalaman tak bisa tertidur karena rasa sakit disepanjang tubuhnya, berbaring seperti ini rasanya seperti di surga. Mungkin berlebihan tapi Donghae sedang tak bisa mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. “Apa kau mau jadi bantal pribadiku malam ini??”

“Eew~~” Narin berpura-pura menggigil kemudian memukul bahu Donghae pelan. “Kau benar-benar menggelikan.”

Donghae tertawa pelan kemudian melingkarkan tangannya di pinggang kecil Narin, menikmati momen indahnya.

“Rin!!”

Donghae mengerang, yang tak bisa dibilang pelan, sebelum mengangkat kepalanya dan mendapati Sungmin yang sedang tersenyum lebar berada tak jauh dari sofa tempat mereka duduk.

“Apa kau mau bantu mencicipi cake yang oppa buat?” wajahnya berbinar-binar, berbeda 180 derajat dengan wajah Donghae, namun Sungmin sama sekali tidak memperhatikannya.

Cake??” tanya Narin. Donghae mendecak kesal karena kini tangan Narin tak lagi bermain-main dirambutnya. “Bukankah aku sudah membelikan cake untuk oppa?”

“Eung.” Sungmin mengiyakan. “Tapi setengahnya sudah masuk ke perut Kyuhyun dan Shindong hyung.”

“Tsk—aku kan membelikannya untuk yang berulang tahun.” Narin mendecak. “Lalu kenapa justru yang berulang tahun yang membuat sendiri cake-nya??”

Sungmin mengibaskan tangannya, “Eiiyy~ gwenchanna. Jadi apa kau mau mencicipinya?”

Geurae oppa!!” Narin menjawab dengan semangat. Ia pun bangkit dari sofa setelah sebelumnya mengangkat kepala Donghae dari pangkuannya kemudian meletakkannya perlahan keatas sofa, meninggalkan Donghae yang hanya bisa terpaku dengan mulut membuka.

Sesaat setelah Narin melangkah pergi mengikuti Sungmin, Donghae meraih bantal sofa yang terjatuh di lantai dan menggigitnya kesal, “Aisshh..

59198hrthuy4syh
….

Donghae mendesah entah untuk yang keberapa kalinya hari ini, karena ternyata ia tak bisa menghabiskan waktu bersama Narin seperti yang diharapkannya. Ia kembali duduk didepan piano yang ada dikamarnya dan memainkan beberapa melodi yang belakangan ini baru ia buat. Tak ada yang bisa dilakukan. Ia tak bisa membantu didapur karena yang lain melarangnya dengan alasan ia butuh istirahat. Padahal Donghae tahu dengan jelas alasan sebenarnya karena mereka merasa kalau ia hanya akan mengacau. Tak lama, karena merasa bosan dan punggungnya mulai terasa sakit, Donghae pun memutuskan untuk tidur saja.

Donghae pun berbaring diatas tempat tidurnya dan mencari posisi yang nyaman saat terdengar sebuah ketukan pelan di pintu kamarnya yang sebenarnya terbuka. Narin melangkah masuk dengan wajah tersenyum dan dua buah mug di tangannya kemudian duduk diujung tempat tidur Donghae.

“Apa itu?” tanya Donghae sambil menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya. Ia pun tersenyum saat Narin bergerak mendekat.

Narin menurunkan kedua mug itu hingga Donghae bisa melirik isinya. Satu gelas berisi cairan berwarna coklat, yang Donghae yakin dari wanginya adalah coklat panas, sementara gelas yang lainnya berwarna gelap pekat dan berbau aneh yang selama beberapa hari ini dipaksa Sungmin masuk ke perutnya.

Narin mengangkat gelas yang ada di tangan kirinya, “Ini coklat panas. Kau bisa meminumnya setelah minum yang ini, “ mengangkat gelas ditangan kanannya, “Ini Sungmin oppa yang memberikannya. Katanya bisa mengembalikan tenaga sehabis sakit.”

“Oww~” Donghae mengerang, “Kenapa harus itu lagi? Aku sudah baik-baik saja.. Unmokgo!!” Donghae membalikkan badannya, tak perduli kalau ia sedang bertingkah kekanakan. Ia bertekad tak akan meminum minuman mengerikan pemberian Sungmin itu lagi.

“Donghae-ya~~ ayolah…” bujuk Narin, meletakkan kedua mug itu diatas buffet disamping tempat tidur. “Jangan seperti ini.” Narin meraih kedua tangan Donghae dan menariknya agar Donghae bangkit dari posisi tidurnya, namun tiba-tiba saja Donghae berteriak kencang kesakitan.

“Wae?wae?wae?” tanya Narin panik. Cepat-cepat ia melepaskan kedua tangan Donghae dan membiarkannya duduk dengan usaha sendiri.

Donghae menggigit bibir bawahnya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya, “Aniya.. Kau hanya tak sengaja menekan luka bekas jarum infus kemarin.”

Narin meraih tangan kanan Donghae perlahan dan menarik lengan sweaternya yang kepanjangan hingga hampir menutupi seluruh jarinya keatas dan menemukan perban yang menutupi hampir seluruh punggung tangan Donghae. “Mianhae Donghae-ya~~” ucap Narin dengan suara serak, “Aku tak tahu ada luka ditanganmu..” wajahnya tampak merasa sangat bersalah.

Donghae menggeleng dan meraih tangan Narin, “Gwenchanna..” jawabnya sambil mengkaitkan tangan mereka.

“Apa sakit sekali??”

“Sedikit.” Bohong. Tangannya mendenyut mengerikan. Sebenarnya lukanya tidaklah terlalu menganggu. Namun bagaimanapun, kalau kau meremas luka baru walau tanpa sengaja sekalipun tetap saja rasa sakitnya bisa membuat bulu kuduk berdiri. Tapi sesaat setelah Narin menarik tangannya dengan sangat perlahan dan mulai meniup-niup lukanya, Donghae pikir rasa sakitnya tidaklah seberapa.

Namun tentu saja, selama ia masih ada di dalam dorm, kebahagiaannya pasti tidak berlangsung lama. Melihat Cho Kyuhyun yang menerobos masuk kamarnya dan menarik Narin dari dirinya, Donghae tahu kebahagiaan singkatnya benar-benar sangat singkat.

Waeyo oppa?” tanya Narin berdiri setengah memutar karena sebelah tangannya masih terkait dengan lengan Donghae yang tidak terluka.

“Aku punya game baru. Sebelum menantang Changmin, aku harus mengetesnya dulu. Aku tak mau menantangnya dan tiba-tiba kalah.”

“Tapi—“ ucap Narin ragu-ragu. “Oppa bisa mengetesnya dengan yang lain kan?”

“Semuanya sedang sibuk.” Jawab Kyuhyun tak memperdulikan Donghae yang sudah menatapnya galak. Lagipula sejak kapan seorang Cho Kyuhyun takut pada tatapan Lee Donghae. “Ayo..” Kyuhyun menarik sebelah lain lengan Narin dan membawanya pergi.

Suara Narin yang terdengar meneriakkan agar Donghae tidak lupa meminum habis minuman yang dibawanya tadi dan dijawab Donghae dengan lemparan bantal yang mengenai pintu kamarnya.

59198hrthuy4syh

Donghae membuka mata setelah menyadari ada seseorang didalam kamarnya. Ia hanya diam memandangi punggung Cho Kyuhyun yang sedang duduk didepan piano membelakangi dirinya. Kyuhyun tertawa-tawa sementara ponsel milik Donghae menempel erat di telinga magnae Super Junior itu. Donghae sudah bisa menebak kalau Kyuhyun menggunakan ponselnya untuk menelepon noona-nya yang ada diluar negeri. Menyelamatkan dirinya dari biaya International Call.

“Yeonngie oddieya??”

Kyuhyun tanpa membalikkan badannya menjawab, “Didepan bersama Hyora dan Eunhyuk.”

Donghae mengayunkan kedua kakinya ke lantai kemudian berjalan keluar dari kamarnya. “Jangan terlalu lama meneleponnya..” ingatnya sambil menarik telinga Kyuhyun pelan.

Kyuhyun menjawab dengan senyum lebar, “Tenang saja hyung, belum ada 30 menit.”

Donghae hanya menghela nafas dan berjalan ke ruang tamu. Ia bisa melihat Narin sedang duduk di single sofa di depan televisi, sementara didekatnya, disofa yang lebih panjang, Eunhyuk duduk dengan Hyora yang menempel disampingnya. Mereka sedang asik menonton dvd concert lama DBSK saat mereka masih lengkap.

Donghae berjalan lurus ke arah gadis itu dan menarik lengannya. Narin mendongak,  begitu juga dengan Eunhyuk dan Hyora, namun Donghae tak mengatakan sesuatu, tetap menarik Narin menuju sofa panjang yang ada disudut ruangan.

“Donghae-ya!! Kupikir kau masih tidur..”

Donghae menarik Narin hingga terduduk, kedua tangannya langsung melingkar di pinggang gadis itu. “Aku tak bisa tidur..” gumamnya dari balik leher gadis itu.

Wae?? Tanganmu sakit lagi?”

Donghae menggeleng, “Ani. Aku hanya sedang kesal.”

“Padaku?”

Eung..”

Narin mendorong bahu Donghae menjauh darinya, “Lihat aku! Katakan kenapa kau kesal padaku!”

Shireoo~~” Donghae menolak, menahan kepalanya agar tetap menempel di bahu Narin.

“Lihat aku~~” rajuk Narin.

Ahh wae~~” Donghae mendesah dan menegakkan diri agar bisa melihat Narin.

“Katakan kenapa kau kesal padaku!”

Donghae mencebik, “Karena kau tidak mengerti perasaanku!!”

“Apa maksudnya itu?” Narin menaikkan kedua alisnya.

Donghae berputar dan membenamkan wajahnya diatas sofa, “Arkhmrnktpktrsmink…”

Mworago??”

Donghae mengangkat wajahnya sedikit dan mengulanginya dengan cepat. “Akumerindukanmutapikauterussajameninggalkanku.”

“Eh??”

“Aku tak akan mengulanginya lagi.”

Setelah beberapa saat dalam diam akhirnya Narin tertawa kencang, “Aigoo kyewora~~” Narin menarik Donghae agar kembali duduk. Tawanya semakin kencang melihat wajah Donghae yang mengerut dengan bibir bawahnya yang maju.

Aigoo~ uri Donghae neomu gwiyewo~~” Narin memainkan jarinya dibawah dagu Donghae sama seperti yang sering dilakukannya pada narae, anjing kecilnya. “Kau begitu merindukanku ya? Aigoo~~” Kali ini Narin yang melingkarkan kedua lengannya dibahu Donghae dan memeluk makhluk favoritnya itu erat.

“Hanya hari ini saja.” bisik Donghae. “Hanya hari ini saja aku membiarkanmu memperlakukanku seperti narae.”

Nada suaranya yang terdengar seperti mengancam ternyata tak berpengaruh sama sekali. Narin hanya tersenyum lebar yang kemudian tanpa sadar menjalar pada dirinya, karena bisa berada dalam pelukan Narin, mencium wangi strawberry dari rambutnya dan harum lavender dari tubuhnya bisa membuat Donghae tersenyum tanpa henti, dan —

“Rin..!!!”

Donghae terpaksa menarik diri dari angan-angan indah karena suara seseorang yang tak diundang.

Eo? Waeyo oppa??” Narin melepaskan diri, berusaha mengabaikan erangan protes Donghae.

“Ryeowook menyuruh oppa membeli sesuatu di supermarket bawah.” Eunhyuk melambaikan sebuah kertas berisi list belanja yang diberikan Ryeowook padanya, “Tapi ada beberapa barang yang tak kukenal. Apa kau mau menemani??”

Belum sempat Narin menjawab, Donghae sudah mendahuluinya. “Bukankah ada Hyora? Kenapa tak mengajaknya saja!?”

“Dia sibuk.” Eunhyuk menunjuk kebelakang kearah Hyora yang masih asik dengan dvd concert DBSK-nya.

“Apanya yang sibuk? Dia kan hanya menonton!!”

Eunhyuk mengangkat kedua tangannya kedepan dada, bertanda menyerah, “Aku tak ingin menganggu Lee Hyora yang sedang menikmati pemandangan Mickey Yoochun yang sedang menari tanpa baju atasan. Bisa-bisa ia menjambakku. Kalau kau mau mencobanya, silahkan saja.” Eunhyuk kembali menghadap Narin sambil menunjukkan puppy-eyes nya.

Narin memandangi Donghae berusaha mengatakan sesuatu, namun Eunhyuk sudah menariknya pergi dan keluar dari pintu dorm 12.

Sesaat setelah memandangi punggung gadis kesayangannya itu menghilang dibalik pintu, Donghae meledak.

“YA!!!! APA KALIAN TIDAK PUNYA TANGAN DAN KAKI SENDIRI?? NEO, RYEOWOOK-AH! SELAMA INI KAU PINTAR MEMBUAT SAUS. KENAPA KALI INI KAU HARUS MINTA PERTOLONGAN!? DAN KAU KYU!! APA TAK BISA MENGETES GAME BARUMU SENDIRI!?? DAN SUNGMIN HYUNG!! KENAPA MENCICIPI CAKE SAJA HARUS MENCARI NARIN-KU!!? ADA BERAPA BANYAK MULUT DISINI YANG DENGAN SENANG HATI MENCICIPI CAKEMU?!! LALU ADA APA DENGAN LEE HYUKJAE ITU!!?? BUKANKAH KEKASIHNYA ADA DISINI? LALU KENAPA HARUS MENGAJAK KEKASIH ORANG LAIN?? KALIAN BISA MELAKUKAN SEMUANYA SENDIRI TAPI TERUS SAJA MENGGANGGU BOCAH ITU. APA KALIAN TIDAK LIHAT AKU JUGA MERINDUKANNYA?? AISSHH!!!”

Ryeowook, Sungmin, Shindong, Hyora, juga termasuk ahjumma yang mengurus dorm terdiam memandangi Donghae yang tiba-tiba mengamuk sementara Kyuhyun memutar bola matanya sambil mendengus. “Apa kau tak berlebihan hyung?” tanyanya. Aku hanya mengajak uri Yeonngie bermain game. Apa ada yang salah dengan itu?”

MWO? URI YEONNGIE? APA MAKSUDMU DENGAN URI YEONNGIE? DIA ITU MILIKKU. NARIN-KU. YEONNGIE-KU. JANGAN MEMANGGILNYA LAGI SEPERTI ITU. KENAPA KALIAN TIDAK BISA MEMAKLUMI KALAU AKU HANYA INGIN BERDUA SAJA DENGANNYA. KENAPA SEMUA ORANG TERUS SAJA MENGAMBILNYA DARIKU!!! AISSSHH,, JJINNJA!!

Dengan wajah merah padam Donghae berlalu kembali ke kamar, mengabaikan semua orang yang menertawakannya.

59198hrthuy4syh

Donghae bersandar di balkon dorm 12, menikmati angin sore yang membelai-belai wajahnya. Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas dengan tubuh yang setengah membungkuk. Donghae memandangi pemandangan didepannya dengan wajah masam dan alis mengkerut. Di otaknya hanya ada Narin, Narin dan Narin.

Pintu kaca yang membatasi ruang tengah dengan balkon membuka perlahan dan Narin berjalan keluar. Donghae mengatupkan bibirnya rapat dan dengan sengaja tidak berbalik.

Narin tanpa basa-basi memeluk Donghae dari belakang, melingkarkan kedua lengan pendeknya di perut Donghae,

“Ya!!” Donghae menggerakkan bahunya pelan, mendorong gadis itu, “Lepaskan.”

Narin tidak bergerak. Ia tidak melepaskan pelukannya juga tak mengatakan apapun.

“Ya!!” Donghae menggoyangkan badannya sedikit lebih keras, “Aku bilang lepaskan.” Gerutunya.

Narin semakin menempel. Kedua tangannya memeluk Donghae semakin erat, walau tak sampai menyakitinya. Lalu menyandarkan dadanya di punggung lebar Donghae dan menghela nafas puas seakan-akan ia sudah menemukan tempat paling nyaman untuk bersandar.

Donghae menunduk, memandangi kedua tangan mungil yang melipat didepan perutnya, merasakan lagi wangi strawberry dan lavender yang menyeruak masuk ke hidungnya dan—Dia mendesah kalah.

“Aku membencimu..” gumamnya,  meremas kedua tangan yang melingkar didepan perutnya,“Dan aku tidak berbohong..”

Gumamannya hanya mendapat balasan sebuah tawa renyah dari makhluk favoritnya itu.

 -enD-

Sebenarnya ini udah dari kemarin2 ditulis, tapi karena banyak bgt halangan dan rintangan yang membentang termasuk XL ku yg baru diisi malah tiba2 kuotanya ludes seketika, bikin anak kuliahan macam saia bangkrut, terpaksa baru skarang di publish..

Orang yg sakit udh sembuh en yg ulang tahun udh kelamaan lewatnya, tapi apa boleh buat deh, yg penting udh ditulis..

Awal tahun yang sibuk. Saking sibuknya Lee Donghae pun terpaksa dikesampingkan dulu..
o.<
U

But, hai everybody… LONG time no see…

I changed the theme, but still doesn’t suit my taste…

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

12 thoughts on “[OneSpace] Mine!! Only Mine!!

  1. lucu bangeeeeeet. aku baru baca blog ini. sering sering publish ya onnie–tulisanmu.daebbbbak!
    hwaitiiiiiing!

    ps: pasti bete bgt kuota langsung habis gt. yang sabar~~~

    • Mian ya, baru balas komennya…
      abis lagi sibuk2 nya sama uni.

      Btw thenku udah mau baca en komen,, kalo publish mungkin dlam waktu dekat2 ini belum..
      tapi pasti nti balek kok buat nulis lagi..
      coz i miss lee donghae already..

  2. eonni~ onespace-nya menghibur bgtt. Feelnya dapet bgt. cutenya donge juga natural banget dan rasanya pengen gigit saking lucuk-nya hae-hae.
    sering sering publish ya HOHOHO~
    hwaitiiiiiing!

    ps: pasti bete bgt kalo baru beli kuota langsung habis. mana xl kan sinyalnya juga butut–lelet. #ikutancurhat #gapapaya

    • Thank u… Thank u…Thank u…
      jangan digigit Donghae-nya, ntar jadi jelek lagi dia nya…
      kan gak imut lagi nanti..

      publishnya diusahakan ya, tapi gak dalam waktu dekat ini..
      Hwaiting!!!!

  3. Hai…saya baru nemu blog kamu.. dan sepertinya saya jatuh cinta sama ceritanya…baru baca FF ini saja tapi saya sepertinya suka karakter abang donghae..disini…

    • sorri, baru dibalas…
      thank you udah mampir en sempat2in komen..
      thank you juga udah suka dengan karakter yang aku buat..
      tapi blakangan ini cuma bisa balas komen doang, blom bisa update apa2.. soalnya lagi sibuukk..
      so enjoy~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s