[OneSpace] Birthday Fever…

happy

November 7, 2013   04:00 AM KST, Narin’s House

Terbangun karena bersin-bersin hingga ratusan kali dan suhu tubuh yang meningkat tajam bukanlah sesuatu yang Narin harapkan di hari liburnya. Ia sudah menganggap remeh tanda-tanda yang diberikan tubuhnya beberapa hari belakangan ini. Seharusnya Narin sadar, terus menerus bergadang mengerjakan paper namun harus bangun pagi mengejar mata kuliahnya belum lagi dilanjutkan dengan pekerjaannya di perpustakaan pasti membuat tubuhnya tak lama lagi menyerah.

Narin memang sudah berencana untuk tidur sepanjang hari ini. Pertama, karena ia memang tidak punya mata kuliah untuk hari ini dan kedua karena perpustakaan sedang ditutup untuk dua hari karena ada renovasi kecil. Tapi bukan hari libur yang seperti ini yang Narin harapkan. Bersin-bersin tanpa henti, tenggorokan gatal, demam tinggi dan sakit kepala benar-benar cara yang menyebalkan untuk memulai harinya.

Narin bergerak-gerak di tempat tidurnya, berusaha mencari posisi yang nyaman dibawah selimut tebalnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan membuatnya susah kembali tertidur. Narin menarik keluar lengannya dari bawah selimut dan meraih ponselnya untuk melihat jam. Pukul 4 pagi dan Narin kembali mengerang, melirik kesal layar ponselnya, seakan-akan kesalahan benda mungil itulah hingga dirinya seperti ini.

Dengan gerakan yang sangat lambat Narin duduk di atas tempat tidurnya, menyibakkan rambut panjang yang menutupi matanya yang mulai berair karena bersin-bersin tanpa henti dan menyeka hidung yang berair dengan lengan sweaternya—ia harus menggantinya dengan segera. Selimut tebal meluncur turun dari bahunya dan Narin mengigil saat udara dingin dari pendingin ruangan mengenai kulitnya. Ia mematikan pendingin ruangan di kamarnya dalam perjalanannya ke lemari pakaian dan menarik sebuah hoodie abu-abu tebal, menggantikan sweaternya yang sudah penuh kuman dan bakteri.

Perlahan Narin berjalan ke dapur dan meraih segelas air hangat untuk dirinya. Ia juga mencari-cari obat flu dari kotak obat yang tersimpan jauh di laci dapurnya. Donghae-lah yang berinisiatif menyimpan kotak itu didapurnya. Kalau bukan karena Donghae, Narin tidak akan pernah punya kotak obat seperti itu didalam rumahnya. Benar, Narin dan obat tidak akan pernah cocok untuk disatukan. Namun kali ini rasanya ia begitu menderita hingga tak lagi perduli dan langsung menelan dua tablet obat flu dan cepat-cepat menghabiskan air hangatnya.

Narin kembali ke kamarnya dan kembali bersembunyi di bawah selimut tebalnya. Tanpa sadar tubuhnya mengigil, dan rasa sakit diseluruh tulang-tulangnya semakin menjadi. Gadis itu berusaha menutup matanya dan mencoba kembali tidur tapi panas tubuhnya menghalangi. Dia terus berputar kekiri dan kekanan yang rasanya sudah berjam-jam ia lakukan walau sebenarnya hanyalah beberapa menit. Dan semua ini membuatnya merasa sama sekali tak berdaya. Dan Narin benci itu.

Alasan lain kenapa Narin begitu membenci saat-saat kena flu seperti ini adalah mimpi buruk yang mengikutinya. Narin sering sekali menemukan dirinya terbangun dengan tubuh penuh keringat, mata terbuka lebar, dan nafas terengah-engah sebelum akhirnya kembali tertidur dan hanya untuk terbangun lagi dengan mimpi buruk lainnya. Terkadang ia juga terbangun dan melakukan hal-hal yang nantinya tak akan bisa ia ingat. Ia seperti bermimpi namun sepertinya juga tidak. Mengigau mungkin bisa dibilang seperti itu. Dirinya seakan ada di awang-awang, tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.

Seperti saat ini, Narin membuka matanya perlahan. Ia sepertinya baru saja bermimpi kalau Donghae terus menerus menelponnya, namun Narin terus menerus mereject ponselnya karena Donghae mengganggu tidurnya. Narin juga seperti bermimpi kalau Donghae mengiriminya beberapa pesan dan Narin membalasnya. Namun sepertinya yang satu ini ia tidak seperti bermimpi. Narin seperti benar-benar membalas pesan seseorang. Tapi saat ini ia tak bisa memikirkan apa-apa, gadis itu hanya kembali menutup matanya dan tertidur.


59198hrthuy4syh

November 7, 2013   16:00 PM KST, Narin’s House

Lima, enam atau mungkin tujuh. Narin tak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Yang dia tahu hanya cahaya yang datang dari luar jendela kamarnya sudah berubah menjadi abu-abu sedikit gelap, mendung, dan tubuhnya seperti sedang ada diatas api. Tangannya bergerak menyentuh keningnya dan merasakan panas yang menjalar di tangannya. Narin bahkan terkejut dengan panas tubuhnya sendiri. Kalau sudah seperti ini Narin tak bisa memastikan apa dia masih sanggup bertahan tanpa meminta pertolongan Hyora. Atau lebih tepatnya apa dia masih sanggup bertahan menunggu Hyora pulang dari tempatnya bekerja dan meminta pertolongan.

Narin berusaha bangkit dari tempat tidur. Punggungnya terasa panas karena terus saja berbaring. Gadis itu melirik kearah jam awan di kamarnya. Sudah hampir jam 4 sore. Itu artinya Narin sudah melewatkan waktu sarapan dan makan siangnya. Ia terpaksa berjalan dengan berpegangan erat pada benda-benda yang ada disekelilingnya karena kedua kakinya tak sanggup menopang seluruh berat tubuhnya.

Didapurnya yang berantakan –tidak hanya dapur, seluruh sudut rumahnya tampak berantakan- Narin menarik kotak cereal dan menuangkannya kedalam sebuah mangkuk bersih kemudian mengambil sekarton susu dari lemari es, menunggunya beberapa saat agar tidak terlalu dingin, kemudian kembali menuangkannya kedalam mangkuk yang sudah berisi cereal. Semua ini ia lakukan sambil berpegangan erat pada konter dapur.

Narin pun berjalan ke arah sofa lipat di ruang tamu dan menjatuhkan dirinya perlahan. Ia menghidupkan tv dan berusaha mencari acara menarik yang bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit yang menjalar dari ujung kepala hingga kakinya. Kedua kakinya ditekuk terangkat diatas sofa untuk menopang mangkuk cereal yang dibuatnya. Sementara satu kotak tissue siap sedia disampingnya untuk menyeka hidungnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan cairan penuh kuman.

Nada dering ponselnya kembali terdengar. Entah sudah untuk keberapa kali Donghae menelponnya hari ini, yang kali ini Narin yakin sekali kalau dia tidak sedang bermimpi. Sejak terbangun tadi hingga saat ini, mungkin sekitar 15 menit, hanya dalam waktu singkat itu Donghae sudah menelponnya 6 kali. Dan Narin tak tahu sudah berapa kali Donghae menelponnya saat ia tertidur tadi. Namun yang Narin bisa lakukan hanyalah mereject-nya atau mengabaikannya.

Narin jelas tidak ingin Donghae tahu keadaannya. Tidak hanya Donghae, ia berharap tidak perlu ada yang tahu. Termasuk Hyora. Narin sangat berharap ia bisa membaik malam nanti dan tak perlu meminta pertolongan siapapun. Salah satu hal yang paling ia tidak suka adalah membuat orang  mengkhawatirkannya. Namun lebih dari itu, Narin paling tidak suka melihat orang susah karenanya.

Belum lagi dia bisa membayangkan bagaimana Donghae akan memperlakukannya seperti anak kecil dan menasehatinya atau bisa dibilang memarahinya soal ini dan itu. Soal bagaimana Narin tak menjaga kesehatan, soal pola makan, pola tidur, soal kesukaannya terhadap eskrim yang berlebihan atau soal lainnya yang Narin yakin ia tak akan sanggup menampung semuanya dengan kondisi kepala yang mendenyut hebat sekarang ini. Dan lagipula ia tidak akan bisa menjawab telepon Donghae karena flu yang menjengkelkan itu sudah membuat suaranya nyaris menghilang.

Walau begitu, Narin merasa sedikit penasaran kenapa Donghae begitu gigih menelponnya hari ini. Donghae memang sering menelponnya berkali-kali, tapi saat Narin sudah beberapa kali tak mengangkat teleponnya Donghae pasti berhenti dan kembali menelpon malamnya atau mungkin besok paginya. Tidak terus menerus seperti ini. Apa mungkin ada hal penting yang ingin Donghae tanyakan atau mungkin ada sesuatu yang ia butuhkan, Narin juga tidak tahu. Lagipula, ia sedang tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Kalau memang Donghae memerlukan sesuatu, ia pasti bisa mencari orang lain. Yang Narin harus lakukan sekarang hanyalah menelan semua cereal-nya dan pergi tidur. Efek obat yang diminumnya pagi tadi sepertinya masih membuat kesadarannya melayang-layang. Mungkin tak seharusnya ia meminum dua tablet sekaligus.

Narin membebaskan diri dari tumpukan tissue penuh kuman yang berserakan diatas sofa, lantai dan dirinya. Ia menyerah dengan cereal-nya dan kembali ke kamar untuk berbaring, setelah sebelumnya mengetikkan pesan singkat untuk Donghae.

“Berhenti menelponku.”


59198hrthuy4syh
……

November 7, 2013   16:30 PM KST, Dorm 11

Donghae memajukan bibir sambil menatapi semangkuk jjajangmyun di hadapannya. Sumpitnya bergerak memutar-mutar makan siang/sore nya itu tanpa selera. Dia mendesah untuk kesekian kalinya sejak pagi tadi.

“Apa kau uhm…” Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya dan menunjuk mangkuk jjajangmyun Donghae. “Berniat memakan itu? Karena jika tidak – akh…!!”

Kata-kata Eunhyuk terpotong saat kakinya ditendang seseorang dari bawah meja. Seseorang bernama Lee Sungmin yang kini sedang menatapnya galak. Eunhyuk hanya bisa mencibir sambil mengelus-elus kakinya yang terasa sakit sementara Sungmin berpaling kearah Donghae dengan pandangan lembut dan senyum hangat, “Donghae-ya cepat makan. Kalau tidak si monkey satu ini akan menghabiskan semuanya.”

Donghae mendesah lagi dan mendorong mangkuk jjajangmyun-nya kearah Eunhyuk. “Aku tidak lapar.” gumamnya.

Kedua mata Eunhyuk berbinar-binar. Tangannya meraih mangkuk milik Donghae namun dengan segera dihentikan Sungmin yang memukul tangannya, “Dia belum makan siang sama sekali.” ucap Sungmin galak, “Sementara kau sudah menghabiskan milikmu dan setengah milikku.”

Eunhyuk hendak membantah, namun Donghae sudah mendahuluinya, “Tidak apa hyung. Biarkan Eunhyuk saja yang makan. Aku sedang tidak berselera.” ucapnya lemah.

Sungmin membelalak pada Eunhyuk untuk yang terakhir kalinya, karena pada akhirnya mau tak mau membiarkan semua porsi Donghae masuk ke perut dancer kurus namun punya nafsu makan besar itu. “Wae?? Masih soal Narin??” tanya Sungmin. “Dia masih belum bisa dihubungi??”

Donghae mengangguk namun beberapa saat kemudian menggeleng, membuat Sungmin menaikkan kedua alisnya. “Apa maksudnya itu??”

“Benar dia memang tidak bisa dihubungi. Tapi dia membalas pesanku.” jawab Donghae sambil memainkan ponselnya. “Namun aku tak bisa mengerti apa maksud pesan yang dia kirimkan??”

“Eo??”

Donghae mengangguk lagi, “Gadis itu aneh sekali. Dia seperti orang yang tiba-tiba saja tidak mengerti hangul. Pesan yang dia kirimkan semua ejaannya salah. Aku sama sekali tidak bisa mengartikannya.” jelas Donghae. “ Seperti orang yang sedang mabuk atau entahlah—“

“Tapi Narin kan tidak minum.” ucap Eunhyuk dengan mulut penuh. Matanya bahkan tak berpaling dari jjajangmyun didepannya.

“Karena itulah. Aku tak tahu sebenarnya ada apa dengan gadis itu. Dia juga tidak mengangkat teleponku.”

Eunhyuk meletakkan sumpitnya setelah mangkuknya kosong tak bersisa apapun. “Padahal kan hari ini ulang tahunnya..” gumamnya sambil menyeka bibirnya yang belepotan saus dengan tissue.

“Apa mungkin dia sengaja menghindarimu??” Sungmin bergerak membereskan mangkuk-mangkuk styrofoam bekas makanan mereka. “Bukankah kau bilang dia paling tidak suka merayakan ulang tahunnya??”

Donghae memandangi Sungmin, memikirkan kata-kata hyung-nya itu. “Apa menurut hyung seperti itu?? Kalau benar seperti itu, gadis itu benar-benar keterlaluan.” Donghae meraih ponselnya yang tadi terdorong menjauh. “Dia tidak tahu sudah berapa puluh kali aku menelponnya hari ini?? Hanya karena dia tidak suka merayakan ulang tahunnya bukan berarti dia harus mengabaikkan teleponku kan??”

Donghae menekan-nekan ponselnya kesal. Kedua telinganya kini memerah karena marah. Dia menekan speed dial nomor 7 di ponselnya dan menunggu. Lagi. Untuk yang kesekian puluh kalinya hari ini.

Sungmin yang melihat Donghae tiba-tiba berubah kesal cepat-cepat menenangkannya, “Eeiiy—hyung kan hanya menebak-nebak saja. Belum tentu benar kan. Siapa tahu saja dia sedang sibuk.” Sungmin cepat-cepat melirik Eunhyuk meminta bantuan.

Eunhyuk yang melihat sinyal yang dikirimkan Sungmin langsung membantu, “Eo… atau bisa saja dia sedang tidak ada di Seoul. Mungkin pergi bersama teman klub astronomi-nya atau mungkin ada lelaki tampan yang mentraktirnya makan karena… “ Eunhyuk menggedikkan bahunya “yah, ini kan ulangtahunnya…“

Donghae memicingkan matanya pada Eunhyuk membuat pemuda itu tergagap, “Geurae.. geurae. Aku hanya bercanda.” ucap Eunhyuk cepat-cepat. “Mungkin saja dia sedang sakit atau tugasnya banyak atau pekerjaannya di perpustakaan sedang menumpuk atau—“

“Apapun alasannya, tidak mungkin dia tidak bisa mengangkat telepon sekali saja kan??” bantah Donghae. “Aku sudah meneleponnya sejak pagi tadi tapi sampai malam ini dia tidak juga mengangkatnya.” ucap Donghae mengacungkan teleponnya yang lagi-lagi direject.

Tak lama sebuah pesan masuk, namun kedua mata Donghae langsung menyipit karenanya, “Mwo?? ‘Berhenti meneleponku?’ Apa sekarang aku tak lagi boleh menelpon kekasihku sendiri??” amuknya.

“Ehh? Narin menyuruhmu berhenti meneleponnya?” tanya Sungmin.

“Narin benar-benar mengirimmu pesan seperti itu? Narin-ie daebak..” Eunhyuk mengacungkan kedua ibu jarinya.

Donghae mengabaikan kedua hyung-nya itu. “Tidak perduli dia suka atau tidak aku akan menemuinya. Dia mana boleh begitu, aku kan sudah membelikan hadiah untuknya.” Donghae melirik kotak kardus yang ada disudut depan dorm 11 yang bergerak-gerak pelan.


59198hrthuy4syh

November 7, 2013   18:00 PM KST, Narin’s House

Berbalut selimut tebal, Narin duduk disofa yang ada dibawah jendela ruang tengah, memandangi jalanan dari lantai 3 bangunan dorm-nya. Awan gelap bersamaan dengan petir meramaikan langit malam ini. Sebenarnya belum terlalu malam karena jam masih menunjuk ke angka 6, namun karena awan gelap yang menutupi, sehingga malam datang lebih cepat. Diluar juga sedang hujan. Hujan yang selalu datang setiap malam selama seminggu penuh. Mungkin inilah yang menjadi alasan kenapa Narin bisa sampai seperti ini.

Sesaat Narin teringat dengan Donghae. Saat memeriksa ponselnya tadi, Narin baru menyadari kalau dirinya benar-benar membalas pesan singkat Donghae. Namun apa yang dia kirimkanlah yang membuatnya meringis. Ia mengirimkan pesan aneh tanpa arti saat Donghae sedang menanyakan keberadaannya. Pesan yang dia kirim pasti terlihat seperti pesan yang dikirimkan orang mabuk yang pikirannya sedang melayang-layang, walau memang secara literal pikirannya sedang melayang-layang karena mengigau.

Narin menggigil dan kembali bersin. Kepalanya sakit, seperti ada orang yang memukul-mukulnya dengan palu. Bahkan setelah menempelkan keningnya ke jendela yang dingin berlapiskan embun, tak juga bisa mengurangi sedikit penderitaannya. Narin hanya bisa memejamkan matanya, berharap suara rintik hujan bisa menenangkan rasa sakit dikepalanya.

Namun tak lama gadis itu mendecak kesal saat mendengar bel dormnya yang ditekan berkali-kali. Narin bersumpah, siapapun itu orangnya Narin akan memukulnya kalau ia sehat nanti. Narin pun bergerak perlahan menuju pintu sambil tetap meringis karena orang tak tahu sopan santun yang sedang ada dibalik pintunya masih terus menekan bel.

“Donghae-ya…”

Narin berbisik dengan suara paraunya sesaat setelah membuka pintu dan melihat orang yang tadi baru saja ia sebut ‘tak tahu sopan santun’. Melihat Donghae ada dihadapannya adalah hal yang sangat tidak Narin harapkan saat ini. Terlebih lagi dengan penampilannya yang  berantakan dan rambut kusut yang belum tersentuh sisir sama sekali juga sweater kebesaran yang penuh kuman.

“Geurae, na Lee Donghae-ya.. Setidaknya kau masih mengingat namaku.” ucap Donghae dengan nada sinis. Ia sedang kesal hingga tidak benar-benar memperhatikan keadaan gadis dihadapannya. Donghae melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya namun memilih untuk tetap berdiri disitu. “Jadi, apa kau bisa menjelaskan padaku??”

Narin diam ditempat memandangi wajah Donghae berharap bisa mengerti penjelasan apa yang diminta lelaki didepannya. Tapi tidak bisa. Dan tentu saja tidak bisa dengan kepala yang mendenyut-denyut menjengkelkan.

“Kau benar-benar tidak mau mengatakan apapun? Apa menurutmu aku tidak berhak mendapatkan penjelasan, eo? Kau tahu sudah berapa puluh kali aku menelponmu hari ini?Dan kau sama sekali tidak berniat mengangkatnya. Tidak SATU kalipun. Bahkan kau sengaja mereject-nya.” Donghae meninggikan nada suaranya. Ia benar-benar sedang marah.

Narin meringis. Nada suara Donghae yang keras seakan-akan seakan bisa membelah dua kepalanya sama besar. Ia mulai bisa mengerti kemarahan Donghae, namun bibirnya seperti terkunci rapat.

“Lalu apa maksudnya dengan ‘Berhenti menelponku.’? Kau tidak suka aku menelponmu? Apa ini caramu menghindari hari ini? Kalau kau tidak suka dengan hari ini kau bisa bilang saja. Kenapa mengabaikanku seperti itu. Kau KETERLALUAN Yeonng..” Donghae tak juga berhenti memarahi Narin walau mata gadis itu mulai tampak memerah.

Narin berusaha menghindari pandangan dingin Donghae dan menyembunyikan wajahnya, “Kumohon jangan berteriak.” bisiknya dengan suara yang ia paksakan keluar. Semakin lama berdiri, rasanya semakin Narin merasa kakinya akan menyerah. Ditambah lagi dengan nada suara Donghae yang terus saja meninggi.

Donghae tak mendengar bisikan gadis itu,“Kau tahu aku hanya ingin menyenangkanmu hari ini. Berusaha membuatmu bahagia. Tapi rasanya seakan-akan kau tidak memerlukanku. Apa kau tidak bisa—“

Sejujurnya Narin tak lagi bisa memperhatikan kata-kata yang diucapkan Donghae. Narin menutup kedua matanya rapat saat merasakan pandangannya mulai terasa kabur. Dan tahu apa yang akan terjadi kalau ia memaksa tetap berdiri, Narin memutuskan berjalan cepat ke arah sofa. Donghae mencoba menghentikan Narin dengan meraih pergelangan tangannya. “Aku belum selesai.” Namun Narin menarik tangannya dan segera menjatuhkan diri ke atas sofa dan menekan wajahnya kedalam kedua telapak tangannya.

Donghae hanya memandangi gadis itu bingung. Wajahnya tiba-tiba berubah saat akhirnya menyadari sesuatu. Donghae kemudian mendekat dan duduk diatas meja didepan Narin hingga sejajar dengan gadis itu. “Yeonng… Ada apa? Kau sakit?”

Narin bisa mendengar suara Donghae kembali menjadi suara lembutnya yang biasa. Tangan besar Donghae menarik lengan Narin menjauhkannya dari wajah gadis itu tapi Narin menahannya. “Lihat aku, Yeonng…” ucap Donghae lembut.

“Aku baik-baik saja..” gumam Narin dari balik telapak tangannya.

“Aku bilang lihat aku!!” Kali ini Donghae menegaskan nada suaranya. Tidak membentak, hanya agar Narin tidak lagi membantahnya.

Narin walau sangat ingin menolak, tahu ia tak bisa, dan membiarkan Donghae menarik kedua lengannya menjauh. Narin mengangkat wajahnya, dan tak perlu waktu lama ia sudah bisa membaca sorot mata Donghae. Ada kekhawatiran disana, dan hal inilah yang Narin hindari hingga dia memilih untuk bersikeras bertahan tanpa meminta pertolongan Donghae.

Donghae meraih wajah Narin dan mengusapnya perlahan. Sekarang ia baru menyadari bagaimana sebenarnya keadaan gadis itu. Matanya merah dan berair dengan kantung mata tebal dibawahnya. Hidungnya juga memerah dan tampak lecet karena terlalu lama dipegang. Wajahnya pucat dan dengan jari-jarinya Donghae bisa merasakan suhu tubuh gadis itu tidak normal. Dan sesekali tubuhnya bergetar karena menggigil.

Donghae selain khawatir, kini mulai tampak merasa bersalah. Teringat bagaimana kesal dan marahnya ia tadi pada Narin hingga membentaknya. Donghae kini merasa seperti orang jahat karena sudah marah-marah pada gadis yang sedang sakit. “Kau seperti ini tapi tak mengatakan apapun padaku?” Donghae menempelkan tangannya ke kening Narin dan langsung mengerang tanpa suara.

Narin menarik tangan Donghae dari keningnya.“Aku baik-baik saja. Hanya flu..” ucapnya dengan suara yang hanya sedikit lebih keras dari sebuah bisikan.

Mendengar itu Donghae meringis, “Tenggorokanmu sakit?”

Narin mengangguk, “Sangat.” paksanya lagi. “Itu kenapa aku tak bisa mengangkat teleponmu. Mian…” Narin terbatuk dan meringis karena tenggorokannya terasa terbakar. Itu kalimat terpanjang yang ia ucapkan hari ini.

Donghae melepaskan tangan Narin dari genggamannya, berjalan cepat kedapur dan menuangkan air kegelas dan memberikannya pada Narin yang diterima gadis itu dengan ucapan terima kasih, “Gomawo Donghae-ya…”

“Sebaiknya kau jangan bicara dulu Yeonng. Kalau terus memaksa, kau bisa benar-benar kehilangan suaramu. Dan kalau itu sampai terjadi, terpaksa aku harus melakukan sesuatu yang bisa membuatmu sangat membenciku.” Narin mengangkat alisnya. “Membawamu ke rumah sakit.” lanjut Donghae.

“Shireo—“ mohon Narin menyedihkan.

Donghae mendesah panjang, mengingat ketakutan Narin akan rumah sakit. “Aku tahu. Mian, bukan bermaksud menakutimu.” Donghae memeluk Narin dan mengusap-usap punggung gadis itu. “Dan maaf sudah berteriak dan membentakmu, padahal kau sedang sakit. Tidak. Bahkan saat tidak sedang sakit pun tidak seharusnya aku seperti itu.”

Narin mengangguk-angguk dari balik bahu Donghae. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Donghae dan menghirup wangi tubuh Donghae yang entah bagaimana membuatnya merasa sedikit lebih baik. Namun tak lama, setelah menyadari sesuatu, Narin melepaskan pelukannya dan mendorong Donghae menjauh.

“Wae??” tanya Donghae bingung.

“Aku harus menukar pakaianku. Banyak kuman.” Narin berbisik tanpa suara, berusaha keras tidak memaksa tenggorokannya. Namun Donghae kesusahan untuk mengartikan sehingga Narin mengulanginya dengan menunjuk sweaternya dan membisikkan kata ‘Kuman’.

“Kau ingin menukar pakaianmu?” ulang Donghae. “Baiklah, ayo kubantu.”

Narin mebelalakkan matanya pada Donghae, sementara Donghae hanya tertawa, “Bahkan saat sakit seperti ini pun kau masih bisa berpikiran jorok Yeonng. Maksudku aku bisa membantumu  berjalan ke kamar. Kajja..”


59198hrthuy4syh

Narin, berbalut selimut tebal yang melilit seluruh tubuhnya seperti kepompong, duduk dipangkuan Donghae. Kedua tangannya, satu-satunya bagian tubuh yang terbebas dari selimut selain wajahnya, memeluk erat leher Donghae, seakan-akan hidupnya bergantung pada itu. Kepalanya berbaring diatas bahu lebar makhluk kesayangannya itu.

Mereka sedang duduk disofa yang ada dibawah jendela. Donghae sudah memaksanya untuk beristirahat dikamar tapi Narin bersikeras kalau ia tak lagi ingin terjebak mimpi buruk. Lagipula keadaannya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelum Donghae datang. Bersin-bersinnya sudah jauh berkurang. Tenggorokannya sudah tak lagi terasa seperti ada pasir yang mengganjal dan kini ia sudah bisa bernafas lega melalui hidungnya setelah Donghae menyuruhnya mengoleskan gel entah apa, Narin tak bisa mengingat namanya, ke sepanjang lehernya. Sekarang hanya tinggal sakit kepalanya yang belum berkurang dan demamnya yang belum turun. Tentu tidak akan mungkin bisa turun begitu saja dalam sekejap bukan?

Diluar masih hujan. Narin bisa melihat jalanan yang basah dan gelap melalui kaca jendelanya yang berembun kalau ia membuka mata. Udara dingin dan menusuk tulang, mungkin hanya untuk dirinya, dan Narin berterima kasih dalam hati karena Donghae memeluknya erat.

“Kau benar-benar belum lapar, Yeonng?” Donghae memandangi bubur dan sup ayam yang masih terbungkus rapi diatas konter dapur. Saat Narin mengganti pakaiannya tadi Donghae berinisiatif memesan makanan untuk gadis itu secara delivery. Ia tidak ingin mengambil resiko memasak untuk Narin itu dan secara tak sengaja menghancurkan dapurnya.

Narin menggeleng.

Donghae melirik jam tangannya yang sudah berjalan melewati angka 7, “Baiklah. 1 jam lagi. Setelah itu kau tidak bisa menolak.”

Donghae menyibakkan beberapa helai rambut Narin yang menggelitiki pipinya dan menaruhnya kebalik telinga gadis itu, “Kau tau Yeonng, sebenarnya aku ingin marah padamu. Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu sampai seperti ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dan aku tidak tahu apa-apa? Itu kenapa kau seharusnya mendengarkan setiap kali aku–”

“Lain kali.”

“Eo??”

“Lain kali saja mengomeliku.” Narin bergumam.

Donghae mendesah, walau mau tak mau mengalah juga, “Dasar kerasa kepala. Geurae. Lain kali aku akan mengomelimu sampai kau memohon agar aku berhenti. Dan berjanji akan menurutiku.”

Setelah itu hening untuk beberapa saat. Suara hujan diluar terdengar jelas dan terasa menenangkan walau udara dingin yang dibawanya sedikit berlebihan, membuat Donghae mengeratkan selimut tebal Narin mengelilingi tubuh gadis itu walau sebenarnya selimut itu sudah hampir mencekiknya.

“Kau tau kan kalau kau bisa tertular?” gumam Narin dari balik bahu Donghae. Gadis itu sadar memeluk Donghae seperti ini bisa membuat Donghae dengan cepat tertular virus yang ia punya. Namun walau hatinya berkata demikian namun tubuhnya seakan tidak ingin melepaskan diri. Narin tak biasanya seperti ini, dan dia tak punya alasan lain selain menyalahkan demamnya.

Donghae mengangkat bahunya, “Bukan aku yang hampir menangis setiap mendengar kata ‘rumah sakit’.” Jawab Donghae enteng, namun tak pelak membuat Narin meringis.

“Pesan yang kau kirim padaku itu, apa maksudnya?” tanya Donghae saat matanya menangkap benda putih persegi panjang yang ada diatas buffet. “Aku sama sekali tak mengerti saat membacanya.”

Narin menggeleng, “Tidak ada. Itu hanya karena aku sedang mengigau.”

“Mengigau? Bagaimana bisa? Aku sama sekali tidak bisa menebak maksudnya, sampai mengira kau pasti sedang mabuk.”

Narin mengangkat bahunya “Entahlah. Mungkin karena aku minum obat flu yang ada didapur melebihi petunjuknya?” jawab gadis itu tak yakin.

“Mwo??” Donghae memekik. Tubuhnya terangkat hingga ia tak lagi bersandar pada sofa. Donghae berusaha mendorong bahu Narin agar bisa melihat wajah gadis itu dan meminta penjelasan lebih namun Narin tak ingin melepasnya.

“Tidak apa. Aku baik-baik saja.”

Donghae mendesah lagi. Mungkin sudah yang selusin kalinya ia lakukan hari ini. “Harus kuapakan kau ini, eo? Itu alasan kenapa kau membutuhkan orang lain saat seperti ini. Jangan memikirkan alasan bodoh seperti tidak ingin membuatku khawatir. Justru tidak tau apa-apa tentangmu membuatku jauh lebih khawatir. Dan yang seperti itu benar-benar berbahaya Yeonng. Bagaimana kalau tanpa sadar kau salah minum obat lalu pingsan dan tak ada yang tahu lalu—akhh…”

Donghae berhenti bicara saaat Narin mengencangkan pelukan di lehernya, “Kau sengaja mencekikku agar aku berhenti bicara?”

“Hmm…” gumam Narin jujur.

Donghae mau tak mau tersenyum mengetahui bagaimana cara gadis itu membuatnya berhenti mengomel. Namun Donghae tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengomel. Narin terkadang tak bisa membedakan antara keras kepala atau tidak ingin menyusahkan orang lain. Tapi mengingat keadaan gadis itu, sepertinya Donghae harus menyimpan omelannya dulu.

“Kepalamu masih sakit?”

“Eung…”

Donghae mengecup pelipis gadis itu lalu memijatnya pelan. Tangan lainnya menopang bahu Narin agar tidak terjatuh, “Padahal kalau kau memberitahuku lebih awal, aku bisa datang lebih cepat dan kau juga bisa membaik lebih cepat.”

Narin semakin membenamkan wajahnya dibahu Donghae mengisyaratkan ia baik-baik saja.

Tiba-tiba Donghae tersenyum mengingat sesuatu. Ia sedikit menoleh kesamping melirik Narin yang masih menempelkan wajahnya di bahunya dengan mata terpejam.

“Yeonng…”

“Hmm?”

“Walau aku sudah bisa menebak jawabannya, tapi aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Mmm.”

“Apa kau ingat kalau hari ini ulang tahunmu?”

Tak ada gumaman kali ini namun Donghae bisa merasakan tubuh gadis itu menjadi kaku dalam pelukannya.

Beberapa saat kemudian Narin mengangkat kepalanya menjauhi bahu nyaman Donghae walau tangannya masih melingkar di leher lelaki itu. “Hari ini tanggal 7?” bisiknya pelan.

Walau sudah bisa menebak namun melihat wajah terkejut Narin tak urung membuat Donghae tertawa. “Benar. Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Tanggal 7 yang sudah hampir berakhir. Demam pastilah sudah mengacaukan pikiranmu.”

Narin memajukan bibirnya melihat Donghae yang tak henti tertawa, memukul lengan pemuda itu dan kembali menyembunyikan wajahnya dibahu Donghae.

“Benar hari ini ulangtahunku?” tanya Narin sekali lagi.

“Aku tidak mungkin mengamuk padamu hanya karena kau tidak mengangkat teleponku kan? Itu karena aku mengira kau sengaja menghindariku agar tidak merayakan ulang tahunmu.”

“Benarkah?” Narin masih tidak percaya.

“Apa aku pernah berbohong padamu?”

“Tidak.” Dan Donghae kembali tertawa keras mendengar Narin yang mengerang.

“Aigoo… uri Yeonng-ie kasihan sekali.” Donghae mengacak-acak rambut Narin. “Harus menderita di hari ulang tahunnya sendiri..”

Narin memukul bahu Donghae karena nada suara pemuda itu yang tidak terdengar seperti nada kasihan tapi malah seperti sedang mengejeknya.

Setelah bisa menghentikan tawanya, Donghae berbisik, “Saengil Chukahae, Yeonng…”. Narin mengangguk-angguk. “Sayang sekali kita tidak punya cake untuk merayakannya.”

“Tak apa.”

“Tentu saja. Karena itu salahmu tidak mengangkat teleponku.” Donghae menyalahkan gadis itu hingga ia lupa berhenti di toko kue untuk membeli cake. “Tapi tenggorokanmu sakit kan? Itu artinya kita memang tak perlu cake.” Narin menggumam mengiyakan.

“Tapi tenang saja, aku sudah membawakan hadiahmu.”

Narin mengerang lagi membuat Donghae tertawa keras, “Yeonng, hanya kau orang yang kukenal yang merasa tersiksa setiap diberi hadiah.”

“Itu karena aku tidak bisa memberikan apapun sebagai gantinya. Apa kau tidak ingat ulang tahunmu??” ucap Narin dengan suaranya yang terdengar lebih baik berkat bergelas-gelas teh hangat dan air jeruk yang dibuatkan Donghae untuknya. Juga berkat nasihat Donghae agar mengangguk dan menggeleng saja.

“Sshh… Jangan bicara lagi.” Donghae menghentikan Narin membicarakan hal yang tidak ia suka sekaligus menjaga tenggorokan gadis itu. “Kau pasti senang kalau sudah melihatnya.”

Narin menggeser tubuhnya dan menatap Donghae, “Tapi kau tidak perlu memberikanku hadiah Donghae-ya…”

“Diam saja. Jangan banyak bicara. Kau nanti pasti berterima kasih padaku.” Donghae tersenyum lebar sambil menusuk-nusuk pipi gadis itu pelan. “Kau mau aku mengambilnya sekarang? Aku bisa turun kebawah sebentar dan mengambilnya dari mobil.”

Melihat wajah antusias Donghae membuat Narin tak sampai hati menolaknya walau ia enggan sekali bergeser dari posisi nyamannya, “Baiklah.”

Donghae lagi-lagi tersenyum, kali ini karena ekspresi gadis itu. Bibirnya mengatakan ‘baiklah‘ tapi wajahnya tampak sangat tidak rela. “Jangan berwajah seperti itu. Aku tidak akan lama. Kau bisa memelukku lagi setelah itu.”


59198hrthuy4syh

Donghae meletakkan sebuah kardus besar keatas pangkuan Narin dan dari dalamnya terdengar suara salakan.

“Apa itu?” tanya Narin lalu dengan cepat membuka kotak. Didalamnya selain terdapat kalung, pet carrier, beberapa mainan juga tempat makan dan minum, meloncat-loncat seekor anak anjing kecil berbulu tebal berwarna putih. Mata dan mulutnya berwarna hitam dan tampak kontras dengan bulunya yang begitu bersih. Dan dia tampak begitu ramah karena terus tersenyum. Ekornya melengkung kearah punggung dan dia terus saja meloncat-meloncat meminta perhatian. Melihat dari ukurannya kelihatannya ia masih bayi berumur 3 atau 4 bulan.

anjing5a

Narin mengeluarkan anjing kecil itu dari dalam kotak dan mengangkatnya keatas, membiarkan kotak itu jatuh kelantai. “Kau menghadiahkanku seekor anjing?” Narin bertanya dengan wajah shock.

Donghae menarik kalung berwarna merah dari dalam kotak yang terjatuh kemudian melingkarkannya keleher anjing imut itu. “Eung. Aku tahu kau sudah lama ingin punya anjing kecil, jadi kenapa tidak?”

Narin masih mengangkat anak anjing imut itu dan terus memandanginya, “Dia… benar-benar… untukku??” tanyanya masih tak percaya.

Eo… Dia hadiah ulang tahunmu, itu artinya dia milikmu sekarang,” jelas Donghae sambil menikmati wajah terkejut gadis didepannya. “Kau tidak suka?”

Narin akhirnya tersadar dari keterkejutannya dan meletakkan anak anjing itu kelantai dan memeluk Donghae, “Hae-hae… Gomawo…” Narin menarik wajah Donghae dan mengecup pipinya.

Donghae tersenyum, “Benarkan? Sudah kubilang kau pasti berterima kasih padaku.”

Narin mengangguk kencang, “Bagaimana bisa kau memikirkannya? Aku benar-benar menyukainya..” seru Narin. Ia menarik anjing kecil itu mendekat dan menggosok-gosok belakang telinganya.

“Saat pergi membeli makanan untuk Meo, aku melihat dia dan merasa dia sedikit mirip denganmu. Jadi kuhadiahkan saja.” jelas Donghae sambil ikut menggosok-gosok bulu tebal anjing itu. “Kau tahu, anjing ini jenisnya Bichon Frisé, aslinya dari Spanyol. Dan aku sudah punya nama yang cocok untuknya.”

Eo, mwoeunde?” tanya Narin semangat, semua penyakitnya terlupakan.

“Karena dia mirip denganmu, jadi aku mencari nama yang juga mirip dengan namamu.”

“Jangan bilang kau akan menamainya Rin-Rin,” Narin mengerucutkan bibirnya mengingat nama panggilan yang diberikan Donghae untuknya karena lelaki itu merasa Narin mirip dengan anjing nyonya Kang, tetangga dormnya, yang bernama Rin-Rin.

“Anniya,,, yang ini namanya bagus sekali karna aku sudah lama memikirkannya.”

“Geurom mwoeunde?”

“Narae.” Ucap Donghae sambil tersenyum bangga. (baca:Nare)

“Narae?”

“Eung. Dalam bahasa kuno artinya ‘sayap’. Juga mirip dengan namamu kan?” Donghae tersenyum lebar. “Bagaimana bagus kan namanya?”

Senyuman lebar Donghae tergambar juga diwajah Narin, “Narae-ya… Narae-ya…” Gadis itu memanggil-manggil anjing yang baru saja jadi miliknya itu. Narae menggoyang-goyangkan ekornya sambil menyalak-nyalak berusaha melompat kepangkuan Narin membuat gadis itu tertawa kencang. Tawa yang seharian ini belum Donghae lihat sama sekali.

Namun tiba-tiba senyuman itu menghilang digantikan wajah sedih Narin yang membuat Donghae mengerutkan keningnya.

“Tapi sepertinya aku tidak bisa memeliharanya..” ucap gadis itu menyedihkan. Tangannya mendorong Narae menjauh, membuat anjing itu menyalak sedih.

“Wae??” tanya Donghae bingung karena Narin tiba-tiba berubah pikiran.

“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya di gedung ini tidak diijinkan memiliki binatang peliharaan, Aku belum pernah melihat ada yang memelihara binatang dibangunan ini.” Narin kembali mendorong Narae yang berusaha melompat ke pangkuannya. “Mianhae Narae-ya, noona tak bisa memeliharamu.” Ucap Narin hampir menangis.

Donghae mendesah lega, ia pikir Narin berubah pikiran karena hal lain, “Kau kira aku tidak memikirkan hal itu??” Narin mendongak memandangi Donghae yang tersenyum, “Aku sudah menanyakan pada pengawas bangunan dan dia mengijinkan. Lagipula ini kan bukan gedung apartemen Yeonng, kau bisa memelihara apa saja yang kau mau.”

Senyuman lebar mulai muncul di wajah Narin, matanya berbinar-binar, tak tampak seperti orang yang sedang demam 38,7˚. “Benarkah?”

Donghae mengangguk, “Asal kau menjaga kebersihan.”

“Jadi dia milikku? Benar-benar milikku??” Narin kembali meraih Narae dan memeluknya erat.

“Dengan satu syarat.” Donghae mengacungkan jari telunjuknya.

“Apa itu?” tanya Narin was-was, kenapa banyak sekali penghalangnya untuk bisa memiliki Narae.

“Syaratnya, kau harus berjanji, tidak akan mengabaikanku hanya karena dia. Kau tidak boleh lebih menyayangi dia daripada ak—“

Donghae tak lagi bisa melanjutkan kalimatnya karena Narin sudah melompat kedalam pelukannya, membingkai wajahnya dan mencium bibirnya. Donghae terdiam, menikmati gerakan lembut bibir Narin diatas bibirnya. Merasakan udara panas dari bibir gadis itu yang kemungkinan berasal dari demamnya yang belum turun. Namun Donghae tak memperdulikannya. Narin bukan orang yang terbiasa dengan skinship, jadi kalau gadis itu yang memulai itu artinya Donghae harus menyimpan memori ini didalam otaknya.

Tak lama Narin menarik dirinya, seakan-akan tersadar akan sesuatu, “Oopss… mian. Aku lupa, kau bisa tertular flu.”

Donghae mengangkat kedua bahunya, “Aku tidak takut rumah sakit, “ jawabnya enteng, kali ini mengambil inisiatif, menarik Narin mendekat dan kembali merasakan bibir lembut Narin yang menari mengikuti gerakannya, “Happy Birthday Yeonng..”

“Guk…Guk..”

-enD-

Hadiah ulang tahun bwt diri sendiri, hehe.. walopun syudh lewat..
Dan saat menulisnya, saia juga merasakan bagaimana menderitanya kena flu. T-T

Lalu,
perkenalkan keluarga baru Donghae-Narin
NARAE-ya~~

I wish punya puppy kayak gitu.. ^^

Love you all people,,

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

11 thoughts on “[OneSpace] Birthday Fever…

  1. Oh puppy yg cute sekali
    Anyeong narae-ya
    Bahkan dy lebih imut dr si ikan alay kakakakka
    Kasian bgt seh yeong,msa skit g mau bilang ke hae2
    Terlalu keras kpla
    Nanti klu ada apa2 kan kasian si ikan bisa nangis 24 jam n seoul akan banjir hahaha

    Setidaknya ff ni bisa sedikit mengobati rsa kangenku ke ni couple n bisa sdkit mengobati kksalanku ke kyu
    Aku abis baca ff kyu yg dy selingkuh n smpe hatiku sakit
    Ampe nangis n dh bbrp hr ni msih g ska liat kyu
    Aku mw balik ke unyuk aja
    Oke ni trlalu bnyak curcol
    Sekali lagi
    Happy bday yeongggggg
    And hey aku jg mw dikissu ma hae2 kekekekke
    *cium uri brownies

    • sumpah imut x onnie…
      ternyata baru ingat, kalo bada pun mirip kayak gitu, warna putih juga. cuma beda ras..

      hae-hae nangis?
      tenang aja, ada unyuk oppa yang siap sedia melap banjirnya..
      hae-hae kan makhluk fav nya lee hyukjae.. hahahah

      ternyata emang org kalo baca ff itu kayak gitu yah..
      aku juga kadang kalo baca ff, walaupun hae-hae yg main tapi kalo dy jahat disitu, aq tetap benci.
      kadang2 kesal, sampe gk mau liat2 dy ampe beberapa hari..
      tapi abis baca ff lain yang dia cute, malah balek lagi muji2..
      aneh kita emang…

      Gomawo onnie…:-D😀😀

      Ntar kukirim hae2 buat kisseu onnie, tapi abis dy siap dulu ama aku yah..
      hheheheh *gigit eskrim bareng monkey oppa*

  2. Pingback: [RandomELF] Coincidence or Destiny?? ♥♥♥ | == HaeLien ==

    • atas nama narae saya ucapkan ‘thenkyou, thenkyou’… Ha3.
      atas nama hae-hae and Narin saya juga ucapkan, ‘kamu juga so suit..hehe’😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s