[OneShot] Still, I Miss You…

Still, I Miss You

Time has stopped after I let you go
I’m dying, trapped in regret, the tears won’t stop

“Narin-ah…” ucap Lee Donghae dingin. “Uri… geumanhaja.”

Gadis itu terpaku ditempatnya, sementara otaknya bekerja keras mengerti arti dari kata-kata itu. Air mata pun mulai menggenangi pipi mulus gadis itu. Air mata yang tak mungkin Donghae biarkan mengalir kalau saja saat itu ia tidak sedang bodoh.

“Mm…” Hanya sebuah gumaman yang bisa keluar melalui tenggorokan gadis malang itu. Perasaannya meluap begitu cepat hingga ia tak sanggup memilih sebuah kata yang lebih baik. Donghae seharusnya tahu ia sudah menghancurkan gadis itu. Dia seharusnya sadar sudah seberapa jauh ia melukai orang yang selama ini selalu ingin ia lindungi itu. Tapi Donghae tetap membiarkan air mata bening gadis itu meluncur turun membasahi pipinya.

“Maaf, tapi kurasa ini yang terbaik.” Donghae berhasil mengucapkannya dengan tenang. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bibir gadis itu bergetar, berusaha menahan tangisnya. Tangannya bahkan tak sanggup bergerak untuk menghapus air matanya.

Gadis itu menarik nafas dalam. “Geurae, aku harap juga begitu.” ucapnya. Ia kemudian tertawa kecil. “Ahh… Aku tahu hal seperti pasti akan terjadi. Tapi aku tidak tahu akan terjadi saat aku belum menyiapkan diriku sama sekali.” Tangan gadis itu bergerak menghapus air matanya yang kembali jatuh. “Kupikir kita akan bersama selamanya. Tapi ternyata aku hanya gadis bodoh yang berharap terlalu tinggi.” Gadis itu kembali tertawa. Menertawakan dirinya.

Donghae memandangi gadis itu. Gadis kesayangannya. Gadis kesukaannya. Narin-nya. Gadis yang sampai detik ini tak juga tahu bagaimana caranya berbohong dengan benar. Untuk apa tertawa kalau air mata mengalir begitu deras. Seperti itu justru terlihat lebih menyedihkan.

“Ahh… seperti ini ternyata rasanya..” Gadis itu menepuk-nepuk dadanya. Kepalanya yang sejak tadi menunduk, kini terangkat menatap mata Donghae. “Tidak sakitkah??” tanyanya sambil menekan-nekan dada kirinya, tempat dimana  jantungnya mendenyut menyakitkan.

Donghae mengangguk dan menarik nafas dalam, “Aku tahu. Maaf.”

Itu kata-kata terakhir yang diucapkan Donghae malam itu. Dia pun berjalan meninggalkan gadis itu. Donghae bersumpah ia bisa mendengar dengan jelas tangisan gadis itu. Tapi sebagai seorang lelaki berhati dingin yang tak punya perasaan, Donghae pun mengabaikannya.

Late regrets, pointless hopes
But still, my heart wants to find you again

59198hrthuy4syh

What do I do with each of the stacked up memories?
They are still so clear.

Donghae terduduk dibawah sebuah pohon ditepi sungai, ditemani sepasang sneaker berwarna merah berukuran kecil yang tergeletak begitu saja disampingnya.Senyum manisnya terkembang saat memandang seorang gadis yang tak jauh darinya. Gadis itu tertawa-tawa riang, sambil meloncat-loncat diatas batu-batu besar yang tertimbun didasar sungai. Ia menjejakkan kakinya dari satu batu ke  batu lainnya hingga membuat percikan air membasahi kaki jeans biru tuanya.

Tubuh Donghae bergerak mendekati sungai. Tangan kanannya menggenggam sebuah kamera polaroid berwarna abu-abu metalik.

“Hati-hati Yeonng.. Ada banyak batu kecil disini. Jangan melompat-lompat seperti itu!”

“Tenang saja. Aku akan hati-hati.” jawab gadis itu, yang hanya ditanggapi Donghae dengan mendecak karena setelah mengucapkan kata-kata itu Narin justru melompat-lompat mendekati dirinya.

Donghae mengayunkan tangannya dan menggenggam jemari mungil gadis itu dengan tangannya yang bebas, “Apa airnya tidak dingin??”

“Tidak sama sekali.” jawab Narin riang. “Apa kau benar-benar tidak mau mencobanya Hae??”

Donghae melirik sneaker putihnya, “Aku tidak ingin merusak sepatu baruku.”

“Lee Donghae-ssi, kau tidak menyenangkan. “ ucap Narin sambil memajukan bibirnya.

Donghae hanya tersenyum dan mengacungkan kameranya, “Kau mau berfoto??”

Narin mengangguk senang. Dia kembali melompati batu-batu besar, sedikit menjauhi Donghae, kemudian berhenti. “Bagaimana kalau disini??” teriaknya.

Donghae membentuk huruf O dengan ibu jari dan telunjuknya. “Sekali lagi!!” teriaknya, dan mengambil foto yang kedua.

Narin kembali pada Donghae. Dia melompat-lompat senang membuat percikan air membasahi bajunya. “ Ini menyenangkan, Hae! Sungguh!!”

Narin tertawa semakin lebar dan menjejakkan kakinya kesana kemari membasahi Donghae yang sudah kembali menggenggam tangannya.

“Yeonng, berhenti melompat. Kau bisa terluka.” hardik Donghae. “Lihat, kau sudah membuat sepatu dan celanaku basah.”

Narin menarik-narik tangan Donghae. Rambutnya yang dikuncir tinggi bergoyang-goyang seiring gerakannya, “Hae-hae, tidak menyenangkan. Untuk apa mengajakku ke sungai kalau kau tidak ingin basah sama seka— Akhh..!!”

Tubuh Narin terhuyung saat kakinya tidak menapak dengan benar. Untung saja dengan refleks Donghae menarik tangannya dan memegangi tubuh gadis itu sebelum benar-benar terjatuh.

“Lihat, apa yang kau lakukan!” seru Donghae kesal. “Apa kau terluka? Kakimu?”

Narin menggeleng, “Tidak. Aku baik-baik saja.” ucap gadis itu keras kepala walau wajahnya tampak menyesal. “Aku hanya terpeleset Donghae-ya, tidak perlu khawatir seperti it—“

Donghae tak membiarkan gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Donghae memeluk pinggang gadis itu dan mengangkatnya dari air seperti anak kecil, kemudian menggendongnya ke pohon rindang tempat dimana sneaker merahnya terletak rapi.

“Hae-hae, turunkan aku!!” teriak gadis itu. Kakinya meronta-ronta namun Donghae menahannya.

“Tidak. Kau benar-benar keras kepala. Aku tidak akan mengajakmu lagi kemari.”

“Hae-hae, tidak menyenangkan.”

Donghae membuka matanya perlahan. Sebuah pohon rindang yang menjadi tempatnya berbaring berhasil menyadarkannya kalau dia sedang bermimpi. Donghae mendongak ke langit, ke arah awan gelap yang bergerak bebas diatasnya. Tangannya mencengkram erat selembar foto. Selembar foto yang selama ini dia simpan dengan sangat hati-hati. Hari ini juga tak ada bedanya. Hari ini juga ia habiskan untuk memimpikan gadis itu.

“Apa bedanya kau ada atau tidak??” Donghae bergumam. Sebuah senyum pahit terlukis diwajahnya. “Seharusnya tidak ada yang berbeda.”

Donghae mendongak, memandangi ke arah sungai yang kini mulai sepi. Orang-orang yang tadinya masih asik bermain –main di tepi sungai sudah mulai beranjak pergi. Hujan sebentar lagi turun. Awan gelap sudah berada diatas mereka.

“Untuk apa mengingat yang sudah lalu, benarkan??” bisiknya, tersenyum getir. Donghae pun bangkit dan menepuk-nepuk celananya. Dia berjalan pergi namun tak lama langkahnya terhenti. Ia berbalik dan kembali memandangi tepian sungai. Tangannya terangkat menghapus air matanya yang meluncur turun.

“Aku yang memilih ini. Tapi kenapa aku yang menangis?”

I remember the traces of us that still have our smudges on them
It all seems like yesterday
….

 59198hrthuy4syh
….

Tears won’t come – I thought I’d be okay
So I came to this street for the first time in a while
But I guess it was a mistake

Lee Donghae menutup matanya sambil berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Ia bisa mendengar suara semilir angin yang berhembus. Terasa menyenangkan, namun tak membuat suasana hatinya lebih baik.Dia juga bisa melihat daun-daun yang bergerak tertiup angin musim gugur yang dingin, membawa kembali semua kenangan.

Entah sudah berapa lama sejak malam bodoh itu, Donghae tak lagi bisa mengingatnya. Awalnya dia pikir dia bisa bertahan. Tapi walau berusaha tidak mengingat, tetap saja ada kenangan yang tak akan pernah bisa dilupakan begitu saja. Kenangan yang bahkan tanpa kau memikirkannya akan muncul begitu saja. Dan hari ini Donghae memutuskan untuk melakukannya. Mengingat kembali.

Donghae menarik napas dalam dan mulai berjalan. Daun-daun gugur dibawah kakinya mengeluarkan suara khas setiap kali ia melangkah. Jalan ini, jalan yang sudah begitu dia kenal. Jalan yang selalu dia lalui setiap kali ingin bertemu gadis itu. Jalan yang selalu dia lewati setiap kali menjemput gadis itu pulang. Jalan yang sudah tak lagi ia pijak sejak malam itu.

Donghae ingat dibalik belokan itu terdapat sebuah taman kecil dan pohon rindang, dengan bangku panjang dibawahnya. Donghae mengamatinya satu persatu. Ada beberapa pohon-pohon kecil baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan ada beberapa petak bunga yang berguguran mengotori taman. Namun pohon rindang itu masih tetap sama. Begitu juga dengan bangku panjang dibawahnya. Dibangku itu keduanya sering duduk-duduk menghabiskan waktu, sebelum akhirnya Donghae mengantarkan gadis itu pulang.

Langkah kakinya terhenti. Membuka kembali kenangan adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan. Bodoh kalau dia tetap melakukannya, karena itu hanya akan menyadarkannnya betapa bodohnya dia melepaskan gadis itu tanpa sebuah alasan yang jelas. Donghae ingin berbalik, namun tubuhnya pun mengkhianatinya, hingga akhirnya ia pun menyerah dan kembali berjalan.

Donghae menarik sudut bibirnya. Ia bisa ingat bagaimana lebarnya senyum gadis itu setiap kali Donghae datang menjemputnya. Bagaimana cerahnya wajah gadis itu setiap kali Donghae berdiri didekat pintu café, menunggunya menyelesaikan shift kerjanya.

Donghae masih bisa mengingat dengan jelas, bagaimana kedua tangan pendek gadis itu terulur memeluknya sambil tertawa-tawa bahagia. Lalu, jemari gadis itu menggenggam erat jemarinya, mengayun-ayunkannya dan menariknya pulang. Hal-hal kecil yang membuat hatinya terasa hangat walau harus menunggu berlama-lama di tengah dinginnya angin malam.

“Sajangnim, annyeongigaseyo…”

Suara seorang gadis terdengar dari dalam toko sebelum akhirnya pintu café terbuka. Donghae tersenyum lebar melihat gadis yang sejak tadi ditunggunya akhirnya keluar juga.

“Hae-hae, kau datang??” Narin keluar dari pintu café. Nada suaranya terkejut sesaat setelah ia melihat Donghae yang melambai padanya. Rasa terkejut itu pun dengan cepat terganti dengan perasaan senang.

Donghae mendecak sambil membuka sarung tangan biru gelap yang dipakainya dan memakaikannya pada Narin, “Ck… sampai kapan kau akan terkejut seperti itu? Memangnya  selama ini aku pernah tidak menjemputmu?”

Gadis itu dengan cepat menggeleng, “Tidak. Hanya saja sepertinya aku tidak akan pernah terbiasa dengan hal ini. Rasanya aneh ada orang yang selalu datang untuk menjagaku dan melindungiku. Na haengbokhae.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.

Donghae berhenti untuk beberapa saat, menatap gadis itu dengan pandangan sedih, namun kemudian tangannya terangkat, memukul kepala gadis itu pelan, “ Aissh… Harus berapa kali lagi aku menyuruhmu untuk ingat membawa sarung tangan?? Kau lupa ini musim apa??”

Desahan nafas berat keluar dari mulutnya. Donghae merutuki dirinya. Mengapa semua begitu sulit untuk dilupakan. Hari ini pun dia kalah dengan kenangan. Donghae tidak ingin mengakui tapi memang kenanganlah yang membawanya kembali melangkahkan kakinya lagi di jalanan sepi ini, yang sudah sekian lama ia hindari.

Donghae berbelok di ujung taman, berusaha keras mengabaikan semua kenangan yang terus berdatangan setiap kali dia memandang kesekelilingnya. Namun pada akhirnya hanya bisa mengalah dan membiarkan kenangan-kenangan itu menghampirinya.Kakinya menyebrangi jalan kecil yang memisahkan taman dan barisan pertokoan didepannya. Jalannya sangat kecil, hingga walaupun kau duduk ditaman, kau masih bisa mengamati orang-orang yang berjalan di pertokoan.

Tanpa sadar Donghae berhenti didepan salah satu dari barisan pertokoan itu. Toko yang berada tepat didepan pohon rindang dan bangku panjang yang ada ditaman. Toko eskrim dengan pintu yang bergaris warna-warni dengan sticker badut besar yang ditempel di jendela kacanya.

Donghae memandangi pintu toko itu. Terasa begitu familiar dengan aroma khas roti yang diakar dan wangi ice-cream yang meleleh. Lonceng kecil yang tergantung didepan pintu mengingatkannya akan banyak hal. Begitu juga dengan sticker-sticker lucu yang tertempel di samping tiang toko. Semuanya begitu familiar.

Tanpa sadar kakinya terayun melangkah mendekati pintu, namun sebelum tangannya sempat meraih gagang pintu, Donghae tersadar dengan apa yang baru saja hendak dia lakukan. Dia pun berbalik dan melangkah pergi. Tiba-tiba saja tubuhnya membeku saat dari sudut matanya ia menangkap wajah yang begitu dia kenali. Wajah yang begitu dia rindukan.

59198hrthuy4syh

My days have become too long
More than the times I spent with you back then
Though the minute hand of the clock goes around just the same

Cho Narin.

Sudah banyak waktu yang Donghae lewatkan tanpa menyebut nama itu. Donghae tahu ini aneh, tapi ada perasaan terluka setiap kali ingin menyebut nama itu. Walau dia sendiri tidak mengerti, kenapa dia merasa terluka padahal dia-lah pihak yang ‘melukai’.

Gadis itu tetap gadis yang sama. Rambutnya mungkin sedikit lebih panjang, namun Donghae tak bisa memastikan karena ia hanya bisa melihat dari jauh. Yang bisa Donghae pastikan adalah gadis itu masih tetap gadisdengan senyum paling tulus yang pernah Donghae jumpai. Gadis paling baik hati yang mungkin bisa ia temui. Itu bisa Donghae lihat setiap kali gadis itu melayani tamu yang datang membeli eskrim-nya. Bahkan walau dari jarak seperti itu, Donghae masih bisa mengenali senyum itu.

Semenjak hari itu, semenjak sepasang kakinya kembali melangkah di jalanan sepi penuh kenangan itu, dan semenjak ia kembali bisa melihat siluet wajah gadis itu, Donghae sadar ini terlalu berat. Melihat lagi wajah gadis itu setelah sekian lama waktu berlalu seakan menyadarkan betapa beratnya hari-hari yang sudah ia jalani hanya untuk tetap bertahan.

Donghae kembali duduk di bangku panjang yang ada di taman. Tangannya bergerak membuang daun-daun yang berguguran diatasnya. Bangku ini dulu adalah bangku yang selalu menjadi tempatnya menunggui gadis itu menyelesaikan shift kerja-nya. Dari bangku ini ia bisa melihat dengan jelas kedalam toko eskrimitu melewati jendela kacanya yang lebar. Narin selalu memaksanya masuk dan menunggu didalam toko, tapi Donghae selalu menolak. Alasan? Karena Donghae lebih suka mengamati gadis itu dari jauh dan diam-diam tersenyum tanpa ada yang melihatnya. Karena ia suka melihat gadis itu berjalan kesana kemari mengantar pesanan dan juga memandangi gadis itu tersenyum setiap kali lonceng berbunyi dan pintu toko terbuka menandakan pelanggan baru datang.

Namun sekarang bangku itu sudah berubah fungsi. Bangku  itu bukan lagi menjadi tempatnya menunggu namun sudah menjadi tempatnya bersembunyi beberapa waktu ini. Karena diam-diam Donghae ingin kembali ke masa-masa itu. Ke masa dimana ia masih bisa memandangi gadis itu dan tersenyum.

Donghae bisa merasakannya. Ada perasaaan lega yang amat sangat bisa kembali berada di jalan yang sama dengan gadis itu. Kalau ia boleh mengakui, Donghae merindukan semua ini. Dia rindu menghirup udara yang sama dengan gadis itu. Dia gembira gadis itu bisa kembali berada di jarak pandangnya. Memperhatikan dan merekam setiap gerak-gerik gadis itu memang selalu menjadi kesukaannya. Aneh, awalnya ia pikir ini hanya halusinasi tetapi semua begitu nyata.

“Apa yang sebenarnya kulakukan?” Donghae tiba-tiba berbisik. Dari semua kebahagiaan kecil yang ia dapatkan dengan duduk di bangku ini Donghae sadar, ada rasa takut yang tak bisa ia abaikan. Mungkin saat ini ia masih bisa puas hanya memandangi gadis itu dari jauh. Bagaimana dengan nanti? Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Apa yang harus ia lakukan kalau nanti ia tak lagi bisa menahan diri dan memaksa berdiri dihadapan gadis itu?

It’s so hard for me without you, everything is hard
In each moment I breathe, thoughts of you torture me
Maybe, maybe are you longing for me with the same hopes?

Bodoh? Mungkin benar. Lee Donghae memang bodoh. Bahkan walau orang mengatakan itu di hadapannya ia tidak akan marah. Tanpa sadar, kakinya berjalan kembali ke tempat ini. Donghae memandangi toko eskrim dihadapannya. Dulu, Donghae begitu suka setiap kali pintu itu membuka dan gadis itu muncul dari dalam dengan senyum riangnya, menandakan shift kerjanya selesai dan Donghae bisa kembali mendengar ocehan gadis itu. Tapi kini situasinya sudah berbeda.

Hal inilah yang paling Donghae takutkan. Setelah bisa melihat gadis itu dari jauh, kini ia menginginkan hal lain. Kalau saja akal sehatnya masih bekerja, kalau saja ia tidak terlalu bodoh, Donghae seharusnya tahu ia tidak boleh ada disini. Tapi Donghae bahkan tak lagi punya, akal sehat itu. Semuanya. Tubuhnya, alam sadarnya menginginkan hal lain. Dengan sedikit keberanian yang ia punya Donghae melangkah pelan. Tangan besarnya meraih handle pintu dan mulai mendorongnya.

Suara lonceng khas toko eskrim yang berbunyi saat bertabrakan dengan pintu yang terdorong seakan-akan menyadarkannya. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat punggung gadis itu. Tiba-tiba ia merasa ketakutan. Apa sebenarnya yang ia lakukan dengan datang ke tempat ini?

I try and I try but
Your traces come back to life and I’m afraid

Donghae mundur. Dari sekian banyak hal yang bisa dilakukan, alam bawah sadarnya justru menyuruhnya mundur. Donghae bersandar pada dinding disamping pintu yang bisa menyembunyikan dirinya. Menekan dadanya sambil menahan napas. Seluruh keberaniannya sirna sudah.

Punggung itu tampak begitu dekat namun juga terasa jauh dan hal ini membuatnya ketakutan. Seakan-akan semua akal sehatnya kembali dan menyadarkannya. Apa yang ia harapkan dengan menemui gadis itu? Apa yang akan berubah dengan kembali menampakkan diri?

Ia sudah melepaskan gadis itu, lalu apa lagi yang ia inginkan? Menemuinya dan memintanya kembali? Benar. Donghae menginginkan itu. Tapi ia bahkan membenci dirinya karena menginginkan hal itu.

Mereka sudah terlalu lama berjalan di arah yang berbeda. Darimana Donghae tahu kalau gadis itu belum berubah? Darimana ia bisa memastikan kalau gadis itu tetap gadis yang sama. Narin-nya, gadis kesukaannya.

Donghae menarik napas berat. Kalau dia mengumpulkan keberaniannya, mungkinkah ada yang akan berubah?

I want to take courage and tell you those things
But where are you?

Donghae membalikkan badan. Mungkin memang benar, kau tak kan tahu apa yang kau punya sebelum kau kehilangan. Dan Donghae sudah kehilangan. Walau dalam hati ia tidak ingin menyerah, tapi ia tahu ia tak punya hak menemui gadis itu lagi. Bertemu gadis itu hanya akan membuatnya terluka. Dan melukai gadis itu adalah hal yang Donghae harap tak pernah ia lakukan. Tidak setelah ia pernah menghancurkan gadis itu dulu. Tidak setelah ia mendapat kebahagiaan kecil dengan memandangi gadis itu dari jauh.

Tubuhnya bergerak dari tempat persembunyiannya, melewati pintu kaca lebar itu dengan kepala tertunduk. Benar, ia tidak seharusnya berada disini. Gadis itu bahagia. Dan Donghae tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan senyum tulus itu. Lagi.

Terdengar suara pintu membuka diiringi suara denting lonceng khas toko eskrim. Suara lembut dari arah belakang memanggil namanya hingga langkahnya terhenti.

“Lee Donghae…”

 

59198hrthuy4syh

The dust called you, no matter how much I brush it off, it won’t get brushed off
No matter how much I erase you, the stain called you won’t be erased, won’t disappear

Untuk sesaat Donghae tak percaya dengan apa yang ia dengar karena rasanya begitu tidak masuk akal. Aneh namun terasa nyata. Mungkin saja ia berhalusinasi karena begitu berharap mendengar suara itu. Atau mungkin karena selama ini gadis itu tampak begitu dekat namun terasa jauh membuat Donghae tak lagi bisa membedakan hal nyata atau sekedar harapan.

Namun semuanya terasa begitu benar. Suara itu memang terasa begitu dekat. ‘Dekat’ tidak seperti sekedar harapannya tapi ‘dekat’ seperti memang berada disampingnya. Donghae pun berbalik hanya untuk mendapati sebuah senyuman yang begitu dikenalnya, begitu disukainya. Dulu senyum itu selalu untuknya. Bolehkah ia berharap sekarang ini juga masih untuknya?

Donghae sadar ia pasti terus memandangi gadis itu sejak tadi tanpa berkedip sampai akhirnya terdengar suara tawa riang milik gadis itu.

“Donghae-ya…”

Gadis itu kembali memanggil namanya hingga Donghae kembali pada realita dan menyadari entah sudah berapa lama ia menahan napas.

“Rin…”

Nama itu akhirnya keluar dari mulutnya. Setelah sekian lama berhenti menghitung waktu yang ia habiskan tanpa menyebut nama itu, Donghae tak habis pikir bagaimana nama itu bisa meluncur begitu saja tanpa terasa janggal sama sekali.

“Kau datang.” Gadis itu kembali berucap dengan suara riangnya. Bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan seakan-akan dia sudah mengetahui hal ini akan terjadi.

Donghae lagi-lagi terpaku. Narin. Cho Narin. Gadis itu kini berdiri dihadapannya. Hal ini memang selalu menjadi harapannya. Tapi bahkan dalam imajinasi terliarnya pun ia tak pernah berharap gadis itu tersenyum padanya. Reaksi ini terlalu mengagetkan.

Tak ada suara yang bisa Donghae keluarkan. Terlalu banyak yang ingin ia ucapkan. Permintaan maaf karena sudah melukai gadis itu. Maaf karena sudah terlalu bodoh menyuruhnya pergi tanpa alasan yang jelas. Maaf sudah meninggalkannya di malam gelap sendirian. Maaf karena sudah mengikutinya seperti seorang stalker. Maaf karena sudah berani-beraninya muncul. Maaf karena mungkin sudah melukainya dengan berdiri di hadapannya lagi. Namun yang paling Donghae ingin tanyakan adalah kenapa gadis itu bukannya menamparnya atau mungkin menyiramnya dengan air tapi jusru tersenyum lembut dan memanggil namanya dengan suara riang seperti itu.

“Aku merindukanmu.”

I miss you, I’m sorry
I’m regret being not good enough for you
To you, to you

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Donghae dari sekian banyak kata yang ingin ia ucapkan. Kepalanya menunduk sesaat setelah sadar dengan apa yang dia ucapkan. Mungkin suara lembut gadis itu yang kembali menyebut namanya dan tawa riangnya sudah mengelabui otak Donghae dan membuatnya tanpa sadar mengucapkan dua kata itu. Tapi faktanya Donghae memang sangat merindukan gadis itu.

Donghae tidak ingin melukai Narin. Tidak. Tapi saat Narin memanggil namanya, saat dimana dia sudah memutuskan untuk pergi dan menyerah, membuat keberaniannya muncul. Mungkin kalau dia menggunakan sedikit keberanian ini akan ada yang berubah. Mungkin saja Narin masih—

“Kenapa kau membuatku menunggu begitu lama?”

Donghae mengangkat kepalanya. Terlalu terkejut dengan apa yang ia dengar hingga tak lagi sadar dengan ekspresi wajahnya. Matanya membuka lebar seakan-akan ia baru saja mendengar sesuatu yang begitu tidak masuk akal. Tapi ini memang tidak masuk akal. Bahkan kalaupun ia sedang bermimpi, ini terlalu indah.

“Aku terus menunggumu beranjak dari taman itu dan menemuiku.” Lanjut gadis itu setelah beberapa saat tak mendapat respon. Tangannya terayun menunjuk ke arah taman di balik punggung Donghae.

Donghae tak perlu berbalik untuk tahu kearah mana gadis itu menunjuk. Setelah mencerna kata-kata gadis itu, wajah Donghae memerah. Gadis itu tahu dia ada di taman. Gadis itu melihatnya.

“Kau… Kau melihatku ditaman itu??” tanya Donghae terbata.

“Eung.” Narin mengangguk. “Tentu aku melihatmu. Mana ada orang yang duduk ditaman siang dan malam tanpa bergerak sama sekali. Lalu kembali lagi besok paginya di jam yang sama. Semua orang di toko membicarakanmu.”

Donghae lagi-lagi menunduk, tak lagi tahu harus mengucapkan apa. Narin melihatnya. Lalu apa gadis itu marah karena Donghae sudah mengikutinya.

“Kupikir kau datang untukku. Dan aku terus menunggumu menghampiriku, tapi kau tidak juga datang, dan aku sudah hampir menyerah.”

Donghae memandangi gadis itu. Lagi-lagi Narin mengucapkan kata-kata yang begitu mengejutkan namun sekaligus membuatnya bahagia. “Kau… Kau menungguku?”

“Ya. Dan kau membuatku menunggu begitu lama.” Gadis itu memicingkan matanya seakan-akan sedang marah namun senyuman tak pernah hilang dari wajahnya.

“Maaf, aku sudah melukaimu. Kupikir kau tak ingin melihatku lagi. Kupikir… aku…”

“Kau dimaafkan.”

Lagi-lagi Donghae dengan wajah shock-nya memandangi gadis itu, “Ta…Tapi…”

“Wae?? Kau tidak ingin aku memaafkanmu?”

Donghae terkesiap. Kedua tangannya refleks  bergerak menyampaikan perasaannya, “Bukan… Maksudku… Aku sudah melukaimu. Kau..Kau seharusnya marah. Kau seharusnya… memukulku. Kau tidak… Kau tidak seharusnya tersenyum padaku.”

Gadis itu kembali tersenyum. Senyum yang sama yang membuat keberanian Donghae muncul. “Tentu saja aku marah. Tapi kau  tahu kan aku ini orang baik. Bagaimana bisa aku tidak memaafkan orang yang meminta maaf padaku?”

Donghae benar. Gadis dihadapannya ini adalah gadis paling baik hati yang pernah ia temui. Gadis yang punya hati paling tulus yang mungkin ia kenal. Bahkan walaupun terluka, dengan begitu cepat gadis itu memaafkannya. Andai saja ia datang lebih awal, mungkin dia tidak akan terlalu menderita dan Narin tidak perlu terlalu lama menunggunya.

“Kau benar? Kau sedang tidak bercanda? Apa semua ini benar?”

Gadis itu menggeleng, “Tidak. Sebelum kau memelukku dan bilang sekali lagi kalau kau merindukanku.”

Donghae melangkahkan kakinya ragu-ragu. Namun saat gadis itu membuka kedua tangannya, Donghae langsung tersenyum dan memeluknya erat. Suara tawa ringan gadis itu terdengar begitu jelas di telinganya. Aneh. Entah bagaimana caranya semua rasa sakit yang ia pendam sekian lama tergantikan dengan kebahagiaan hanya dengan sebuah pelukan sederhana.

Ini benar. Semuanya terasa benar. Pelukan itu terasa begitu hangat. Ujung-ujung rambut gadis itu yang menggelitiki wajahnya, tubuh mungilnya yang begitu pas dalam pelukannya, dan wangi strawberry yang tercium. Semuanya tak mungkin bisa Donghae lupakan. Andai saja waktu bisa berhenti, sesaat saja  Donghae ingin berada lebih lama dalam pelukan ini.

“Aku sangat merindukanmu…” bisiknya.

No matter how much I run and run, the milestone called you won’t come to an end
I’m trapped in a maze called you.

59198hrthuy4syh

Coz sometimes a ‘breakup’ comes just because a simple boringness…
And the remaining one is a late regrets…. TT__TT

-enD-

Another galaww storyy~~
Pasti tau kan lirik2 diatas? Gabungan dari Infinite ‘I Still Miss You’ , 2AM ‘One Spring Day’ en lagunya Junhyung Beast ‘After Time Passes By’.

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

8 thoughts on “[OneShot] Still, I Miss You…

  1. Noona kenapa gak nerbitin buku aja ??
    Ini ceritanya bagus banget loh >//< Aku udah baca semua Fanfic/One Space/One Shoot noona ^^ Dan……….Semuanya bener" bikin pembaca masuk(?) kedalam cerita ..
    I Love all of your storys…

    • Buku??
      wahh, itu a dream that stillll far away kayaknya..
      mungkin masih merajinkan diri nulis disini dulu kayaknya,
      but eniwey saia anggap itu sebagai pujian, coz saya terharu dibilang gitchu… Huhuh *elapingus*

      udah baca semua??
      wah, hayo2 di review comen satusatu…. *mukamaksa*
      thanks udh mw baca semua😀

      eniwey, noona??
      wah jarang2 ngelihat fanboy ni…
      Annyeong~~~~ Salam kenal..

  2. ^^ coba ngirim naskah kebeberapa penerbit aja noona…mana tau ada yg mau nerima dan aku yakin bakal ada yg nerima (*aminnn) *brb doa*

    wks xD bisa” keyboard jebol(?) nun nge-coment semua Fanfic-nya xD

    Nado..Salam kenal noona ^^
    Bias kita sama ni😀 Hae-Hae Ahjussi ^^

  3. Wow. :O
    Speecheless.-.
    Nyeseknya dapet/?
    Tp knp tbtb donge minta pisah? Ada alesan apa? Pst ada alesanya, kan? Sequel dong buat sudut pandang narin. Kan disini banyak nyeritain donge. Narinya gimana? sama njelasin knp donge minta pisah donk? Hhehe.😀

    • Mungkin krna saat itu dia lagi bosan en minta putus, bisa aja kan? Org kan bisa putus walo hnya krna alasan sepele…

      Sequel? Ehmm, lagi sibuk bgt sama dunia nyata, jdi skrg lgi blm smpt buat nulis… balas komen ajah ni kelewatan… hehehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s