[OneSpace] Protected…

one fine day copy

“Kau dapat pekerjaan??”

Donghae memekik saat Narin memberitahunya tentang kabar itu. Saat itu beberapa member yang masih tinggal di dorm sedang libur. Eunhyuk dan Ryeowook sedang asyik suap-suapan sepotong sandwich yang baru selesai dibuat Ryeowook 1menit yang lalu. Ada Kangin yang sedang olahraga diatas treadmill.  Juga ada Sungmin dan Donghae yang sedang mempelajari lagu baru diatas meja pendek dekat sofa. Bahkan uri  ‘Most Loveable  Maknae versi 2013’ Cho Kyuhyun yang super sibuk itu juga ada. Tentu saja dengan PSP-nya. Keenam pemuda tampan itu langsung mengalihkan perhatian mereka pada gadis yang duduk di sofa disamping Donghae, yang baru tiba di dorm mereka 15 menit yang lalu itu.

“N..Nde.. Aku baru saja dapat panggilan.” Narin memandangi Donghae yang masih kelihatan shock.

‘Ini tidak akan berhasil. Seharusnya aku membelikannya sesuatu dulu untuk mengalihkan perhatiannya. Mungkin action figure iron man atau mungkin baju kotak-kotak. Seekor ikan juga sepertinya tidak buruk.’ Narin bergumam dalam hati.

Tahu kalau Donghae tidak akan melakukan apapun selain memelototi Narin, Eunhyuk bertanya, “Dimana?”

“Ada dua pilihan.” Walau dengan susah payah, Narin akhirnya berhasil mengalihkan diri dari pandangan menusuk Donghae, “Di noraebang  atau di perpustakaan.”

Kedua mata Kyuhyun berbinar-binar, ia melepaskan PSP-nya dan menarik tangan Narin, “Norebang?? Woah– Pasti menyenangkan. Yeonng, kau sangat beruntung. Dulu saat kecil oppa selalu bermimpi bisa bekerja disitu.”

Sungmin menggeleng-gelengkan kepala, “Aku yakin kau pasti langsung dipecat Kyu. Bukannya ingat melakukan tugasmu, yang ada kau malah ikut bernyanyi dengan tamu-tamu yang datang.”

Kyuhyun menyengir lebar sambil kembali meraih PSP-nnya. “Hehehe… Hyung mungkin benar.”

“Dimana itu??” Donghae akhirnya mengeluarkan suara membuat Narin menarik nafas lega walau dalam hati.

Noraebang   tidak terlalu jauh dari dorm-ku. Hanya kurang lebih 15 menit dengan bus. Tapi perpustakaan sedikit lebih jauh. Aku harus ke stasiun kereta dan naik subway. Perlu waktu 20 menit untuk sampai, belum ditambah waktuku berjalan kaki ke stasiun. Jadi totalnya mungkin mungkin 30 menit-an.”

“Kalau begitu yang diperpustakaan saja.” Donghae mengucapkannya dengan begitu yakin.

Eeeiyy Hyung… Kau ini benar-benar membosankan.” Kyuhyun kembali meletakkan PSP-nya. “Narin itu kan seorang mahasiswa. Setiap hari dia melihat buku. Kenapa masih memilih bekerja di perpustakaan?”

Majyeo..” Eunhyuk menambahkan. “Narin kan masih muda. Dia juga butuh refreshing. Jadi saat siangnya dia sudah lelah di kampus, malamnya dia bisa refreshing di noraebang.”

Eunhyuk dan Kyuhyun serempak mengangguk-angguk.

Keundae… Donghae-ya…” ucap Narin hati-hati. “Perpustakaan letaknya lebih jauh dari dorm-ku. Dan kau tau kan kalau biaya naik kereta itu jauh lebih mahal dibanding naik bus. Dan lagi aku masih harus berjalan kaki. Itu pasti melelahkan.”

“Tapi Rin, shift kerja di noraebang   itu paling cepat jam 10 malam, lalu diganti shift berikutnya hingga pagi.” Kangin turun dari treadmill dan menghapus peluh diwajahnya dengan lap. “Oppa pernah punya teman yang bekerja disana. Dan kau tau, seorang gadis pulang sendiri semalam itu bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.”

“Malam?? Maksudmu kau akan bekerja sampai malam??”

Geurom.” Kyuhyun dengan semangat menjawab pertanyaan Donghae. “Hyung, noraebang   itu baru bisa disebut noraebang   saat malam hari. Disitu semua orang mulai ramai-ramai datang berkunjung, terutama para couple.” Kyuhyun melirik Eunhyuk meminta persetujuan dan Eunhyuk langsung mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Lalu apa diperpustakaan juga kau akan pulang semalam itu?”

Narin menggeleng, “Tidak. Tidak terlalu malam. Jam 8 aku sudah bisa pulang.”

“Ya sudah, diperpustakaan saja.” putus Donghae.

“Tapi Donghae-ya… Kalau dibandingkan dengan gaji yang kuterima dan uang yang kukeluarkan untuk membayar ongkos kereta, aku hanya mendapatkan sedikit. Tapi kalau aku memilih bekerja di noraebang  —“

“Hmm~ Tapi rasanya tetap tidak baik seorang gadis bekerja sendiri disana.” potong Sungmin tiba-tiba. “Disana pasti banyak sekali orang yang minum-minum dan mabuk-mabukan. Bukannya kau tidak sanggup mencium bau alcohol?”

Narin menggigit bibirnya. Dia lupa memikirkan hal ini. Sementara Donghae memandang Sungmin dengan penuh rasa terima kasih.

“Jangan dengarkan dia Rin. Dia tidak tahu caranya menikmati hidup.” ucap Kyuhyun mendorong Sungmin dengan kakinya, tak perduli Donghae yang sudah memelototinya. “Pilih di noraebang   saja. Pasti menyenangkan. Dan kau tidak akan mati bosan ditemani ratusan buku seperti di perpustakaan.”

Kalau tatapan bisa membunuh, mungkin Kyuhyun sudah habis terbakar ditatap Donghae seperti itu.

Donghae melirik Narin yang sedang menatapnya dengan wajah memelas. Ini bukanlah sesuatu yang ingin ia dengar di hari yang tenang seperti ini. Kalau boleh, ia pasti sudah menolak mentah-mentah rencana Narin untuk bekerja. Tapi cara seperti itu hanya akan membuat Narin membulatkan tekadnya. Gadis keras kepala itu semakin dilarang justru akan semakin melawan. Donghae harus punya cara sendiri untuk meluluhkan hatinya.

“Kalau begitu aku akan menjemputmu.” ucap Donghae tegas, tak ingin dibantah.

Narin menggeleng keras, “Tidak. Kau tidak perlu menjemputku Donghae-ya. Aku bisa pulang sendiri.”

“Kau menyuruhku membiarkanmu naik bus sendirian semalam itu?”

Narin menyilangkan kedua tangannya kedepan dan mendecak, “Aku sudah cukup besar untuk naik bus sendiri. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil.”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Kalau begitu kenapa aku tidak boleh pulang sendiri?? Hanya 15 menit naik bus dan 5 menit berjalan kaki dari halte dan jajaan… aku sudah sampai di rumah.”

Donghae menarik nafas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana cara menjelaskan hal ini pada Narin tanpa membuatnya salah paham. Bagaimana caranya menjelaskan kalau dia tidak suka membayangkan gadisnya naik bus sendirian di malam hari tanpa membuatnya tampak seperti seorang kekasih yang berlebihan. “Itu karena…”

“Itu karena dia tidak suka membayangkan ada orang yang menyentuh apa yang menjadi miliknya. Itu bisa membuatnya gila. Begitu kan, hyung?”

Rasanya Donghae ingin memakan hidup-hidup orang yang disebut-sebut ‘Most Loveable Maknae’ itu.

Bola mata Narin melebar, menatap Donghae tak percaya, “Aku seorang mahasiswa. Aku sudah cukup besar untuk menjaga diriku sendiri.”

“Aku tahu kau bisa. Hanya saja kau bisa menarik perhatian orang-orang.”

“Lalu? Bukan berarti mereka akan melakukan sesuatu yang aneh padaku kan?”

Eunhyuk yang sekali lagi merasa harus ikut campur, kembali berbicara. “Donghae benar, Rin. Kau itu seorang gadis. Ditambah embel-embel ‘cantik’ dibelakangnya.” Eunhyuk melirik Donghae yang sudah memelototinya, “Wae?? Apa aku tidak boleh memujinya? Dia memang cantik.” Ia pun kembali melanjutkan, “Orang-orang yang melihatmu, terutama yang satu spesies dengan kami, bisa saja memikirkan hal-hal yang mungkin bisa membahayakanmu. Bisa saja kan ada orang yang tiba-tiba menculikmu dan menyekapmu karena melihat seorang gadis cantik berjalan sendirian.”

Kata-kata terakhir Eunhyuk yang sedikit mengerikan membuat Narin tak lagi sempat tersipu malu saat idola-nya, Lee Hyukjae baru saja memujinya ‘cantik’. Dia bahkan tak ingat untuk tertawa saat Eunhyuk menyebut kata ‘spesies’ untuk menyebut dirinya sendiri.

Gomawo Hyuk atas bantuannya. Tapi setidaknya cari cara bagaimana mengucapkannya tanpa menakutinya.” Donghae menggenggam tangan Narin. Ia mengerti Eunhyuk hanya mencari cara untuk mencairkan suasana, tapi melihat wajah pucat Narin membuatnya mengerang.

“Kalau kau masih tetap bersikeras bekerja disitu, kau harus membiarkanku menjemputmu.”

Narin menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu-ragu. “Tapi Donghae-ya, kau kan sibuk. Kau juga sering keluar kota, mana mungkin kau bisa menjemputku setiap hari.”

“Aku tahu. Mungkin tidak setiap hari. Tapi selama aku masih ada di Seoul, aku pasti akan menjemputmu.”

Narin menunduk, memainkan jari-jari kakinya, tampak mempertimbangkan sesuatu. Donghae bisa melihat kalau gadis itu masih bingung, tapi Donghae sudah bisa menebak ke arah mana perdebatan ini akan berakhir.

“Tapi kan…” Narin mendongak, menatap Donghae, “Semua Elf sudah tau mobilmu, bagaimana nanti kalau ada yang melihat kau menjemputku?” Narin masih berusaha meyakinkan Donghae, walau dalam hati ia sudah menyerah.

“Aku bisa mengecatnya dengan warna baru. Atau mungkin sekalian saja beli yang baru.”

“Oh berlebihan sekali.” olok Ryeowook yang datang dengan sepiring sandwich ditangan, dan meletakkannya di meja. “Kau sedang ingin pamer kalau uangmu banyak??”

Donghae mengabaikan Ryeowook. Ia tersenyum saat melihat kerutan di wajah Narin semakin banyak. Gadis itu tampak berpikir keras. Donghae tahu kata-kata terakhirnya tadi pasti langsung membuat gadis itu menyerah. Narin paling tidak suka menjadi alasan Donghae melakukan hal-hal seperti itu. Baginya itu hanya membuang-buang uang. Walau Donghae tak pernah menganggapnya seperti itu.

Narin mengigit bibirnya. Wajahnya tampak seperti anak anjing yang harus merelakan makanannya diambil anjing lain yang lebih besar darinya, “Baiklah. Aku akan bekerja di perpustakan.”

Terdengar protes tidak setuju dari Kyuhyun dan Eunhyuk –yang tidak jelas, sebenarnya setuju atau tidak setuju dengan perdebatan ini- dan sebuah senyuman dari Sungmin.

Donghae menarik tangan gadis itu dan memainkannya, “Gomawo Yeonng..” ucapnya tersenyum. Tangannya yang lain mengambil sepotong sandwich dan mendorongnya ke bibir Narin, berusaha meredakan perasaan kecewa gadis itu. Narin menggeleng lesu, hingga Donghae akhirnya memasukkan seluruh sandwich itu ke mulutnya sendiri.

Narin menghela nafas, “Padahal aku juga ingin merasakan bekerja disitu.”

“Tapi Yeonng…”

“Aku tahu. Setidaknya biarkan aku merasa kecewa sebentar saja..”

Arrasso..”

Donghae mengambil sepotong sandwich lagi, dan kembali mendorongnya ke bibir Narin, namun kali ini gadis itu menggigitnya walau masih dengan wajah kecewanya.

“Lalu kenapa kau tiba-tiba ingin bekerja? Bahkan tanpa memberitahuku dulu.” tanya Donghae. “Maksudku, kau kan tahu, tanpa kau bekerja pun kita sudah jarang ketemu. Dan kau juga masih kuliah, apa nanti tidak terlalu melelahkan?”

“Aku tahu, tapi kan jam 8 malam aku sudah sampai di rumah. Dan kalau aku bekerja di perpustakaan, aku punya libur di hari Sabtu dan Minggu. Lagipula semester ini, mata kuliahku tidak terlalu padat, jadi tidak akan ada yang terganggu.”

“Tapi pasti ada alasan kenapa kau tiba-tiba—“

“Tentu saja karena dia butuh uang. Memangnya alasan apa lagi orang ingin bekerja?” Kyuhyun menjawab dari balik PSP-nya.

Donghae menatap Narin, “Apa itu benar Yeonng??”

“Lebih kurang seperti itu.” Narin menjawab enteng. “Lagipula siapa orang didunia ini yang tidak butuh uang?”

“Yeonng!! Kalau kau butuh uang, kau kan bisa meminta…” Donghae tercekat melihat wajah Narin yang tiba-tiba mengeras dan matanya yang menyipit, seakan-akan menantang Donghae untuk melanjutkan kata-katanya. “Maksudku, kau kan bisa…. aku bisa… Maksudku, membantumu… mungkin aku…”

Donghae tak sanggup melengkapi kalimatnya, melihat wajah Narin yang semakin lama justru semakin mengerikan. “Wae!? Wae!? Kenapa aku tidak bisa membantu kekasihku sendiri? Bahkan untuk orang yang tak begitu dekat padaku saja, aku rela meminjamkan uangku padanya.! Tapi kenapa untuk kekasihku aku tidak bisa melakukan apapun.” Donghae berteriak sedikit frustasi.

“Karena aku tidak datang kemari untuk meminjam uangmu.!” Narin memekik tak mau kalah.

Donghae terdiam memandangi wajah gadis itu. Kalau ia tetap bersikeras, bisa-bisa Narin merubah pikirannya dan kembali memilih bekerja di noraebang . Karena Narin sudah rela mengalah tadi untukknya, kali ini biar dia yang mengalah. Donghae pun menarik tangan gadis itu, yang tadi sempat menjauh darinya, “Arrasso.. Arrasso.. Mianhae. Aku tidak akan meminjamkan uangku padamu. Tidak akan. Bahkan walaupun kau sendiri yang memohon-mohon padaku, aku tidak akan meminjamkannya padamu. Kau senang!?”

Pabo…” ucap Narin dengan wajah cemberut. Donghae hanya menyengir lebar. Tangannya menggelitiki dagu gadis itu, berusaha membuatnya tersenyum.

“Hhh~~” Narin mendesah, sambil menatap Eunhyuk dan Kyuhyun. “Memang hanya Eunhyuk oppa dan Kyuhyun oppa yang benar-benar menyayangiku.”

MWO!!??”

***

Narin memandangi bayangan wajahnya di kaca yang tergantung di kamarnya, dan merapikan rambutnya. Bekerja di perpustakaan tidak memerlukan seragam, jadi ia memilih memakai kemeja putih dengan aksen renda di leher. Simple namun tetap rapi. Ditambah jeans denim dan sepatu flat vintage biru muda membuatnya tampak manis. Rambutnya yang panjang ia gelung keatas agar tidak tampak berantakan dan tidak mengganggunya saat bekerja nanti.

Hari senin ini adalah hari pertama ia mulai bekerja di perpustakaan. Dan shift kerjanya dimulai pukul  1siang –setelah mata kuliahnya selesai- hingga pukul 8malam nanti. Namun karena hari ini seluruh mata kuliahnya di cancel, jadi dia masih bisa bersantai di rumah tanpa perlu terburu-buru pergi.

“Apa aku benar-benar tidak boleh mengantarmu??”

Suara itu terdengar dari ruang tengah dorm-nya. Lee Donghae yang hari ini tidak punya schedule, selain latihan di malam hari, memutuskan datang ke dorm Narin dan menghabiskan waktunya sebelum gadis itu pergi bekerja.

Narin keluar dari kamarnya sambil menenteng tas selempang warna kulit coklat, dan meletakkannya di sofa disamping Donghae. “Kau kan sudah berjanji padaku..”

“Aku kan berjanji untuk tidak menjemputmu, artinya aku masih boleh mengantarmu kan?”

“Apa bedanya?” Narin menggeleng. “Lagipula kalau kau mengantarku, aku tak akan bisa mengingat jalan pulang dengan bus. Kau kan tahu aku sangat payah menghapal jalan.”

“Justru karena itu aku tidak suka membiarkanmu sendiri..”

“Apa kita harus memulai perdebatan ini lagi??”

Arrasso. Mianhae.”

Donghae memajukan bibirnya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain memandangi gadis itu bersiap-siap. Donghae benar-benar ingin sekali mengantar Narin pergi, itu alasan kenapa dia datang siang ini. Tapi ternyata Narin tetap tak bisa digoda. Gadis itu terlalu mengkhawatirkan dirinya tertangkap kamera fans.

“Yeonng… Apa kau benar-benar akan meninggalkanku sendiri disini?” Donghae memandang Narin dengan wajah memelas, seperti bocah lima tahun yang merengek agar ibunya tidak pergi.

“Tentu saja. Aku kan harus pergi bekerja. Tadi aku sudah bilang kau tidak perlu datang, kan?”

Donghae mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Narin. “Aku kan ingin melihatmu pergi bekerja untuk pertama kalinya.”

Narin memutar bola matanya mendengar nada bicara Donghae, “Kau membuatnya seolah-olah aku anak kecil yang masuk sekolah untuk pertama kalinya.” Narin pun duduk disamping Donghae sambil merapikan poninya, “Jangan menelponku setiap menit, arrachi!? Aku pergi bekerja bukannya berlibur. Kau bisa-bisa membuatku dipecat di hari pertamaku.”

Arrasso~~” rajuk Donghae. “Kau sudah mengatakannya semalam.”

Narin melirik jam di dinding ruang tamunya kemudian bangkit berdiri dan mengambil tasnya, “Ya sudah. Aku harus pergi. Bye…. Donghae-ya~~ jangan memasang wajah seperti itu. Kau membuatku merasa bersalah.” ucap Narin saat melihat wajah Donghae yang begitu menyedihkan. Narin pun menarik tangan Donghae dan memain-mainkannya, berusaha menghibur pemuda yang sedang cemberut itu.

“Kalau begitu sebelum pergi…. Kisseu??”

Narin berusaha keras untuk tidak tertawa melihat betapa imutnya pemuda berumur 27 tahun yang ada dihadapannya ini.

“Oh ayolah Yeonng~~ Sebuah ciuman tidak akan membuatmu rugi. “

Narin akhirnya tertawa, mengacak-acak rambut Donghae kemudian menunduk dan mencium pipinya.

Donghae mengernyitkan hidungnya kecewa. “Bagaimana dengan yang ini??” ucapnya memajukan bibir.

Narin yang sadar tak punya waktu lagi berlama-lama, langsung menangkupkan wajah Donghae dan mengecup bibirnya cepat. Donghae membelalakkan matanya, tak mengira Narin langsung menuruti permintaannya begitu cepat. Namun saat ia mulai bisa merasakan wangi strawberry yang tercium dari bibir Narin,  gadis itu justru sudah menarik dirinya.

“Cepat sekali. Aku bahkan belum sempat merasakan apapun.” protesnya.

Narin hanya tersenyum dan melambai pergi namun Donghae menarik tangannya dan menangkap gadis itu dalam pelukannya. “Hhh~ kenapa susah sekali rasanya membiarkanmu pergi bekerja?”

Narin lagi-lagi tersenyum melihat wajah khawatir Donghae. Dalam hati ia merasa bahagia ada orang yang begitu memperhatikannya, “Aku akan baik-baik saja.” Tangannya menggelitiki dagu Donghae, kebiasaan baru yang mulai ia sukai. “Kembalilah ke dorm-mu dan pergi tidur.”

Donghae mengangguk dan melepaskan gadis itu. “Pergilah. Tapi jangan sampai kau tergoda dengan pemuda tampan yang ada disana.”

Narin berlari keluar dan menutup pintu setelah sebelumnya berteriak, “Kalau yang itu, aku tidak janji!!!”

“Ya!!!”

***

Narin melompat turun dari bus yang membawanya pulang. Hari pertamanya bekerja sudah selesai, dan rasanya cukup menyenangkan. Tidak sulit, tidak melelahkan walaupun sedikit membosankan. Yang dilakukannya sama saja seperti yang dilakukan penjaga perpustakaan yang lain. Mencatat buku yang dipinjam dan yang dikembalikan. Menyusun kembali buku-buku yang dikembalikan ke raknya, mencatat orang-orang yang mendaftar jadi anggota baru dan hal-hal lainnya.

Narin tidak bekerja sendiri. Karena perpustakaannya cukup besar, ada 4 orang lain yang bekerja selain dirinya. Dua diantaranya adalah pegawai tetap. Keduanya adalah ahjumma yang berumur sekitar 40-an. Dan dua lagi sisanya adalah pegawai paruh waktu, juga masih mahasiswa sama sepertinya, Kyungsoo dan Kyungri. Walau nama mereka mirip bukan berarti mereka punya hubungan darah. Kyungsoo seumuran dengannya, hingga Narin memanggilnya dengan sebutan Kyungsoo chingu. Sementara Kyungri dua tahun diatas mereka, dan Narin memanggilnya Kyungri onnie sementara Kyungsoo memanggilnya dengan panggilan pendek, Kyung Noona, tentu karena mereka sudah kenal lebih lama. Keduanya sangat baik dan lucu, terutama Kyungsoo. Narin menyukai keduanya, dan rasanya ia akan betah bekerja disitu. Dalam hati Narin berterima kasih pada Donghae karena membuatnya bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan.

Sambil berjalan kaki menuju rumah, Narin memeriksa ponselnya. Seharian ini Donghae sudah menepati janjinya. Pemuda itu hanya mengiriminya 6 pesan singkat -Itu cukup sedikit dibanding dengan banyaknya pesan yang dikirim Donghae saat dia pergi ke Daegu bersama dengan teman-temannya bulan lalu-. Narin tersenyum. Kadang Lee Donghae itu khawatir pada hal-hal yang tidak perlu.

From : 잘 생긴 외계인 ♥ (Alien tampan)

Aku tahu ini baru 15 menit sejak kau pergi, tapi aku sudah merindukanmu Yeonng..

From : 잘 생긴 외계인 ♥

Apa kau terlambat? Apa bosmu galak? Apa pekerjaanmu menyenangkan? Apa buku-buku itu membuatmu pusing?

From : 잘 생긴 외계인 ♥

Yeonng~~ Aku lapar. Aku ingin memesan ayam pedas Kyochon chicken. Apa kau ingat nomor teleponnya?

Oh, Apa kau sudah makan?

From : 잘 생긴 외계인 ♥

Aku sedang menonton variety show terbaru Hyukjae. Dan kau tahu, dari sini lubang hidungnya kelihatan besar sekali. Apa ada pemuda tampan yang menggodamu?

From : 잘 생긴 외계인 ♥

Yeonng… Apa kau perlu bantuan menyusun buku-buku itu? Kakimu kan pendek. Apa kau tidak tersandung meja? Kau tidak akan dipecat kan?

From : 잘 생긴 외계인♥

Yeonng… Apa kau merindukanku??

Narin lagi-lagi tersenyum. Pesan-pesan bodoh, namun bisa membuat perasaan gugup Narin di hari pertamanya hilang. Tentu saja dia tidak bisa membalas semua pesan itu, bisa-bisa dia benar langsung dipecat. Hanya dua pesan yang bisa ia kirimkan pada Donghae saat Nyonya Hwang, salah satu pegawai tetap yang sedikit strict tidak melihat ke arahnya.

To : 잘 생긴 외계인 ♥

Pekerjaanku baik. Bosku tidak galak. No teleponnya 010-44437.

To : 잘 생긴 외계인 ♥

Aku tahu kakiku pendek. Terima kasih banyak. Kalau kau masih masih mengirimiku pesan, kupastikan aku akan pindah kerja ke noraebang . Ya Lee Donghae, aku juga merindukanmu.

Saat Narin sampai dirumah dan menghidupkan lampu, ia melihat kepala seseorang menyembul dari balik sofa miliknya. Narin berjalan memutar melewati sepasang kaki panjang yang tidak cukup ditampung oleh sofanya itu dan mendapati Lee Donghae yang tertidur nyenyak diatasnya. Narin berjongkok mensejajarkan dirinya  dan mengagumi wajah tampan dihadapannya. Bagaimana bisa seorang pemuda berumur 27 tahun bisa tampak seimut ini. Lee Donghae tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Bulu matanya yang lentik dan panjang tampak seperti bergerak-gerak. Sebelah tangannya menempel pada pipi sebagai pengganti bantal sementara sebelah tangan lain menggenggam erat ponsel putihnya.

Narin memutar otak mencari cara bagaimana membangunkan pemuda itu. Melirik ponsel putih Donghae, akhirnya dia mendapat akal. Narin menarik ponsel miliknya dari dalam tas dan mulai mengetik sebuah pesan. Dia akan mengirimkan pesan itu dan ponsel Donghae akan berbunyi dan mengagetkannya. Pasti akan menyenangkan melihat ekspresi Donghae yang terkaget.

Belum sempat Narin selesai mengetik pesannya, ponsel putih Donghae tiba-tiba berbunyi, mengagetkan tidak hanya Donghae namun juga gadis itu. Donghae yang terkaget langsung membuka matanya namun langsung kembali menutupnya tanpa menyadari apapun. Ia menggeser slide ponselnya dan menempelkannya ke telinga, semua dengan mata tertutup.

Yoboseyo…. Eh Hyukjae-ya… Belum… Pergilah, aku makan bersama Narin…. Belum, mungkin sebentar lagi dia pulang… mmmmm…..”

Donghae menjawab semua itu dengan suara mengantuknya membuat Narin tak sanggup menahan tawanya. Donghae langsung membuka matanya dan memandangi gadis yang duduk dilantai di dekat kakinya itu.

“Eh… Kau sudah pulang?? Kenapa tidak membangunkanku?”

Aigoo Kyeopta~~” Narin mengacak-acak rambut Donghae kemudian menariknya duduk, “Apa itu Hyukjae oppa? Dia mengajakmu makan?”

Donghae mengangguk sambil menggosok-gosok matanya, menghilangkan rasa kantuk.

“Lalu kenapa kau tidak ikut??”

“Kalau aku ikut, artinya sia-sia aku menunggumu seharian disini.”

Narin membelalakkan matanya tak percaya, “Jadi sejak tadi siang aku meninggalkanmu, kau tetap disini? Sendirian?”

Donghae mengangguk, “Eung..”

Wae??”

Donghae mengangkat kakinya keatas sofa sambil memandangi Narin melepas ikatan rambutnya, “Kau kan baru dapat pekerjaan, tentu aku menunggumu mentraktirku makan.”

Narin mendengus, “Ini masih hari pertamaku bekerja Lee Donghae. Kalau kau mau aku mentraktirmu, kau harus menunggu satu bulan lagi sampai aku mendapat gaji pertamaku.”

“Benarkah?? Tapi aku lapar Yeonng..” rengek Donghae.

Narin berjalan ke dapur dan menuang segelas air untuknya, “Lalu? Apa urusannya kau lapar denganku? Uangmu kan banyak. Kau bisa memesan apapun yang kau mau.”

“Tapi aku tidak membawa dompet. Artis terkenal sepertiku tidak membawa dompet kemana-mana. Itu berbahaya.”

“Ukh… Ukh…” Narin tersedak air yang diminumnya mendengar kata-kata itu.

Wae~~!?” tanya Donghae defensif. “Itu memang benar. Bagaimana kalau tanpa sadar dompetku terjatuh dan ditemukan orang yang tak bertanggung jawab? Ia bisa saja menemukan foto-foto yang ada didalamnya dan menguploadnya kan? Terutama fotomu yang sedang memasang wajah mesum saat aku akan menciummu.”

Narin yakin kalau bukan karena jaraknya yang terlalu jauh, ia sudah melempar sandal yang dipakainya ke wajah tampan Lee Donghae itu.

Arrasso… pesan saja yang kau mau.” Ucap Narin melemparkan dompet strawberry miliknya yang senang hati ditangkap Donghae kemudian berlalu ke kamarnya hendak mengganti baju.

“Assa!!” Donghae pun melompat meraih ponselnya dan menekan nomor telepon yang ia tuju, “Yee… Yoboseyo… Aku ingin memesan 3 porsi Jjamppong, 1 porsi YaggiUdon, 2 porsi mandu dan—-“

“Ya!!! Lee Donghae, kau ingin membuatku bangkrut !!??”

***

Narin menggeleng heran melihat satu buket eskrim yang dipeluk Donghae erat. Gadis itu tadinya tak mengira Donghae benar-benar menghabiskan semua makanan yang dipesannya tadi. Dua setengah porsi jjampong –Narin hanya sanggup menghabiskan setengah miliknya- lalu 2 porsi mandu, 1 porsi yyagiudon sudah masuk kedalam perutnya dan sekarang  ditambah 1 buket eskrim. Narin hanya bisa menggeleng heran. Apa memang semua dancer seperti itu? Nafsu badan mengerikan tapi badan tetap kecil?

“Donghae-ya… geuman mokgo!!” rengek Narin berusaha merebut buket eskrim dari pelukan Donghae, namun Donghae bergerak gesit dan berhasil menghindar.

Wae??”

“Itu satu-satunya stok eskrim-ku yang tertinggal. Aku tak bisa membelinya lagi. Kau sudah menghabiskan uangku membayar semua makananmu.”

“Anggap saja kau mentraktirku lebih awal. Bulan depan kau dapat gaji pertama, aku tidak akan menyuruhmu mentraktirku.”

Narin hanya menggeleng, meraih remote tv dan mencari channel drama kesukaannya.

“Oh ya, aku lupa bertanya, Bagaimana hari pertamamu bekerja?” Donghae menyuapkan sesendok eskrim lagi kedalam mulutnya.

Narin berbalik menghadap Donghae sambil tersenyum,“Menyenangkan. Tidak terlalu sibuk namun sedikit membosankan. Tapi aku suka.”

“Baguslah. Apa lagi?”

“Oh, aku juga sudah ahli dengan mesin finger print sekarang.” jawab Narin bangga.

Donghae ikut tersenyum dan mulai memainkan rambut Narin dengan sebelah tangannya, “Bagaimana dengan bosmu? Apa dia galak? Pegawai lainnya bagaimana?”

Narin mulai menceritakan tentang Nyonya Kim dan Nyonya Hwang yang sedikit strict. Lalu tentang Kyungri yang cantik dan baik hati. Juga tentang Kyungsoo yang sangat lucu dan imut, dan matanya yang lebar membuatnya semakin lucu. Apalagi saat dia terkejut, matanya akan terbuka semakin lebar tanpa dia sadari.

“Kyungsoo?? Apa dia tampan?” tanya Donghae cepat, selalu tak suka setiap kali Narin membicarakan lelaki lain.

“Tidak. Dia tidak tampan.”

“Baguslah.” Donghae berubah rileks.

“Dia tidak tampan, tapi dia jauh lebih imut darimu.” Ucap Narin sambil mengedip pada Donghae.

“Ya!!”

Narin kembali bercerita tentang buku-buku menarik yang dia temukan di perpustakaan itu. Tentang nyonya Hwang yang memarahinya karena hampir merusak mesin cetak perpustakaan. Tentang beberapa buku yang ternyata sudah berumur ratusan tahun, sampai akhirnya ia berhenti saat melihat Donghae yang sudah menguap.

“Membosankan ya??”

Donghae meletakkan buket eksrimnya yang sudah kosong ke atas meja, “Tidak. Aku suka mendengarkanmu bercerita.”

“Kau yakin?”

“Eung. Teruskanlah. Aku mendengarkan.” Ucap Donghae, sambil membalik posisi badannya hingga miring menghadap ke sisi Narin. Tak lupa menyelipkan sebuah bantal dibalik kepalanya hingga ia merasa nyaman.

Narin memandangi Donghae tak yakin, namun melihat mata Donghae yang terbuka lebar seperti sedang menunggu cerita darinya membuatnya kembali bercerita.

“Hmm… Lalu kau tau, ada sepasang kekasih yang datang sejam sebelum kami menutup perpustakaan. Mereka pergi ke sudut lorong yang sedikit sepi setelah sebelumnya mengambil beberapa buku tebal untuk dibaca. Tapi hingga saatnya kami untuk pulang, mereka tak juga keluar, sampai akhirnya nyonya Hwang mencari mereka dan menemukan mereka yang ternyata sedang….”

Narin mengerang saat mendengar deru nafas Donghae yang ternyata sudah tertidur nyenyak. Sudah berapa lama sebenarnya ia berbicara sendiri. Narin memandangi wajah tampan dihadapannya. Dalam hati ingin sekali berteriak dan mengejutkan Lee Donghae yang berani-berani menyuruhnya bercerita hanya untuk dijadikan penghantar tidur. Namun mengingat Donghae yang menghabiskan seharian ini hanya untuk menunggunya, membuatnya berubah pikiran. Menunggu itu selain menyebalkan juga melelahkan. Narin akhirnya hanya bisa tersenyum dan mendesah,

“Lee Donghae… Terima kasih sudah menungguku…”

-enD-

Hahahahahahah…… *ngakak bareng Kyu*

Cuma mau bilang kalo sekarang Yeonng udah dapat kerja, jadi dia sedikit sibuk sekarang.❤
Jadi kalo setelah ini saia jarang update bukan karena saia malas nulis, tapi karena Hae-hae ama Yeonng yang udah jarang ketemu, yahh…. *udah pintar belum saia ngelesnya??*

Pasti bisa nebak kan siapa Kyungsoo?? Bingo!!! D.O anak EXO yang matanya bulet, en imut itu… *fangirling on*

Btw, saia punya pertanyaan, dijawab yah… Pertanyaannya adalah ::

Apa yang sebenarnya yang dilakukan couple yang datang terakhir ke perpustakaan itu? Saat nyonya Hwang menemukan mereka sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?

Hayo… Hayo.. yang bisa nebak langsung aja dijawab. Jangan pada mikir yang iya-iyalho, lagi bulan puasa nih.. Saia pas nulisnya gak mikir yang aneh2 kok… *evilsmirk*

Yang benar nanti dapat hadiah kok… 3> Hadiahnya diajarin tari hula-hula ala hawai ama Donghae.

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

 

6 thoughts on “[OneSpace] Protected…

  1. Ooooh dh jadi wanita karir neh,sibuk deh
    Kasian si donge di anggurin hahaha
    Paling tu couple lagi motoin tiap hlman tu buku

    Soal kyungsoo,aku pikir si giraffe hahahaha
    Eh ternyata malah anak exo

    • Gak wanita karir, cuma part time aja kok *-*

      si giraffe, kwangsoo kan??
      running man??

      *ding dong*
      jawabannya salah. Couple itu bukan lagi motoin buku..
      tebak lagi…. kekeke~

  2. Aku maluuuuiii itu kan kyungsoo bkan kwangsoo
    Omg ni akibat baca klu mata udah mulai sepet,pake kcmta ttep aja salah
    Mianhe
    *bow

    Tebak lagi ya?
    Heeeeeem mungkin lagi ngebully donghae kakakaka

  3. di ff manapun donghae selalu dapet peran sweet ya :”) sungmiiiin kamu dewasa disini sayang, ga kayak duo kyuhyuk yang kerjanya meracuni pikiran orang -_- udah lama gak berkunjung kesini, maaf. cieee udah kerja, selamat ya eon ^^

    kalo tebakanku, pasangan yang diceritain narin itu ketiduran makanya ga sadar kalo perpus udah tutup hahaha *tebakannya maksa*

    • Abis mukanya sweet sih. Nti dpat peran jahat, gak cocok lagi kalo gk pintar nulisnya..

      Klo kyuhyuk kan dri muka aja udh ketauan tengilnya **

      Kok pada cie2 sih, bukan saia yg dpt kerja lho. Saia masih ank kuliahan. Si Narin tu di cerita bru dpat kerja.. –”

      Hahaha… Yap, bener tu jwabannya. Gak lucu yah??
      Aq pikir tdi orang2 pada mikir yadong. Tapi trnyata reader sini anak baik2 semua.. Hahaha ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s