[OneShot] Ice Cream…

super junior, donghae, ice cream

If you were ice cream, you would be my favorite flavor.

Siang yang menyengat.

Senin, adalah hari dimana semua hal akan terasa sangat menyebalkan. Berjalan di luar dengan cuaca terik yang lebih dari cukup untuk menggoreng telur juga pasti sangat menyebalkan. Namun Narin tak bisa berbuat apa-apa saat bibinya menugasinya untuk mengantar jemput Hyunwoo, sepupu kecilnya yang baru saja masuk sekolah. Awalnya Narin dengan senang hati melakukannya, karena dia jadi punya kegiatan untuk mengisi waktu luangnya di liburan musim panas ini. Namun ia tak menyangka kalau udaranya akan begitu menyengat dan seekstrim ini. Kalau seperti ini ia berharap tinggal dirumah saja dan mendekam dalam kamarnya dengan air-con yang dipasang sedingin mungkin.

Meskipun cuaca begitu menyengat, tak membuat semangat Hyunwoo, sepupu kecil Narin berkurang. Ia dengan lincahnya melonjak-lonjak sambil mendorong sebuah pintu toko. Narin yang tadinya berjalan pelan, terpaksa berlari mengejar Hyunwoo yang memasuki toko tanpa memperdulikan sekelilingnya. Namun Narin tersenyum lebar sesaat setelah mendorong pintu warna-warni milik toko es krim di pinggir jalan. Ia menyambut dengan senang udara dingin dari pendingin ruangan yang menerpa kulitnya. Ternyata Hyunwoo masuk ke toko eskrim yang sudah sering mereka datangi sepanjang musim panas ini.

Wangi eskrim berbagai rasa dan roti yang sedang dipanggang tercium dari setiap sudut toko. Tidak ada pelanggan lain didalamnya, kecuali dua orang anak sekolah disudut. Suasana hening dan sepi, kecuali suara derum mesin eskrim yang sedang berjalan, yang sebenarnya terasa aneh mengingat betapa panasnya cuaca diluar.

Hyunwoo berbalik dan saat melihat noona-nya yang bergerak lambat dibelakangnya, bocah kecil itu memegangi kaki celana Narin dan menariknya.  “Ppalli noona!! Kita harus cepat. Kalau tidak eskrimnya habis!!”

Narin tertawa mendengar ucapan sepupunya yang tak masuk akal itu. Toko sedang sepi, hanya ada mereka dan dua anak sekolah itu. Itu artinya mereka tak akan mungkin kehabisan. Dan Hyunwoo selalu seperti itu, selalu tak pernah sabar untuk mendapat ice cream-nya. Mungkin memang tak ada anak kecil yang bisa menahan godaan eskrim, terutama dicuaca sepanas ini.

Semakin mendekati konter, Narin mulai menyadari sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Wajahnya mulai terasa panas meskipun pendingin ruangan sudah dipasang ke suhu yang paling dingin. Selalu saja seperti ini setiap kali mereka mampir di toko ini. Kadang-kadang Narin merasa malu pada dirinya sendiri. Alasannya?? Karena ada “dia” disana. Tepat dibelakang konter, seperti biasa setiap kali Narin datang sehabis menjemput Hyunwoo pulang sekolah. “Dia” lah yang membuat Narin merasa persis seperti anak sekolah yang baru memasuki masa pubertasnya.

Awalnya Narin datang karena Hyunwoo terus merengek padanya minta dibelikan eskrim, tapi mengingat perkataan bibinya agar tidak membelikan Hyunwoo eskrim setiap hari, Narin pun berjanji akan membelikan hari itu saja. Tapi janji hanya tinggal janji sesaat setelah melihat “dia”.

Mata indahnya adalah alasan Narin mengikuti permintaan Hyunwoo untuk membeli eskrim kesukaannya setiap hari, sepanjang musim panas ini, diam-diam mengabaikan perkataan bibinya. Senyum manisnya, tawa renyahnya, dan suara lembutnya yang seperti berbisik mampu membuat Narin yang tak begitu suka makanan manis menjadi seorang penggemar eskrim.

“Dia” berdiri membelakangi konter, membersihkan sudut-sudut mesin ice cream yang sebenarnya sudah tampak mengkilap. Hyunwoo berjinjit, tangannya yang pendek bergerak-gerak meraih bel yang disediakan diatas konter, mencoba membunyikannya. Namun seperti biasa juga tangan pendeknya tak mengijinkan.

Nonna.. Noona.. tolong aku..” teriaknya.

Terdengar suara tawa pelan, dan “dia” berbalik. Suara lembutnya begitu serasi dengan keadaan toko yang sepi.

“Tepat seperti yang kuduga. Pelanggan favoritku, Hyunwoo..!!”

“Dia” mengatakan hal yang sama setiap kali mereka datang. Dengan suara lembut dan senyum manisnya, membuat Narin memastikan dirinya akan menjadi pelanggan setia toko eskrim ini.. Belum lagi setiap kali mengucapkannya, “dia” tidak lupa mengedipkan matanya untuk Narin, membuat gadis itu merasa kata-kata “pelanggan favorit” itu untuknya dan bukan untuk Hyunwoo. Hyunwoo sudah mengenal “dia” sejak lama, dan dari Hyunwoo lah Narin tau kalau namanya adalah Donghae, Lee Donghae.

Hyunwoo melonjak-lonjak didepan konter yang lebih tinggi sedikit darinya itu, “Donghae!! Donghae!! Aku ingin eskrim yang seperti kemarin!” ucap Hyunwoo dengan nada bicaranya yang lucu. Rambut hitamnya juga ikut melonjak-lonjak, membuat Hyunwoo tampak sangat cute. Narin yakin pasti dengan tampang seperti itu sangat mudah untuk Hyunwoo membuat orang mengabulkan permintaannya.

Donghae tersenyum, bersandar  pada konter dan mensejajarkan dirinya pada Hyunwoo.”Eiitss… bukankah aku sudah mengajarimu bagiamana cara memanggilku?? Ayo ulangi lagi!”

Hyung.. Donghae hyung.. aku ingin eskrim coklat seperti yang kemarin..” Hyunwoo mengulangi lagi pesanannya.

Donghae tertawa sambil mengacak-acak rambut Hyunwoo, “Baiklah, satu cone eskrim coklat dengan vanilla cream untuk Hyunwoo yang pintar..” Donghae mencatat pesanan Hyunwoo, dan memencet-mencet tombol yang ada pada mesin kasir, “Lalu Narin-ssi??” Donghae memiringkan kepalanya membuat Narin tercekat, “Apa seperti yang biasa??”

N..Nde..

“Baiklah, satu cup ice cream strawberry dengan topping strawberry segar untuk Narin-ssi yang manis.” ucap Donghae sambil mengedipkan matanya lagi.

Narin tersipu. Mungkin saja pipinya sekarang sudah semerah eskrim pesanannya. Setelah membayar pesanan mereka, Narin pun mengambil nomor pesanan dan berniat mencari tempat duduk untuknya dan Hyunwoo namun ternyata Donghae menahannya.

“Tidak perlu Narin-ssi. Biar aku saja yang mengantarkannya.” ucap Donghae sambil tersenyum manis.

Narin terdiam beberapa detik, mencerna maksud pemuda yang tak henti-hentinya tersenyum dihadapannya ini. “Aniyo Donghae-ssi, biar aku saja yang datang mengambilnya. Tidak perlu diantarkan. Kau pasti sibuk.”

Donghae mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan dengan gaya berlebihan, memastikan Narin mengerti maksudnya. “Tidak ada orang lain selain kita Narin-ssi. Jadi kalian adalah tamu spesial-ku hari ini.”

Narin merutuki dirinya. Hanya dengan kata-kata “kita” dan “spesial” membuatnya kembali tersipu malu, “Baiklah..”

Donghae tersenyum manis, lagi. “Pesanannya tolong ditunggu..”

***

Setelah memilih tempat disamping jendela, tak lama Donghae muncul dengan nampan ditangannya. Ia kemudian memberikan eskrim cone coklat dengan vanilla cream milik Hyunwoo yang disambut dengan antusias oleh pemiliknya, kemudian meletakkan cup eskrim Narin diatas meja.

Narin tak jadi menyendok eskrimnya, saat melihat Donghae bukannya berbalik dan kembali ke konter. Donghae justru melepas apron biru-nya dan memilih duduk bersama Narin dan Hyunwoo. Narin ingin bertanya, tapi dia mengurungkan niatnya. Tak ada pengunjung lagi jadi mungkin Donghae ingin beristirahat. Lagipula Donghae adalah anak pemilik toko, jadi sebenarnya ia bisa melakukan apapun yang dia suka.

Narin mengangkat sendok eksrimnya perlahan. Rasanya, tidak terlalu nyaman makan eskrim dengan Donghae yang duduk tepat dihadapannya. Bagaimana nanti kalau ada ada eskrim yang menempel dipipinya. Bagaimana kalau ternyata caranya makan eskrim sangat memalukan. Iatidak ingin mempermalukan dirinya didepan Donghae. Narin merutuki dirinya lagi. Sejak kapan dia jadi gadis yang memalukan seperti ini. Sejak kapan dia mempedulikan hal-hal seperti itu.

Tiba-tiba Donghae tertawa, membawa Narin keluar dari pikiran-pikiran bodohnya..”Aigoo… Hyunwoo-ya.. Kenapa hidungmu juga ikut makan eskrim? Pelan-pelan. Tidak akan ada yang mengambil eskrim-mu..”

Donghae meraih tissue dari sudut meja dan membersihkan wajah chubby Hyunwoo yang sudah belepotan eskrim. Melihat Donghae yang tertawa membuat Narin juga ikut tertawa. Belum lagi ditambah wajah Hyunwoo yang tampak sangat menggemaskan dengan kepingan coklat yang menempel dihidungnya.

Hyunwoo yang tidak suka ditertawakan, dengan sengaja menyenggol siku Narin, membuat satu sendok penuh eskrim yang belum sempat dimakan gadis itu menempel di ujung hidungnya.

“Akh… Hyunwoo-ya~~”

Hyunwoo tertawa saat eskrim itu mulai meleleh dan mengalir di wajah noona-nya, sementara Donghae berusaha keras menyembunyikan tawanya yang sebenarnya tak bisa ia tahan.

Donghae mencondongkan tubuhnya. Tangannya terulur mendekati gadis itu membuat Narin membeku ditempatnya. Saat tangan Donghae semakin dekat, yang baru Narin sadari tanpa tissue sama sekali seperti yang dilakukannya pada Hyunwoo, Narin bisa mendengar suara detak jantungnya yang begitu kencang.

Perlahan ibu jari Donghae menghapus bekas eskrim dari hidung Narin dan turun hingga ke sudut bibirnya, “Kwiyeowo..

Saat itulah Narin sadar, wajahnya bukan hanya semerah eskrim pesanannya, namun semerah hidung badut yang ada didepan toko yang kini sedang asik bermain-main dengan Hyunwoo, sepupu kecilnya yang entah sejak kapan sudah meninggalkannya, berdua saja dengan Donghae.

Donghae memiringkan kepalanya yang kini bertumpu pada sebelah tangannya. Matanya terarah ke Narin yang berusaha menatap balik, namun menyerah dan menunduk memandangi eskrimnya yang tinggal setengah. Donghae terus saja menatapnya dengan senyuman yang tak bisa Narin artikan apa maksudnya.

Seorang pelanggan masuk dan berjalan menuju konter. Narin menunjuk kearah konter berusaha memperingatkan Donghae ada pembeli yang datang, namun sepertinya Donghae tak berniat bergerak dari tempatnya. Matanya terus saja berfokus pada Narin tanpa satu kedipan pun.

Narin menatap panik kearah konter, namun akhirnya bernafas lega saat pegawai lain keluar dan melayani pelanggan itu. Narin akhirnya berbalik hanya untuk mendapati Donghae masih memandanginya. Takut ada yang aneh pada wajahnya, Narin akhirnya berdiri dan mendatangi Hyunwoo yang kini sudah masuk kedalam toko bersama dengan badut yang sudah jadi temannya.

“Hyunwoo-ya… Kajja, kita harus pulang!”

“Ah noona.. sebentar lagi saja..” tolak Hyunwoo yang sedang asyik dengan badut temannya.

“Ibumu akan memarahiku kalau kita pulang terlambat.”

Narin berbohong. Tentu saja. Bibinya tidak akan mungkin memarahinya karena ini masih jam bekerja. Ia hanya sudah tidak sanggup berlama-lama lagi ditoko ini. Tidak, sebenarnya jantungnya-lah yang sudah tidak kuat. Perlahan-lahan ia melirik kearah meja tempat dimana dia meninggalkan Donghae sendiri, yang sekarang sudah kosong. Narin pun melirik ke arah konter, namun Donghae juga tak nampak disana. Tanpa sadar Narin menghembuskan nafas lega. Kalau seperti ini sepertinya ia harus menghindari toko eskrim. Bukan karena dia takut gemuk, tapi demi kesehatan jantungnya.

Narin menggandeng lengan Hyunwoo menuju pintu keluar, saat akhirnya menyadari ada langkah kaki lain yang mengikuti mereka. Saat hendak meraih pintu, seseorang mendahuluinya dan membukakan pintu untuknya. Narin berbalik ingin mengucapkan terima kasih, namun ternyata Donghae sudah bersandar pada pintu dengan sebelah tangan tersembunyi di balik kantong apron birunya dan sebelah lagi menenteng sebuah kotak kue.

Donghae mencondongkan tubuhnya, membuat Narin menarik mundur wajahnya. Gadis itu  meneguk air liurnya saat wajah Donghae hanya beberapa senti saja dari hidungnya.

“Apa aku bisa minta bantuanmu??” bisik Donghae. Sebenarnya tidak berbisik, namun suara Donghae yang begitu lembut itu terasa seperti orang yang sedang berbisik, terutama dengan jarak yang begitu dekat.

N..nde??” Narin lagi-lagi terbata seperti orang bodoh. Deru nafas Donghae yang terlalu dekat, membuat isi otaknya terbang melayang.

Donghae mengangkat kotak ditangan kirinya, “Toko kami punya menu cake baru. Dan aku ingin kau mencoba mencicipinya.” Donghae menarik tangan Narin dan meletakkan kotak itu diatas tangannya. “Dan berikan pendapatmu.”

“Ehh?? T..Tapi.. aku—“

“Aku menunggumu..” ucap Donghae dengan sambil tersenyum. Sebelah sudut bibirnya tertarik keatas, begitu menggoda hingga Narin yang tadinya ingin mengatakan sesuatu langsung menutup bibirnya rapat. Terlalu terpukau.

‘Aku menunggumu.’ ‘Aku menunggumu.’ ‘Aku menunggumu.’ Kata-kata itu seakan berputar-putar didepan mata Narin. Benarkah Donghae baru saja mengatakan ‘Aku menunggumu’ untuknya??

“Dan saat kau datang nanti, pastikan kau sedang tidak sibuk.” Donghae memiringkan kepalanya kearah Hyunwoo yang ternyata sejak tadi sudah menarik-narik kaki celana Narin agar mereka cepat pergi.

Narin menunduk menatap Hyunwoo untuk beberapa saat, kemudian dengan malu-malu mengangguk perlahan pada Donghae.

Donghae tertawa pelan, “Aigoo… Kiyeowoo..”

-enD-

Disaat yang lain berbahagia karena bisa melihat itu alien bucuk yang tiba-tiba aja datang, bikin org kaget, saia hanya bisa duduk di rumah sambil berimajinasi memikirkan dy.. (>^)

Tapi gpp deh, gara2 dia yg dtg tiba-tiba, saya jadi berniat nulis lagi. Memang ternyata, tidak ada yg lebih enak selain berangan-angan membayangkan itu Hae-hae sedang mengoda saya dengan senyum manisnya..

Hae-hae… muach.. (>3)

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

 

10 thoughts on “[OneShot] Ice Cream…

    • kenapa mesti ketemu seorang seperti donghae??
      kita juga pasti bisa ketemu orangnya langsung kok, suatu saat nanti..
      pikiran positif itu harus..
      hehehhe

      Hwaiting!!

  1. Senasib T_T
    Ngebayangin Dong Hae berdiri didepanku dan tersenyum manis, huaaaaaaa~ aku bisa gila.

    Tu orang makin hari makin ganteng, bikin aku makin suka ma ikan *eh

    Ceritanya pendek banget, chingu tapi sweet daCh
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

    • Apalagi ngebayangin itu orang winkwink amaku, aku mau pingsan aja!!!!
      hehehehe..

      sejak kapan dia kagak ganteng??

      ini kan cuma drabble, yah pastinya pendek..
      Gomawooo… Annyeonnggg~~

  2. Kita senasib kali ini saengie
    Aku juga gak liat dia di event itu
    Aku baru sadar knpa sebelumnya dia blg akan sering2 kesini
    N ternyata 2 minggu kemudian udah nongol lagi hahaha

    Ah jadi pengen makan ice cream bareng ikan lol
    Pas banget cuacanya lagi panas terik
    *kipas2

    • Onnie gak liat dy??
      padahal kan mungkin bisa liat dy lebih dekat dibandingkan dengan konser..
      tapi toh fansign-nya dibatalin, gak seru..

      oh dia ada ngomong ya, bakalan sering dtg??
      oh plisss deh, jangan dtg lagi. bikin anak orang galau aja..

      makan ice cream, plus maunya yg jualan seganteng bang Haehae..
      setidaknya KW 3 pun jadilah..
      Huahhahahahha….

  3. DONGHAE GENIT! HAHAHAHAHA. kalo dia beneran punya toko eskrim di seluruh kota indonesia, tiap hari aku kesana! tapi kayaknya gak mungkin ya *manyun* aku senyum gajelas ngebayangin narin yang malu-malu gitu. eon ini gantung. aku penasaran kayak mana mereka nantinya. gaada niat mau bikin lanjutannya gitu eon?

    • Iya…. Dia genit disini. Tapi rasanya pasti cakep ngebayangin donghae genit2 kyak gitu.. Ya gak??

      Bisa aja. Buktinya dia juga punya cafe kan? Apa itu namanya aq lupa. Spa tw aja dia mw buka cabang di sini. En sering2 mampir buat promosi..
      Kyaaaaa…. Kok jadi saya yg gak kuat ngebayangin dia sering2 mampir?? &*#&&

      Gak. Cerita kyak gini biar yg baca aja yg ngebayangin apa kejadian selanjutnya.

  4. buahahahhahha…. aku kok jadi kayak orang gila ditinggal eomma sih?
    senyum senyum gak jelas…

    aku mau beli es krim ahk.. biar bisa ketemu dongek #manyun

    kalau aku diposisinya narin, huwaaaaaa… pingsan mungkin😀😀😀

    http://kimnara137.wordpress.com

    lanjut lagi ya eonn >> mumpung modemku lagi berbaik hati ini.

    • ha3..
      masih muda jgn gila dulu, ntar2 aja..

      kalo beli eskrim bisa ketemu dongek, artinya aq bisa ktemu dia 3x sehari donk…
      kalah sama minum obat.. (。●́‿●̀。)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s