[OneSpace] Romantic Enough??

valentine copy

Roses are red…

Violet are blue…

Happy Valentine just for you…

Cho Narin hanya bisa mengerjap menatap kata-kata yang tertulis dalam surat yang baru saja ia temukan. Surat berwarna merah jambu itu ia temukan didepan pintu rumahnya bersamaan dengan setangkai bunga mawar saat ia hendak keluar rumah menuju kampusnya. Narin mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari-cari keberadaan sang pengirim surat. Ia hanya mengangkat kedua bahunya saat tak menemukan siapapun.

Gadis itu mendekatkan bunga mawar merah itu ke hidungnya, menghirup aromanya., namun cepat-cepat ia menjauhkannya. Ia memang tidak terlalu suka dengan bunga. Satu-satunya bunga yang ia suka hanyalah bunga Chrysan, bunga lambang bulan kelahirannya, November. Namun bunga itu pun ia tidak pernah benar-benar membelinya khusus untuk dirinya. Ia memang bukan penggemar bunga.

Narin pun mengenyampingkan bunga itu untuk sementara waktu. Ia membolak-balik surat merah jambu tanpa nama pengirim itu sebelum akhirnya membukanya. Dan tiga baris kata yang tertulis didalamnya-lah yang membuatnya mengerjap-ngerjap. Walau tanpa nama, Narin sudah bisa menebak siapa pengirim surat dengan kata-kata menggelikan itu. Ia bukannya gadis super cantik yang punya secret admirer. Ia jelas-jelas tidak punya dan tidak akan mungkin punya secret admirer. Hanya satu orang lelaki yang cukup bodoh mau mengiriminya surat seperti ini. Sudah pasti ini adalah kerjaannya Lee Donghae. Tak salah lagi. Narin cukup yakin akan hal itu.

Namun yang membuat Narin sedikit sangsi adalah puisi ‘Roses are red, violet are blue’ yang tertulis didalamnya. Puisi itu adalah puisi cinta terkenal untuk Valentine’s Day oleh Sir Edmund Spenser sejak tahun 1590. Lee Donghae yang malas belajar itu jelas-jelas tidak akan mungkin tahu hal-hal seperti ini kan? Apa mungkin ia meminta bantuan seorang Choi Siwon?

Dan lagi Lee Donghae tahu jelas Narin tidak suka bunga dan tidak suka hal-hal cheesy romantis. Keduanya sama-sama tidak menyukainya. Jangan percaya apapun yang dikatakan Lee Donghae di televisi. Ia hanya bisa mengucapkan hal-hal romantis dengan bibirnya, namun tak pernah benar-benar melakukannya. Narin sudah merasakannya. Lee Donghae sama akwardnya dengan Cho Narin soal hal-hal romantis.

Narin pun tersenyum, kembali masuk kedalam rumah.  Berhubung ia tidak punya vas bunga, ia pun mengambil sebuah gelas kosong, mengisinya dengan air, lalu meletakkan setangkai bunga mawar itu kedalamnya dan berlalu pergi.

***

14 Februari mungkin bukan hari keberuntungan untuk seorang Cho Narin. Ia teringat bagaimana dengan susah payah ia bangkit dari tempat tidurnya yang empuk dengan mata yang masih sangat berat mengejar agar ia tidak terlambat mata kuliahnya hari ini.

Namun apa yang ia temukan sesampainya dikampus membuatnya merutuki hari Valentine. Kampusnya dipenuhi dengan warna merah dan pink. Bahkan bunga mawar berbagai warna, pink, merah, dan kuning dijajakan lengkap dengan bungkus dan pita warna-warni. Mahasiswa dan mahasiswi yang berpasangan berkumpul di halaman kampus dengan baju couple sambil memegang kotak-kotak coklat dan bunga mawar. Narin memang benar-benar tidak ingat kalau kampusnya mengadakan acara untuk merayakan Valentine tahun ini. Itu sama artinya dengan tidak ada jadwal kuliah hari ini.

Narin berbalik, memilih kembali ke rumahnya. Ia tidak cocok dengan acara seperti itu. Acara seperti itu hanyalah untuk orang-orang yang punya pasangan. Ia memang punya pasangan, hanya saja pasangannya tidak untuk dibawa ke tempat umum. ‘Invisible Boyfriend’ adalah istilah yang dipakai Narin.

Lagipula Narin bukanlah tipe gadis yang menunggu-nunggu hari Valentine. Baginya, 14 Februari sama artinya dengan tanggal-tanggal lainnya. Tak ada yang benar-benar menarik hatinya akan Valentine. Ia tidak suka mawar, ia juga bukan penggemar coklat. Hanya boneka Teddy Bear besarlah yang mungkin tidak akan sanggup ia tolak.

Didepan pintu rumahnya, Narin berhenti. Ia kembali menemukan surat yang sama dengan yang ia temukan pagi tadi. Bedanya kali ini tidak ada bunga mawar, sebagai gantinya adalah sebuah kotak berwarna putih bermotif hati, lengkap dengan pitanya yang berwarna pink.

Narin membukanya dan meneliti isinya. Sebuah dress selutut tanpa lengan berwarna putih dengan aksen renda dibagian bawah juga dibagian yang mengikuti garis leher. Dibagian belakangnya juga dilapisi renda penuh sehingga terlihat sangat manis.

Gadis itu melipat rapi dress itu dan memasukkannya kembali kedalam kotaknya. Ia beralih ke arah surat berwarna merah jambu yang juga tanpa nama pengirim itu.

Roses are red…

Violet are blue…

This dress, I wish see it in you…

***

Narin menggeser kursinya dengan malas, meninggalkan makan siangnya yang masih tersentuh sedikit. Bel rumahnya yang berbunyi memaksanya melangkah ke ruang depan. “Nuguseyo??” tanyanya seraya membuka pintu.

Ia memeriksa kekiri kekanan namun tak menemukan tersangka yang membunyikan bel rumahnya. Gadis itu pun hendak berbalik, menganggap itu hanya perbuatan orang iseng saat kakinya menyenggol sesuatu. Lagi-lagi sebuah surat berwarna merah jambu yang sama dan kotak bermotif bunga yang juga berwarna merah jambu.

Narin membuka kotak tersebut. Sepasang high heels bertali silang berwarna gold dengan manik-manik disepanjang talinya kini ada ditangannya. Heelsnya setidaknya 1O-12 senti, membuat orang yang memakai pasti berpikir dua kali untuk memakainya berjalan-jalan.

Gadis itu keluar menuju halaman rumahnya mencari pelaku yang mungkin masih berada disekitarnya. Segala hal tentang surat dan kado-kado ini mulai terasa menakutkan baginya. Ia beruntung kalau semua ini Donghae yang melakukannya. Bagaimana kalau ternyata tebakannya salah. Bagaimana kalau semua ini adalah kerjaan orang aneh atau orang gila. Ini menakutkan.

Narin kembali ke depan pintu rumahnya, cepat-cepat membuka surat yang lagi-lagi tanpa nama itu, yang tadi belum sempat dibacanya. Gadis itu pun mengerjap-ngerjap. Lagi.

Roses are red

Violet are blue

Tonight, i will wait for you…

*******

“Ting… Tong…”

Narin bergegas berlari mendengar bel rumahnya yang berbunyi. Ia baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya. Dengan handuk di tangan dan rambut yang masih setengah kering ia berlari membuka pintu.

Dihalaman rumahnya berdiri Lee Donghae dengan boneka Teddy Bear besar berwarna coklat di pelukannya. Narin hanya terdiam. Ia memandangi Lee Donghae dari atas ke bawah berusaha mencerna semuanya.

“Jadi itu benar-benar kau??” Gadis itu akhirnya mengeluarkan suaranya. “Sejak tadi pagi itu semua kerjaanmu??”

Donghae mengangguk. Tak lupa dengan senyum manis ala Lee Donghae-nya.

“Kau… Kau sedang menganggur ya?? Tidak punya pekerjaan lain??”

Lee Donghae mengerutkan keningnya, mengira ia akan mendapatkan pelukan sebagai hadiah, namun malah mendapat pertanyaan bernada sarkatis seperti itu.

“Eeiiyy~ aku kan sedang berusaha romantis. Tak bisakah kau ikut saja dan tidak merusak suasana!!” Donghae berjalan maju mendekati gadis itu. “Lalu apa ini, aku sudah memberimu hadiah, tapi kau justru memakai piyama jelek seperti ini!!”

“Bagaimana caranya aku tahu itu darimu atau tidak kalau kau tidak mencantumkan namamu. ‘From:Lee Donghae’ seharusnya kau menulis seperti itu. Bagaimana kalau ternyata itu dari orang gila atau penguntit atau mungkin stalker??”

“Kau tidak secantik itu sampai ada stalker yang mau memberikanmu hadiah seperti itu!!” ledek Donghae.

Walau dalam hati membenarkan, tetap saja mendengar hal itu membuat Narin kecil hati, “Geurae, tapi tidak perlu diperjelas seperti itu kan??” Matanya menatap Donghae sinis.

“Arrasso. Jja.. ini untukmu.” Donghae tiba-tiba menyodorkan boneka teddy bear besar itu kepelukan Narin, membuat gadis itu mundur beberapa langkah mengingat besarnya ukuran boneka itu. “Sekarang cepat ganti baju, aku tunggu disini. Jangan lama-lama. Ppalli… Ppalli..” Donghae mendorong bahu gadis itu agar berjalan lebih cepat.

“Tch- Lee Donghae, apanya yang romantis??”

***

“Woah… Yeppuda..”

Pujian itu mau tak mau membuat Narin tersipu malu. Ia memandang kesegala arah selain kearah Donghae. Dress yang dipilih Donghae memang sangat manis dan sangat pas untuknya. Entah darimana Donghae bisa tau ukurannya. Namun yang menjadi sedikit masalah adalah sepatunya. Seumur hidupnya ia belum pernah memakai sepatu dengan heels setinggi itu. Narin yakin ia hanya sanggup bertahan 20 sampai 30 menit saja.

Donghae menggenggam tangan gadis yang berjalan sedikit canggung itu sambil mengulum senyumnya. Ia senang karena semua rencana yang sudah ia siapkan berjalan sesuai dengan yang ia harapkan. Sebenarnya ia sudah berjaga-jaga kalau-kalau Narin menolak memakai dress dan sepatu yang ia berikan, namun untunglah semua berjalan lancar.

“Donghae-ya, kita mau kemana??”

“Rahasia..” jawab Donghae sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.

“Apa kita akan pergi makan??” tanya Narin lagi. Donghae hanya mengangguk-angguk. “Dimana??” Narin masih penasaran.

“Molla~~” jawab Donghae dengan tampang sok berahasia yang membuat Narin jengkel, walaupun tetap terlihat sangat tampan.

Narin meraih tasnya dari atas kursi lalu kembali menggandeng Donghae. “Keundae Donghae-ya.. Tak bisakah aku memakai sepatu biasa saja? Ini terlalu tinggi, aku tak terbiasa memakainya. Okey??”

“Andwe!!!” tolak Donghae mentah-mentah. “Kau harus pakai ini. Aku kan sudah membelikannya untukmu, kau mana boleh tidak memakainya. Justru karena tidak terbiasa makanya harus dipakai sejak sekarang agar terbiasa. Kajja.. Kajja.. Kita pergi!”

***

Mereka sampai di restoran yang dituju. Restorannya tidak besar, sederhana saja namun tak ada satupun tamu selain mereka berdua. Donghae menarikkan kursi untuk Narin lalu memutar menuju kursinya. Dari balik meja, Donghae tiba-tiba saja mengulurkan setangkai bunga mawar merah pada Narin. Gadis itu menerimanya setengah hati, tanpa sadar mengerutkan keningnya.

“Aku tau kau tidak suka bunga. Tapi untuk hari ini, tolong terima saja.”

Narin tersenyum geli melihat ekspresi Donghae. Ia pun menerima bunga itu dan menghirup wanginya, “Gomawo~~”

“Cola??” tawar Donghae sambil mengangkat botol Cola.

Narin mengangguk dan keduanya tertawa. Untuk acara seperti ini seharusnya minuman yang ada diatas meja adalah wine atau sampanye, tapi karena mereka berdua tidak bisa minum, jadi sebagai gantinya adalah Cola. Namun mereka berakting seakan-akan mereka sedang meminum wine yang sangat nikmat.

Seorang pelayan datang membawakan makanan untuk mereka. Narin memandangi makanan dihadapannya. Ia tidak terlalu yakin dengan nama makanannya. Seperti sepiring mie atau japchae namun dengan saus tomat disiram diatasnya. Di piring satunya lagi, beberapa potong roti dengan beberapa bagian yang sedikit menghitam.

“Ini semua aku yang memasaknya..” ucap Donghae bangga .

“Jjinja??” tanya Narin tak yakin.

“Jjinjaro!!” jawab Donghae bersemangat.

Narin meraih garpunya dan mencoba mengambil ‘japchae saus tomat’ itu, namun langsung jatuh meluncur kembali ke piring. Narin mencoba lagi dan berhasil menyendok sedikit dan memakannya. Setidaknya, rasanya tetap rasa mie.

Narin diam-diam melirik Donghae. Lee Donghae mengambil satu sendok penuh dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Hanya beberapa gigitan, Donghae berhenti mengunyah. Ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang menahan sakit. Buru-buru ia meraih sepotong garlic bread yang dibuatnya. Namun wajahnya justru semakin aneh. Mungkin rasa garlic bread yang sedikit terbakar itu justru memperburuk rasa japchae yang memang sudah aneh.

Donghae melirik Narin yang sudah berhenti makan sejak tadi. Terlalu takut menyentuh makanan dihadapannya. Donghae menarik nafas panjang, menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan. “Hiks… Padahal aku sudah bersusah payah mencoba memasaknya. Aku memang benar-benar tidak bisa memasak.”

Narin menggeleng, “Anniya… gwenchanna. Lagipula aku tidak begitu suka dengan Japchae.” ucapnya mencoba menghibur Donghae.

“Japchae??” Tanya Donghae bingung. “Igeo spaghetti-ieya”

Narin memandangi Donghaer untuk beberapa waktu, mengerjap-ngerjap beberapa kali. “Spaghetti?? Mian…. Aku kira….”

Donghae kembali menghela nafas, terlihat semakin depresi. “Sudahlah, seharusnya aku mendengarkan kata chef Yoon. Seharusnya aku membiarkan ia saja yang memasaknya.”

“Anniya.. anniya… Igeo masshita~~”

Donghae langsung mengangkat kepalanya, wajahnya sedikit bersinar, “Jjinja?? Kau tidak bohong?”

“Tentu saja bohong.” jawab Narin dengan tampang innocent. “Aku kan hanya ingin menghiburmu.”

“Hhh~ padahal aku sudah susah payah menciptakan suasana romantis sejak pagi tadi, tapi semuanya  hancur gara-gara spaghetti aneh ini.”

Suasana berubah jadi canggung. Narin hanya bisa diam tak tahu harus berbuat apa memandangi Donghae yang hanya menunduk menatapi meja dibawahnya, sampai akhirnya Donghae mendongak dengan wajah yang berbeda 180 derajat, berbinar-binar.

“Aku tahu apa yang bisa membuat suasana kembali romantis. Tentu saja… berdansa!!!” ucap Donghae masih dengan mata yang berbinar-binar.

“Mwo? Berdansa??” pekik Narin. “Aniya.. Aniya.. Aku tidak bisa berdansa!!”

“Oh…ayolah Yeonng~… Kita harus menghabiskan hari ini dengan segala keromantisan yang kita punya..”

“Tidak perlu. Kau sudah cukup romantis Donghae-ya. Tidak perlu berdansa atau apapun itu.” tolak gadis itu mentah-mentah.

“Tidak bisa seperti itu.. Kajja…Kajja..” Donghae bangkit dari kursinya dan menarik tangan Narin.

“Tapi aku tak bisa berdansa. Lagipula sepatu ini membuatku susah berjalan. Donghae-ya… jebal~~” rengek Narin.

Donghae menarik gadis itu ke tengah ruangan, menggenggam tangannya erat-erat. “Tenang saja, aku akan memegangimu..”

Lee Donghae pun merogoh kantongnya, mengambil ponsel dan memilih lagu. Ia meletakkan ponsel itu diatas meja dan kembali kesamping gadisnya itu. Lagu pun dimulai. Unchained Melody milik Gareth Gates.

***

“Akh…”

Donghae lagi-lagi merintih karena kakinya yang terpijak Narin. “Kau benar-benar tidak bisa menari ya??”

Lagu yang mereka putar belum sampai ke pertengahan, tapi Narin sudah memijak kaki Donghae untuk yang ketiga kalinya. Dan heels runcing Narin membuat rasa sakitnya berlipat-lipat.

“Bukankah sudah kubilang, menyerah saja. Sepatu ini benar-benar menyusahkanku..”

“Andwe.. Andwe.. Kau pasti bisa. Kita harus romantis.. Kita harus romantis..” ucap Donghae seakan-akan sedang menghipnotis dirinya sendiri.

Narin hanya bisa memutar bola matanya mengikuti perkataan Donghae. Namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa dengan gerakan dan irama Donghae. Mereka pun mulai benar-benar berdansa sebagaimana mestinya orang berdansa.

Lagu pun berhenti. Donghae tersenyum senang, aura kebahagiaan terpancar diwajahnya membuat Narin pun tanpa sadar ikut tersenyum.

“Kita romantis kan??”

Gadis itu hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-angguk mendengar pertanyaan childish itu.

Donghae mundur beberapa langkah. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemejanya dan tiba-tiba saja ia sudah berlutut dihadapan Narin. Kotak tersebut terangkat didepannya.

Narin terkesiap, berbagai macam hal berputar-putar dikepalanya bersamaan. Apa yang harus ia lakukan? Donghae tidak sedang… tidak sedang…

“Aku tidak sedang melamarmu, bodoh.” Ucap Donghae, seketika menghancurkan segala pikiran dan khayalan Narin.

Melihat wajah terkejut gadis itu membuat Donghae tertawa lebar. Narin sendiri tak tahu harus merasa apa, antara lega dan sedikit kecewa. Namun yang pasti ini sangat memalukan. Bagaimana bisa Donghae menebak apa yang sedang dipikirkannya?

“Kau!! Kau!! Berhenti menggodaku Lee Donghae!!” pekik Narin terbata-bata. Ia yakin wajahnya sangat memerah sekarang.

“Kau begitu ingin dilamar olehku ya??” Donghae semakin menggoda gadis itu.

“Tidak.” Ucap Narin terlalu cepat. Ia berbohong. Tentu saja. Tidak mungkin ia tidak ingin dilamar Donghae. Tapi tidak untuk saat ini. Ia jelas tidak siap untuk hal itu sekarang ini.

Donghae meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. “Aku.. Lee Donghae.. Tidak sedang melamar Cho Narin.” Ucap Donghae dengan suara rendahnya. “Aku hanya ingin mengingatkannya.”

Narin menoleh kesamping, terlalu malu menatap mata Donghae, “Apa maksudmu?”

“Aku tidak sedang melamarmu. Belum. Tidak sekarang. Tapi suatu hari nanti, di hari yang indah, saat kita berdua sudah benar-benar siap, aku PASTI akan melamarmu.” Donghae mengatakannya seakan-akan bisa membaca pikiran Narin.

Donghae mendekat dan membuka kotak kecil yang sejak tadi ada ditangannya, memamerkan sebuah cincin perak dengan mata kecil berwarna biru safir ditengahnya.

“Dengan ini kau akan selalu ingat kalau kau adalah milikku. Dan akan selalu mengingatku.” Donghae bangkit dari posisinya yang sejak tadi berlutut. “Dan tak akan ada lagi Lee Hyukjae dalam pikiranmu.”

Narin menatap Lee Donghae tidak percaya. Sesaat tadi suasana sudah benar-benar sangat romantis. Ia hampir saja menitikkan air mata karena terharu, kalau saja Lee Donghae tidak menyebut-nyebut Lee Hyukjae yang Narin tahu kemana arah maksudnya.

“Lee Hyukjae wae??”

“Bukankah selama ini hanya Lee Hyukjae yang selalu kau sebut-sebut ada dalam pikiranmu???” Donghae memajukan bibirnya.

“Tapi kau tidak tahu siapa yang ada didalam hatiku kan??” goda Narin, mengedipkan matanya pada Donghae.

Donghae langsung menyengir lebar, kegirangan. “Aku.. Aku kan yang ada dalam hatimu?? Hehehehe…”

Narin tak menjawab, ia hanya membalas senyuman Donghae, membuat Donghae memeluknya erat untuk beberapa lama.

“Yeonng… kau pasti terharu kan??”

“Ae??”

“Aku lihat tadi matamu berkaca-kaca, kau pasti terharu kan??” ulang Donghae. Narin mengangguk malu-malu. “Sebagai balasannya, apa aku boleh meminta sesuatu??”

“Apa itu??”

Donghae menekuk lututnya sedikit sampai sejajar dengan gadis itu, “Bolehkah… Bolehkah aku menciummu??”

Narin memandang bola mata Donghae beberapa waktu tanpa mengerjap, namun tak mengatakan apapun.

Donghae menggaruk pipinya yang tak gatal, bertanya ragu-ragu, “Wae?? Shireo??”

Narin menghela nafasnya, “Hhh~ Lee Donghae… Kau mau aku menjawab apa?? ‘Ya, silahkan~’ atau ‘Ya, lakukan sesukamu~’ atau mungkin…”

Narin memejamkan matanya saat tangan kanan Donghae meraih tengkuknya. Donghae mengecup bibirnya lembut, dengan mata yang juga terpejam. Ciuman lembut dan manis yang disukai Narin.

Donghae membuka matanya, menatap bola mata gadis itu sambil berbisik, “Ya, aku mencintaimu~… Happy Valentine Yeonng..”

“Happy Valentine Hae-hae..”

=kkeut=

“Yeonng… Kita sangat romantis kan??”

“Eo… Tapi akan jauh lebih romantis kalau kau membawaku pergi makan.. Aku lapar~~”

 -enD-

Lee Donghae itu tidak romantis. Lee Donghae itu cheesy.
CheesyHae~

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

 

10 thoughts on “[OneSpace] Romantic Enough??

  1. Iya iya oppa,kamu romantis kok
    Tapi kok gagal rmntisnya yah
    Knp pke nma unyuk sgla
    Yeong,brsihkan otakmu dr unyuk
    Cukup donghae aja ckckck

    • kayak gitu ajah udah terlalu romantis buat Narin,
      kalo lebih lagi bikin merinding nantik… hhhiii…

      unyuk itu gak bisa dihilangkan dari pikiranku..
      setiap melihat hae-hae pasti teringat monkey oppa..
      I Love Eunhae….. muachh..
      hehehehehe…

  2. ㅠㅜㅠㅜㅠㅜㅠ aku bisa bayangin banget pas akhir2 ceritanya unnnnn~~ apalgi pas haehae nyium narin…wuahahahhaa aku langsung gigit bibir bacanya>///< tpi gatau knpa tiba2 scene di drama mpah pas pand ayang nangis terus tiba2 dicium dgha langsung melintas di benak=___=
    ㅋㅋㅋ eon itu penulis yg hebat tau<33 . Menurut aku sih mngkn bakal lebih seru kalo dihari valentine aka hari penuh cinta kaya gitu ada konflik gitu terus barudeh berakhir bahagia._. ㅋㅋ

    • Andweeee….
      kenapa bayanginnya orang lain??
      Bayangin Donghae ama Narin aja… Saya gak rela hae-hae ciuman sama siapapun walaupun dalam drama….
      KYaaaaaa… jealous kumat..

      Terima kasih… saya menerima pujiannya dengan senang hati.. Kekekeke~
      mereka udah keseringan punya konflik, sekali aja pengen orang itu punya hari yang penuh keromantisan,,
      ㅋㅋ

    • Udah…
      tapi hanya bagian-bagian yang ingin kuliat aja..
      no kiss scene, no hug scene, no nempel-nempel scene..
      selebihnya ANDWEEEE….. Aku gak mau liat..
      *jelouss kembali datang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s