[Family] Losing…

Apa kau bisa kembalikan hyungku padaku??
-Lee Donghae-

 Leeteuk’s Room, 30October, 21:00 KST

Cho Narin berdiri terpaku memandangi pintu berwarna coklat muda dihadapannya. Sejak tadi yang ia lakukan hanya mengangkat tangan dan menghapus air mata yang terus menerus meluncur turun membasahi pipinya. Ia mengigit bibir bawahnya berusaha menahan diri setiap kali suara isakan  terdengar dari balik pintu berwarna coklat muda itu. Gadis itu akhirnya menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu itu perlahan.

Kamar itu gelap. Hanya ada sinar lembut dari lampu meja disudut ruangan yang menerangi. Namun benda-benda putih yang memenuhi setiap sudut kamar tetap tampak jelas dan memantul walau hanya dengan bantuan cahaya yang sesedikit itu. Ditambah sedikit bantuan cahaya dari lampu-lampu bangunan diluar jendela yang tampak karena tirai yang dibiarkan terbuka, yang tentu saja terlihat sangat indah.

Disudut itu, dibawah tirai yang terbuka itu, Narin menemukannya. Orang yang sejak tadi menangis terisak. Suara isakan yang tadi diam-diam ia dengarkan dari balik pintu, kini ia menemukan pemiliknya, duduk bersandar didinding, dengan kepala tertunduk dalam dan wajah tersembunyi dibalik  lututnya.

“Lee Donghae,” suara Narin pelan, berharap tidak mengagetkan. Ia berjalan pelan menghampiri.

Lelaki yang dipanggil Lee Donghae itu tidak menjawab, hanya suara isakan yang tiba-tiba berhenti yang menandakan kalau ia sedang mendengarkan.

Narin mengambil jarak beberapa senti, tanpa menimbulkan suara duduk disamping Lee Donghae. “Apa kau membutuhkanku?” tanya Narin. Ia memandangi bangunan-bangunan tinggi yang tampak indah dari balik jendela kaca. “Lee Donghae.”

Terdengar satu tarikan nafas panjang dari lelaki disampingnya, “Kuanggap itu sebagai jawaban ‘ya’.” ucap Narin.

Narin melirik lelaki itu. Kaos abu-abu gelap dan celana biru gelap yang sama dengan yang ia pakai siang tadi. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya sama sekali, hanya membuka jaket luarnya.

“Sejak kapan kau ada disini??” tanya Narin lagi. Gadis itu diam menunggu jawaban, namun tak ada suara. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangisnya sendiri. “A..Apa terasa sakit?” suaranya tercekat, “Lee Donghae.”

Lee Donghae akhirnya bergerak. Lelaki itu memiringkan kepalanya, menampakkan hanya sebahagian wajahnya. “Sakit sekali.” lirihnya.

Narin menelan ludah memandangi wajah itu. Wajah itu adalah wajah  yang tak pernah ingin ia lihat dari Lee Donghae-nya yang ceria. Wajah yang tak akan pernah sanggup ia lihat dari orang yang begitu ia sayangi. Wajah yang menunjukkan betapa rapuh sebenarnya lelaki yang ada disampingnya itu.

“Apa yang harus kulakukan agar perasaanmu lebih baik?” tanya Narin frustasi. Ia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun. Ia bahkan ragu ada yang bisa membuat perasaan lelaki itu lebih baik.

Lee Donghae tetap tidak mengubah posisinya. Hanya bola matanya yang bergerak menatap Narin penuh harap, “Apa kau bisa kembalikan hyungku padaku?! Aku bisa apa tanpanya??”

Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya meluncur juga. Gadis itu bahkan tak mampu terisak, hanya air mata yang keluar tanpa suara, “Kau tahu aku tak mungkin bisa melakukannya.” Narin menaikkan sudut bibirnya, berusaha tersenyum. “Jangan buat aku kelihatan begitu tidak berguna, Lee Donghae.”

Donghae kembali menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya, “Maaf… aku hanya—“

“Aku tahu.” Jawab Narin cepat. “Maaf aku tak bisa membantumu.”

Keduanya terdiam. Narin menghapus kedua pipinya yang basah, membiarkan Donghae yang kembali terisak pelan.

Narin menghela nafas panjang memandangi punggung Donghae yang tampak begitu kecil malam ini. Ia sudah tak sanggup melihat Lee Donghae-nya seperti ini. Kalau ia saja merasa sesak seperti ini, lalu apa yang dirasakan Donghae sekarang ini. Tak heran ia terisak  seperti itu.

“Aku begitu membutuhkannya.” tanya Donghae dengan suara parau.

“Aku tahu.”

“Aku bisa apa tanpanya?”

“Kau pasti bisa.”

“Yang kutau hanya berjalan dibelakangnya.”

Narin buru-buru membekap mulutnya. Matanya kembali terasa panas dan basah. Ia berlutut dihadapan Donghae dan menggenggam jemari Donghae yang terkulai diatas lututnya. “Dia tidak pergi lama Donghae-ya. Jangan menangisinya seakan-akan… seakan-akan kau kehilangannya.” Ucap Narin ragu-ragu. “Dua tahun lagi kau masih bisa berjalan dibelakangnya. Kau masih bisa mengekorinya kemanapun dia pergi. Tidaklah lama.”

Lee Donghae menarik nafas panjang, “Aku tahu. Aku memang berlebihan. Seperti seorang bocah menyusahkan yang merengek-rengek ditinggal ibunya bekerja. Seperti itukan??”

Narin menggeleng, “Ani. Kau seperti seorang bocah yang begitu menyayangi hyungnya, yang bahkan tak sanggup ditinggal hyungnya yang pergi sekolah.”

“Tetap saja menyusahkan.”

“Tidak. Karena akhirnya kau merelakannya pergi dan dengan sabar menantinya pulang.”

Keduanya kembali terdiam. Tak ada lagi suara tangis atau isakan. Keadaan terasa begitu hening.

“Hhh~ Kau membuatku merasa sangat tidak berguna Donghae-ya. “ gumam Narin pelan. Donghae memiringkan wajahnya memandangi gadis itu. “Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”

Donghae menaikkan alisnya menunggu, “Sebenarnya mana yang lebih kau suka, aku memintamu berhenti menangis atau membiarkanmu terus menangis?” tanya Narin tiba-tiba. “Lee Donghae.”

Donghae menegakkan diri, menghapus air mata di pipi kanannya, “Entahlah. Mana yang lebih baik??”

“Aku? Kau mau tahu pilihanku?” Donghae mengangguk.

“Aku lebih suka kau berhenti menangis. Karena melihatmu menangis juga menyakitiku.” ucap Narin lirih.  “Lagipula tidak ada yang suka menyakiti dirinya sendiri kan? Dan lagi, siapa didunia ini yang suka melihat orang disampingnya menangis sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa? Kalau kau masih ingin menangis, apa kau tak takut besok matamu membengkak, dan lagi, apa kau pikir kau masih punya cukup air mata untuk dikeluarkan? Kau sudah menangis sejak siang tadi kan? Atau mungkin sejak kemarin dan kemarin, dan kemarinnya lagi.” Gadis itu berhenti setelah tersengal-sengal. Ia mengucapkan rentetan kalimat itu hanya dalam satu  tarikan nafas, dengan nada suara yang sama setiap kali ia tak mampu mengucapkan kata-kata yang sebenarnya ingin ia ucapkan.

Donghae mendengus, “Tch~ Kau mengkhawatirkan air mataku?”

“Aku… mengkhawatirkanmu..” ucap Narin tercekat. “Tapi kalau kau masih ingin menangis, aku memilih yang itu saja.”

“Jadi sebenarnya apa yang kau pilih??” tanya Donghae.

“Aku memilih pilihan yang bisa membuatmu sedikit lebih bahagia. Walau hanya sedikit sekali. Walau tak akan bisa mengobati perasaanmu, aku ingin kau memilih pilihan itu. Aku ingin kau bahagia.”

Donghae menghembuskan nafas dengan gaya yang berlebihan, “Kalau begitu, terima kasih sudah membantuku.”

“Aku memang tidak tahu bagaimana rasa sakitnya, tapi kumohon bertahanlah. Karena dia pasti kembali.”

 -enD-

Saia sedih liat teukie-teukie pergi wamil,
tapi jauh lebih sedih lagi liat hae-hae yang nangis kayak gitu… TT__TT
*mybabyhae, comehere…*

paling sedih waktu baca fanacc ini di twitter,
‘Donghae didn’t look at leeteuk for almost the time,
but when teuk leaving inside, hae secretly looked at his back then looked down for a while’
So Heartbreaking…

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

25 thoughts on “[Family] Losing…

  1. huwaaaaaa sroooot #sebentar,sy yg prtama?…. asliiiii bikin sy luarbiasa nangis (?) ringkas pdat tpat dn mngena btul kjantung hati ini, bhkan pmenang 1 dlomba SJFF event wamilnya teuki gak semembuat aku nangis bgini keras…hua, knpa dak dkirim ksitu sih onnie/chingu? kan bs jd pmenang? huwaaaa makin galau gara2 dtinggal teukpa trus baca ff yg bkin nangis ni pula…habislah sudah sy…
    Rahmi SarangheSUJU

    • sroooot #elapingus
      saia juga kemaren seharian galau gara2 Leeteuk..

      gak mungkin dikirim, aku juga buatnya pas malem tgal 30-nya. Itu juga buatnya gara2 galaw abis liat idongek ampe nangis gitu..
      Biasanya kan dia kalau nangis, ya nangis aja.. Ini karena dia berusaha nahan tangisnya, saia jadi gak kuatttt…

      eniwey, gomawo rahmi…
      sering2 mampir…😀

  2. hey yeong
    knpa kamu seneng banget bikin aku makin sedih aja seh????
    aku tuh belum bisa move on neh
    stiap ngbahas teukppa aku bisa galau lagi dh

    kalau aku lebih milih biarin nangis dulu ampe puas jadi bisa plong
    drpd sok kuat hiks hiks hiks
    pasti susah deh ngelepasin teuki scra mereka dh kayak saudara
    alm bokapnya juga nitipin haeppa ke teukppa
    spa lagi yg bisa jgain haeppa n member lainnya huwaaaaaaaa
    prince manager jaga tu bocah2 ampe babeh nya pulang

    aku ngiri mampus ma p’sahabatan n p’saudaraan mereka
    kenapa cow bisa kayak gitu,oppa ku juga kayak gitu
    tapi buat cew susah banget dh😦

    • sumpah onnie, aq juga waktu nulis ini sampe ngelap ingus..
      agak galaw melihat member yang pada nangis semua kyak gitu..

      kan narin cuma ngasih pilihan, dongeknya sendiri yg milih mana yg dia mau..
      mau nangis boleh.. mau berhenti boleh..

      baru kali ini aku terharu ma tulisanku sendiri… *muji diri sendiri*
      kalo ngebayangin donghae yg lagi memohon penuh harap sambil ngomong, ‘kembalikan hyungku’
      rasanya aku pengen nangis… TT__TT
      # nulis sendiri terharu sendiri, lebay..

  3. ‘kembalikan hyungku’—> first i thought teukpa is past away T.T

    aaahhh… can’t hold my tears again remembering teuki will not be with us for 21month, it seems like FOREVER for me

    • Hahahaha..
      kemaren aku juga mkirnya kayak gitu…

      kan dlam ceritanya juga dibilang, si donghae yang berlebihan..
      sampe kayak ditinggal orang selamanya…

      gomawoo, sudah mampir..

  4. Huwqeee..
    Bkin nangis tengah malem baca yg inii..
    Jg kangen teuki oppa..
    Annyeooooong, new reader disini..
    Nova imnida, salam kenall..
    Author-ssi fightiing ya..!! ditunggu karya2 selanjutnya, btw saengil chukkae..:D

    • Jangan nangis tengah malam..
      nti orang yg gak sengaja dengar malah kira yg aneh2 lagi..
      hehehe..

      Annyeong juga nova,
      salam kenal ^^

      Ditunggu yah…
      Gomawo^^^😀

  5. Iye siih gw jg kagak bakalan rela kalo bang ikan pergi..tp mau gmn lg,,kn nttu kewajiban org2 sono..mau ngelarang nnti malah gw yg d bakar massa..hehe..

    Ehh..eonni punya pin bb nggag…kita bbm-an aja nyok..\maaf yee kalo lancang/

    • Wah, gk tw napa saia paling males disuruh megang bb en sgla hal tntg pin en bbm or so on, saya gk ngerti. Saya ank android (walo android pun bisa bb sbnrnya)

      Klo mw lwt twitter aja, saia udh janji kok *sama diri sendiri* bakalan buka twitter sering2. Mention aja, gk ush malu2. I dont bite… hehe

  6. Maaf yah eonni..akku ini anak gaptek..nggag punya kayak begonoan..yesungdahlah..kita maen mail-mail an aje yeeee

    • lho…. itu ngerti bb sama email2an mana gaptek namanya..

      prasaan ank zaman skrg gk ada yg gk ngerti twitter heheh… *pdahal yg ngomong juga masih meraba2 twitter*

      baiklah klo gk bsa, yah lewat wp aj…
      saya jauh lebih senang ada yg ngomen di wp dripda di yg lain2, biar brasa ada yg senang ma tu wp walopun hidupnya tak jelas.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s