[Onespace] Hae Cheff…

Saat seorang Chef memberi perintah kau harus menjawab, “Yee Chef….”

Saat Lee Donghae yang melakukannya, jawabnya adalah, “Hae Cheff…..”

Narin naik ke atas tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul 4 sore, dan ia berencana untuk tidur. Ia harus balas dendam untuk waktu tidurnya yang berkurang karena harus bergadang mengerjakan proyek kampusnya dua hari ini. Ia juga sengaja mematikan ponselnya agar tak ada yang bisa menganggu tidurnya. Hari ini ia hanya ingin tidur sampai puas dan berharap baru terbangun esok paginya.

Narin masuk ke balik selimut. Ia menarik boneka alien kesayangannya yang sudah mulai kehilangan bentuk itu dan memeluknya erat. Narin memejamkan mata, namun belum ada semenit, ia terpaksa membukanya lagi. Terdengar suara alarm pintu rumahnya, yang artinya ada orang yang berhasil memasukkan passcodenya. Hanya ada 3 orang yang bisa melakukannya. Kalau bukan Hyora atau Donghae, itu artinya si raja setan, Cho Kyuhyun. Tapi Cho Kyuhyun selalu memberitahunya dulu sebelum datang.  Sementara Donghae biasanya lebih suka menekan bell dan menunggu Narin yang membukakan.

Gadis itu kembali memejamkan matanya. Kalau itu Hyora, ia tidak perlu bangun. Hyora bisa melakukan apa saja dirumahnya. Kalau memang ada yang dibutuhkan, onnie-nya itu biasa mencarinya sendiri. Terkadang Hyora juga datang hanya untuk bermain-main. Dan Hyora juga jarang mengganggunya kalau melihatnya sedang tidur. Narin mengangkat selimutnya lebih tinggi dan berguling ke kanan, kembali mencoba tidur, namun sepertinya ia harus menyerah.

“Yeonng~~”

Suara Donghae yang terdengar dari luar kamarnya, membuatnya mendesah. Ia sepertinya memang harus merelakan angan-angannya untuk bisa tidur nyenyak.

Donghae yang datang, masuk dan meletakkan kedua bungkusan besar yang dijinjingnya di konter dapur dan melirik ke arah pintu balkon luar yang terbuka, itu artinya Narin sedang ada di rumah. Donghae berjalan ke arah kamar dengan pintu coklat yang ada disebrang dapur dan mengetuknya.

“Yeonng… kau ada didalam??”

Narin mengerang dari balik selimut yang menutupi seluruh wajahnya. Ia tidak menjawab, berharap Donghae mengira ia sedang tidak ada dirumah. Namun terdengar suara ketukan lagi.

“Yeonng… kau ada didalam kan??”

“Tidak. Tidak ada Narin disini. Ia sedang pergi. Kau bisa kembali lagi nanti tuan.” Narin menyerah, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Donghae terkikik geli mendengar jawaban itu, ia pun membuka pintu dan mendapati Narin yang sedang menyembunyikan diri di balik selimutnya.

“Apa benar Narin sedang tidak ada dirumah??” tanya Donghae menggoda. Ia mendekat dan duduk di ujung tempat tidur.

“Benar, jadi tolong kembali lagi saja nanti.. Aku pasti akan memberitahumu saat dia kembali nanti.” ucap Narin dari balik selimutnya.

Donghae tertawa lebar, “Kau benar-benar lucu Yeonng. Apa lain kali kau mau ikut variety show bersamaku??”

Dengan sangat terpaksa Narin menyibakkan selimutnya dan bangkit, “Kenapa terkadang kau datang disaat yang sangat tidak tepat??”

“Wae?? Kau ingin tidur?? Setiap aku datang, kau selalu sedang tidur. Dasar tukang tidur!!”

“Itu karena kau selalu datang tepat disaat jam tidurku baru dimulai..” bela Narin.

Donghae mengelus-elus dagunya,” Hmm.. kalau begitu sepertinya hari ini kau harus bolos dari jadwal tidurmu. Karena hari ini adalah jadwalmu bersamaku. Seharian penuh!!” Ia menarik kedua tangan gadis dihadapannya itu agar keluar dari balik selimut.

“Ahh wae~~ Apa yang mau kau lakukan?? Aku benar-benar mengantuk. Tak bisakah—“

“Tidak.” Sahut Donghae pendek.

Narin menahan tubuhnya dari tarikan Donghae, ia benar-benar tidak ingin bergerak dari tempat tidurnya, “Hae-hae, kau tidak lihat kantung mataku, eo?? Apa kau tega melihatnya??” Narin menunjukkan wajah mengantuknya agar Donghae luluh. “Kau kejam sekali. Biasanya kekasih yang baik  itu akan membiarkan kekasihnya tidur saat sedang mengantuk, dan bahkan menemaninya sampai tertidur.”

Donghae yang tidak terpengaruh, hanya menggeleng dan kembali menarik kedua tangan gadis itu, “Maaf, tapi hari ini aku sedang kejam. Lain kali aku akan berusaha untuk jadi kekasih yang baik. Kajja!! Kajja!!”

Donghae berjalan kearah dapur dengan semangat , kalau tak mau dibilang setengah melonjak, diikuti Narin yang berjalan kontras dibelakangnya, menyeret langkah kakinya satu persatu dengan susah payah.

“Yeonng, kau tau kan kalau aku ikut drama baru??”

“Eung..” hanya itu bisa keluar dari bibir gadis itu. Donghae mendudukkan Narin yang matanya hanya terbuka setengah di kursi tinggi di depan konter. Gadis itu langsung tergoda menempelkan wajahnya diatas permukaan konter yang licin dan dingin.

“Kau tau kan kalau itu tentang drama memasak???”

“Benarkah??” tanya Narin tak bersemangat.  Ia memang tidak pernah  mencari tahu tentang drama terbaru Donghae. Ia  BERUSAHA untuk tidak tahu.  Sebenarnya mendengar Donghae bermain drama bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Efeknya-lah yang ia tidak suka. Tentu saja, membayangkan apa yang akan dilakukan Donghae dalam drama bisa membuatnya  menjadi gadis yang tidak punya pengertian. Bukan drama namanya kalau tidak ada berpelukan, berpegangan tangan, skinship, dan yang pasti kisseu scene. Dan Narin belum sampai pada tahap kekasih yang pengertian, yang rela melihat Lee Donghae-nya dipeluk dan dicium gadis lain. Lebih dari itu, apalagi kalau Narin sampai melihat Donghae-nya mengelus kepala gadis lain. Fatal akibatnya. Donghae hanya boleh melakukan itu padanya. Tidak pada gadis lain. Narin menggeleng-gelengkan kepanya. Pemikiran-pemikiran aneh mulai merasuki otaknya.

Donghae mengangguk sambil menepuk dadanya, tersenyum lebar, “Eung.  Dan kau tau, aku pemeran utamanya.”

“Lalu , apa peranmu disitu??” gumam Narin.

“Menjadi chef pastry.”

“Jjinjjaro??” Narin mengangkat kepalanya terkejut. “Wah pasti sutradaranya sudah tertipu tampang polosmu,  atau mungkin dia pasti sudah kehilangan satu urat sarafnya sampai –sampai memilih orang ceroboh sepertimu menjadi seorang chef.”

“Apa maksudmu?? “ Donghae memberengut. Pandangan Narin yang seperti orang terkejut terasa seperti sedang meledek dirinya. “Sudah jangan cerewet. Kau lihat saja nanti.”

Donghae berjalan meraih apron biru milik Narin dan memakainya. “Jjaa!!!” Donghae menepukkan tangannya. “Jadi, jadwal kita hari ini adalah memasak kue.” Donghae mengucapkannya ala seorang pembawa acara masak-memasak.

“Ohh.. tidak. Tolong jangan yang itu.” gumam Narin lirih, kembali menempelkan wajahnya ke konter.

Donghae berpura-pura tidak mendengar apapun, tetap tersenyum lebar. “Sekarang saatnya kita membuat kue. Aku akan menunjukkan padamu kemampuanku. Kau tidak tau kan kalau selama ini aku belajar membuat cake dari seorang chef terkenal?? Dan sekarang aku berbaik hati membuatkannya untukmu…”

“Kau memang sangat baik hati, kalau begitu maukah kau berbaik hati sekali lagi?? Biarkan aku tidur. Kau bisa memasak cake mu dan aku tidur, jadi saat cake-nya matang, kau bisa bangunkan aku. Kau senang, aku senang, semua senang… otte??” Narin tersenyum selebar mungkin, menampakkan deretan giginya, berharap lelaki di depannya  setuju dengan usulannya.

Narin tersenyum lebar saat Donghae ikut tersenyum, yang detik kemudian memasang wajah datar. “Andwee!! Bagaimana bisa kau membiarkan aku sendirian melakukannya??”

“Bukankah kau sudah belajar dari chef terkenal??” Narin mulai merengek, “Jadi kau tak perlu bantuanku kan??”

“Siapa bilang aku butuh bantuanmu??” Donghae bertanya balik.

Narin mengerutkan keningnya, “Lalu??” Kemudian menepukkan tangannya, “Aahh– Kau tidak butuh bantuanku kan?? Kalau begitu aku bisa tidur kan??”

“Aku memang tidak butuh bantuanmu. Tapi kau tidak boleh tidur.  Karena kau harus melihat skill-ku dalam memasak. Aku datang kesini untuk memamerkan itu padamu…”

“Tch yang benar saja.. Tidak membakar dapurku saja itu sudah keajaiban” gumam Narin pelan.

Donghae menarik sebuah kertas kecil dari saku celana miliknya, dan meratakannya ke atas konter. “ Jja~ coba kita lihat!! Tepung, okey… Telur, okey.. Keju, strawberry, susu, lalu… “ Donghae mengeluarkan satu persatu isi bungkusan yang dibawanya dan mengecheck list belanjaannya. “Jadi sekarang kita akan membuat Strawberry tart  ala Donghae Lee.”

Donghae menarik sebuah kertas lagi dari saku celananya, yang kali ini agak lebih besar. Ia membuka lipatannya dan menempelkannya ke lemari es dengan pin strawberry. Narin melirik sekilas. Isinya ternyata adalah resep masakan dan petunjuk cara-cara membuat Strawberry tart yang ditulis sendiri oleh Donghae. Resep yang penuh coretan dan tulisan yang berantakan. Narin yakin tak akan ada yang bisa membacanya selain Lee Donghae sendiri.

Narin menopangkan dagunya diatas kedua tangan, memposisikan diri untuk memperhatikan Lee Donghae yang katanya ingin memamerkan keahliannya.

Donghae menatap kertas resep miliknya dan melakukan list nomor satu miliknya, “Pertama, campur tepung dengan soda kue lalu diamkan selama 15 menit.”

Donghae beralih ke bahan-bahan miliknya, mencari –cari bahan yang ia perlukan. Narin mengerutkan kening dan hendak membuka mulutnya saat Donghae justru meraih gula bubuk, namun menutupnya kembali saat Donghae akhirnya mengambil tepung dengan benar.

Donghae menuangkan seluruh isi tepung dan soda kue yang ia punya kedalam mangkuk, lalu mencampurnya dan meletakkannya ke sudut konter.

“Kedua, kocok margarin dan gula hingga lembut dan putih,” ucap Donghae setelah mencoret list nomor satu miliknya dengan tinta merah yang ada di atas lemari es.

Donghae memasukkan margarin dan gula kedalam sebuah mangkuk, setelah itu ia terdiam memandanginya, sampai-sampai Narin mengira Donghae begitu mengagumi sesuatu yang disebut margarin.

“Lalu dengan apa aku harus melakukannya??” tanya Donghae dengan wajah polosnya setelah beberapa lama.

Narin menepuk keningnya, tak menyangka pertanyaan seperti itu keluar dari orang yang mengaku sudah belajar dari chef terkenal. “Dengan mixer tentu saja Lee Donghae…”

“Ah majyeo!! Mixer!!” Donghae menepukkan tangannya. “Lalu apa kau punya??” Donghae menatap Narin dengan bola mata yang kembali penuh semangat.

Narin menunjuk sebuah kotak diatas lemari. Donghae meraihnya dan mengeluarkan isinya satu persatu.

“Pasang dulu pemutarnya..” tunjuk Narin pada dua buah pemutar yang baru saja dikeluarkan Donghae. Donghae memegangi kedua pemutar tersebut di tangan kanan dan kirinya, memandanginya tanpa tahu harus berbuat apa.

“Aisshh…” Narin menggaruk poninya frustasi. “Apa kau pikir setelah dipandangi seperti itu dia akan terpasang sendiri?? Masukkan ke dalam lubangnya Lee Donghae, yang itu….”

Donghae memutar-mutar mixer di tangannya, mencari-cari ke segala sudut lubang yang dimaksud Narin, namun tak juga menemukannya.

“Aisshh…” Narin akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan meraih kedua alat pemutar itu dari tangan Donghae, memasangkannya, menarik kabelnya, lalu mencolokkannya ke listrik.

“Pegang ini!!” ucap Narin, memberikan mixer siap pakai pada Donghae.

Donghae menerimanya ragu-ragu. Pertama kali untuknya melihat yang seperti ini. “Kau yakin ini yang namanya mixer?? Kenapa tidak mirip seperti milik chef Yoon??” tanya Donghae memandangi sesuatu yang disebut mixer yang ada ditangannya.

“Sudah jangan banyak tanya, cepat hidupkan!!” perintah Narin.

Donghae memutar tombolnya ke arah angka 1, namun tak disangka benda itu tiba-tiba berputar  kencang ditangannya, dengan suara yang mengagetkan. Donghae yang terkejut pun refleks berusaha melepaskannya dan menjauh. Namun dengan cepat Narin menahan tangannya dan menggenggamnya erat-erat, menyelamatkan benda itu dari kerusakan permanen bila benar-benar terjatuh ke lantai.

“Apa yang kau lakukan??!!!” pekik Narin akhirnya setelah mixer itu berputar dengan stabil dan Donghae sudah mulai bisa menghandlenya. “Bagaimana kalau terjatuh?? Kau bisa merusak mixer milikku satu-satunya!!”

“Aku kan kaget.. Kenapa kau tidak bilang sebelumnya kalau dia akan berputar seperti itu??” balas Donghae,masih dengan wajah shock namun tak ingin disalahkan.

“Memang seperti itulah dia bekerja, berputar terus dan mencampur semua bahan. Itu sebabnya dia disebut mixer. Mixer alias pencampur.” jelas Narin panjang lebar. “Sudah sekarang cepat putar itu!!!”

Setelah 5 menit bermain-main dengan mixer ditangannya, Donghae akhirnya tak tahan lagi, “Sampai kapan aku harus melakukannya?? Ini melelahkan. Tanganku pegal~” rengek Donghae.

“Apa kau tak bisa baca tulisanmu sendiri?? Sampai putih dan mengembang!!” Narin menunjuk-nunjuk resep Donghae yang menempel di lemari es.

“Kenapa mixer ini tidak seperti milik chef Yoon?? Kemarin saat didapur chef Yoon aku hanya perlu memasukkan semua bahannya kedalam mangkuk, lalu dia akan berputar sendiri tanpa aku harus memegangnya dan memutarnya seperti ini.”

“Itu namanya stand mixer. Biasanya dipakai oleh orang yang memang benar-benar pandai memasak, di restoran atau di hotel-hotel. Dan aku bukanlah orang yang pandai memasak dan ini juga bukanlah restoran atau hotel. Jadi kalau kau tidak puas dengan mixer milikku yang sudah jelek dan tidak mirip dengan mixer milik chef Yoon-mu itu, jangan memakainya!!!”

Narin mengamuk, ia kembali duduk ke tempatnya membiarkan Donghae sendiri dengan segala kerepotannya.

Narin bukannya marah karena Donghae sudah mengganggu tidur siangnya. Bukan juga karena Donghae hampir merusakkan satu-satunya mixer yang ia punya sejak lama karena kesukaannya memasak masakan pastry. Tapi Narin marah karena Donghae sudah membanding-bandingkan dirinya dengan seseorang bernama Chef Yoon sebanyak 3x hanya dalam waktu setengah jam. Itu membuatnya marah dan kehilangan sedikit demi sedikit kesabarannya. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah Lee Donghae itu sama sekali tidak menyadari kalau ia sedang marah. Donghae masih saja sibuk dengan segala bahan dihadapannya, tidak juga menyadari Narin yang terus menatapnya penuh amarah.

=====================================================================================

“Apa yang kau lakukan?? Itu susu plain Donghae-ya.. Kenapa kau mesti mencicipinya??” Narin kembali mengomel setelah melihat Donghae yang memuntahkan sesuatu kedalam bak cuci. Layaknya bocah umur lima tahun, Lee Donghae memasukkan apapun yang ada dihadapannya ke dalam mulut, namun akhirnya menyesal setelah merasakan susu cair, bahan untuk membuat tart, yang sama sekali tidak ada rasanya.

Donghae mencuci mulutnya dengan air dari keran yang mengalir, berusaha secepat mungkin menghilangkan rasa tidak enak itu, “Bleeh… kenapa rasanya seperti itu?? Bukankah itu susu?? Kemarin saat didapur Chef Yoon, aku juga mencicipinya. Tapi rasanya tidak seperti itu. Manis, seperti susu biasa..”

Narin memutar bola matanya, lagi dan lagi Chef Yoon. Setelah tadi ia berhasil meredakan amarahnya dan merasa tidak tega membiarkan Lee Donghae itu mengerjakan semuanya sendiri, Narin akhirnya memutuskan kembali membantunya. Namun lagi-lagi Donghae melakukannya, membanding- bandingkannya.

Seberapa hebat sebenarnya Chef Yoon itu?? Apa ia begitu pandai membuat kue, atau karena ia begitu cantik, sehingga bisa meninggalkan kesan yang begitu mendalam pada seorang Lee Donghae hanya dalam dua kali pertemuan?? Narin menggeleng, mengenyahkan pikiran-pikiran konyol yang mulai datang. Ia sedang tidak ingin menjadi gadis bodoh yang cemburu tidak jelas pada hal-hal sepele.

“Itu karena dia memakai susu biasa jadi rasanya manis, sementara kau membeli susu plain, tanpa rasa.” Jelas Narin sambil mengaduk adonan tepung dihadapannya. Donghae sudah menyerah dengan benda bernama mixer itu. Ia mengadu kalau tangannya pegal, dan memutar-mutar mixer untuk waktu yang cukup lama sangat membosankan.

“Hae-hae, ambilkan aku sedikit garam!” Narin menunjuk garam yang tak jauh dari Donghae dengan tangan kirinya, sementara ia masih sibuk mengaduk adonan.

“Ya!! Ya!! Ya!! Andwe!!” pekik Narin saat Donghae hampir saja memasukkan satu sendok penuh garam kedalam adonan yang sedang dikerjakannya. “Kita bukannya mau masak sup Lee Donghae. Kau mau buat Strawberry tart asin??”

Donghae hanya mengerucutkan bibirnya, persis anak kecil yang habis dimarahi orang tuanya, “Kau kan tidak bilang seberapa banyak persisnya!!” ucapnya membela diri.

“Ya sudah, sekarang parut keju-nya saja!!” perintah Narin.

Donghae pun mengambil keju dari bungkusan yang dibawanya, dan mengambil tempat di sudut agar tak mengganggu Narin yang sibuk bergerak mengambil ini dan itu. Ia tak menyangka kalau memasak itu ternyata susah dan memusingkan. Padahal niatnya ia ingin memasak untuk Narin, namun sekarang justru Narinlah yang memasak semuanya.

Sebenarnya kemarin saat belajar bersama Chef Yoon ia hanya membantu mengaduk adonan dan menuangkan susu, selebihnya ia  hanya menonton Chef Yoon memamerkan skill chef-nya yang luar biasa. Saat hanya sebagai penonton, rasanya semua tidak begitu susah. Hanya tinggal mencampur, mengaduk, memanggang lalu tinggal menatanya, selesai. Ia pikir ia bisa membanggakan diri didepan Narin hari ini, tapi ternyata.

Donghae diam-diam melirik Narin yang masih sibuk. Wajah mengantuknya kini belepotan tepung. Piyama birunya kotor karena Donghae sempat menumpahkan bubuk coklat keatasnya. Dan bibir mungilnya sibuk mengomel menyesali nasibnya yang harus terjebak di dapur dan memasak kue saat matanya benar-benar minta  ditutup sesegera mungkin. Donghae yakin Narin pasti kesal karena tidurnya terganggu dan harus memasak saat ia sedang tidak ingin. Padahal tadi ia sudah menyombongkan diri kalau Narin tidak perlu membantunya sama sekali.

“Hae-hae, sudah selesai??” tanya Narin mengejutkan Donghae. “Kalau sudah, sekarang ambil semua buahnya.”

Donghae mengambil buah-buahan dan meletakkannya di depan Narin, “Apa kita akan memasukkannya ke dalam??”

“Eung. Sebagian untuk dimasukkan ke dalam dan sebagian lagi sebagai hiasan. Sekarang potong kecil-kecil sebagian apel dan strawberry-nya..”

“Apa boleh aku memasukkan ini kedalamnya??” tanya Donghae sambil mengangkat buah kesayangannya, Jeruk.

“Boleh saja..” jawab Narin sambil lalu, dan pergi mengambil lap untuk membersihkan segala kerusuhan yang terjadi di dapurnya.

“Ya Tuhan Lee Donghae!! Kau tidak bermaksud memasukkannya bulat-bulat kedalam kan??” jerit Narin menghentikan Donghae yang berniat memasukkan sebuah jeruk bulat, yang sudah dikupas tentu saja, kedalam loyang yang berisi setengah adonan tart yang siap dipanggang.

“Wae??” tanya Donghae cemberut. “Kau bilang aku boleh memasukkannya..”

“Tapi buang dulu bijinya, Lee Donghae sayangg…” jelas Narin dengan sabar. “Kau tidak mau kan ada biji jeruk didalam tart-mu??”

“Bagaimana caranya?? Tidak mungkin aku melakukannya satu demi satu kan??”

“Seharusnya kau membeli buah kalengan kalau memang ingin memasukkannya kedalam kue-mu..”

“Jadi tak bisa??” tanya Donghae penuh harap.

Narin menggeleng. “Hanya kalau kau bersabar mengeluarkannya satu demi satu.”

Donghae menatap sedih buah kesayangannya itu, “Hh~ Mungkin lain kali…” Ia pun membelah dua jeruk ditangannya, memasukkan separuh bagian kemulutnya, dan separuh lagi ke mulut Narin.

Donghae pun meraih pisau dan buah apel juga strawberry, memotongnya sebagai bahan isian dari tart-nya. Namun ia tidak begitu bersahabat dengan yang namanya pisau. Ia tidak terlalu suka membayangkan mata pisau itu begitu dekat dengan jari-jari tangannya. Berkali-kali strawberry yang ingin ia potong terlepas dan meluncur jatuh dari meja, dan berkali-kali pula Narin mengomelinya.

“Apa kau tidak bisa memotong dengan benar?? Kalau tidak cepat, adonannya bisa mengembang sebelum sempat dipanggang!!”

“Tidak perlu takut, kalau kau memegangnya dengan benar, tidak akan terjadi apa-apa!!”

“Tidak bisakah aku yang melakukannya saja?? Berapa lama lagi aku harus menunggu hanya memotong itu saja?? Adonannya tidak akan jadi kalau terlalu lama terkena udara..”

“Pegang pisaunya dengan benar. Kalau seperti itu justru tanganmu akan terluka. Bukan seperti itu!! Pegang ujungnya, lalu potong.  Aku bilang ujungnya Lee Donghae…. Hmph..”

Donghae tak jadi memotong strawberry kecil yang sejak tadi begitu susah ia lakukan. Ia malah mengambilnya dan dengan cepat menyodorkannya pada Narin, agar gadis itu berhenti mengomelinya.

“Cerewet sekali!! Justru karena kau terus bicara,aku jadi tak bisa konsentrasi!!”

Donghae pun memasukkan buah-buahan yang berhasil dipotongnya, lalu menuangkan sisa adonan yang setengah lagi menutupi seluruh loyang.

“Sekarang hidupkan ovennya, lalu panggang!!” perintah Narin.

Donghae merogoh-rogoh kantongnya dan mengeluarkan ponselnya, “Chakaman… foto dulu. Aku ingin mengupload-nya ke twitter..”

Narin memutar bola matanya, sudah bisa diduga. Lee Donghae si tukang pamer, apapun pasti diuploadnya ke twitter. “Tidak bisakah nanti saja, saat sudah matang?? Bukankah lebih bagus kalau kau sudah menghiasnya?? Lagipula kalau kau tidak cepat memanggangnya, tartmu tidak akan mengembang..”

“Sebentar saja~~” rengek Donghae. “Kalau nanti sudah jadi, orang bisa saja mengira kalau aku membelinya, tidak membuatnya sendiri..”

Narin menyerah, Lee Donghae tidak akan berhenti merengek, sampai permintaannya dipenuhi. Jadi daripada berlama-lama, lebih baik lakukan saja.

“Sekarang cepat panggang adonannya!!” Narin mengembalikan ponsel Donghae. “Itu oven-nya..”  tunjuk Narin.

“Ini oven?? Kenapa kecil sekali?? Tidak mirip seperti milik Chef Yoon!!!” Donghae mengelus-elus dagunya sambil mengamati benda petak berwarna putih didepannya.

Narin, seperti banteng yang baru saja ditarik tanduknya keluar, akhirnya mengamuk. “Nde. Itu yang disebut oven. Pabrik oven tidak hanya memproduksi satu jenis oven saja. Dan tidak semua oven milik orang di dunia ini harus sama dengan oven milik Chef Yoon-mu itu!!!”

Narin memicingkan matanya menatap Donghae kesal, dan berbalik pergi dan menjatuhkan dirinya di sofa.

Donghae menaikkan kedua alisnya bingung, “Waeee?? Kenapa marah?? Jangan bilang kau cemburu pada Chef Yoon..” Donghae menarik kabel oven dan mencolokkannya. “Yeonng… Berapa lama aku harus memanggangnya??” seru Donghae sambil memandangi timer didepannya. “Saat memasak dengan oven chef Yoon, kami hanya butuh 25 menit..”

“Molla… Memangnya berapa perbandingan ovenku dengan oven milik chef Yoon-mu itu?? Kau hitung saja sendiri!! Jangan ganggu aku. Aku mau tidur.” Seru Narin balik. “Sebenarnya untuk apa kau datang kemari!! Kenapa tidak pergi saja dan membuatkan tart untuk chef Yoon-mu itu. Bukankah dia lebih hebat dan punya barang yang lebih bagus??”

Donghae memasukkan angka 90 menit pada timer dan berlari menghampiri gadis kesayangannya itu, “Eiiyy~ hanya karena aku terus menyebut namanya, bukan berarti aku menyukainya. Tuan Lee ini hanya untuk nona Cho..” Donghae tersenyum lebar berusaha menggoda gadis didepannya yang sedang cemburu berat.

Namun Narin berbalik, membelakangi Donghae, sama sekali tidak tergoda, “Aku mau tidur. Jangan lupa dengan kue-mu. Jangan lupa matikan kalau timernya sudah berbunyi..”

====================================================================================

Narin bergerak-gerak beberapa lama, hingga akhirnya membuka matanya. Ia bangkit dan menggerak-gerakkan badannya yang kaku karena tidur di sofa. Gadis itu menggosok-gosok matanya membuang semua rasa kantuknya sampai akhirnya matanya terfokus pada lelaki yang sibuk memperhatikannya, mengabaikan game didepannya yang tak sempat ia pause.

“Apa jadwal tidurmu sudah selesai??”

Narin mengerucutkan bibirnya, membuat Donghae yang tadinya hanya tersenyum kini tertawa lebar.

“Apa tart-mu sudah selesai??”

Donghae berhenti tertawa, “Ae?? Geurom… Biar aku ambilkan.”

Donghae berlari ke arah dapur dan mengambil tart yang sudah dibuatnya dari dalam lemari es. Ia membawanya dengan semangat, dan meletakkkannya diatas meja, dihadapan Narin.

“JJan~~ Strawberry tart ala chef Lee khusus untuk nona Narin Cho..”

Narin tercengang, mulutnya terbuka tak percaya, “wuaahh… Ini kau yang menghiasnya??”

“Geurom!!” Donghae menjawab sombong.

“Jjinjaro?? Daebak!! Kalau secantik ini kau bisa menjualnya.” Gadis itu memandangi tart didepannya kagum. “Arrasso. Kalau seperti ini, aku harus mengakui kalau chef Yoon-mu itu benar-benar hebat, sampai bisa mengajarimu menghias kue secantik ini!!”

“Cobalah..” Donghae mengulurkan pisau pada Narin. Senyum lebar masih terpasang di wajah tampannya.

Narin menarik tart itu mendekat padanya. Ia menimbang-nimbang bagian mana yang harus ia potong. “Kalau secantik ini aku tidak tega memakannya..”  Narin akhirnya memotong tart cantik itu. Ia memberikannya terlebih dahulu pada Donghae, kemudian memakan sisanya. “Mmm~ mashitt—-”

Narin berhenti, tak jadi melanjutkan pujiannya. “Kenapa aku merasakan jeruk didalamnya?? Bukankah tadi kau tak jadi memasukkan jeruknya??”

“Ae?? Jeruk??” ulang Donghae. “Jadi. Aku jadi memasukkannya. Kau tidak melihatnya??”

“Ah geurae?? Bukankah kau tadi terlalu malas membuang bijinya?? Seingatku kau memberikan sebagian padaku, kemudian memakan sisanya. Anniya??” tanya Narin mengingat-ingat.

“Mwo?? Anniya. Aku mengambil jeruk lain lalu membuang bijinya. Kau pasti tidak melihatnya. Kau terlalu sibuk mengaduk sambil mengomel..”

“Geurae?? Mian.. Geundae, igeo jjinja masshiketta.. Mmm~”

Narin kembali memotong tart yang khusus dibuat Donghae untukknya itu dan memakannya dengan penuh semangat.

“Aku tak menyangka, tartnya seenak ini. Donghae-ya, kau sudah berhasil.. Kau lolos jadi pemeran utama dalam drama itu.”

“Tentu saja. Aku sudah berusaha keras untuk drama itu.” ucap Donghae menyombongkan diri. “Lihat, sekarang aku sudah bisa membuatkanmu tart. Lain kali aku akan membuatkanmu puding, pancake, lalu yang lainnya.. Apapun yang kau mau..”

“Eiiyyy~~ jangan terlalu sombong.” cibir Narin. “Kau pikir itu semua gampang?? Tart ini juga, kalau aku tidak ikut membantu kau mana bisa menyelesaikannya..” Donghae hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

“Geundae isanghae…”

“Mwoga??” tanya Donghae.

Narin meletakkan pisau yang sejak tadi dipegangnya, “Kenapa aku tidak merasakan sedikitpun apel didalamnya?? Bukankah kita tadi memasukkan banyak irisan apel kedalam?? Dan lagi–” Narin berhenti saat merasakan sesuatu yang terasa agak asam didalam mulutnya setiap kali ia gigit. Ia pun mengeluarkannya dan menaruhnya di telapak tangan. “Ige mwoya??”

Narin memperhatikan sesuatu yang berwarna coklat ditangannya. Ia memandanginya dengan lekat, dan mencium baunya. “Ini kismis kan??” Narin memandangi Donghae yang tampak gugup dengan mata menyipit, “Isanghae… Tidak ada kismis sama sekali didapurku. Lalu dari mana datangnya ini??” tanya Narin.

“Aku. Aku yang membawanya. Dalam bungkusan.” jawab Donghae gugup. Ia menarik tissue didepannya dan mengelap mulutnya, berusaha tenang. “Aku membelinya di supermarket bersama bahan lainnya. Kau.. Kau pasti tidak melihatnya.”

“Gojimal!! Aku melihat semua bahan yang kau bawa. Dan sama sekali tidak ada kismis didalamnya. Kau yakin ini tart yang kita buat tadi??” Narin menatap Donghae tanpa berkedip, sementara yang bersangkutan mencoba berbagai cara untuk mengalihkan pandangannya.

“Wae?? Kau tidak percaya??”  tanya Donghae defensif.

“Ani.. Hanya saja….” Narin bangkit dari sofa, berjalan ke arah dapur namun Donghae menarik tangannya.

“Mau kemana??” tanya Donghae masih mengenggam erat pergelangan tangan gadis itu.

“Aku hanya ingin mengambil minum..” jawab Narin.

Donghae meraih bahu Narin dan mendudukkannya kembali ke sofa, “Biar aku saja…” ucapnya sambil buru-buru berlari ke arah dapur. Namun Narin yang mulai merasa curiga, meraih tissue kotor yang ada diatas meja dan membawanya ke dapur.

“Untuk apa kau kemari??” pekik Donghae yang terkaget melihat Narin yang mengikutinya.

Narin mengacungkan tissue bekas pakai yang dibawanya, “Aku hanya ingin membuang ini..” ucapnya menunjuk tempat sampah yang ada disudut dapur.

“Biar aku saja..” Donghae meraih tissue yang diacungkan Narin namun gadis itu mengelak.

“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya..” tolak Narin. “Kau aneh sekali. Kau menyembunyikan sesuatu dariku??”

“Anniya… Memangnya aku aneh kenapa?? Aku hanya sedang baik hati. Berikan padaku. Biar aku saja yang membuangnya…” paksa Donghae.

 

Donghae berjingkat ke arah televisi di ruang tamu. Setelah selesai memasang timer oven untuk tartnya, dan membereskan dapur Narin semampunya -Narin pasti mengerti kalau ia tidak mahir dalam hal beres-membereskan- Donghae pun memasang perangkat PS milik gadis itu, perlahan agar tidak mengganggu Narin si tukang tidur yang sudah terlelap di atas sofa.

Tak berapa lama Donghae sudah terlarut dalam permainannya. Pantas saja Kyuhyun suka sekali datang, Narin memang punya game baru yang begitu seru, berbeda dengan yang biasa Donghae lihat dimainkan Kyuhyun.

Donghae mempause gamenya. Hidungnya mengendus-endus. Ia mencium bau sesuatu yang aneh. Ia melirik ke arah dapur, teringat akan tart dalam oven miliknya.  Donghae yang terlalu malas mengecek ke dapur, hanya melirik jam tangannya. ‘Belum 90 menit’ pikirnya. ‘Timernya juga belum berbunyi’

Ia pun kembali asik dengan game-nya. Sesekali menutup mulutnya yang tanpa sadar memekik karena hero miliknya terkena tembakan musuh.

Untuk kedua kalinya, Donghae mempause gamenya. Bau aneh yang tadi diciumnya kini semakin jelas. Baunya semakin pekat. Ia kembali teringat pada oven-nya, dan kembali melirik jam tangannya. Masih ada sekitar 20 menit lagi, agar timernya berbunyi. Tidak mungkin itu bau dari tart yang dipanggangnya kan??

Mau tak mau, karena penasaran Donghae meninggalkan gamenya. Ia mengendus-endus mencari sumber bau. Saat sampai di dapur, Donghae memekik pelan melihat asap yang keluar dari oven milik Narin. Cepat-cepat menarik kabelnya. Terdengar bunyi ‘beep’ sebagai tanda kalau oven itu sudah benar-benar mati.

Ragu-ragu Donghae membukanya. Asap tebal dan bau aneh yang tadi diciumnya langsung menyeruak keluar. Butuh lima menit untuk menunggu semua asapnya menghilang. Donghae menarik loyang keluar dan hanya bisa menelan ludah melihat apa yang ada dihadapannya.

Bukan sebuah tart strawberry, yang didepannya itu adalah sesuatu yang berwarna hitam, berasap dan berbau aneh, berbentuk bulat menyerupai kue dengan strawberry gosong diatasnya.

Donghae menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal. Ia berputar-putar disepanjang dapur sambil memandangi adonan gosong yang ada diatas meja. Apa yang harus dilakukannya dengan itu?? Apa yang akan dikatakan Narin kalau melihat itu?? Bagaimana reaksinya nanti kalau sampai melihatnya??

Lee Donghae terus saja berjalan berputar-putar disepanjang dapur sambil mengigiti jarinya, tak tahu harus berbuat apa. Sesekali ia mengomeli oven aneh yang entah bagaimana bisa membuat tart yang susah payah dikerjakannya gosong padahal waktunya belum tepat 90 menit.  

Hampir saja Donghae terkena serangan jantung, saat dari sudut matanya, ia melihat Narin bergerak dari tidurnya. Refleks tangannya menarik loyang dari atas meja dan menaruhnya ke atas rak tinggi dan mendorongnya ke sudut, jauh dari jangkauan Narin. Donghae pun mendesah lega, saat melihat gadis itu hanya bergerak ke samping dan kembali tertidur.

Tak lagi bisa memikirkan cara lain, Donghae pun akhirnya bergegas, mengambil topi, jaket dan maskernya. Ia meraih ransel miliknya dan mengambil dompetnya dan berjingkat pelan keluar rumah.

Sekitar 15 menit kemudian, Donghae kembali sambil membawa bungkusan. Ia berjingkat pelan ke arah dapur, tanpa sempat membuka masker dan topinya.

Untuk yang kedua kalinya Donghae nyaris terkena serangan jantung.  Ia hampir saja menjatuhkan tart yang baru dibelinya dengan susah payah, saat tiba-tiba dari sudut matanya ia melihat Narin bergerak.

Dengan panik ia membuang semua barang bukti, berupa bungkusan dan kotak kue yang dibawanya, kedalam keranjang sampah yang ada disudut dapur. Cepat-cepat ia memasukkan tart ‘hasil karyanya’ itu kedalam lemari es, dan dengan gerakan gesit melompat kembali ke depan televisi, berpura-pura sedang asik dengan gamenya, menunggu gadis itu benar-benar terbangun.

 

“Minggir Donghae-ya!!!” Narin menarik lengan Donghae sekuat tenaga agar tak menghalanginya, namun Donghae juga berusaha sekuat tenaga tetap pada posisinya.

“Biar aku saja!!” Donghae bersikeras, namun Narin tetap pada kecurigaannya, ada yang aneh dengan lelaki dihadapannya ini, dan ia harus tahu apa itu.

Donghae memeluk Narin sambil membawanya mundur menjauhi dapur. Narin tak ingin mengalah, ia menarik salah satu lengan Donghae yang ada dibelakang punggungnya, dan tanpa aba-aba menggigitnya.

“Kyaaaa!!!” Donghae memekik. Ia berjongkok kesakitan, memegangi tangannya yang memerah. “Apa yang kau lakukan??”

“Itu karena kau bertingkah aneh..” jawab Narin santai. Ia langsung mendekati keranjang sampah dan membuang tissue bekas pakai yang sejak tadi mereka perebutkan entah karena apa. Donghae mengamati gadis itu dengan mata melebar. Tanpa sadar ia mendesah lega, saat melihat Narin yang langsung berbalik tanpa memperhatikan apapun.

Namun ternyata Narin kembali berbalik saat menangkap sesuatu yang terasa janggal. Ia mengangkat sebuah bungkusan plastik dengan sebuah kotak kue yang sudah remuk didalamnya. Narin mengeluarkan kotak itu dan membenarkannya, dan membaca nama toko kue yang sangat familiar ditelinganya. Nama Bakery yang ada didekat rumahnya, tempat biasa ia membeli pudding.

Ia memandangi Donghae yang masih berjongkok di depan lemari es. Gadis itu sudah menyadari apa yang terjadi sebenarnya.

“Hmm~ Hae-hae?? Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu??” tanya gadis itu membuang bungkusan itu kembali ke keranjang sampah.

Donghae menggeleng, menutup mulutnya rapat sambil memandangi lantai di bawahnya. Tangannya sibuk memijat-mijat lengannya yang memerah.

“Aku tidak akan marah kalau kau mengaku!!!”

Dengan gerakan cepat, Donghae menggenggam kedua tangan gadis itu, berjongkok didepannya, “Mianhae Yeoonngg~~ Miannnnn….”

Narin menggembungkan kedua pipinya. Ia menarik salah satu tangannya dan mengibaskan-ngibaskan didepan wajahnya, berusaha menelan keinginannya untuk mengamuk, “Lalu, mana tart yang kita buat tadi??”

Donghae menggeleng, namun Narin menatapnya tajam. Ia pun dengan langkah lesu bangkit mendekati rak tinggi tempat ia menyembunyikan ‘barang bukti’. “Lebih baik kau tak usah melihatnya…” Donghae ragu-ragu menurunkannya dan meletakkannya di meja konter.

Melihat apa yang dipegang Donghae membuat Narin bahkan lupa menutup mulutnya untuk beberapa lama. Untuk pertama kalinya ia melihat kue –kalau bisa disebut kue- bisa sehitam itu. Bahkan kue gosong pun tak akan mungkin bisa sepekat itu.

Donghae menggigit bibirnya, memperhatikan ekspresi gadis disampingnya, “Yeonng~~ “ panggilnya.

“Berapa lama kau memasang timernya??” tanya Narin.

“90 menit…” jawab Donghae. Kepala Narin bergerak cepat menatap Donghae, sementara pemuda itu hanya bisa meneguk air liurnya, “Bu..bukankah kau bilang sesuaikan dengan perbandingan oven chef Yoon?? Ovennya tiga kali lebih besar dari oven milikmu, jadi… jadi kupikir butuh waktu tiga kali lipat untuk memasaknya..”

Narin memejamkan matanya, memijit keningnya frustasi, “Lalu berapa besar kau atur suhunya??”

“ 190.. Saat bersama Chef Yoon juga suhunya seperti…..”

“KAU MEMASAK SEBUAH TART KECIL DENGAN SUHU 190 SELAMA 90 MENIT??” Narin memekik. “ Tentu saja warnanya  sehitam ini. Ajaib kau tak membakar dapurku. Dengan suhu setinggi itu, 45 menit saja kau sudah membuatnya gosong, dan ini….. kau membiarkannya selama 90 menit?? Demi Tuhan Lee Donghae, kalau kau bisa berpikir untuk menambah waktunya tiga kali lipat kenapa kau tidak sekalian berpikir kalau kau harus menurunkan suhunya tiga kali lipat juga??”

Donghae mundur selangkah demi selangkah, menghindari Narin yang siap menerkamnya.

“Dan setelah itu kau tidak membangunkanku?? Bagaimana kalau terjadi sesuatu?? Bagaimana kalau kau membakar dapurku?? Dan kau masih berani membeli kue di toko dan mengatakan itu hasil karyamu?? Itu hasilnya kalau kau belajar dari chef terkenal tapi bukannya memperhatikan caranya memasak, malah sibuk memandangi wajahnya yang cantik atau mungkin bodinya yang seksi!!!! LEE DONGHAE, ODDIGA!!! KEMBALI KEMARI!!!!!”

Donghae yang menyadari kalau ia sudah mundur sampai ke ruang tengah, mengambil kesempatan itu. Ia menarik ransel dan jaketnya, dan berlari meninggalkan Narin yang masih sibuk dengan omelannya. Narin hanya bisa menarik napas panjang melihat Donghae pergi, mengomel membuatnya kehabisan napas. Ia pun berbalik, memandangi tart gosong yang mengerikan itu.

“Aisshh… kerja kerasku menahan kantuk hanya untuk sebuah tart gosong?? Lee Donghae itu—“

Tiba-tiba, sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang, membuatnya hanya mematung, “Miahaeee…. “ bisik Donghae ditelinganya  dan mengecup pipi  kanan gadis itu dari samping. Narin yang tanpa persiapan, merasa semua bulu kuduknya berdiri, ia hanya bisa terdiam saat Donghae membalikkan tubuhnya.

Donghae menangkupkan wajah gadis itu dalam kedua tangan besarnya, dan perlahan mengecup hidungnya. Narin hanya bisa memejamkan mata sambil mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Deru nafas Donghae terasa begitu dekat dengan telinganya saat Donghae berbisik, “Tapi, dari mana kau tahu kalau Chef Yoon itu cantik dan punya bodi seksi??”

Donghae kemudian berganti mengecup pipi kiri gadis itu, dan berlari keluar sambil tertawa dan menutup pintu dibelakangnya. Sementara Narin, gadis malang itu baru membuka matanya saat akhirnya menyadari bisikan Donghae.

“YA!!! LEE DONGHAE!!!”

 -enD-

And This Alien trying to kill me!!!
Dia udah ketularan mas kuda, pamer dada ditiap majalah…
saya mau protes, tapi gara2 potonya yang kayak baru bangun tidur mirip baby itu,
kali ini dimaafkan…

And For you Mr. LEE
I will not watching your drama!! NOO!! A BIG NOO!!!
*mungkin nanti waktu udah gak jeles lagi*

 And selama tu drama masih heboh2nya,
lu gue end!!!

*And stop upload a couple photo with that girl, do u like her that much???*

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

17 thoughts on “[Onespace] Hae Cheff…

  1. ngantukku ilang gara2 ni ff
    hae bnr2 pabo^^
    *diinjek fishy*
    udah sombong2,ampe narin trun tgan n ujg2nya bikin tu kue gsong n bli di toko
    aku jg bs kyk gtu LOL
    pa bener hae oppa itu sePOLOS n se pabo ntu ya kkkkkk
    ksian yeooooong~

    pas liat foto2 pamer dadanya itu,aku langsung inget kamu
    cz kamu kan gak suka liat dy topless
    n skrg aku stju
    lama2 aku jg g ska liat cow kseringan topless
    jadi gak seru
    mudah2an TOP oppa hanya topless dihadapanku wkwkkwkkwkw

    btw,nice ff seru,lucu n sukses bikin senyum2 peps*den*😀

    • Gak tau deh…
      dia beneran polos ato beneran oon??

      bingo!!!
      tepat sekali onnie… Blom lama aku bilang gak suka liat dy topless, eh dy muncul dengan segala macam pose tak pake baju di t4 tidur.
      orang2 bilang keren, saia malah males liatnya..
      tapi waktu liat satu photo yang dia kayak bangun tidur pake baju putih muka baby, jadi luluh hati saia *lebay

      TOP?? Gak pernah lupa ya itu selingkuhan….😀

      Gomawo onnie😀

      • jiahhhh malah balik tanya
        dia kan bias kamu,shrsna tau dy tu polos apa oon hahaha

        aaaaalaaahhhh dah males liat tapi ttep klepek2 dkasih baby faced
        luhan lebih baby faced kkkkkkk

        selingkuhan mah gak boleh dilupain yeong
        kan tetap ada dihati n otakku
        TOP oppa tetep jadi no.1 selingkuhanKu^^

      • jiahhhh malah balik tanya
        dia kan bias kamu,shrsna tau dy tu polos apa oon hahaha

        aaaaalaaahhhh dah males liat tapi ttep klepek2 dkasih baby faced
        luhan lebih baby faced kkkkkkk

        selingkuhan mah gak boleh dilupain yeong
        kan tetap ada dihati n otakku
        TOP oppa tetep jadi no.1 selingkuhanKu ^______^

      • kalo samaku sih dy itu 33% polos sisanya oon..😀

        hehehe…. sumpah mukanya itu lho onnie, baru ini aq liat dy baby face bgt abis bgun tidur.. imutttt…

        luhan?? dy juga imut, tapi aku lebih suka baekhyun… selain imut suaranya bookk…
        *mulai lirik lirik*

        Baiklah TOP, dy memang cocok jd slingkuhan…

    • mwo??
      kok gak skalian aja tuh bilang ama tu hae dodol, upload foto kisseu ama tuh cewe *kibasbulumata

      tu alasan aku jadi jarang buka twitter akhir2 ni… males liat yg gituann..
      jeles ke ubun2… saia kan elf alay. hihihi

      • saia blom liat tu scene, tp baru liat screencapnya aja bikin hati panas dinginnnnn!!!!

        itu bibir baru kali ini kuliat buat cium cewekk
        *tendang Lee Donghae ke kuburan*

  2. yay gtu dong onnie, aku slalu stia stiap hri ngintip kblog ini, akhirnya skrg bbuah jg pjuanganku haha…aku slalu suka ff ini, idenya sderhana tp tak sderhana? mksudnya kisahnya dkat dngan khidupan shari2 kt, bahasanya mngalir bgitu sja…seru pkokokya, penggambaran karakter hae jg trasa nyata, dr sini sy tau onnie bgitu mncintai simas hae kt ini, trlhat dr bgmn onnie mnggambarknnya, onnie bgitu mngenal dia haha sok teu…anyong annie sy reader lama yg bru skarg komen hehe rahmi sarangheSUJU imnida

    • Haha.. Mian…
      Kemaren byk pr menanti, sekarang juga sih..
      itu juga bikinnya colong2 waktu..
      terima kasih banyak udah mau nungguin..😀

      sederhana tapi tak sederhana?? *sounds complicated, mikir sejenak

      Bener banget….. Saya ciiiiiiiinnnta banget ama simas hae itu satu..
      sayangnya dia gak cinta ama saia TT_TT

      Annyeong juga rahmi…
      sering2 mampir..😀

    • usil, nyusahin, tukang pamer, suka merengek, tukang onar, suka buat masalah, suka godain cewek, suka upload poto sama cewek lain,
      tapi manja, lucu, manis, ganteng, seksi, matanya cantik, senyumnya bikin gak kuat, baik hati, keren, apalagi coba??😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s