[OneSpace] Horrible Day..

In every single day I have, how I wish there’s always you in there…

Narin terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak, ia mencoba bangkit, namun kepalanya yang mendenyut-denyut membuatnya mengerang. Gadis itu melirik jam dinding berbentuk awan miliknya yang menunjukkan pukul 8 pagi. Itu artinya ia masih punya waktu dua jam untuk bersiap-siap berangkat ke kampus.

Hari ini ada presentasi tugas kelompok yang harus ia jalani, itu sebabnya semalam ia harus bergadang mengerjakannya,  alhasil membuat kepalanya sekarang mendenyut-denyut protes. Belum lagi hidungnya yang terasa gatal sejak kemarin, yang Narin tahu itu tanda-tanda ia akan terserang flu kalau masih nekat bergadang.

Narin menyibakkan selimutnya. Ia duduk di tepi ranjang dan meraih ponsel putihnya. Ada dua buah pesan baru yang masuk. Ia pun membuka dan membacanya.

Rin, bagaimana tugas kita?? Sudah selesai kan??

Rin, jangan datang telat hari ini. Tugas kelompok kita ada ditanganmu, arrachi??

Narin mendecak kesal, ia pun bangkit berjalan keluar kamar setelah sebelumnya mencampakkan ponselnya yang tak bersalah ke atas tempat tidur. Gadis itu berjalan kedapur dan mengambil air untuk menyegarkan tenggorokannya, namun kembali berdecak, mengingat isi pesan yang diterimanya.

“Hh~ disaat-saat seperti ini baru bertanya?? Aihhh… isaramdeul!!!”

Pesan itu dari teman satu kelompoknya. Ia kesal kenapa mereka hanya bertanya disaat-saat hari terakhir pengumpulan seperti ini. Sementara saat Narin mati-matian mengerjakan, mereka tak sekalipun datang untuk membantu atau sekedar bertanya.

Gadis itu menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya, namun hidungnya yang kembali terasa gatal membuat rasa kesalnya justru semakin bertambah. Ia menggosok-gosok hidungnya frustasi, sambil menarik handuk biru miliknya, bergegas untuk menghadapi presentasi yang menyebalkan.

======================================================================

 

Narin menghela nafas berat. Mata kuliah hari ini sudah selesai, dan presentasi juga sudah ia lakukan sebaik yang ia bisa. Namun sepertinya kerja kerasnya belum cukup memuaskan Jin Soesangnim. Ia dan kelompoknya diberikan waktu seminggu oleh Saem-nya yang baik hati itu untuk memperbaiki proyek mereka.

Namun itu sama sekali bukan hal yang Narin harapkan. Ia tidak perlu tambahan waktu seminggu. Seminggu ataupun sebulan tidak akan merubah apapun, karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki proyek itu. Seluruh kemampuannya sudah ia keluarkan, dan tanpa ada yang membantunya, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi.

Cho Narin berjalan ke arah kantin kampusnya. Setelah mendapatkan berbagai alasan tidak masuk akal dari kedua teman sekelompoknya, yang intinya mereka tidak akan bisa membantu, Narin pun menyerah dan menyeret kakinya ke luar dari ruang kelas.

Kepalanya sakit dan hidungnya gatal, dan ia juga mulai bersin-bersin. Yang Narin harapkan sekarang hanyalah semangkuk eskrim strawberry. Ia tau itu bisa berefek buruk untuk hidungnya. Ia bisa saja benar-benar kena flu malam ini kalau bersikeras mencari eskrim. Tapi hanya itu satu-satunya yang bisa mengobati perasaan down yang sedang gadis itu rasakan. Kalau ia tidak cepat-cepat mengobati moodnya yang buruk, ia yakin minggu ini akan menjadi minggu yang benar-benar menyebalkan.

Narin menempelkan wajahnya ke meja kantin, sambil menunggu pesanannya datang, ia mencoba untuk tidak berpikiran jelek tentang teman-temannya itu. Siapa tahu saja mereka memang sedang tidak bisa membantu. Semua orang pasti punya urusan sendiri-sendiri bukan??

Namun ternyata mencoba berpikiran positif tidak membantu mengurangi rasa kesalnya. Ia memejamkan matanya, tak lagi ingin memikirkan apapun. Berpikir hanya membuat kepalanya semakin berdenyut kencang.

Gadis itu meraba-raba meja kantin dan menarik selembar tissue, menempelkannya pada hidungnya yang kini tak hanya gatal namun juga mulai terasa sakit dan berair.

======================================================================

 

Setelah menghabiskan semangkuk eskrim strawberry, Narin melirik jam tangannya. Masih siang. Walau sebenarnya ia ingin sekali pulang dan tidur agar kepalanya tak lagi terasa menyiksa, namun ia harus ke perpustakaan. Ia hanya punya waktu seminggu. Dan kalau ingin ada kemajuan dalam proyeknya, ia harus mencari bahan baru mulai dari sekarang, atau nantinya hanya akan mendapat decakan kecewa dari Jin Saem dan kedua temannya. Walau bagaimanapun kesalnya Narin, namun membuat orang lain kecewa karena dirinya adalah hal yang paling tidak diinginkannya.

Matahari yang bersinar terlalu terik diatas kepala, membuat Narin mempercepat langkah, berusaha untuk tidak memperdulikan rasa sakit di kepalanya setiap kali ia melangkah terlalu cepat. Perpustakaan yang terletak diutara kampus mengharuskannya berjalan menyebrangi taman yang luas dan menyusuri lapangan tennis yang berdebu, yang sama sekali tidak membantu untuk hidungnya.

Narin akhirnya bernafas lega saat udara pendingin ruangan menyentuh kulitnya. Ia yakin kalau masih tetap berada dibawah matahari lima menit lagi saja, rambutnya punya potensi untuk menggoreng sebutir telur.

Ia memilih sebuah sudut sepi disamping air humidfier yang terpasang. Rasa sejuk yang mengenai kulitnya dengan cepat membuatnya merasa nyaman. Narin pun mengeluarkan si gogi, laptop hitam yang sejak tadi membebani bahu kirinya. Ia mulai mengeluarkan kotak pensil berbentuk alien bertubuh panjang dari dalam tasnya, juga sebuah notes bersampul strawberry, juga kacamata miliknya.

Dua puluh menit berlalu, Narin yang sibuk memasukkan data-data yang baru ditemukannya, mulai merasakan ada yang aneh dengan si gogi. Laptop hitamnya itu mulai terasa lambat, fan-nya juga tiba-tiba berputar dengan sangat kencang dan mengeluarkan angin panas. Tak selang berapa lama, si gogi mengeluarkan suara aneh yang agak kencang, membuat Narin sedikit terlonjak di tempat duduknya. Ia mendongak dan mendapati orang-orang yang duduk di area dekatnya, memandanginya penasaran. Untung saja ia memilih tempat di sudut, sehingga hanya beberapa orang saja yang memandanginya dengan tatapan aneh. Tak sampai disitu, tiba-tiba muncul blue screen dengan bahasa aneh yang memusingkan dan akhirnya hanya dalam waktu 2 detik, si gogi mati total, meninggalkan hanya layar gelap di hadapan gadis malang itu.

Narin mendesah, gadis itu membentur-benturkan kepalanya ke tepi meja. Ia sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Si gogi memang sudah bekerja keras selama tiga hari ini. Narin sudah memakainya selama tiga hari penuh nonstop. Dari 72 jam, Narin hanya memberi laptopnya istirahat sekitar 18 jam, sisanya ia habiskan untuk mengerjakan tugas proyeknya. Untuk sebuah laptop yang sudah berumur 3 tahun, hal seperti ini cepat atau lambat pasti terjadi.

Gadis itu memejamkan matanya setelah menyadari membenturkan kepalanya ke meja hanya membuat keningnya sakit. Kenapa hari ini tidak ada yang berjalan dengan benar. Kepalanya sakit, presentasinya gagal, si gogi rusak. Lalu setelah itu kesialan apa lagi yang akan menghampirinya??

Narin terpaksa membuka matanya saat dering ponselnya terdengar. Ia meraba-raba isi tasnya untuk mengambil ponsel tanpa bergerak dari posisinya semula. Seluruh tubuhnya terasa lemas, tak ada lagi semangat yang tersisa. Bahkan untuk menggerakkan tubuh pun terasa sangat berat.

Ia membuka pesan baru yang masuk setelah akhirnya menemukan ponsel putihnya dari dalam tasnya yang terlalu penuh dengan buku-buku panduan. Narin menaikkan alis kirinya saat melihat sang pengirim pesan. Cho Kyuhyun.

From : Evil Cho-nim

Rin, oppa sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Kaset ps mu yang terbaru masih bagus kan??

Narin memijit mijit keningnya setelah mambaca pesan itu. Ternyata Tuhan langsung menjawab pertanyaannya. Kesialannya yang berikutnya adalah seseorang bernama Cho Kyuhyun.

To : Evil Cho-nim

Tapi aku kan tidak sedang dirumah oppa!!!

Hari ini sepertinya memang hari sial untuknya. Padahal rencananya ia ingin langsung pulang ke rumah, tidur, dan melupakan sakit kepalanya. Tapi sepertinya hal sepele seperti itu pun begitu susah untuk didapatkan. Kalau ada Cho Kyuhyun didekatmu itu artinya neraka. Apalagi kalau itu Cho Kyuhyun yang sedang bermain PS. Bukan hanya sekedar neraka, bahkan teriakan setan pun, kau bisa mendengarnya.

From: Evil Cho-nim

Aku tidak ada perlu denganmu. Aku hanya butuh PS dan kaset barumu.

Narin mengerang mendengar jawaban tak tau diri itu. Sudah pasti, hanya seorang Cho Kyuhyun yang tidak tahu sopan santun yang akan menjawab seperti itu padahal sedang dalam posisi sebagai seorang peminjam.

To: Evil Cho-nim

Geurae, datang saja. Oppa juga kan tidak tahu passcode dorm ku. Jangan harap aku mau membukakan pintu untuk oppa!!

Bagaimanapun tuan rumah berhak mengusir tamu yang tak diundangnya kan?? Bahkan walaupun tamu itu seorang Cho Kyuhyun yang sangat tampan.

From: Evil Cho-nim

Itu artinya kau merendahkan oppa. Kalau begitu, sampai jumpa di dorm-mu Narin-ku sayang.

Narin seakan-akan bisa melihat evil smirk saat seorang Cho Kyuhyun mengucapkan itu. Cepat-cepat ia memberesakan seluruh peralatannya. Mudah-mudahan saja ia bisa sampai duluan dan berharap Cho Kyuhyun benar-benar tidak tahu passcode dormnya.

=====================================================================

 

Cho Narin akhirnya menarik nafas lega setelah menginjakkan kaki di lantai dormnya. Tapi ternyata kelegaannya itu tidak bertahan lama, Saat melewati lorong, kira-kira masih 50m dari pintu dormnya. Ia mendengar tawa setan yang sudah sangat dikenalnya. Narin lagi-lagi menghela nafasnya. Tawa itu akan menjadi deritanya.

Ia masuk ke dalam dormnya setelah mengganti sepatunya dengan sandal alien. Narin berjalan gontai ke ruang tengah dan bersandar kedinding, memandangi seorang Cho Kyuhyun yang begitu asyik dengan game-nya tanpa menyadari sang pemilik rumah sudah datang, bahkan sekalipun Narin mencampakkan tasnya ke atas sofa.

Melihat Kyuhyun yang tidak memberikan reaksi membuat Narin menghentak-hentakkan kakinya agar lelaki itu menoleh, namun ternyata tetap tak ada sambutan sama sekali.

“Oppa!!!!!!!!!!” jerit Narin berharap Kyuhyun terkejut, namun Kyuhyun yang sebenarnya sudah tau kedatangan Narin hanya menjawab “Annyeong..” tanpa menoleh.

“Oppa, bagaimana kau bisa masuk?? Kau kan tidak tahu passcode-nya. Apa Hae-hae yang memberitahu??”

Kyuhyun menggeleng, tanpa mempause game-nya, ia menjawab, “Sudah kubilang, jangan meremehkanku! Hanya orang bodoh yang memasukkan tanggal ulang tahunnya sebagai passcode apartemen.”

Narin mengepalkan tangannya, berpura-pura menjitak kepala magnae evil itu dari belakang, berharapa kalau itu tidak sekedar pura-pura. “Lalu kenapa harus kemari?? Kenapa tidak main di dorm saja??” tanya Narin frustasi.

“Ada ahjussi tua cerewet yang juga sedang libur dan selalu menggangguku, menyuruhku berhenti bermain dan istirahat.” jawab Kyuhyun enteng.

“Tapi Leeteuk oppa benar. Kau seharusnya istirahat oppa, bukannya malah bermain game.”

“Ohh, jangan berakting seperti ahjumma Rin, tidak cocok. Walaupun wajah sudah memungkinkan.”

Narin menarik nafas dalam dan mengeluarkannya, menariknya dan mengeluarkannya lagi. “Lalu apa oppa tidak punya tempat lain untuk didatangi?? Oppa punya banyak teman kan, kenapa tidak main bersama mereka??”

“Aku ini orang sibuk, dan temanku juga orang-orang sibuk. Hanya kau satu-satunya orang tidak sibuk yang kukenal yang punya game terbaru.”

Narin melemparkan jaket kulit yang tadi dipakainya ke kepala Kyuhyun dan bergegas masuk ke kamarnya, mengabaikan teriakan setan Kyuhyun yang mengaduh.

 ======================================================================

 

Narin mengerang untuk yang kesekian kalinya. Kepalanya berdenyut mengerikan, sampai-sampai rasanya ia ingin menangis. Gadis itu memijit-mijit keningnya berharap rasa sakitnya berkurang. Ini sudah entah untuk yang keberapa kalinya ia terbangun karena terkejut mendengar teriakan setan yang berasal dari ruang tengah dormnya.

Setelah 15 menit berguling kekanan dan kekiri, akhirnya rasa kantuk itu perlahan-lahan mulai datang. Namun saat benar-benar hampir tertidur, suara jeritan Kyuhyun mengejutkannya dan membuatnya kembali terbangun. Begitu seterusnya yang terjadi sampai akhirnya setelah hampir dua jam, Narin sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.

“Oppa!!!!” Narin berteriak dari pintu kamarnya tempat ia berdiri.

“Ah waee??? Jangan menjerit-jerit!!”

Narin tercengang mendapat balasan seperti itu. Setelah akhirnya tak tahan lagi mendengar suara setan Kyuhyun yang terus mengganggu tidurnya, ia pun keluar dari kamar, dan berusaha memperingatkan Kyuhyun. Namun magnae evil itu justru menyalahkannya.

“Kaulah yang sejak tadi menjerit oppa!!! Kepalaku sakit dan aku tak bisa tidur karena kau terus saja menjerit dan menggerutu. Kau tak tahu bagaimana susahnya untuk tidur saat kepalamu sedang berdenyut-denyut??”

“Aku tidak menjerit.” jawab Kyuhyun singkat sambil mengangkat bahunya. Pandangan matanya masih tertuju pada layar televisi.

“Ya. Kau menjerit oppa. Sudah berapa lama kau bermain?? Apa kau tidak merasa bosan? atau apa kau tidak berniat pulang??” Narin berjalan mendekat ke arah Kyuhyun, berharap magnae Super Junior itu belajar sopan santun dan menatap wajah lawan bicaranya.

“Tidak. Aku tidak bosan dan tidak berniat pulang. Setidaknya tidak sekarang.”

Narin menghembuskan nafas berat, “Kalau begitu berhentilah berteriak dan menggerutu setiap kali kau kalah oppa. Kau tidak sadar suaramu itu berapa oktaf?? Aku bisa saja kena serangan jantung karenamu!!”

Kyuhyun mempause gamenya, dengan bibir yang mengerucut akhirnya menatap Narin, “Arrasso~~ kenapa sejak tadi kau marah-marah seper– Yah!! Kau sedang flu?? Lakukan sesuatu dengan hidung jelek itu!!”

Narin refleks memegang hidungnya yang ditunjuk Kyuhyun. Ia tau hidungnya sedang memerah, tapi tidak perlu diejek seperti itu kan?? Dasar Kyuhyun mulut setan, ucapannya tak ada yang bisa menyenangkan hati orang.

Narin berjalan kembali ke kamarnya sambil mengomel tanpa suara. “Aku ingin tidur lagi oppa, kuharap kau mengecilkan volume suaramu. Dan kalau kau mau pulang, pulang saja. Tak perlu pamit padaku.” Narin pun menutup pintu kamarnya, namun detik berikutnya membukanya lagi.

“Kuharap saat aku bangun nanti, kau sudah tidak ada oppa. PS-ku juga butuh istirahat setelah seharian dianiaya tangan-tangan ganas seperti tanganmu!!”

====================================================================

 

Narin mengerang pelan, tak ingin beranjak dari tempat tidur. Namun tenggorokannya yang terasa kering berhasil memaksanya bangkit. Sinar bulan masuk menerangi kamarnya yang gelap tepat disudut jam awannya yang menunjukkan pukul 9.

Suasana terasa hening. Tak lagi ada suara setan yang menjerit seperti terakhir kali ia terbangun. Narin bertanya-tanya benarkah Cho Kyuhyun sudah benar-benar pulang atau justru ketiduran setelah kelelahan menganiaya PS-nya??

Narin menyeret kakinya menuju dapur. Kepalanya sudah membaik, hidungnya juga sudah tak lagi gatal, walau sekarang terasa sakit karena ia menggosoknya terlalu kuat seharian ini. Namun perasaan berat yang ia rasakan belum benar-benar hilang, mungkin karena memang ia belum benar-benar bisa tertidur.

Seseorang sudah menghidupkan lampu dapurnya. Sepertinya Kyuhyun yang melakukannya sebelum pulang. Walaupun hanya lampu dapur yang dihidupkan, setidaknya ada sedikit cahaya. Untung saja, Narin tak ingin membayangkan terbangun dalam keadaan rumah yang gelap gulita. Itu memang resiko bila tertidur dijam sore.

Dengan langkah berat, Narin kembali berjalan, setelah yakin tak lagi ada Kyuhyun dirumahnya. Tv-nya sudah dimatikan, begitu juga dengan PS-nya. Tak ada lagi suara, semuanya tenang, damai, dan menyenangkan. Pasti akan terasa lengkap andai saja…

“Hai…”

Narin berhenti berjalan, menegakkan punggungnya, terdiam untuk beberapa waktu. Ia berbalik lalu  membuka matanya yang masih setengah tertutup, memastikan ia tidak sedang bermimpi.

Dengan bantuan cahaya lampu dapur yang redup, Narin melihat Lee Donghae, duduk di salah satu sudut sofa ruang tengah dengan satu tangan memegang ponselnya, dan tangan yang lain berusaha melepaskan earphone dari telinganya. Dan ia sedang tersenyum. Dengan keadaan yang remang-remang, entah mengapa senyuman itu terasa begitu menawan.

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, meyakinkan diri ia tidak sedang berandai-andai seperti yang dilakukannya beberapa saat yang lalu, tapi suara itu terasa begitu nyata dan senyum itu…

Donghae pun merentangkan kedua tangannya, masih dengan senyuman yang terkembang, setengah tertawa melihat tingkah konyol gadis dihadapannya yang hanya diam ditempat.

Narin yang tersadar, berlari menerima uluran tangan itu, nyaris meloncat memeluk Donghae. Ia meringkuk, menyembunyikan wajahnnya di dada bidang lelaki yang sudah dua minggu ini tak bisa ia jumpai. Membiarkan Donghae memberikan rasa nyaman yang begitu dibutuhkannya.

Tak bisa dipungkiri betapa dia membutuhkan sebuah pelukan seperti ini. Pelukan hangat dan senyuman yang menenangkan. Walau bertingkah seperti ini rasanya bukanlah seperti seorang Cho Narin tapi ia tidak perduli. Ia hanya ingin seperti ini untuk beberapa waktu.

Donghae yang sempat terkejut kini justru tertawa lebar. Ia dengan senang hati menyambut gadis mungil itu di pelukannya. Jarang-jarang Narin memeluknya begitu erat. Apa mungkin efek tidak bertemu selama dua minggu??

“Begitu merindukanku, eo??” tawanya.

Narin mengangguk membuat Donghae tertawa semakin lebar. Narin bukanlah tipe yang akan mengakui hal-hal seperti ini. Dan mendapat jawaban jujur seperti ini, ternyata rasanya begitu menyenangkan.

Donghae mendekap erat gadis itu. Kedua terdiam, melepaskan perasaan masing-masing. Tak ada suara, hanya sebuah senyuman yang terus menerus terlukis di wajah Donghae sementara Narin masih menyembunyikan wajahnya di bahu Donghae, menikmati wangi yang keluar dari tubuh lelaki itu, yang rasanya sudah begitu lama tidak ia rasakan.

Setelah beberapa lama, Narin akhirnya mengendurkan pelukannya, walau masih tak ingin mengubah posisinya. Namun Donghae mendorong kedua bahunya, membuat mereka saling bertatapan.

“Jja~ kita lihat dulu, err.. uri Yeonng-ie baik-baik saja??”

Donghae memandangi Narin dengan seksama seakan sedang memeriksa setiap inchi gadis dihadapannya. Jemarinya mengelus-elus pipi gadis itu.

Narin mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan aneh itu, namun ia mengangguk. Donghae mengulurkan tangannya dan menempelkan punggung tangannya ke kening gadis itu.

“Hmm.. tidak demam. Bagaimana dengan flu-nya??” tanya Donghae lagi. Narin semakin mengerutkan keningnya bertanya-tanya.

“Kyuhyun yang menelponku, katanya kau sakit. Flu dan marah-marah sepanjang hari.” jelas Donghae.

Narin mendesah, “Tidak sakit, hanya hari yang berat.”

“Lalu bagaimana dengan hidung ini??” Donghae menjawil pelan hidung Narin yang memerah.

“Itu hanya karena aku menggosoknya terlalu keras seharian ini.”

Donghae memicingkan matanya, “Tidak sedang berbohong??”

“Tidak.”

Donghae menarik Narin mendekat padanya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya. “Hari yang berat?? Apa mau bercerita??”

Narin menggeleng keras, tak lagi ingin mengingat hal-hal tidak menyenangkan seharian ini yang sudah begitu susah payah ia coba lupakan.

“Ya sudah. Kalau begitu tidur saja lagi.” Narin menggeleng.

“Wae??”

“Tidak bisa tidur.”

Donghae mengecup pelipis Narin lembut, “Lalu apa yang mau kau lakukan??”

“Kenapa datang?? Bukankah kau sibuk??” Narin balik bertanya.

“Aku memang berniat datang. Tidak hari ini tapi. Mungkin besok atau lusa, tapi karena Kyuhyun menelponku dan bilang kau sakit jadi aku datang.”

Narin menaikkan kakinya ke atas sofa dan memeluknya, “Lalu kenapa tidak membangunkanku??”

“Karena aku tidak ingin mengganggumu. Lagipula saat aku masuk ke kamarmu tadi, kulihat tidurmu tidak nyenyak. Tanpa kubangunkan kau juga pasti akan bangun sendiri.”

“Lalu bagaimana kalau aku tidak terbangun??”

“Tentu saja aku akan pulang.”

Perasaan tidak rela merayapi Narin saat Donghae menyebut kata ‘pulang’. Ia masih belum ingin berpisah dengan sumber kehangatannya itu.

“Lalu kenapa kau terbangun??” tanya Donghae.

“Tenggorokanku kering dan aku ingin minum.”

“Jadi karena melihatku, kau tak jadi minum?? Aigoo… bocah ini!!” Donghae mendorong Narin pelan, beranjak hendak mengambilkan minum untuk gadisnya itu, namun Narin menahan tangannya.

“Disini saja. Aku sudah tidak ingin minum lagi.”

Melihat bola mata yang memohon seperti itu, Donghae kembali duduk sambil mengacak-acak rambut gadis itu, “Aigooo!!!”

Keduanya terdiam. Donghae sibuk memainkan rambut gadis kesukaannya itu, sementara Narin sibuk memikirkan cara agar ia bisa tertidur sebelum Donghae pulang. Ini sudah malam, dan Donghae pastilah sebentar lagi harus pulang, sementara dirinya masih belum bisa tertidur. Bahkan walaupun Donghae sudah ada disampingnya dan mengelus-elus rambutnya, rasa kantuk itu tidak juga datang. Ia ingin sekali bisa tertidur nyenyak malam ini, agar besok ia bisa menghadapi hari dengan lebih baik. Kalau Donghae sudah harus pulang nanti dan ia belum juga tertidur, Narin yakin sekali ia akan terjaga sampai matahari terbit besok pagi.

“Hae-hae, tadi kau bertanya apa yang ingin aku lakukan kan??” Narin bangkit dari dekapan Donghae dan berbalik menatapnya penuh harap.

“Eung….”

“Ada satu hal yang ingin kulakukan.” ucap Narin. Donghae menaikkan alisnya, menunggu.

“Aku ingin jalan-jalan keluar, keliling taman mungkin. Kajja??” Narin tersenyum bersemangat.

“Mwo?? Jigeum??” seru Donghae. “Andwe!! Chuwo.. Jjinja chuwo!!” tolak Donghae keras, ia membayangkan betapa dinginnya diluar. Entah apa yang ada dipikiran gadis dihadapannya ini sampai berpikiran untuk jalan-jalan keliling taman malam-malam seperti ini.

“Ahh~ andwe??” lirih Narin. Melihat respon Donghae yang begitu keras menolak seperti itu ia hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan perasaan kecewanya. “Geurae.”

Donghae tersenyum, mengaku kalah. Melihat wajah seperti itu siapa yang tega menolaknya. “Baiklah. Baiklah. Kita pergi. Aku akan mengambilkan jaketmu dan kau–” Donghae menarik kedua pipi gadis itu gemas,. “Ayo cepat pergi minum!!”

=======================================================================

 

“Hae-hae… Ayo pulang..”

Narin menarik ujung kemeja Donghae yang berjalan didepannya. Mereka sudah berjalan disepanjang taman hampir 30 menit. Udara malam yang dingin dan suara dedaunan yang bergerak berirama terasa begitu menenangkan. Mereka berjalan dalam diam, menikmati pemandangan malam yang indah yang begitu jarang bisa dinikmati Narin. Tentu saja ia tidak akan berani keluar malam seperti ini sendirian. Dan selagi ada yang bisa menemaninya, ia ingin menikmatinya selama mungkin.

Namun ternyata suasana malam yang begitu tenang, membuat rasa kantuk itu datang begitu cepat. Sejak sepuluh menit yang lalu ia sudah berusaha keras menahan kantuknya. Gadis itu membuka matanya lebar-lebar, dan berbalik setiap kali ia ingin menguap, agar Donghae tak melihatnya. Ia masih ingin berlama-lama berjalan bersama Donghae, tapi sepertinya ia sudah tak sanggup lagi menahan. Rasanya ia bisa tertidur sekarang juga. Berdiri tak jadi masalah.

Donghae berbalik saat merasakan bajunya ditarik-tarik dari belakang, lalu tertawa keras. Gadis di depannya bahkan sudah tak sanggup berdiri dengan tegak. Kepalanya berayun-ayun, matanya merah dan berair, mengerjap-ngerjap dengan frekuensi yang tidak wajar.

“Mengantuk, eo??” tanya Donghae setelah meredakan tawanya.

Narin membuka matanya selebar yang ia bisa, dan menatap Donghae sambil mengangguk. “Pulang??”

Donghae tersenyum, ia kemudian berjongkok didepan Narin, “Ayo naik..”

Narin terdiam, menatap Donghae lambat-lambat. Tawaran yang sangat menarik, tapi ia pasti akan membebani. Donghae juga pasti sudah lelah, latihan, drama, dan lainnya.. “Anniya. Besok kau masih harus latihan. Aku bisa jalan sendiri..”

“Eiiiyy~ kau bahkan tak bisa membuka matamu dengan benar. Jja~ ppalli”

Narin menggeleng ragu, “Tapi…”

Donghae mendecak, “Kesempatan hanya sekali. Hana.. Dul..”

Narin dengan cepat berjongkok dan naik ke punggung Donghae, tak ingin kehilangan kesempatan. Punggung itu entah kenapa seakan memanggil- manggil. Membuat ia tak tahan godaannya. Donghae hanya bisa tersenyum dan mulai berjalan.

“Hhh~ hari yang berat…” lirih Narin.

“Begitu beratkah??” suara Donghae terdengar khawatir. “Apa Kyuhyun mengganggumu?? Aku bisa bilang padanya agar tak lagi datang ke…”

Narin menggeleng-geleng, “Anniya.. justru karena Kyuhyun oppa, hari ini sudah tak lagi terlalu berat.”

“Bagaimana bisa??”

“Karena dia sudah berbaik hati menelponmu, aku harusnya berterima kasih padanya.”

Perasaan senang dan bahagia menjalar di wajah Donghae, “Intinya akulah sebenarnya yang kaubutuhkan, iya kan??”

Narin menggerak-gerakkan kepalanya keatas kebawah membuat senyuman lebar muncul di wajah tampan Lee Donghae.

“Jja~ uri Yeonng-ie, semoga malam ini mimpi yang indah, dan terbangun besok pagi dengan hari yang indah juga…” Donghae mengucapkan doanya untuk gadis kesayangannya itu.

“Donghae do, semoga besok mendapat hari yang indah..” gumam gadis itu.

“Selamat malam…”

  -enD-

I TOLD YOU…
Horrible day itu ada…
ada banget, gak bohong!!

Mianhae, gak update untuk waktu yang begitu lama…
walopun begitu, plis don’t forget me..

I LOVE YOU ALL,,
hihihi muuachh..

 

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

 

 

18 thoughts on “[OneSpace] Horrible Day..

  1. yups ada dan saya pernah merasakannya. Kaya pribahasa udah jatuh tertimpa tangga kalo udah gitu rasanya pengen nangis

  2. Wuahahhahha apa2an ni pas bagian hae ngomong hai eh playlist mp3 lgi di miracle kkkkkk
    Ya ampun klu aku punya tmen klmpok kayak gitu siap2 kplana aku getok
    Truz sievil datang dgn jeritan “gadis’’nya omg lengkap banget kesialannya yah
    yups tu mmg ada yg pd akhrnya kadang bikin aku mikir jadi benda aja enak kali ya hahaha
    eh tp bang evil yg panggil hae bwt yeong so abng kyu mmg berhati malaikat dgn wjah evil
    *ditendang sparkyu*

    hei kmn aja yeong????
    pls dung bilang ke ikan jangan tidur dibahu unyuk
    mana posisi tidurna bikin panas
    tu kpala dibahu hyuk,tgan dpgang ma unyuk
    kaki dikaitin ke kaki unyuk
    aku langsung patah hati
    aku bnr2 jelous ma ni cow huahahahaha
    *taukan foto pa yg aku omongin?*
    n akhirnya cuma 1 obatnya
    aku selalu pandangin foto TOP oppa aja^^

    • hehehe… onnie jodoh x ama hae-hae…
      saia udah lama punya temen yg kayak gitu onnie,
      tapi pada kenyataannya di getok juga gak bisa..
      mau marah juga gak bisa, cuma bisa dipendam dlam hati..

      mas evil mesti nolong muridnya sesama evil donk..😀

      gak kemana2 onnie,
      cuma itu tadi too many hw to do..

      tau… tau…
      aku juga liat fotonya, tapi suka lihatnya..
      aku suka lihat mereka kalo udah bermanja2 kayak gitu,
      nempel2 asal jangan yg aneh2.. *smirk

      • wuah kalau dipendem didalem hati jadinya malah bikin stresssssssssss
        *ala gary oppa*
        bikin dosa cz jadi ngedumel mulu,jadi sekalian aja dibawelin kkkkk

        kamu seneng aku manyun liat foto itu
        wuaaaaaaaaaa aku mau jadi hae biar bisa bobo bareng unyuk LOL

      • daripada dikeluarkan semua jadi malah berantem, gimana??
        urusannya bakal panjang…

        kaloaku mau jadi bantal nya aja ah biar bisa tidur sama anak suju semua…
        lebih rame lebih enak…

  3. waa. narin unnie bad day bnget yaa. >< untung kyuppa lg baik.. hehe obat termanjur haeppa~^^ mau doong di gendong jg.. hehe

    • not bad day, tapi HORRIBLE day..
      heeh.. mas evil lagi baek nih, mau nolongin,, *peluKyu

      mau digendong??
      ntar kalo pinggang hae2 udah sembuh ya, abis kemaren keberatan gendong yeonng..
      hihihih😀

    • Kyu udah aku masukin karung trus lempar ke dalam lemari, sekalian aku sekap..
      #malah dilempar Kyu ke neraka

      penutup akhir yang manis, kok malah kayak garam??
      gula donk?? (・_・ヾ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s