A Console…

Bertemu denganmu tidak pernah menjadi sebuah penyesalan.

Tapi berakhir seperti ini membuatku terhenyak…

‘Aku menyerah’ itu yang selalu kuucapkan.

Tapi kuberitahu kau satu hal.

Aku adalah pembohong besar.

 

 

Oppa, apa kau sibuk?? Aku sedang ada di halte Yeonja. Apa kau mau datang??

Donghae menggigit bibir bawahnya. Itu isi voice mail yang dikirim Narin padanya. Ia baru saja menyelesaikan photoshoot untuk cf LG ponsel bersama Leeteuk dan Kyuhyun. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman, Donghae membuka-buka ponselnya, sekaligus menunggu Leeteuk dan Kyuhyun mengganti pakaian. Saat itulah Donghae menemukan voice mail itu.

Donghae meraih ransel juga topinya dan bergegas keluar dari tempat mereka melakukan photoshoot, tak sengaja menabrak Leeteuk yang baru keluar dari ruang ganti.

“Ya!!! Oddielgan-geouya??” teriak Leeteuk pada Donghae yang terus saja pergi tanpa mengucapkan apapun setelah menabraknya.

Donghae yang tadinya berlari kencang, tiba-tiba berbalik menghampiri Leeteuk sambil mengulurkan tangannya.

Hyung, boleh aku pinjam mobilmu??”

Odiega??” tanya Leeteuk sedikit merengut, mengira Donghae kembali karena ingin minta maaf padanya.

“Aku ingin bertemu dengan Narin. Ppalli hyung, Narin sudah 2 jam menungguku..” jawab Donghae tak sabaran.

“Tapi aku tidak bawa mobil. Kita kan datang bersama naik van. Kau lupa??”

“Ah bahta…” Donghae memukul keningnya, “Otteokahjeo??” tanyanya mulai panik.

Saat itu Kyuhyun juga keluar dari ruang ganti menghampiri hyung-nya. “Kajja hyung…”

“Kyu, kau bawa mobil kan?? Boleh hyung pinjam??”

Oddie?? Menjumpai Narin??” tanya Kyuhyun. “Boleh aku ikut?? Sudah lama aku tidak melihat murid setanku..”

Donghae memberikan death glare-nya pada Kyuhyun, namun evil Kyu tidak akan terpengaruh dengan yang seperti itu. “Kalau aku tidak boleh ikut, aku tidak akan meminjamkannya.” Kyuhyun mengacungkan kunci mobilnya didepan Donghae. Kebetulan sekali ia tadi membawa mobil untuk latihan musical-nya, sebelum ikut photoshoot bersama yang lainnya.

Donghae menatap Kyuhyun dengan wajah memelas, “Kyu~~ Aku harus segera menemuinya. Sepertinya ia sedang ada masalah. Jebal…”

“Darimana kau tahu ia ada masalah??” tanya Leeteuk.

“Dia memanggilku ‘oppa’..”

Oppa??” pekik Leeteuk dan Kyuhyun bersamaan. Donghae mengangguk.

Ppalli hyung…” Kyuhyun menyerahkan kunci mobilnya pada Donghae. “Bocah itu sepertinya benar-benar punya masalah.”

=============================================================

Narin menggigit bibir bawahnya. Air mata terus saja mengalir deras dari pelupuk matanya. Berkali-kali menghapusnya, namun akhirnya menyerah dan membiarkan air mata itu jatuh ke pangkuannya.

Satu setengah tahun, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, dan setiap hari mencoba untuk tetap tersenyum, melupakan segala masalah bersama ‘gadis itu’, kini Narin menangis. Lagi.

Ia sudah mencoba, melakukan segala cara yang ia bisa untuk melupakan segalanya. Walaupun semuanya adalah kepura-puraan, tapi Narin selalu mencoba untuk hidup lebih baik setidaknya dihadapan ‘gadis itu’. Tidak lagi diam-diam menangis dan berhenti memikirkannya.

Namun berusaha melupakan segalanya, bukanlah perkara yang gampang. Mustahil bisa melupakan segala hal tentang gadis itu, kalau setiap hari tetap harus bertatapan muka dengannya.

Dibibirnya, Narin selalu bilang ia menyerah, ia tak lagi ingin bertahan. Tapi setiap malam, ia tak pernah berhenti memikirkan bagaimana cara agar ia bisa kembali berjalan di jalan yang sama dengan ‘gadis itu’.

Namun selama 1.5 tahun ini, dia dan gadis itu sudah berakting dengan sangat baik. Mereka sanggup tidak saling menyapa, tidak saling memandang walau selalu berada dalam jarak yang tak lebih dari satu meter.

Setelah berjanji tidak akan lagi mengeluarkan air mata untuk gadis itu, kini ia kembali menangis. Tangan kanannya terus saja menghapus air mata yang tak mau berhenti. Ada perasaan sesak yang menghimpit dadanya yang tak bisa diluapkannya dengan air mata. Semuanya terasa begitu membingungkan.

“Cho Narin bodoh!!” umpatnya pelan. Ia sudah berusaha sejauh ini untuk tidak lagi menangis. Ia sudah berusaha untuk menjadi orang tanpa perasaan. Ya, ia sudah membuang semua perasaannya. Ia tidak ingin lagi punya hubungan dengan perasaan yang berlebihan. Karena di saat seperti ini, justru perasaan ini seakan ingin mencekiknya.

Namun sejauh apapun ia membuang perasaannya, ia tetap tidak bisa berbohong. Ia tidak pernah berhenti memikirkan ‘gadis itu’.

=====================================================================

Donghae melirik speedometer-nya yang menunjuk angka 40. Ia tidak bisa menambah kecepatan lagi. Mobil Kyuhyun membuatnya kewalahan. Berbeda dengan mobilnya dan Leeteuk yang otomatic, mobil Kyuhyun membuatnya harus sangat berhati-hati padahal ia harus cepat. Narin sudah menunggunya sangat lama.

‘Oppa??’

Donghae menggigit bibir bawahnya cemas. Ia tidak sedang salah dengar kan?? Narin memanggilnya oppa??

Semenjak awal Narin menjadi kekasihnya, tak sekalipun gadis itu memanggilnya oppa. Bahkan walaupun Donghae memohon, Narin tetap tak mau memanggilnya oppa. Sampai akhirnya Donghae menyerah dan membiarkan Narin memanggilnya apa saja. Lagipula, ia juga menyukai panggilan “Hae-hae”, jadi itu tidaklah masalah.

Donghae yakin sekali ada sesuatu pada gadis itu. Narin bisa saja memanggilnya “oppa” untuk mengerjainya. Donghae mengakui status Narin sebagai ‘murid setan-nya’ Kyuhyun. Gadis itu selalu saja menggunakan kesempatan yang ada untuk mengerjai orang-orang didekatnya. Tapi dari suaranya menunjukkan Narin tidak sedang bercanda. Gadis itu terbata-bata seperti sedang menahan tangisnya. Suaranya bergetar dan terdengar sangat pelan. Donghae sangat yakin Narin benar-benar menangis.

Donghae melirik jam tangannya. Sudah hampir jam 10 malam. Dan Narin pasti tetap menunggunya di halte. Sendirian. Narin itu tidak akan pernah memperhatikan sekelilingnya saat ia sedang sedih. Ia tidak akan sadar kalau ia sedang ada di halte, semalam ini, sendirian. Dan tentu saja itu membuat rasa cemas Donghae semakin bertambah-tambah.

Setelah hampir setengah jam, akhirnya Donghae sampai di halte Yeonju, di dekat apartemen Narin. Saat akan membuka seat belt-nya, Donghae melihat Narin. Gadis itu sedang duduk sendirian. Kepalanya tertunduk dalam, dan rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Sesekali tangannya terangkat keatas, yang Donghae yakin menghapus air matanya. Beberapa kali gadis itu mengangkat kepalanya, kemudian menarik bibirnya, mencoba tersenyum, namun akhirnya menyerah dan kembali menunduk dalam.

Donghae keluar dari mobil, berjalan menuju halte. Ia berdiri di hadapan Narin yang masih menunduk. Diam, dan menunggu gadis itu mengangkat kepalanya dan menyadari kedatangannya. Namun Narin sepertinya tidak menyadarinya. Gadis itu tidak bereaksi apapun, padahal Donghae sudah berdiri hanya beberapa senti didepannya. Walaupun menunduk, Narin seharusnya bisa melihat kaki Donghae.

Donghae memandangi Narin-nya itu sedih. Ia pun mengelus kepala Narin pelan, membuat gadis itu akhirnya mendongak dan memandanginya.

“Hae-hae..!!” ucap Narin riang. Tak ada tanda ia baru saja menangis dari suaranya, namun matanya yang sedikit memerah dan bekas air mata yang tersisa tidak bisa disembunyikan.

“Kau datang?? Kukira kau tidak bisa datang. Aku bahkan sudah berniat pulang.”

“Apa yang terjadi??” tanya Donghae khawatir.

“Hahaha… Hae-hae buru-buru kemari ya?? Lihat, kau lupa melepas hair clip-mu.” Narin tertawa terbahak-bahak.

Donghae menyentuh rambutnya, dan memang benar, ia lupa melepas hair clip di rambutnya yang tadi dipakai untuk photoshoot. Donghae pun menariknya dan melepasnya.

“Kau tertawa, eh?? Tadi kau menelponku seperti ingin menangis, sekarang kau malah tertawa??”

“Kau khawatir padaku??” goda Narin sambil tersenyum.

Donghae menjitak kepala Narin pelan, “Aissh.. bocah ini. Kau kan tahu aku tak bisa menyetir dengan benar, tapi masih memanggilku malam-malam begini. Tentu saja aku khawatir.”

Narin mendekat, menyelipkan tangannya di lengan Donghae dan menggelayut manja. “Aku senang kau khawatir padaku. Haengbokhae…”

========================================================================

Keduanya berjalan di trotoar yang sepi. Donghae menggenggam erat tangan mungil yang masih menggelayut padanya itu. Narin tersenyum sambil memandangi pepohonan di sekelilingnya, namun matanya tak bisa berbohong.

Mereka duduk dipinggir bendungan yang ada didekat situ. Dari tempat itu mereka bisa melihat sebuah jembatan dengan lampu-lampu jalan yang menerangi disetiap sisinya.

Narin menekuk kakinya dan memeluk lututnya. Matanya terfokus pada air bendungan yang gelap.

“Apa sesuatu terjadi di kampus??” tanya Donghae khawatir, memaksa Narin keluar dari lamunannya.

“Hae-ya…”

“Mmm??”

“Apa kau pernah merasa sangat marah pada temanmu, sampai akhirnya membencinya??”

Donghae mengerutkan keningnya, memandangi wajah gadis disebelah, yang masih saja memandangi air gelap didepannya.

Andai saja aku tidak bertemu dengannya… Andai saja kami tidak seperti ini… Kenapa temanku seperti itu?? Pernahkah kau berpikir seperti itu??” Narin kembali melanjutkan pertanyaannya. Matanya menerawang jauh, seakan-akan ada sesuatu yang sangat berat yang sedang dipikirkannya.

“Kau bertengkar dengannya lagi??” tebak Donghae.

Kenapa semua terasa membingungkan?? Kenapa begitu berat?? Kenapa aku tidak bisa punya persahabatan yang indah seperti orang lainnya?? Apa pernah sekali saja berpikir seperti itu??” ucap Narin pelan seakan bertanya pada dirinya sendiri.

Obbseo..

Geurae~~ Kau tidak mungkin pernah merasakannya. Melihatmu bersama Eunhyuk oppa, selalu berhasil membuatku iri. Kenapa aku tidak bisa punya persahabatan seperti yang kalian miliki? Kenapa aku dan dia tidak bisa bertahan lama? Kenapa akhir untuk kami yang seperti ini??”

Donghae mendengus pelan sambil tersenyum, membuat Narin menatapnya. “Anak baik sepertimu, ternyata juga bisa sangat marah saat bertengkar dengan temanmu. Sama sekali tidak seperti Narin yang kukenal.”

“Anak… baik??”

Donghae tersenyum, “Geurom.. Kau selalu bilang kau menyayangi sahabatmu. Sahabatmu adalah yang terbaik. Menangis saat mereka berencana pindah. Selalu berusaha membuat mereka tertawa. Selalu bilang kau mencintai mereka. Tentu saja kau anak baik.”

“Seperti itukah??” tanya Narin ragu.

Lagi-lagi Donghae tersenyum,“Neo molla??

“Kau tidak mengatakannya karena ingin membuat perasaanku lebih baik kan???”

“Ceritalah, aku akan mendengarkan.”

Narin terdiam, kembali memandang jauh ke air bendungan yang gelap, sementara Donghae juga ikut diam, menunggu. Dia memang harus menunggu Narin yang bercerita, karena Narin bukan tipe orang yang suka dipaksa. Ia selama ini hidup dengan menyimpan sendiri masalahnya. Tak pernah sekalipun Donghae melihatnya menangis di hadapan orang lain, tidak juga didepannya. Saat sedih, Narin hanya akan terisak sebentar, kemudian menguatkan dirinya dan kembali tersenyum seakan tidak terjadi apapun, persis seperti apa yang dilihat Donghae di halte tadi.

Oleh sebab itu, orang lain tidak ada yang pernah benar-benar mengerti dirinya. Orang yang tidak tau selalu menganggapnya hidup dengan sangat baik. Gadis tegar tanpa air mata, yang tak akan bisa terluka walau sekejam apapun kau memperlakukannya. Padahal ia hanya gadis sensitif, yang sangat pandai menipu orang lain.

“Hae-ya…” Narin mengeluarkan suaranya.

“Mmm??”

“Aku selalu iri padamu. Kau punya Eunhyuk oppa, sahabat yang selalu ada disampingmu, dan menerimamu apa adanya. Punya Leeteuk oppa yang dengan senang hati menjagamu dan menyayangimu. Punya Kyuhyun oppa dan Minho yang menganggapmu hyung kesayangannya. Punya Heechul oppa yang juga menganggapmu adik kesayangannya. Dan punya member lain yang tak bisa dipisahkan darimu. Sementara aku, satu saja. Hanya satu. Tapi aku tak bisa mempertahankannya..”

Akhirnya tangisan itu pecah juga. Narin menunduk, menyembunyikan wajahnya dengan lututnya. Suara sesenggukkannya terdengar sangat jelas. Donghae pun mendekat, menarik gadis itu agar bersandar padanya dan memeluknya erat.

Bukan kali ini Donghae mendengar tentang masalah ini dari Narin, tapi saat dulu, Narin selalu berkata, ‘kami masih bisa memperbaikinya’, kemudian tersenyum seakan tak ada apa-apa. Namun kali ini sepertinya berbeda. Donghae juga tidak terlalu mengerti. Narin tak pernah benar-benar menjelaskan masalahnya pada Donghae.

Donghae mengelus-elus kepala gadis-nya itu, tanpa suara, membiarkan Narin menangis. Ya, kata-kata bukanlah sesuatu yang dibutuhkan Narin saat ini. Gadis itu hanya perlu pendengar dan pegangan.

“Dia bilang aku tak adil padanya..” isak Narin di balik dada Donghae.

“Kenapa saat aku yang melakukan kesalahan kau tidak bisa memaafkanku. Sementara mereka berbuat lebih kejam dariku, tapi kau bisa memaafkannya??” tanya gadis berambut pendek itu padaku.

Saat itu kami berdua sudah sangat lelah, semuanya terasa begitu berat dan tak jelas. Kami ‘teman’ tapi bukan teman. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk saling terbuka.

“Masalah apa yang kau maksud??” tanyaku.

“Masalah ‘kecil’ itu.”

“Kau masih memikirkan hal itu?? Aku tak pernah menganggap itu masalah. Aku tak pernah marah padamu karena hal itu. Aku bahkan sudah tak ingat lagi hal itu.” jelasku.

“Baiklah, Bagaimana dengan masalah lainnya. Padahal mereka yang bersalah, tapi kenapa kau bisa sangat cepat melupakannya sementara padaku tidak??” tanya gadis berambut pendek itu lagi.

“Aku tahu mereka yang bersalah, tapi saat tahu kau juga bersama mereka saat itu membuatku terluka. Aku selalu menganggapmu lebih dari mereka. Kau punya posisi lebih dari mereka. Saat kau melakukannya, aku merasa jauh lebih terluka daripada saat mereka melakukannya.” jelasku.

“Aku bisa dengan sangat mudah melupakan segala hal tentang mereka, tapi tidak padamu. Saat mereka melukaiku rasanya hanya seperti tergores, tapi saat kau yang melakukannya, rasanya seperti ada yang menusukku dari dalam. Jauh lebih menyakitkan.” Lanjutku lagi.

“Tapi itu tidak adil. Bukankah seharusnya sebaliknya. Bukankah karena kau lebih menyayangiku, seharusnya kau bisa lebih mudah memaafkanku??”

“Aku tau itu tidak adil untukmu. Maaf, tapi aku juga tidak bisa mengontrol perasaanku. Perasaan terluka itu datang bukan karena aku yang memintanya.”

Donghae memeluk gadis itu semakin erat, saat tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Dia bilang sifatku yang moody, membuatnya tak tahu harus berbuat apa padaku.”

“Aku tak tahu harus bagaimana. Sifatmu membuatku bingung. Aku takut saat aku bercanda padamu, tanpa sadar aku mengatakan hal yang melukai perasaanmu..” ucap gadis berambut pendek itu.

“Kenapa harus takut. Tak bisakah bersikap biasa saja padaku?? Kenapa harus menjaga-jaga perasaanku? Bercanda, tertawa, marah, menangis, bukankah itu biasa. Bukannya itu yang selalu dilakukan teman? Kenapa mesti takut. Kau terlalu banyak berpikir, dan membuatku tampak seperti orang jahat.” ucapku dengan nada sedikit tinggi.

“Entahlah, rasanya terlalu banyak orang diantara kita. Semuanya terasa jauh. Saat orang lain yang berbuat masalah. Tapi kitalah yang saling menyalahkan. Aku menyalahkanmu, dan kau menyalahkanku. Padahal entah apa masalah itu, kita juga tidak tahu.” ucap gadis berambut pendek itu lagi.

“Aku lelah seperti ini.” ucapku.

“Yang bisa kulakukan hanyalah membuat orang tak sanggup ada didekatku, sampai akhirnya mereka pergi.”

“Itu tidak benar.” ucap Donghae. “Jangan menilai dirimu sejelek itu..”

Donghae terus saja mengelus-elus kepala Narin, membiarkan gadis itu puas dengan tangisannya sampai akhirnya tak ada lagi suara sesenggukan yang terdengar, namun Narin tak bergerak dari pelukan Donghae, membuat Donghae mengira gadis itu tertidur kelelahan.

“Hae-ya..”

Tiba-tiba Narin bergerak, melepaskan pelukannya, menatap Donghae. “Berjanjilah padaku, saat kau merasa lelah, katakan sesuatu. Jangan memaksakan diri tetap bersamaku, sampai akhirnya kau tak sanggup dan pergi. Tolong, katakan sesuatu dulu padaku, agar aku bisa mempersiapkan diriku.” pinta Narin.

Donghae tersenyum, “Aku janji akan mengatakan sesuatu. Tapi maaf sayangku, sepertinya kau harus menunggu sangat lama untuk itu..” ucap Donghae sambil mengusap pipi gadis dihadapannya.

Narin tersenyum untuk pertama kalinya malam ini.

Narin menghela nafasnya, “Hhh- sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi..” ucapnya sambil tersenyum miris.

“Jangan bilang seperti itu. Tidakkah kau rasa itu terlalu kejam??” ucap Donghae.

“Eh??”

Hyora, jadi kau anggap apa Hyora itu?? Dia pasti sedih sekali kalau mendengarmu mengatakan seperti itu..”

Ah bahta…” Narin tersenyum. “Hyora onnie. Aku selalu melupakannya. Dia memang pernah bilang, ia sedih. Dia bilang aku tak pernah menangis untuknya, aku juga tak pernah bilang aku menyayanginya. Dia juga pernah bilang kenapa kami tak pernah bertengkar?? Katanya dia ingin merasakannya juga.”

“Dia ingin merasakan kalian bertengkar??” pekik Donghae tak percaya.

“Eung. Hyora onnie itu memang agak gila.. Hahahaha..”

Donghae mengacak-acak rambut gadis yang tertawa disebelahnya itu. Itulah Narin, beberapa menit yang lalu ia menangis begitu mengerikan, sekarang ia tertawa, bukan karena ia sudah melupakannya, karena selalu tak ingin terihat lemah di depan orang lain.

“Yeonng, tentang ‘dia’, jangan dipaksakan lagi. Biarkan dia lepas darimu. Seperti pasir, semakin kau menggenggamnya, semakin mudah ia lepas dari sela jari-jarimu. Jadi lepaskan. Saat ia kembali, itu artinya dia milikmu. Saat itu, jangan biarkan dia pergi lagi.”

 

==========================================================================

 

“Yeonng, bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini??” tanya Donghae.

“MWO??”

Donghae mendorong kening gadis didepannya ganas, “Ya!! Jangan berpikir kotor, kau ini… Aku hanya ingin melihat, besok pagi, sebesar apa bengkak di matamu itu. Hahaha… Pasti kau jelek sekali..”

“Ya!! Lee Donghae, nappeun..”

“Atau setidaknya panggil aku ‘oppa’ lagi. Masa aku harus menunggumu menangis dulu, baru aku bisa mendengarnya. Jebal…

“Baiklah, karena malam ini kau sudah datang, dan terlihat sangat keren, aku akan melakukannya..” Narin mendehem, “Donghae oppa, Saranghae…”

“Hahaha…. Johta. Hanbeondoe??”

Donghae oppa, Saranghae…”

“Lagi??”

“SHIREOO!!!”

==================================================================================

Hai miss,
Sekali ini maukah kau mendengarkanku??
Aku… Ingin melupakanmu.
Benar. Aku ingin melakukannya.
Jadi, maukah kau membantuku??

 Dan untukmu, lupakan juga aku.
Kau tentu tak perlu bantuanku kan??
Karena aku terlalu mudah untuk dilupakan.

Anyway, HAPPY BIRTHDAY….

================================================================================

Berharap benar2 ada Lee Donghae yang datang berlari karena mendengarku menangis..😀
Membayangkan ada yang menepuk-nepuk kepalaku saat aku menangis, rasanya………🙂 */*

dapat inspirasi dari film ‘Shining Inheritance’ waktu si Lee Seunggi datang untuk menghiburnya ceweknya yg nangis, lupa episode berapa… Bye2222………………

15 thoughts on “A Console…

  1. Whatever happens, it always hapenns because a reason chingu…cheer up!
    anyhoo, I wish Donghae juga ada kalo gw lagi sedih kok…^^

    • Yepsss..
      There’s always a reason for everything.. Even if you don’t know what the reason is…

      He-eh…
      kalo benar2 ada Donghae yg mau ngibur kita, bisa-bisa langsung berhenti nangisnya..
      kkeee~

      Hwaiting!!!?

  2. hoa……
    aku juga begini ni…
    adang sahabat itu ga bisa dibilang sahabat, kita udah melakuan semuanya buat dia, dan dia gak pernah sadari itu, kita mudah banget maafin mereka, tapi satu kesalahan kecil bisa jadi racun di mulut mereka yang sewaktu2 mereka bombardir ke muka kita..
    tapi chinggu ya, asalnya itu diri kita, yang penting kita tahu kalo kita sayang sama mereka,, jadi kenapa gak coba selesein baik2? ajak ngomong gih…^^

    • Susah memang…
      Apa gak ada yah prosedur menjadi teman yang baik??
      jadi kita tinggal ikutin langkah2 yang ada aja.. gak perlu pake feeling??

      dah pernah ngomong, tpi hasilnya nihil..
      jadi lebih baik menyerah saja dan hidup masing2…🙂

  3. dr heartless kmrn udh gatel pgen comment
    baca ttg persahabatan gini bikin aku dejavu
    aku pernah ngalamin yg kyk gini n hslnya aku n dia skrg sperti org asing

    yakin deh suatu saat nanti kamu bisa kok nemu shbt lagi
    tapi kalian coba deh intrpksi diri dulu,nyari mslhna dmna
    knp pshbtan xan bisa jadi kyk gni
    coba ngomong b2 dengan hati yg dingin
    saling tbuka z
    aduh pdhal diri sndiri z bgung ma pshbtan yg dlu hahaha
    aku gak pinter klu soal pshbtan kyk gini

    hey ikan coba ajarin yeong n aku buat bkin pshbtan kyk eunhae
    aku cemburu si ikan bisa peluk2 si hyuk
    aku juga mauuuuuuuu >,<

    pd saat nangis gtu kmu mau ada lee donghae
    dulu saat pshbtan aku hncur n aku nangis malah gak ada pikiran buat da seseorg yg tw aku ngis hahaha
    aku gak mw org lain liat aku ngis
    itu memalukan

    smileeeeeeeeeeee yeoooooong^^

    • udah pernah coba ngomong, tapi ternyata kejadian lagi..
      sepertinya kami memang gak cocok sama..

      aku juga gak pinter soal yang kayak gini..
      coba aja kalo ada cara-caranya, kita tinggal ikut aja, pasti bakalan lebih mudah..
      entahlah, saia sudah give up..
      lain kali kalo dapat temen baru pun gak mau pake perasaan lagi..

      yeeee.. aku juga sangat cemburu sama itu eunhae..
      salah satu yang bikin aku sangat cemburu sama itu hae-hae, karena dia punya eunhyuk yang klop ama dia..
      tapi memang persahabatan cowo ama cewe itu beda..

      aku juga gak bakal nangis didepan orang, cuma kadang pingin ada orang yang bisa mendengarkan tanpa perlu menjudge, cukup mengelus kepalaku
      dan kalo bisa orangnya cakep…😀

      Hwaiting eonni!!!
      we must cheer up😀

      • wuahaha klu ada resepnya mungkin lebih enak
        aku percaya suatu saat nanti kamu bakal ketemu sama soulmate kamu
        awal memang menyakitkan tp stelah itu orang itu pasti ada kok
        kayak aku n temenku yg sampe dy bela2in nonton ss4 krna aku panas2in
        *keturunan evil*

        hae klop ma hyuk
        yg 1 tampan yg 1 ……
        *isi sendiri*hahaha
        mmg persahabatan cow bda ma cew
        aku malah pengen punya sahabat cow

        ih diskriminasi tuh masa harus yang cakep seh
        aku juga mau klu yg ngelus2 orang cakep kayak hae hahaha
        eh stlah diigt2 aku pernah deh nangis di depan temen2ku karna dosen pembimbing mutusin aku hahaha
        dh gitu nangis juga di mobil patas ampe pengamen nyangakin aku baru putus cinta ==”
        aaahhhh jd inget masa2 berat n memalukan itu wkwkwk
        pada saat itu aku belum knal SJ,cuma tau sorry2
        ah coba kenal kan bisa bayangin lagi dielus2 ma eunhyuk oppa^^

      • Gomawo onnie doanya…
        Tapi udah ada kok soulmate ku yg selalu kulupakan tp gk prnah marah, si Hyora eomma.. ^^

        Baeknya tuh teman onnie, mau aja dikibulin biar nonton sushow..😛

        Yg satu cakep, yg satu yadongers~~
        kkk~

        Kalo yg ngelus gak cakep kan, gk berasa juga dag dig dug nya.. hihihi

        Hayoo onnie, ada affair sama dosen pembimbingnya, pasti msh muda en cakep ya kan??? *gossip

        untung onnie gak dielus-elus sama tu pengamen.
        kikkikikii…

      • aku tuh gak ngibulin
        aku cuma sering sms2 ttg ss4,pokoknya tiap hari aku sll ganggu dy hahaha
        and akhrna dy nonton wkwkkwkwk
        wuah rasanya puas banget
        *evil laugh*

        mank sambil nangis bisa dag dig dug duer ==”
        masa sempet2nya seh mikirin orang yang lagi ngelus ckckkckkc

        jiah,klu dsen pmbimbingna msh muda n cow mah aku mungkin sneng
        lah ini ibu2,galak banget,stiap mw konsul pasti harus siapin jantung ke2 deh
        mau masuk ruanganna pucet kluar dr situ dah kyk myat hidup x
        saran neh ya klu cari dosen pembimbing mendingan bapak2
        dosen k-2 ku bapak2,beuh baik banget ,peduli ,teliti banget
        aku sampe curhat ke si bapak soal dosen k-1,ampe nangis2
        udah kayak ayah sendiri deh^^

        wuahahahaha klu tu pengamennya yesung oppa
        dengan senang hati aku akan biarkan dy mengelus kepalaku
        dangdut banget ya hahaha

      • wah baek yah temennya, baek and polos amat…
        hihihi…

        namanya juga ama cowok cakep, mau lagi dalam keadaan gimana pun pasti tetap dag dig dug…

        oohh… kirain onnie ada affair sama dosen pembbmg..
        ternyata~~~

        dangdut???
        trot aja gimana???

      • dy adalah teman terbaik skligus udah kayak sodara sendiri
        apalagi aku gak punya kk/adik cew
        tapi memang kadang kepolosan dy bisa bikin aku kesel haha

        OMG malas banget punya affair ma dosen
        gak banget deh
        mendingan buat affair ma TOP oppa wkwkwk

        trot?
        music country z deh hehehe

  4. kasian narin cm manggil donghae ‘oppa’ pas lg ada masalah doang. .
    tp donghae bs menjadi penawar yg baik buat narin. .
    cepet bgt perubahan sikap narin. .
    suka sama couple ini. .

    • Soalnya si donghae gak cocok dipanggil oppa..
      masih kyk bocah soalnya.. ^^

      Iya donk.. cuma donghae satu-satunya penawar narin..

      Gomawoyo~
      annyeongg😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s