Heartless…

Friendship is not as beautiful as they say. They lie. A big lie.

Dan untuk satu hal yang disebut orang “persahabatan”

itu aku membuang seluruh perasaanku…

 

“Untung saja kau datang..” ucap Narin sambil tersenyum memandangi gerimis yang turun. Hujan memang selalu bisa memaksanya tersenyum walau sesedih apapun dia. Narin mengambil tempat duduk kosong disebuah halte sebagai tempatnya untuk berteduh sementara hujan turun. Biasanya ia akan dengan senang hati berjalan menerobos hujan, tapi tidak kali ini. Ia tidak ingin merusak kalung pemberian darinya. Kalung pemberian dari dia.

Narin menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah jalanan didepannya. Memandangi gerimis yang turun semakin deras. Mobil-mobil yang berlalu lalang didepannya, juga pada orang-orang yang berjalan bergegas dengan payungnya.

Sebuah bus berhenti tepat didepannya. Dua orang wanita yang tadinya juga berteduh bersamanya, naik dan pergi bersama bus itu, meninggalkannya sendiri di halte itu.

Narin menunduk. Matanya tertuju pada kalung coklat yang bergelantungan di lehernya. Sebuah kalung dengan rantai panjang berwarna coklat, bermatakan sebuah bintang seukuran koin besar yang juga berwarna cokelat. Ditengah bintang itu terdapat sebuah jam bulat yang bisa diputar jika didorong.

Narin mendesah, kenapa ia masih menggunakan kalung itu. Kalung itu pemberian dari “dia” dulu, hadiah ulang tahun dari seorang sahabat. Tapi sekarang semua sudah berbeda.

Narin menarik nafas panjang, menghapus air mata yang meluncur jatuh di pipi kanannya. “Pabo…” bisiknya lirih pada dirinya sendiri, sambil kembali menghapus air mata yang mengalir semakin deras.

*******

“Aku takut. Saat sekolah dulu, tidak ada yang namanya orientasi siswa di tempatku. Benarkah mereka akan memukuli kita dan menyuruh kita melakukan hal-hal yang mengerikan??” Narin bergidik ngeri. Ia selalu ketakutan setiap kali mengingat tanggal orientasi siswa yang sudah dekat. Ini pengalaman baru baginya, dan dari desas-desus yang ia dengar, kegiatan itu pasti sangat mengerikan.

Gadis berambut pendek didepannya tersenyum ringan, “Tidak akan seperti yang kau bayangkan. Tenang saja, jangan takut. Mereka tidak akan melakukan apapun padamu. Mereka hanya ingin menguji mentalmu. Mungkin sedikit membentak-bentak, hanya itu.” Gadis itu tersenyum menenangkan, membuat Narin ikut tersenyum.

 

***

“Yeong…!!!” Gadis berambut pendek itu berteriak sambil tersenyum. Narin juga ikut tersenyum, sambil melambaikan tangannya dan berlari menghampiri gadis berambut pendek itu.

“Bagaimana?? Apa yang mereka lakukan padamu??” tanya Narin sambil meminum air botolannya, Ia membersihkan kaki celananya yang terkena lumpur. Saat itu tepat pukul 3 malam hari, dan mereka sedang mengikuti kegiatan orientasi siswa dibawah pengawasan sunbae mereka.

“Tidak ada. Mereka hanya membentakku dua kali, itu saja.”

Narin merengut cemburu mendengarnya, “Enak sekali. Kau tahu, mereka terus-menerus mengerjaiku. Di kelompokku ada 7 orang, tapi yang dikerjai hanya dua orang saja. Dan salah satunya aku.” omel Narin panjang lebar.

Gadis berambut pendek itu tertawa ringan, “Apa yang mereka lakukan??”

“Mereka memarahiku saat memukul nyamuk yang menggigit tanganku. Mereka bilang kenapa aku memukulnya. Nyamuk itu kan juga ingin mencari makan.!!” jelas Narin kesal. “Mereka itu bodoh ya?? Masa aku harus membiarkan tanganku menjadi santapan makan malam nyamuk. Yang benar saja!!!”

“Ssh–, pelan-pelan nanti ada yang mendengar.” Gadis itu menaruh jari telunjuknya dibibir. “Lalu apalagi??”

“Mereka menyuruhku berpegangan tangan dengan laki-laki yang tak kukenal, dan menyuruhku mengucapkan ‘Saranghae’ pada laki-laki itu, dan mereka semua tertawa terbahak-bahak setelahnya. Kemudian mereka menyuruhku berguling-guling diatas rumput yang penuh lumpur, dan masih banyak lagi.”

“Hahaha…. Sepertinya kau sedang sial… Bertahanlah. Tinggal beberapa jam lagi, lalu kita bisa hidup bebas sebagai seorang mahasiswa.” Gadis itu tertawa lalu menepuk-nepuk punggung Narin dari belakang.

“Ah, senang rasanya melihatmu. Kau tahu, kalau aku tidak melihat wajahmu. Aku pasti sudah mengira kalau aku hidup di tempat pembantaian..” ucap Narin sambil tersenyum tulus.

“Ini memang tempat pembantaian kan?? Ya sudah, kembalilah ke kelompokmu, waktu istirahat sudah habis, jangan sampai terlambat dan dimarahi. Bye, Yeong, bertahanlah!!”  

Saat itu aku benar-benar merasa kau membantuku bernafas dengan benar. Karena ada kau, aku berhasil melewati semua sunbae yang kejam itu. Dan sejak saat itu, kau mendapat posisi yang tinggi dalam hari-hariku.

 

***

“Aku akan pindah.”

Narin tersentak saat mendengar kata-kata mengejutkan dari gadis berambut pendek itu. “Be..Benarkah??” tanya Narin berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

“Masih kemungkinan. Kalau aku lulus ujian di universitas itu, aku akan pindah. Tapi kalau tidak, aku akan tetap disini.”

“Kenapa harus pindah ke universitas itu??”

“Karena aku tidak cocok dengan pelajaran disini. Kau tau kan aku tidak terlalu mengerti dengan teknologi. Aku lebih suka hal-hal berbau ekonomi dan matematika. Lagipula kalau aku bisa lulus dari universitas itu, aku bisa langsung mendapatkan pekerjaan, orangtua ku juga pasti lebih menyukainya.”

“Itu artinya aku tinggal sendiri?? Kau kejam sekali. Tidak usah pergi saja ya?? Disini kan juga enak..” bujuk Narin.

“Hahaha.. Aku belum tahu. Lagipula belum tentu lulus kan??”

***

If destiny tells that they will go…

Let them go with their wings, God…

But if your command tells that they will stay with me…

Let us be together forever under this briliant sky, God…

Let us…

 

 

Itu kata-kata yang tertulis di diaryku saat hari-hari pengumuman ujianmu sudah dekat. Yah, aku takut sendiri, tapi aku ingin kau mendapatkan keinginanmu. Itu mimpimu, aku pasti akan mendukungmu dan memberikan senyumanku untukmu. Namun sebuah pesan datang ke ponselku di hari pengumuman.

“Selamat Yeong, doamu terkabul. Aku tidak lulus ujian universitas itu. Aku tidak akan pergi, tepat seperti apa yang kau inginkan bukan??”

Aku tak tahu apa maksud sebenarnya dari pesan itu, tapi aku terluka membacanya. Kau mengatakannya seolah-olah aku mendoakanmu tidak lulus. Seolah-olah aku mendoakan agar kau tidak bisa mendapatkan seperti apa yang kau impikan. Aku benar-benar terluka. Apa menurutmu aku teman yang seperti itu??

***

Kemudian semua berjalan dengan sangat baik, ada kau dan ada aku. Kita selalu berjalan bersama. Tertawa, makan, belajar, semua kita lakukan bersama. Senang rasanya bisa menghabiskan hari-hariku bersamamu. Setiap hari aku datang ke kampus, senang saat tau aku akan menghabiskan waktuku satu hari lagi tertawa bersamamu.

“Cepat makan. Nanti kalau punyaku habis duluan. Kau pasti tidak akan makan punyamu lagi. Kau ini kenapa sih benci sekali makan sendirian??”

Kau selalu mengomeli makanku yang payah, namun aku senang itu artinya kau memperhatikanku. Kau lah yang paling mengerti aku. Kau selalu menjadi orang pertama kucari untuk apapun itu.

Setelah itu dua orang lain datang diantara kita, membuat teman kita semakin bertambah, namun kita tetap dekat.

“Kalian dekat sekali ya.. Seperti soulmate..”

Seseorang mengatakan seperti itu pada kita, dan kita hanya berpandangan dan tertawa terbahak-bahak.

Namun masalah mulai datang. Entah apa sebenarnya masalah itu, jangan tanya padaku, aku juga tidak tahu. Namun saat itu kita berpencar. Kau berpegangan pada teman yang satu sementara aku berpegangan pada teman yang lainnya. Walaupun akhirnya kita berbaikan, tapi masalah kecil itu seperti menjadi awal kutukan untuk kita.

Ya. Masalah terus saja datang, tanpa kita tahu apa penyebabnya. Kau bersamanya dan aku bersama yang lainnya, tanpa sadar kita menjadi sangat jauh. Kita bahkan mulai tak bicara satu sama lainnya.

Kita seperti aktris hebat dengan kemampuan akting yang mengagumkan. Kita pulang bersama, makan disatu meja yang sama dengan yang lainnya, duduk di deretan yang sama, namun tak berbicara sedikit pun. Ya, kita sanggup tidak mengatakan apapun selama berhari-hari.

“Kau sudah makan??”

“Sudah.”

“Kau tidak pulang??”

“Duluan saja.”

Hanya itu kata-kata yang kita ucapkan setiap harinya. Tak lebih dari itu. Saat ada seseorang yang bertanya, ‘ada apa??’. Kita akan saling memandang dan tertawa sambil berkata, ‘memangnya ada apa??’

 

Tidak ada yang menyadarinya, bahkan dua orang yang datang diantara kita itu. Kita berakting dengan sangat baik,bukan??

 

***

 

Saat itu kau mulai mengenal Eunhyuk, dan sangat menyukainya. Sementara semua orang tahu aku sangat menyukai Donghae. Kemudian hari itu, kita bersama yang lainnya beramai-ramai menonton video ‘I wanna Love you’. Dan seseorang berkata,

“Eunhyuk, Donghae. Kau Eunhyuk dan kau Donghae. Kalian memang soulmate..”

Aku mengangkat kepalaku dan melirik ke arahmu, yang ternyata juga sedang melihat ke arahku, kemudian kita mengalihkan pandangan kita.

 

Ya, ‘soulmate’ bukanlah sesuatu untuk kita. Mereka tidak tahu. Tidak, mereka tidak tahu.

*******

“Tiiiiittt…. Tiiiit….”

Sebuah klakson berbunyi dengan keras menyadarkan Narin dari lamunan panjangnya. Sebuah bus berhenti tepat dihadapannya.

“Nona, apa kau tidak mau naik?? Ini bus terakhir yang lewat. Kalau kau tidak naik, kau harus menunggu bus berikutnya besok pagi.”

Narin memandang sekelilingnya. Sudah gelap. Ia sama sekali tidak sadar sudah menghabiskan berjam-jam melamun sendirian. Hujan juga sudah tak lagi turun, hanya meninggalkan jalanan basah. Narin mengusap matanya, dan bangkit.

“Nde, ahjussi. Aku naik. Kamsahamnida…”

*****

1.5 tahun berlalu tanpa terasa. Kita selalu bertemu setiap harinya. Kita masih duduk di kelas yang sama, dan berdiri di lantai yang sama. Tak ada telepon, tak ada pesan, hanya sepatah dua kata yang tak penting. Kita berdiri berhadapan namun tak lagi bisa saling memandang. Semuanya kita lalui sambil menanggung luka masing-masing.

 

1,5 tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi kau tahu kita artis yang hebat. Kita sanggup melakukannya selama 1,5 tahun tanpa masalah. Mereka bilang, waktu bisa menyembuhkan luka. Tapi waktu sepertinya tidak ingin membantuku melupakanmu. Ya, aku bohong. 1,5 tahun tidak kulalui tanpa masalah. Ini sangat berat.

 

-enD-

For you who read this, just pass it. You don’t need to comment this one..

Please don’t ask ‘what happen?? why??’ or something like that
coz I can’t answer it.

tapi aku juga gak mungkin mengabaikan org yang sudah mengkomen
dan tidak menjawabnya,, so please don’t ask..

Annyeong~~

3 thoughts on “Heartless…

  1. Hanya mau bilang bersabarlah. Luka yg udah tertoreh memang sangat sulit untuk dilupakan atwpun dihapus. Mau bgaimanapun kita melupakannya luka itu akan kembali terasa dan begitu menyesakan apalagi jika luka tsb ditorehkan oleh org terdkat, kita cinta dan kita sayangi.
    bersabarlah dan jangan terlalu larut dalam perasaan itu. Cobalah untuk membwt luka tsb pelajaran untuk kita untuk kdpnnya.
    dapet 1 pelajaran dari kamu🙂
    CHEER UP YEONG !!!

    • Cheer up!!!!😀

      Yg dpat pelajaran itu kan aq…
      Kan kamu yg lagi ngasih aku wejangan..
      xixixixix🙂

      Gomawoyoo~~

      Memang justru orang terdekatlah makanya terasa sakit…
      Hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s