[Onespace] A So (Not) Romantic Valentine – Two

Previously–

Ia menutup ponselnya setelah selesai menelpon Hyora kemudian mengeluarkan kamera digital miliknya dari dalam tas. Setelah puas menertawai sekaligus mengagumi semua foto hasil jepretannya, tanpa sengaja ia melirik ponselnya yang menunjukkan pukul setengah lima sore. Ia pun mendesah.

“Tch—Lee Donghae, kau benar-benar tidak akan datang, eh?? Ya sudah, masih banyak lelaki tampan yang bisa kutemui daripada harus menunggumu..!!”

“Kukira kau sudah tidak ingat lagi pada seseorang bernama Lee Donghae…”

====================================================================================

“Kukira kau sudah tidak ingat lagi pada seseorang bernama Lee Donghae…”

Suara lembut itu membuat Narin terbelalak. Suara yang sudah sangat dikenalnya. Suara yang sangat ingin didengarnya seminggu belakangan ini. Ia berbalik dan terperangah. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan dengan topi hitam. Ditambah sunglasses besar yang menghalangi Narin melihat bola mata kesukaannya. Wajah tampan itu juga dipenuhi keringat dan tampak memerah. Di tangan kanan pemuda itu tersampir jaket biru yang sepertinya dilepas sejak tadi karena kepanasan. Ekspresinya dingin dan tampak menyeramkan, seperti singa yang akan mengamuk jika ada yang berani menyentuhnya.

Namun keterkejutan itu hanya beberapa saat. Cho Narin justru tertawa bahagia, menubruk pemuda tampan didepannya dan memeluk pinggangnya riang, “Hae-hae~~~”

Lee Donghae, pemuda tampan itu, masih dengan ekspresi dinginnya, melepaskan pelukannya, menarik kerah belakang baju Narin, dan menariknya menjauh, seperti menjauhkan anak nakal yang ingin menempel terus pada ibunya. “Siapa yang memberimu ijin memelukku??” tanyanya dengan suara lembut khas miliknya namun entah mengapa terasa menakutkan.

Narin mengerucutkan bibirnya, berusaha menatap mata Donghae namun mendecak kesal karena terhalang sunglases, “Tch—galak sekali!!” dengusnya.

Donghae berjalan memutar kearah bangku, dengan sengaja menabrakkan bahunya dengan bahu Narin saat melewati gadis itu. Ia melepaskan sunglasess miliknya dan memasukkannya ke dalam tas putih milik Narin yang tergeletak di atas bangku. Donghae pun kemudian duduk dengan kedua tangan terjulur ke kiri dan kanan sandaran bangku, juga kaki kanan yang disilangkan, tak lupa dengan wajah angkuh miliknya.

“Aku haus. Cepat belikan aku minum.” perintahnya tanpa memandang kearah Narin.

Narin memicingkan matanya, mengomel tanpa suara mendengar perintah dengan nada suara tidak menyenangkan itu. Ingin sekali rasanya menjambak wajah angkuh itu. Padahal mereka baru saja bertemu, belum ada beberapa menit, tapi Donghae sudah membuatnya kesal. Tapi tak apa, saat ini rasa senangnya sedang ada di level tertinggi. Fakta kalau Donghae ada disini, disampingnya, membuatnya gembira. Ia bahagia, ternyata Donghae benar-benar datang mencarinya.

Narin pun mengambil dompet miliknya dari dalam tas dan beranjak hendak ke supermarket terdekat.

“Siapa yang mengijinkanmu pergi?? Aku merasa belum mengatakan harus membeli apa..”

Narin yang sudah berjalan beberapa langkah terpaksa berbalik. Dengan wajahnya yang dibuat setenang mungkin, ia menjawab, “Rasa jeruk kan??”

Donghae mengangguk, lalu menolakkan dagunya menyuruh Narin pergi. Namun baru dua langkah, Donghae sudah memanggilnya lagi. Narin berbalik, menghentakkan kakinya kesal, namun menutup bibirnya rapat, mencegahnya mengeluarkan omelan panjang yang sudah ditahannya. Ia diam ditempat menunggu perintah selanjutnya.

“Harus yang dingin!!” perintah Donghae lagi, masih dengan posisi angkuhnya yang sangat menjengkelkan itu.

Narin kembali berjalan, namun lagi-lagi dipaksa berbalik, membuatnya berteriak kesal, tak sanggup menahan amarahnya, “Apa lag—“

“Jangan sampai tersesat…” ucap Donghae pelan dengan wajah datar, kelihatan tidak ikhlas, namun cukup membuat Narin memutar tubuhnya cepat dan berlari pergi dengan sebuah senyuman yang tak lepas dari wajahnya.

===================================================================================

Narin berjalan sambil menggandeng sekantung plastik berisi beberapa kaleng minuman dingin rasa jeruk, tak lupa susu strawberry untuknya. Langkahnya ringan sambil sesekali bersenandung kecil. Tak ada yang tau bagaimana senangnya dia.

Mulanya ia benar-benar sudah putus harapan, ia sudah pasrah kalau Donghae tidak akan datang. Memang sejak awal kemungkinannya terlalu kecil. Sekalipun begitu, sebenarnya Narin tetap berharap, namun saat melirik jamnya tadi, harapannya hilang. Jadwal Donghae mungkin baru selesai tengah malam nanti. Padahal Narin berharap, kalau Donghae datang, mereka bisa pulang bersama besok ke Korea.

Tapi, saat mendengar suara itu, suara lembut kesukaannya itu, Narin tau Donghae selalu ada untuknya. Lagi dan lagi Donghae mengabulkan permintaannya tanpa perlu ia sebutkan. Donghae seperti tau apa yang ada dipikirannya. Hanya Lee Donghae satu-satunya yang mengerti Cho Narin. Lee Donghae-nya Narin.

Tapi tentu saja ini semua membuatnya tidak enak hati. Narin merasa amat sangat bersalah sekarang. Donghae pasti sudah berlari-lari mencarinya sejak tadi, melirik dari kausnya yang basah karena keringat. Kalau dipikir-pikir lagi, Narin juga tak tau alasan apa yang membuatnya pergi tanpa memberitahu Donghae. Ia tidak sedang marah pada Donghae. Ia juga tidak sedang punya masalah sampai ingin sendirian seperti yang biasa ia lakukan. Lalu apa sebenarnya alasannya?? Narin mengangkat bahunya. Ia berjanji, lain kali akan berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu.

Tapi yang menjadi masalah adalah Donghae sedang sangat marah sekarang. Ekspresinya itu sangat menakutkan. Sekalipun Lee Donghae itu seorang aktor, dan sedang berakting marah, ia tidak akan bisa mengeluarkan wajah seperti itu. Ekspresi itu terlalu real, bukan ekspresi yang bisa dibuat-buat. Itu hanya bisa dibuat oleh orang yang memang sedang  menahan amarahnya. Narin bergidik ngeri. Ia hanya punya waktu 3 jam untuk membuat Donghae tersenyum lagi. Jika tidak, itu artinya Valentine yang sudah ia mimpikan akan benar-benar berakhir hanya sebagai mimpi. Dan Narin tidak ingin itu terjadi. Tapi membujuk Donghae?? Sepertinya bukan hal yang terlalu sulit. Lee Donghae itu kan terlalu baik hati. Benar kan??

Narin berjalan sambil mengayunkan kantungan plastik di tangannya. Butuh waktu beberapa menit untuknya menemukan tempat dimana tadi ia meninggalkan Donghae. Saat sampai, Donghae sedang sibuk dengan sesuatu sampai tidak memperhatikannya datang.

Narin duduk disamping Donghae, meletakkan belanjaannya dengan sedikit keras sehingga menimbulkan suara agar Donghae mendengarnya. Namun Donghae masih sibuk dengan sesuatu ditangannya. Dan wajahnya itu entah mengapa bertambah mengerikan dibandingkan beberapa menit yang lalu Narin meninggalkannya.

“Hae-hae…” panggil Narin pelan.

“Jadi ini yang kau cari ke Jepang?? Hmm… Aku baru tahu..” Suara sinis itu membuat aura disekitar terasa dingin. Donghae, dengan kepala yang dimiringkan, menatap kamera digital berwarna pink milik Narin dengan wajah datar, tampak tidak berminat. Tatapan matanya tertuju pada foto-foto yang terus berganti setiap kali Donghae menekan tombol disebelah kanannya. Ia menggenggam kamera kecil itu biasa saja, tapi terasa seperti meremasnya dengan sekuat tenaga, seakan punya hasrat untuk meremukkannya dengan segera.

Narin melirik kamera digital yang ada ditangan Donghae, dan terbelalak dengan foto yang muncul. Foto-foto pria asing yang sedang menunjukkan abs-nya yang sengaja disimpannya untuk Hyora. Walau tak bisa dipungkiri, ia juga terkadang senang melihatnya. Cepat-cepat ia menariknya dari tangan Donghae dan menyimpannya ke dalam tas putihnya, “Aniya. Itu… Itu Hyora onnie yang memintaku mengambilnya. Aku hanya disuruh. Jjinjaro..”

Donghae, tampak sangat tidak tertarik, menjawab, “Geuraeyo?? Arrasso.” Ia mengambil sekaleng minuman dari plastik belanjaan Narin, membukanya, lalu meminumnya, tanpa sepatah katapun.

Narin mengerucutkan bibirnya. Donghae tampak benar-benar marah. Tak ada senyum diwajahnya sejak tadi. Tak ada tatapan lembut yang selalu menjadi kesukaan Narin. Tak ada Donghae yang biasa.

Narin terdiam. Kepalanya sibuk memikirkan cara yang tepat untuk membuat Donghae kembali tersenyum. Padahal Donghae tak biasanya semarah ini. Selama ini, walaupun Narin berbuat salah, Donghae pasti langsung memaafkannya. Tidak seperti ini. Apa kesalahannya kali ini begitu besar?

Narin tersenyum, mencoba mengabaikan wajah mengerikan Donghae. Ia menarik kembali kamera digital dari dalam tasnya, dan menunjukkan sebuah foto pada Donghae. “Hae-hae, lihat. Kemarin aku berkenalan dengan orang asing dari Amerika. Yang ini namanya Seth dan yang ini Jason.”

Narin menunjuk dua orang asing yang berfoto bersamanya. Mereka berpose dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V berlatarbelakang pantai. Kedua lelaki asing itu hanya mengenakan celana pantai berwarna biru dan merah, tanpa mengenakan atasan apapun. Keduanya juga memegang papan selancar ditangan yang satunya, dan ketiganya tersenyum lebar, kelihatan seperti sudah kenal lama. “Mereka sangat baik padaku. Mereka yang kemarin membantuku saat salah jalan. Kau tahu, mereka bilang aku ini lucu. Mereka bahkan……”

Narin berhenti. Tak jadi melanjutkan ceritanya. Cepat-cepat ia memasukkan kembali kameranya ke dalam tas. Donghae sama sekali tidak melihat ke arahnya. Bahkan mengacuhkannya. Namun wajahnya semakin lama semakin menakutkan seiring Narin bercerita.

Narin kembali terdiam. Menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan dan kakinya terlipat rapi tanpa sadar, layaknya murid yang sedang kena hukuman. Diam-diam ia melirik Donghae dari sudut matanya, tapi tetap tak ada yang berubah dari ekspresi itu. Narin menarik nafas. Rasanya ingin menangis saja kalau seperti ini. Lebih baik Donghae marah-marah dan berteriak padanya seperti biasa, daripada diacuhkan dengan ekspresi menakutkan seperti ini.

Narin akhirnya tak tahan lagi. Ia menarik-narik ujung kaus Donghae, “Hae-hae…”

“Mwo??” Donghae mengucapkannya dengan sangat pelan tapi terasa tajam. Ia menoleh ke samping, pandangannya menusuk tepat pada Narin, membuat gadis itu membeku, tak jadi berkata-kata. Narin menunduk, mengambil nafas dalam-dalam, kemudian mengangkat kepalanya sambil tersenyum, mencoba mengabaikan.

“Hae-hae marah?? Ahh, Hae-hae pasti lelah mencariku, ya kan?? Kau pasti sangat khawatir. Padahal kan sebenarnya tidak perlu. Aku baik-baik saja.”

Donghae mendengus, “Jangan terlalu percaya diri Cho Narin-ssi..”

“Eeeiiyyy…. Tidak perlu berbohong. Aku tahu kau datang mencariku karena khawatir. Iya kan?? Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir..”

Donghae memicingkan matanya, sikap acuh Narin ternyata menyedot habis semua kesabaran yang dimilikinya.

“Bagaimana bisa aku tidak khawatir, hah?? Kau hampir membuatku kena serangan jantung!! Dimana pikiranmu sebenarnya?? Demi Tuhan Cho Narin-ssi, kau bahkan belum pernah keluar Seoul sendirian. Dan ini, ke Jepang?? Kau sudah gila atau sengaja ingin mempermainkanku?!!” amuk Donghae. “Beri aku satu alasan kenapa aku harus memaafkanmu!!”

Narin salah besar, Ia pikir akan lebih baik dimarahi panjang lebar daripada diacuhkan seperti yang memang dilakukan Donghae sejak mereka bertemu. Tapi ternyata dimarahi seperti ini juga tidak lebih baik. Ini sama mengerikannya dengan didiamkan. Namun ia masih mencoba untuk mengabaikannya.

“Karena kau… mencintaiku, ya kan??” ucapnya ragu-ragu sambil berusaha tersenyum.

“Hah… Demi Tuhan!! Jangan bercanda Cho Narin-ssi. Aku sedang lupa caranya tertawa. Apa kau tidak sadar kalau kesalahanmu terlalu besar?? Apa kau pikir ini menyenangkan?? Kau sangat keterlaluan kali ini. Kau tau itu??”

 Narin mengkerut. Ia berharap ada orang, siapapun itu, membawanya pergi jauh dari tempat itu, sehingga ia tak perlu lagi mendengar suara sinis itu lebih lama. Ia tidak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Mau tak mau ia harus mengakui kalau ia sudah sangat keterlaluan kali ini.

“Mi..Mianhae..” Narin menunduk semakin dalam. Ia bahkan tak berani mengangkat kepalanya barang sesenti pun.

“Apa seperti itu caranya meminta maaf?? Lihat aku, dan ucapkan dengan benar kalau kau memang merasa bersalah!!” bentak Donghae.

Narin mengangkat kepalanya lambat-lambat. Untuk pertama kalinya ia tidak ingin melihat bola mata itu. Yakin kalau ia mengangkat kepalanya ia tidak akan menemukan bola mata yang sama dengan yang selama ini menjadi kesukaannya. Yang selama ini membuatnya jatuh cinta. Namun tak ada pilihan lain. Mau tak mau ia harus melihatnya.

Narin menatap Donghae. Bola mata itu terlihat begitu dingin dan kelam. Tampak amarah didalamnya. Narin mencoba untuk tetap menatap namun tak lama matanya mengerjap-ngerjap dengan cepat dan terasa panas. Sekuat tenaga ia menahan sesuatu yang ingin mendesak keluar. Ia tidak ingin menangis. Tidak disaat seperti ini. Ia tidak ingin Donghae semakin marah padanya.

“Jangan menangis!!”

Dan air matapun lolos juga. Suara bentakan itu, siapapun pasti akan menangis mendengarnya..

=====================================================================================

Narin melangkah pelan dan lambat. Kepalanya terus menunduk, menatapi setiap langkah yang diambilnya. Pikirannya sibuk mencari cara untuk meminta maaf. Tapi tak ada satupun yang masuk ke otaknya. Ini tidaklah mudah baginya. Untuk pertama kalinya ada orang yang memarahinya sampai seperti itu.

Narin mendesah. Ia sendiri tidak menyangka, lelucon yang dibuatnya ternyata berakhir mengerikan. Ini jelas bukan sesuatu yang ia harapkan. Dan membuat seseorang sebaik Lee Donghae sampai berteriak seperti itu, telah dengan sukses menyiksanya. Tak ada yang tahu bagaimana rasa bersalah bertubi-tubi menyerangnya sekarang.

Membuat Lee Donghae sampai semarah ini, itu sama kejamnya seperti memukul anak anjing yang tak tahu apa-apa. Lee Donghae yang baik hati itu, ia bahkan tak tahu bagaimana caranya marah dengan benar. Selama belasan tahun hidup bersama, Narin bahkan sangsi Donghae pernah benar-benar marah pada member lain. Juga sebaliknya, tidak akan mungkin ada member yang tega membuatnya marah. Tapi Narin, yang bukan siapa-siapa, sudah berani melakukannya.

“Jalan yang benar!! Apa kau tidak bisa lebih cepat?!”

Lagi dan lagi Donghae membentaknya. Kemarahannya tak juga surut. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke hotel, dan Narin tidak punya keberanian untuk melangkah disamping Donghae. Ia berusaha menjaga jarak dengan berjalan pelan dibelakang lelaki itu. Narin sendiri kelihatan seperti sedang membuntuti Donghae, namun pada kenyataannya ia sangat ingin berlari dari tempat itu sejauh mungkin.

Jantungnya sejak tadi tak berhenti berdegup mengerikan. Narin ketakutan. Ia was-was menunggu kapan lagi Donghae akan membentaknya. Dalam hati ia terus bertanya-tanya, apa mungkin Donghae tidak akan memaafkannya lagi??

“Akh..” Narin terkesiap. Dengan cepat ia menyeimbangkan tubuhnya yang oleng. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan terus menunduk, ia tidak melihat kalau ternyata Donghae sengaja berhenti di depannya.

“Sudah kubilang, jalan dengan benar!!” Donghae menarik tissue yang tersembul dari dalam tas Narin untuk menyeka keringatnya yang bercucuran. “Apa kau masih ingat jalan kembali ke hotel??”

Narin memang sangat buruk dalam hal mencari arah. Ia gampang tersesat. Semua orang yang sudah lama mengenalnya, tahu dengan jelas hal itu. Narin sendiri mengakuinya. Ia tidak akan bisa menemukan sebuah tempat, jika belum menjalaninya berkali-kali. Itupun ia memerlukan waktu yang lebih lama dari seharusnya.

Tapi selama di Jepang, Narin merasa ia sudah jauh lebih baik. Berjalan-jalan sendiri membuatnya terlatih untuk selalu teliti dengan sekelilingnya. Di Korea, ia punya banyak orang untuk ditelepon jika memang ia tersesat, tapi di Jepang, ia tak mengenal seorang pun, itu yang membuatnya lebih berhati-hati. Walaupun ia harus berputar-putar terlebih dahulu, Narin selalu bisa menemukan kembali hotel tempatnya menginap.

Tapi gadis itu tak mengucapkan sepatah katapun, jelas. Ia bahkan tak sanggup untuk sekedar membuka mulutnya. Rasanya seperti ada orang bertanya padamu, tapi apapun jawaban yang kau berikan, kau tetap salah. Bahkan memilih diam pun akan tetap disalahkan.

Donghae menggaruk kepalanya gusar, “Jadi bagaimana caranya kau berjalan-jalan selama seminggu ini?? Apa kau terus-terusan meminta orang Amerika itu menemanimu, eh??” Narin menggeleng pelan, namun Donghae sepertinya tidak memperhatikan. “Itu alasannya kenapa aku tidak mengijinkanmu pergi sendiri. Aku bukannya melarangmu bersenang-senang sendirian, hanya saja kau itu terlalu ceroboh. Tidak semua orang asing yang kau temui itu sebaik yang kau pikirkan.”

Narin menghela nafas tidak kentara. Ada rasa sesak yang sangat mengganggu di dadanya, membuatnya tak bisa bernafas dengan benar. Tidak, ia tidak ingin menangis. Tidak setelah tadi Donghae memarahinya karena tak bisa menahan tangisannya. Tapi sampai kapan Donghae memperlakukannya seperti ini?? Kesalahannya besar, Narin mengakui itu. Tapi tak bisakah Donghae berhenti menghakiminya seperti ini?? Tak bisakah Donghae melihat kalau ia sudah menyadari semua kesalahannya?? Sudah cukup rasa bersalah yang menyiksanya, tak perlu lagi ditambah bentakan-bentakan yang menyudutkan. Ia bukannya baru membunuh orang.

Donghae menggigit bibir bawahnya, mencoba mencari cara, “Tapi kau tahu nama hotelnya kan?? Ah, kau pasti punya brosur hotelnya kan??”

Narin mengangguk. Ia membuka tas putihnya perlahan, namun sepertinya gerakannya terlalu lambat bagi Donghae. Donghae pun mendesah, dan membuka sendiri tas Narin dan mencari brosur hotel yang dibutuhkan sementara gadis itu diam mematung.

Donghae pun mencari arah ke Midori Hotel melalui GPS ponselnya, “Tidak terlalu jauh. Kajja..” Donghae meraih tangan Narin dan menariknya pergi, namun tak disangka Narin menariknya kembali, membuat Donghae berbalik dan memandangi gadis yang sejak tadi menunduk itu dengan pandangan bingung.

“A… Aku… Aku janji akan jalan dengan benar. A..Aku juga akan jalan dengan cepat..” Narin mengucapkannya takut-takut sambil menggenggam erat tas putihnya. Donghae memiringkan kepalanya, keningnya mengkerut bingung, namun ia akhirnya berbalik dan berjalan dengan Narin yang mengikutinya dari belakang.

=====================================================================================

Midori Hotel, 14 Feb 2012 07:30pm JPN

Narin menekuk lututnya ke atas kursi hotel, dan memeluknya erat. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini selain menatapi figur Donghae dari tempatnya duduk. Donghae sudah tertidur sejak tadi, sepertinya ia kelelahan setelah berkeliling Shibuya sejak siang. Sesampainya di hotel, ia langsung merebahkan diri setelah sebelumnya mewanti-wanti Narin untuk tidak pergi kemanapun.

“Jangan sampai aku harus mencarimu lagi..”

Itu kata-kata yang diucapkan Donghae sebelum tidur. Bahkan tanpa diancam seperti itu pun Narin tidak punya keberanian untuk melangkah dari tempatnya sekarang.

Narin tertawa miris saat melihat tanggal di ponselnya. Ia tak lagi ingat kalau ia begitu menunggu-nunggu malam ini. Valentine?? Ia bahkan ragu ia masih ingin merasakannya. Gadis itu mencoba menahan semua kekecewaannya. Di satu sisi ia mengakui kalau Donghae berhak memarahinya, tapi di sisi lain ia kecewa karena Donghae tak juga bisa memaafkannya. Ia sempat bertanya-tanya mana yang lebih baik, ada atau tidak ada Donghae malam ini.

Fakta kalau Donghae datang ke Jepang, menggunakan waktu liburnya yang seharusnya ia gunakan untuk beristirahat, untuk itu semua sebenarnya Narin sangat berterima kasih. Seharusnya ia tidak boleh berpikiran seperti ini, tapi apa mungkin tak ada Donghae, malam ini akan lebih baik??

Narin berjalan pelan, mencoba agar tak ada langkah kaki yang terdengar. Ia menarik ransel Donghae dari atas sofa dan membawanya ke balkon kamar. Ia duduk di lantai balkon sambil bersandar ke dinding. Narin kembali tersenyum miris. Di luar ternyata sedang gerimis, padahal selama seminggu di Jepang, tak sekalipun hujan datang. Selama ini ia selalu menyukai gerimis hujan, tapi sekarang apa hujan sedang ingin mengejeknya??

Ia mulai mengeluarkan isi tas Donghae satu persatu dan menyusunnya berurutan, seperti anak kecil yang sedang bermain rumah-rumahan. Dompet, ipod, ponsel, headphone, sebuah buku, pulpen, tiket pesawat yang sudah lewat, dompet untuk passport dan surat-surat, sunglasses, dan sebuah kamus bahasa Jepang.

Narin mulai memainkan barang-barang tersebut satu persatu. Mulai dari dompet Donghae, Narin juga mengeluarkan isinya satu persatu. Beberapa lembar uang Won Korea, juga beberapa lembar uang Yen Jepang. Foto-fotonya bersama Donghae, juga foto-foto member Super Junior lainnya yang disimpan Donghae. Tak lupa ia juga menyusunnya rapi satu per satu. Kalau ada yang melihatnya, pasti mengira ia anak autis yang sedang sibuk dengan mainannya.

Narin akhirnya beralih ke buku putih milik Donghae, yang ternyata buku yang digunakan Donghae untuk menulis lagu. Ada beberapa lirik lagu yang Narin kenal didalamnya. Ia mulai membuka halamannya satu persatu, membaca setiap kata-kata yang tertulis didalamnya.

“Donghae-ya, mianhae…”

=====================================================================================

Midori Hotel, 14 Feb 2012 09:30pm JPN

Donghae terbangun dari tidurnya saat jam menunjukkan pukul 09.30 malam. Ia merasa jauh lebih baik sekarang. Tidurnya nyenyak sekali, bahkan ia sempat lupa kalau ia sedang ada di Jepang. Sepertinya ia memang kelelahan. Berlari-lari keluar masuk toko di sepanjang Shibuya cukup membuat energinya terkuras, belum lagi ditambah harus marah-marah pada…… Narin? Dimana dia??

Donghae bangkit dari tempat tidur, dan melirik ke arah sofa yang ternyata kosong. Donghae mulai panik. Kalau gadis itu tidak ketiduran di sofa, lalu kemana dia?? Apa pergi lagi??

Donghae melangkah ke arah sofa mencari ranselnya untuk mengambil ponsel, namun ia tak bisa menemukannya. Padahal Donghae yakin sekali ia mencampakkannya ke sofa sesaat setelah sampai di kamar hotel. Ia pun kemudian melangkah ke arah balkon yang terbuka dan menemukan Narin yang tertidur bersandar ke dinding, sedikit tersembunyi oleh jendela balkon.

Lee Donghae mengerutkan keningnya melihat ranselnya yang tergeletak di lantai. Namun yang membuatnya terheran-heran adalah kenapa semua isinya ada diatas lantai?? Tersusun dengan rapi?? Begitu juga dengan isi dompetnya. Apa yang sebenarnya ada di pikiran gadis bodoh yang tertidur dihadapannya ini?? Apa dia sebegitu tidak punya kerjaan sampai melakukan hal yang tidak penting seperti itu??

Ia pun menggeleng-gelengkan kepala sambil mendengus geli, dan mulai memasukkan kembali barang-barangnya satu persatu. Namun berhenti saat melihat notes putih miliknya. Ada sebuah pulpen yang terselip didalamnya.

Donghae membukanya dan terkejut karenanya. Ada kata ‘mianhae’ yang ditulis berulang-ulang dengan tulisan yang sangat kecil sampai dua halaman penuh. Persis sama seperti hukuman yang diberikan Soesangnim jika tidak mengerjakan tugas saat di sekolah dulu.

Donghae mengutuki dirinya saat memandangi semua tulisan permintaan maaf itu. Sebegitu besarkah rasa bersalah yang Narin rasakan sampai ia harus melakukan ini semua?? Berapa lama yang dibutuhkannya untuk menulis semua itu?? Apa mungkin selama ia tertidur tadi, Narin terus duduk disini sambil mengerjakan ini semua??

Donghae ingin sekali memaki dirinya sendiri. Ia kini menyadari ia sudah benar-benar keterlaluan. Ia terbawa emosi sampai tak lagi bisa melihat bagaimana ketakutannya Narin sore tadi saat ia membentak-bentak gadis itu. Donghae seharusnya sadar, Narin itu cukup sensitif. Tanpa perlu dimarahi dan dibentak, gadis itu pasti sudah merasa bersalah. Namun apa yang dilakukannya?? Ia justru terus menerus menyudutkannya sepanjang hari dan tidak memberi Narin kesempatan sedikit pun untuk berbicara.

Setelah mengingat-ingat lagi semua perlakuannya, Donghae merasa sangat membenci dirinya. Apa seperti itu caranya memperlakukan orang yang disayanginya?? Kalau ia berbuat salah, tak bisakah memaafkannya saja saat ia meminta maaf?? Atau tak bisakah memberitahunya baik-baik agar ia tidak mengulanginya lagi. Pantas saja Narin menarik tangannya saat Donghae hendak menggenggamnya tadi. Gadis itu pastilah sangat ketakutan melihatnya sekarang.

Donghae terhenyak, ia memandangi wajah Narin-nya yang sedang tertidur, dan baru menyadari ada bekas air mata yang mengering di kedua pipinya. Donghae mengulurkan tangannya dan mengusapnya pelan.

“Mianhae…. Aku pasti sudah menyakitimu…” bisiknya.

Donghae mengelus-elus rambut gadis itu, saat Narin mulai bergerak-gerak dan akhirnya terbangun.

“Yeonng…” Donghae memamerkan senyumnya saat Narin yang masih setengah sadar memandanginya. Tangannya masih mengelus-elus kepala gadis itu.

Namun tak disangka, dengan gerakan cepat, Narin mundur ke belakang, tak sadar kalau ia bersandar ke dinding, membuatnya terantuk sedikit keras ke tembok. “Akh….”

“Omo…. Gwenchanna??”

Donghae cepat-cepat mengulurkan tangannya hendak mengelus bagian yang terantuk, namun ia terhenti saat melihat respon Narin. Gadis itu bukannya menepis tangannya. Yang dilakukannya justru lebih menyakitkan hati Donghae. Gadis itu menjauhkan dirinya, sambil menutup kedua matanya rapat-rapat, tampak ketakutan, membuat Donghae mengerang dalam hati.

Donghae kemudian dengan sangat hati-hati, menggenggam tangan Narin dan mengusapnya pelan, “Ayo pergi!! Aku lapar..”

=====================================================================================

Shibuya, 14 Feb 2012 10:00pm JPN

Donghae masuk ke sebuah restauran sushi dengan Narin yang mengikuti di belakangnya. Gadis mungil itu terus saja menjaga jarak dengannya sepanjang perjalanan mereka ke restauran. Padahal biasanya Narin tak pernah bisa tidak menggandeng tangannya, dan Donghae yang dengan senang hati menggenggam tangan kecil itu dalam tangannya.

Donghae memilih tempat duduk diujung yang agak sepi. Mereka duduk berhadapan namun tak ada satu katapun yang keluar. Donghae mendesah pelan, tak tahu bagaimana cara memperbaiki suasana yang tidak menyenangkan ini.

“Kau mau makan apa Yeonng??” tanya Donghae dengan senyum diwajahnya dan pandangan lembut yang membuat Narin mengerjap-ngerjap. Narin menggeleng pelan, ragu-ragu menatap mata Donghae.

“Tidak?? Kau tidak lapar? Bukankah kau belum makan sejak siang tadi?? Ayo makanlah…”

Narin kembali menggeleng. Ia berbohong, jelas. Tentu saja ia lapar. Belum ada satu makanan pun yang masuk ke perutnya sejak terakhir ia makan jam 12 siang tadi. Dan sekarang sudah hampir jam 10 malam. Tapi ia tidak ingin makan. Perasaannya belum membaik sejak sore tadi, dan ia yakin itu cukup mempengaruhi selera makannya saat ini.

Donghae menatap gadis dihadapannya sedih. Seberapa banyak ia melukai perasaan Narin-nya itu. Narin yang biasanya ceria, yang biasanya selalu bersemangat setiap kali diajak ke restoran sushi. Sepertinya kedatangannya ke Jepang hanya menghancurkan liburan Narin. Gadis itu jelas-jelas terlihat begitu bahagia sebelum Donghae mulai membentak-bentaknya. Dan lihat sekarang, Narin terlihat begitu menyedihkan, membuat Donghae tak bisa berhenti mengutuki dirinya.

“Kau mau kita keluar saja??” tanya Donghae dengan lembut.

Narin cepat-cepat mengangkat kepalanya, “Aniya.. Tidak perlu. Bukankah kau lapar?? Aku… Aku juga akan makan.” Narin mengubah pikirannya, ia tidak ingin membuat Donghae marah lagi, padahal tadi Donghae sudah mulai tersenyum padanya. Namun Narin mendesah lega, saat ternyata Donghae masih mempertahankan senyumnya.

“Ani… Kita keluar saja. Kita cari tempat yang lebih enak. Kajja..” Donghae menarik tangan Narin keluar setelah sebelumnya menarik ranselnya dari atas meja. Sesaat setelah mereka keluar dari restoran, Narin mencoba menarik tangannya, namun Donghae menggenggamnya semakin erat, dan menyeret Narin berjalan lebih dekat dengannya.

“K..Kita mau kemana??” tanya Narin, matanya sibuk memandangi tangannya yang digenggam erat Donghae. Rasanya sangat melegakan, apa itu artinya Donghae sudah memaafkannya??

“Mmm….” Donghae mengelus-elus dagunya seperti berpikir, dan Narin memperhatikannya baik-baik. Rasanya ia sudah tidak terlalu takut lagi melihat wajah itu. Donghae juga sudah kembali memanggilnya dengan nama kecilnya, tidak lagi dengan nada formal.

Donghae tiba-tiba berhenti, ia memiringkan kepalanya agar bisa menatap mata Narin, “Bagaimana kalau kita merayakan Valentine??”

Narin yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu, sedikit memundurkan wajahnya, “Va.. Valentine??” ulangnya tergagap.

Donghae menarik tangan Narin lagi dan kembali berjalan, “Hmm.. Bukankah ini 14February?? Kenapa kita tidak merayakannya?? Kapan lagi kita bisa ada di negara orang seperti ini, berdua saja??”

Narin tersenyum kecil, ada perasaan senang yang perlahan-lahan mengisi hatinya. Benarkah Donghae mengajaknya merayakan Valentine?? Benarkah Donghae sudah tidak marah lagi padanya?? Sama sekali??

======================================================================================

Qfront Building, Shibuya 10.30 PM JPN

Donghae membawa mereka masuk ke sebuah acara musik yang sengaja dibuat untuk merayakan Valentine juga sekaligus sebagai acara penggalangan dana untuk membantu daerah-daerah terpencil yang menjadi korban Tsunami beberapa waktu yang lalu.

Acaranya cukup menyenangkan, tidak terlalu ramai namun tetap terasa meriah. Hanya ada sekitar 50 pasangan yang datang, mulai dari muda-mudi sampai orang tua. Di depan, terdapat panggung yang menampilkan band-band yang menyanyikan lagu-lagu bertema sweet love yang khusus dipilih untuk merayakan malam ini.

Tidak membutuhkan tiket atau alat pengenal apapun untuk masuk ke acara itu, membuat Donghae bisa dengan bebas masuk. Cukup dengan memasukkan sumbangan pada kotak yang disediakan, kita sudah bisa masuk juga menikmati makanan yang disediakan.

Donghae menarik Narin untuk mengambil makanan, dan Narin tak bisa menyembunyikan perasaannya saat melihat apa yang terhidang. Begitu banyak makanan, namun yang menarik perhatiannya adalah Chocolate Fountain dengan campuran marshmallow juga strawberry. Gadis itu tak bisa tidak tersenyum saat melihat strawberry yang begitu menggoda matanya itu.

“Kau suka??” Narin mengangguk. Donghae tersenyum saat melihat ekspresi gadis disampingnya. Ia senang Narin bisa kembali tersenyum walaupun masih setengah-setengah.

Kemudian mereka memilih tempat duduk di pojok gedung. Dari atas itu mereka bisa melihat pemandangan lalu-lalang para pejalan kaki melintasi penyebrangan Shibuya yang terkenal paling ramai. Melihat orang berjalan dari lima arah yang berbeda, seperti menuju satu titik tengah namun tidak bertabrakan.

Donghae mengamati gadis dihadapannya yang sedang asyik menghabiskan chocolate fountain-nya. Ia masih merasa bersalah pada gadis itu, walaupun sepertinya Narin sudah mulai menatapnya lagi.

Donghae mengulurkan tangannya, meraih tangan Narin yang bebas, dan menggenggamnya, “Mianhae..”

Narin mengalihkan wajahnya dan menatap Donghae. Donghae tersenyum, namun wajahnya terlihat sendu.

“Mianhae.. Aku sudah keterlaluan. Tidak seharusnya aku marah-marah seperti itu..” ucap Donghae.

Narin menggeleng, “Tidak. Aku memang salah. Seharusnya aku memberitahumu. Yang kulakukan itu terlalu kekanakan.”

Donghae mengangguk, “Eung, kau memang salah..” Membuat Narin mengerucutkan bibirnya. “Tapi itu bukan alasan untukku membentak-bentakmu seperti itu. Mianhae… Jangan menangis lagi karenaku..” ucap Donghae sambil meremas tangan Narin, menguatkan setiap ucapannya.

Narin mengangguk sambil tersenyum. “Nado Mianhae… Aku tidak akan melakukannya lagi. Jadi, kau sudah tidak marah lagi kan??”

“Asal kau tidak melihatku dengan ekspresi ketakutan lagi seperti tadi..”

Narin tersenyum semakin lebar, “Gomawo Hae-ya..”

“Kajja, kita harus cepat. Kalau tidak kita bisa kelewatan..” Donghae menarik tangan Narin lagi, dan membawanya pergi.

=====================================================================================

Hachiko Square, Shibuya 11.00 PM JPN

Narin tak bisa menutupi rasa takjubnya melihat pemandangan dihadapannya. Gadis itu bahkan tak ingin repot-repot menutup mulutnya. Malam ini di Shibuya ternyata ada parade untuk merayakan hari Valentine. Kalau tahun lalu diadakan di siang hari, tahun ini dirayakan di malam hari. Dimulai dari pukul 8 tadi, dan berakhir hingga jam 12 malam nanti. Donghae sendiri tahu acara ini dari brosur hotel.

Untuk parade ini, setengah jalan di Shibuya sengaja di kosongkan, dan dikhususkan untuk para pejalan kaki. Beribu orang hampir memadati jalan raya itu, dan hampir seluruhnya punya tujuan yang sama, melihat parade.

Parade yang dimaksud adalah mobil-mobil yang disulap hingga berubah bentuk mirip seperti coklat, permen, atau bentuk love besar. Ada juga mobil-mobil kecil yang ikut berjalan beriringan sambil menjajakan dagangannya. Semuanya menambah ramai suasana.

Bukan valentine namanya kalau tidak terlihat pasangan yang berjalan sambil bergandengan tangan. Semuanya berjalan menghabiskan waktu dari satu toko ke toko yang lain yang memang buka 24 jam untuk ikut memeriahkan suasana.

“Woahh… Hae-hae, lihat… yeppuda..” Narin menunjuk kembang api cantik yang dipasang salah satu mobil parade yang lewat. Wajahnya tampak begitu terkagum-kagum. Melihat itu Donghae merasa lega sudah mengajak Narin ke tempat itu.

Puas melihat parade, Donghae kembali menarik Narin berjalan. Ia bermaksud untuk membeli minuman di Starbucks yang ada disekitar situ. Donghae menggenggam tangan kecil itu erat-erat, tak sekalipun melepaskannya. Begitu banyak orang yang berjalan bersama-sama dengan mereka, dan ia tidak mau mengambil resiko Narin terpisah darinya.

“Kau masih ingin melihat-lihat??” tanya Donghae, yang dijawab dengan anggukan antusias dari Narin.

Donghae kemudian mengajaknya ke Shibuya 109 (Shibuya ichi maru kyu). Di gedung sepuluh lantai itu terdapat ratusan butik kecil yang menjual berbagai macam barang dan pernak-pernik. Dan mereka menghabiskan waktu berkeliling dan berbelanja barang-barang lucu.

======================================================================================

Donghae berjalan pelan menuju Midori Hotel tempat Narin menginap, sambil menggendong Narin di punggungnya. Gadis itu tampaknya sudah sangat kelelahan setelah seharian penuh berkeliling. Sedikit mengantuk juga sepertinya. Wajar saja, ini sudah hampir jam 2 pagi. Namun wajah antusiasnya belum juga hilang sejak tadi, membuat Donghae tak henti-hentinya tertawa geli. Hal-hal biasa saja bisa membuatnya terkagum-tagum. Gadis itu bahkan bisa menganga lebar hanya karena melihat sebuah billboard. Memang billboard itu berukuran sangat besar. Tapi billboard-billboard besar yang memamerkan produk-produk seperti itu sangat banyak di Jepang. Namun akhirnya Donghae bisa memakluminya. Ini pertama kalinya untuk gadis itu melihat dunia selain Seoul.

Mereka terus berjalan mengitari taman. Donghae sengaja memilih jalan memutar taman untuk menghindari kerumunan orang-orang yang masih asyik menikmati malam. Walaupun itu artinya mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai, tapi setidaknya mereka tak perlu berdesak-desakan.

“Kau senang hari ini??” tanya Donghae sambil terus berjalan. Ia kemudian tersenyum saat merasakan kepala Narin yang mengangguk-angguk di punggungnya.

“Apa hari ini sudah mendekati seperti hari valentine yang kau impikan itu??”

“Ini bahkan jauh lebih indah dari yang kubayangkan..”

Donghae tersenyum lebar, “Ahh, senang mendengarnya..”

Kemudian suasana hening, tak ada satupun yang berbicara, membuat Donghae mengira kalau Narin sudah tertidur.

“Hae-hae…”

“Mmm….” Jawab Donghae saat mendengar panggilan itu. Ternyata Narin belum tertidur.

“Terima kasih. Terimakasih karena sudah memberiku valentine yang indah. Terima kasih juga karena sudah mau memaafkanku. Dan terimakasih banyak karena sudah datang mencariku..”

Donghae hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.

“Dan juga maaf karena—“

“Ssh—” potong Donghae. “Aku juga bersalah. Jadi kita lupakan saja semua, bagaimana?? Kedengarannya lebih baik kan??”

Narin mengangguk. Donghae mengacungkan jari kelingkinnya dan Narin menyambutnya dengan senang hati. “Yaksok..” mereka mengucapkannya serempak.

“Ya sudah. Tidurlah…”

Narin mengeratkan pelukannya pada leher Donghae, dan mencari posisi yang lebih enak.

“Oh ya, sebelumnya mau kah kau berjanji satu hal padaku??” pinta Donghae, membuat Narin kembali menegakkan kepalanya.

“Berjanjilah, sesampainya di Korea, tolong jangan beritahu Hyora, kalau aku sudah membentakmu. Dia bisa-bisa mencekikku, dan tak mengijinkanku datang lagi ke rumahmu..”

Narin terkiki geli, “Hyora onnie tidak sekejam itu…”

“Tetap saja..” sungut Donghae.

“Arrasso, aku tak akan memberitahunya..” janji Narin.

“Gomawo… Selamat tidur..”

======================================================================================

Lee Hyora Apartment, 10:00 PM KST

Lee Hyora sedang sibuk memotong-motong daun bawang untuk memasak ramen. Lee Hyukjae tiba-tiba saja datang ke apartemennya dan memaksanya memasak dengan alasan ia sedang sangat kelaparan.

Ia baru saja mengirimi Donghae pesan, memaksa lelaki itu memberitahunya ancaman apa yang ia maksud pagi tadi. Ia hampir mati penasaran menebak-nebak tentang ancaman itu, dan bertanya pada Lee Hyukjae juga tidak ada gunanya. Lelaki bertampang mesum itu pasti berbohong padanya.

Hyora yakin sekali kalau Donghae akan memberitahunya, karena Hyora sudah mengancam Donghae. Kalau lelaki tampan itu tidak memberitahunya, ia akan menjadikan Narin korban penganiayaan selama seminggu. Lee Hyora itu memang menyayangi Narin, tapi kalau sudah menyangkut soal Lee Hyukjae ia bisa jadi orang yang paling mengerikan sedunia.

Saat itu, ponselnya berdering. Hyora melirik Eunhyuk yang sedang menunggu makanan sambil sesekali memejamkan matanya, sebelum membuka pesan dari Donghae. Namun setelah itu ia merasa darahnya mendidih.

“LEE HYUKJAE!!!”

Eunhyuk terkesiap sesaat setelah membuka matanya. Hyora sedang berjalan ke arahnya sambil mengacungkan pisau, dengan wajah horor.

“Hyora-ya, ada apa?? Jangan bermain-main dengan pisau!!” pekik Eunhyuk sambil menunjuk-nunjuk pisau yang dipegang gadis itu.

Hyora, seperti orang yang baru tersadar, melirik pisau yang dipegangnya.. “Ah, mianhae…” ucapnya, kemudian mencampakkan pisau itu ke arah meja dapur begitu saja, dan berhasil membuatnya tidak terjatuh. Namun hal ini justru membuat Eunhyuk semakin ketakutan.

“Lee Hyukjae, bukankah aku sudah menyuruhmu berhenti menonton film yadong, eh?? Kenapa kau masih juga melakukannya??!!” pekik Hyora.

“Mwo?? Aniya.. Aku tidak melakukannya..” Hyukjae menggerak-gerakkan kedua tangannya, tidak mengaku.

“Jangan berbohong Lee Hyukjae!!” desis Hyora, membuat Eunhyuk berusaha mundur namun ia sudah menempel di dinding. “Donghae oppa memberitahuku, kau menonton film yadong bersama Heechul oppa sepanjang malam. Ayo mengaku!!”

Eunhyuk menatap Hyora pucat, “Anniya… Dia berbohong. Aku tidak melakukannya..”

“Apa perlu aku menelpon Heechul oppa dan memastikannya?? Ia akan dengan senang hati memberitahuku!!” Hyora mengambil ponselnya dari dalam saku namun Eunhyuk cepat-cepat merampasnya dan memeluk gadis itu erat-erat.

“Mianhae… Hyora-ya… Aku salah.. Aku tidak akan melakukannya lagi..” mohon Eunhyuk sambil tetap memeluk Hyora erat-erat.

“Dasar yadong!!!” Hyora mulai memukuli punggung Eunhyuk melampiaskan kekesalannya. “Donghae oppa juga bilang, kau menyebut-nyebut namaku saat menonton. Apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku dengan otak kotormu itu, Lee Hyukjae!!!”

“Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa. Mianhae.. Mianhae..”

“Pergi.Sana.Lee.Hyukjae.Jangan.Kembali.Setelah.Kau.Mencuci.Bersih.Otakmu.Itu..” Hyora memukuli Eunhyuk disetiap penggalan kata yang ia ucapkan, sementara Eunhyuk hanya bisa pasrah dan dan berlindung dari pukulan bertubi-tubi Hyora dengan memeluk kedua tangannya.

“Dasar Lee Donghae Pengkhianat!!!” rutuknya dalam hati..

-enD-

@haenem onnie: Gimana?? udah cukup galak blom tu si dongek???
Kalo aku tuh yang digituin, udah aku pites2 itu orang, seganteng apapun dia..

Sebagian dari cerita tentang Jepang diatas, tidak sepenuhnya benar saudara-saudara..
Sebagian hanyalah khayalan saya, jangan terlalu dibayang2kan.. *kekeke*

For Hae-hae : I heard you sick.. Please don’t be.. Be healthy.. I miss U..
And your  black hair, hihih you always know what I like, right??

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

55 thoughts on “[Onespace] A So (Not) Romantic Valentine – Two

  1. wew serem dbentak2 donghae.. Ya namanya juga kebawa emosi pasti amarahnya meledak2 *pengalaman
    tenang hae hae nya udah shat kok. Udah bisa jingkrak2 n maen air hhi..

    • Wah, serem yah??
      Koq aku rasa ngeselin yah??

      Udah baek yah dia??
      Aku belum liat2 soalnya…

      Oh ya sekedar ngasih tw, wgm yg dia double date udah keluar lho..
      Aku tutup mata aja deh…..

      • Masa sih ngeselhpn. Biasanya org yg jarang marah terus marah pasti bkalan lbh nyeremin dari org2 yg biasa marah2.
        aku belum nonton kerja eum. Tpi, kalo lbr pasti langsung nonton walau hrs kesel liat donghae yg malu2.
        kamu tu2p mata tpi, ga tu2p telinga kan? Ntar aku ceritain deh hhe

      • emank sih, biasanya orang yg jarang marah kayak gtu.
        tapi kalo dibentak2 kan ngeselin…

        sama aja kalo diceritain, sekalian aja aku nonton sendiri..
        sekalian ngamuk2,,,

  2. Gak nyangka bang ikan polos kalo udah marah se-seram itu. Dan Narin, ah harusnya di goreng aja tuh ikan kalo ngebantak kayak gitu #sesat Tapi syukurlah mereka berbaikan lagi hoho~
    Myeolchi, rasain tuh dipukulin sama Hyora. Salah sendiri dirimu nonton film yadong semalaman sama Cinderella. Selamat menikmati pukulannya ya (?) ^^v
    Daebak eon😀

  3. Holy shit abang ikan klu angkuh kayaknya keren dah
    Aku bacanya sampe senyum2
    Gitu dunk bang
    Angkuh,galak,itu kereennnnnn
    Wuaaaaaaaaaaa
    *tos bang ikan*
    Tapi masih kerenan unyuk oppa ku kekekkekke
    *SETIA dengan bang unyuk^^

    Aigoooo makhlk mokpo brni2na bikin takut anak orang
    Poor narin😦😦😦
    Btw bang ikan bljar ma bang evil ya buat jd galak???????
    *ditendangkyuppa*

    ya ampn namaku disebut2
    oh tidakkkssss hahahhaha
    sygnya haeppa gak mau sama kamu seh jd dy g bkal ngeluarin aura hitamnya lololololol😄
    haeppa skt?
    get well soon oppa
    unyuk oppa rawat couplemu itu😀

    aigoooooo bad habitnya unyuk gak ilang2 ckckkckckkc
    kasian dy dpkul hyora
    bang bershin pake bacylin dunks otaknya
    biar seputih n semurni cinta&sayangku pdmu
    *eaaaaaaaaaaa*
    aish jijiknya
    ommaaaaaaaa,anakmu kena syndrom om andre ovj

    Aku ska baca ff kmu,rapi gak rapet2 jadi enak buat dibaca
    Alurnya jls,bhsana jg span jadi gak bkin aku pusing
    dh gtu genrena romcom
    wuaaahhhhh i love it
    daebak^^

    • Hae-hae ku mau angkuh tak angkuh juga tetap keren koq…
      Ya kan bebeh?? #pelukhae..

      Belajar galak??
      Kyaknya yg ngajarin Heenim lah..
      Si Kyu mana ada galak2nya..

      Whadts???
      Hae-hae gak mau samaku??
      Siapa tuh yg berani2nya ngomong kyk gt!!!!!! #angryYeonng

      Yaikss…
      Onnie belajar ngegombal dimana tuh??
      Ikutan donk…#slapped

      Onnie, mujinya ikhlas gak tuh??
      Rapi, gak rapet2… Koq kedengaran di kuping agak aneh yah??
      Aniwei tetep gomawo onnie…. :-):-D:-)

      • terserah kamu z yeong
        bagiku hanya unyuk paling keren wkwkkwkwkwkkw

        aaahhhh bner2 yang glak heenim oppa
        tapi heenim oppa itu terlalu tampan buat galak😦😦

        aku yang ngomong
        aku aku aku
        *unjuk jari sambil loncat2*^^

        bljar ma om sule om andre ovj
        sring2 selingkuh jadi bisa bljr ngegombal jg yeong
        *nie pelajaran serius*

        agak aneh?????????
        pas aku ngetik kata2 itu aku dalam keadaan gak normal
        maafkan saya
        *bow*

      • iya deh,, si enyuk yang paling keren
        #berhubung lagi kesel ma hae

        heenim itu tampan2 tapi aura setan.. =b=

        buat yang unjuk jari : jadi ngajak berantem nih??
        Hayok, aku bawa pasukan evil ku, masih berani??

        tuh kan,, aku udah tau dari awal kalo tu pujian gak ikhlas..
        tpi ikhlas gak ikhlas yang penting dipuji deh…

      • ya ampyuuuuuuuuun
        *tepok jidat*
        ksel ma hae LAGI
        bang ikan trll sering bkin kamu ksel ya wkwkkwkkw
        mkna jgn trll cinta
        *dangdutbanget*
        kayak aku dunks,bang monkey berlayar akupun ikut berlayar
        *istridurhaka*

        aura setannya bang heenim ngangenin lho(?) kakakkakakka

        JADI
        aku bawa pasukan malaikat kuuuuuuuu
        SERBUUUUUUUUUUUUUUUU
        *atasanterimaberes*

        karna memuji orang dapat pahala
        *itukatapengikutku*
        lololololololololololol😄

      • Hiks.. Hiks..
        Dy bikin aq kesal lg.
        Gra2 wgm lagi..
        Iya. Aku mau berhenti aja cinta ama dy..

        Siapa pasukan malaikat??
        Palingan teuki ahjussi…
        Dy mana ada tenaganya lagi..
        Da tua…😛

      • WGM lagi WGM lagi
        nie vs banyak bkin ank gdis ptah hati dlm sekejap ya hahahaha
        aku liat wgm mlah ktwa mlu
        teukso lucu ya kakaka
        ya udh klu envy,getok aja bang ikannya😄

        wuaaaaaaaaaaaaa tua2 gtu tapi imut lho
        lebih imut drpd si bang evil
        *tenangomteuki,akubelain*

      • Emank, aq langsung patah hati lagi liat dia disitu..
        padahal kemaren udah enggak..

        teukso-nya emang lucu..
        tapi itu si alien babo bikin kesal..

        ya iyalah lebih imut dari si evil magnae…
        Sejak kapan ada yg ngomong ama Kyu, “oppa, kau imut sekali…”
        itu namanya pembohongan publik..😀

  4. waaa. haeppa seram amad… kasian narin ampe ketakutan gitu… tp untung dech di jam2 terakhir valentain bisa di rayain berdua hae-hae.. waa iri nya.. heheh ><

  5. si hae kalo lg marah nyeremin, ngebentakny it lhooo
    g bs ngbygn gmana wjah polos hae wkt ngbntak. Ckckck
    so sweet bget dhe ngelewatin valentin.nya
    huaa, mauu*lirik2 kyu*
    yah, wlopun pertama si hae.ny marah2
    trus, hyukjae.eh
    kasian sekali dia. Mwahahaha. Tobatlah hyukjae, jgan suka nonton yadong x)

    • emank agak susah ngebayangin dia marah2..
      terlalu baik hati sih mukanya,.

      emank, aku juga ngiri kalo valentine kayak gitu…

      Nickname utuk hyuk… YadongHyuk…

    • Padahal kemarin aq yg bilang sabar samamu.
      Sekarang jd gantian..

      Aq juga tau ada minggu depan, kan ada.previewnya..
      Justru preview itu yg bkin aq galau..
      Apaan tu, pke acara pakein lipgloss segala..
      Gak bisa pake sendiri ya??!!!!*#*&*#* #angrYeonng

  6. donghae emang sayang bgt sama narin sampe rela nyusul ke jepang. .
    klo eunhyuk g dimarahin sama hyora pasti g berhenti nntn film yadong. .
    ini uda end y? uda g ada kelanjutannya lg?
    yaaaaaa

  7. hii sweet bgt
    pas narin dibentak donghae kerasa amat sakit hatinya
    tp seneng jg intinya donghae cuma khawatir yg brlebihan

    hehe
    masih ada lanjutankah?

  8. pas liat epi mrk double date
    yg aku prhtiin itu rmbtna hae,blhannya gak bgt
    poninya yg kpnjngan or blhannya agk anh or mataku yg error
    yg jls pas liat aku lgsg drop ==”
    tp lmyan liat om teuki
    imutnya bikin aku pngen cium dah hahahahha

    sparkyu banyak yg blg dy imut
    *maybe*
    dimataku hyuk oppa lbih imut drpd evil kkkkkk
    *evil laugh*

    • emank, dia emank mesti jelek didepan cewek lain..
      hanya didepanku dia boleh cakep… (_-_)

      iya, emank cuma si enyuk oppa yang paling imut, paling cakep, paling keren..
      #tinggalin Hae

      • ya salaaaaaam kok blsanku gak msuk seh ><
        cpek deeeehhhhh
        *tepokjidathae*

        kamu lagi galau ya yeooong
        smw pendapatku langsung di iya-in aja hahahahha
        tapi aku jd was was klu kmu jd "normal" gni
        uuuppppsssssss

      • Balasannya masuk ke spam onnie..
        Gk tw kenapa…
        Mungkin krn yg nulis terlalu cakep kali…. (⌒▽⌒)

        Iya… Saia galau segalau galaunya rang galau..
        Wgm, ss4, bergabung jadi satu.. ㅠ.ㅠ
        Hyukieee oppaaaaa…. Aku samamu ajalah…

      • cakep?????
        itu pujian or …….
        kdengeran aneh dengernya ==”

        terlalu banyak kata galau yang bikin saia galau heh (?)
        aku mw nton ss4ina ma ade klsku
        yihaaaaaaaaaa
        *tambahgalaugak?*

        HYAAAAAAA jauh2 dr hyukie
        balik gih sana sama ikan mu
        jangan sama monkey KU
        *kurungunyukoppadikamar*

      • Koq aneh??
        Hayooo ketauan nih, gak biasa dipuji…. (=,=)

        terima kasih atas infonya onnnie,
        membuat saia jauh lebih baik….
        *mojok di kamar mandi*

        Gak mau…
        Aku lagi pengen ma monkey oppa..

        :: Oppa… Samaku aja, mau gak???

        Eunhyuk dtg sambil ngulurin tangan..

        :: Kemarilah, oppa menunggumu…😀

      • karna kamu yang muji jadi agak aneh seh ==”
        aku biasanya dipuji n dipuja sama unyuk oppa
        kyaaaaaaaaaaaaaaa ><

        ayo yeong nton ss4ina,biar tmbah rame neh tmennya
        *panas2in*
        masa kamu gak mau liat ikanMU seh????
        kan kasian ntar bang ikannya,,,,,
        *winkwink*

        andweeeeeeeeeeeeee andweeeeeeeeeeee andweeeeeeeeeeeee
        jangan yeoooong pls cari mangsa yang lain aja
        *mulaigaktenang*

      • Ya syudah kalo begituh…
        Itu pertama en terakhir kali aku muji onnie…😛

        aku MAU BANGET liat dia, tapi apa yg mau kukatakan…..
        HELPPPPP MEEEEE!!!!!!!!!!!!
        *nangis-nangis di jalan raya*

        Gak mau.. Yang kusuka itu hanya EUNHAE…
        YAng lain ANDWE…..

      • tuh kan ==”””

        ya udah ayo nonton,,,,,,,
        kamu butuh bantuan pa,sni aku bantu deh
        asal bkan bantuan materi
        aku z hrs nabung 2 bulan hahahhaha
        hr ni z aku dh DP 500 dlu sm ade klsku
        tapi da tmbhan 100 seh cm aku g hrs antri tket
        mls bgt hrs antri,pns2an eh gak taunya dh sold out
        *capek deh*

        aduh video greetingnya z lcu
        aku fkus ke unyuk oppa
        lucunyaaaaa
        kyaaaaaaaaaaaaa plg excited bgt dh hahahhaha
        dah gtu pegangan tgan sma hae
        so sweeeetttt
        *barukaliinigakenvy*

        ayoooooooooooooooo yeong nonton????????

      • gak materi kok….
        aku butuh bantuan pesawat aja gimana??
        bisa gak onnie??

        en terima kasih sama penjelasan panjang lebarnya..
        saia jadi pengen gantung diri.. *dipohooncabe*

        *tutupmata tutupkuping*
        gak dengar gak liat apapun tentang itu semua…

        saia sampe tanggal 29 April, gak kepengen liat apapun tentang mereka…
        (kecuali kepepet)

        Hae-ya……
        Sampai jumpa sebulan lagi…. (T_T)

      • OK aku bantu
        *papi sby tlong kasih pswat buat rakyatmu yg 1 nie?*😀😀😀😀😀
        ya ampn buat tket z aku smpe diet mata😦
        klu lg nrmal nysel psen yg super sky tp klu lg “waras” mlh happy2 z kkkk
        mank g bs pke bis lolololol
        atw pke pket grts im* z kyk di iklannya muahahhahha
        *makingaze*

        aku pkir kamu tgal di jabodetabek lho
        hahahahaha saia sok jadi cenayang

        gak yakin kamu gak bakal liat brtnya
        sabar ya yeongggg
        nanti aku smpeiin salamnya buat abang ikanmu
        *evillaugh*
        kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aku udh kyk org gila ska snyum,triak sndri ngbyangin tgl 29 nanti
        unyuk oppaku
        anchovyku
        myeolchiku
        couple of yadongku kekekkekkekkeke
        tunggu aku oppaaaaaaaaaaaaaaaa
        *PLEASE JANGAN BUNDIR YEOOOONGGGGGG*
        *SARANGHAEEEEEEEEE😀😀 :D*

      • *bukamata bukatelinga*

        TOLOOOOOONGGGG itu kayak lagu hahhahha
        tapi lagu nya spa ya????
        d’masiv ya muahahhahha
        *makinaneh*

        kamu knpa yeong,koq di daily diary down gtu seh
        jangan sedih dunk
        ayoooo smgat lagi
        jangan cuma 1 kata lgsg drop gtu,bktiin klu org yg ngmg itu salah
        positive thinking aja
        JANGAN MENYERAH JANGAN MENYERAH~~~~~~~~~~~
        *winkwinkwink*

      • Iya ya…
        Padahal aku gak kepikiran D’Masiv lho kemaren…😀

        Anniyoo…. Gwenchannayo onnie..😀
        Hanya sedang sensitif >_;<

        Maybe, He's right. I have to admit, that I am a childish.
        And I supposed to change…
        Hwaiting!!!😀😀😀

        Gomawoyooo….. ^-^

  9. sama sih, kkkkk~
    tapi dari digepak, mending ambil jalan aman, kkkk~
    mending kalo digepaknya ke habitat asal bang ikan di perairan.
    bersama ku dengannya kan menjadi kelurga sakinah mawaddah warahmah mermaid ever, HUOHOHOHOHO

  10. lee donghae murka abis .__.
    sulit buat ngebayangin sweet hearted prince yg satu ini ngamuk dengan wajah jutek. dan sya ko jd ikutan takut pas hae bentak narin buat jangan nangis, gila di situ ak jadi sedih sendiri (?) #apa hubungannya coba ya?
    tapi akhirnya seru bisa jalan2 menikmati hari valentine hehe sekalian ngerayain ulang taun saya yah? #ngaco ni anak -_-

    • Emank susah ngebayangin puppy Hae jadi galak gitu.. Dia terlalu baik hati ya gak??

      Woah, ulang tahun??
      /nyanyi bareng Hae/

      Saengil chukahamnida…
      Saengil chukahamnida…
      Saranghaneun uri Uci..
      Saengil chukahamnida….
      (★^O^★) (●⌒∇⌒●)

  11. ia bener, saking baik hatinya buat ngebayangin wajah galaknya aj sulit kkk~
    ia, aku ulang taun waktu narin sama hae jalan-jalan di shibuya~😀
    huaaaa~ @..@ <– mata sedih #terharu
    gomawo narin-ah #hugnarin, gomawo hae-ya #ciumhae #eh?

    • Wah!!!
      Ultah pas 14 feb?? Kereeeennnnn…..

      Cium hae??!!!
      Hmm, kali ini boleh deh, itung2 hadiah ultah…
      Tapi lain kali….. Mmm, tak ada lain kali..
      Hihihi…

      Annyeong~~~

  12. anyong saia reader baru, saia baru nemu bolg ini stelah baru saja slesai membaca Special For You, saia suka FF itu makanya saia lgsung ksini klo gk suka gk mungkin ksini kaan #plak..

  13. . hai onn , aku reader bru ! salam kenal ^_^

    . mian onn bru coment dpart2.a *sambil bungkuk badan*

    cerita.a keren onn*angkat 2jempol*
    hae, ko takut bgt sih kalo marah T__T
    narin lucu deh , polos bgt *tatapan iri*

    hahaha , rasakan kemarahan hyora onnie , hyuk oppa ! ih iseng deh nnton yadong oppa -,-“

    • Annyeong~~~~😀
      Salam kenal juga…

      gpp kok, yg pntg setelah ini komen terus… *maksa

      Gomawo udah dibilang keren..

      sering2 mampir yahhh….😀

  14. huaaa… tau g thorrr, ikutn nangis tdi wktu bca yg awaal2…kok bsa sih haeppa sgalak itu??? tp pas mndekati ending, eh mmlah ktawa2 sndiri,,,abisnya so sweet bnget,,hehe
    si monyet yadong msh blm brubh ye…atw mungkn g akn prnh bsa brubh?? hm tw deh..
    daebak thor ff.a,,,hehe

    • *pukpuk* sekali kali dibuat galak dia nya…
      semua itu harus happy ending biar semua happy….

      kalo soal berubah itu mah urusan si monkey oppa sama yang MAha Kuasa…
      hihihihi…

      gomawo~~~😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s