Foul Love Story – Foul End

Foul Love Story Donghae fanfiction

before–

“Tunggu aku, Rin” Donghae berlari mencoba mengejar, namun Narin yang mendengar derap langkahnya malah ikut berlari berharap menghilang dari pandangan Donghae.

Tanpa pikir panjang gadis itu menyebrangi jalan raya yang padat. Yang ada diotaknya saat ini hanyalah bagaimana agar Donghae tidak mengejarnya lagi. Tak dilihatnya sebuah motor yang melaju kencang ke arahnya. Narin tercekat dan menutup matanya.

“YEONNG!!”

***

Foul Love Story – Foul End

Narin membeku ditempat. Pandangannya kosong. Jantungnya berdetak terlalu kencang sampai terasa sakit. Nafasnya naik turun tak beraturan. Bayangan motor yang melaju sangat kencang dan hampir menabraknya itu membuat tubuhnya bergetar hebat. Kalau saja tadi Donghae tidak menariknya, entah apa yang terjadi padanya sekarang ini.

Donghae berlari semakin kencang saat Narin hendak menyebrang. Dilihatnya sebuah motor yang melaju cepat yang sepertinya tidak menyadari kalau ada orang yang menyebrang tiba tiba. Sebelum semuanya terjadi, Donghae menyentakkan tangan Narin menariknya dengan kuat hingga menubruk dadanya dengan keras.

“Apa yang sebenarnya ada di otakmu?? Kau gila ya? Kau ingin membunuhku eh?? Kau ingin melihatku mati berdiri disini? Apa yang mesti kulakukan kalau saja tadi kau tertabrak di depan mataku? APA??!! Apa yang mesti kulakukan Yeong!!??”

Narin masih membeku. Tak hanya bayangan motor yang mengerikan itu saja yang sekarang menakutinya. Tapi lain dari semua, suara bentakan Donghae yang sangat keras membuat air matanya mengalir deras tanpa bisa ia tahan.

Ia benar-benar ketakutan. Untuk pertama kalinya seorang Lee Donghae membentaknya dan entah mengapa itu membuat hatinya sakit. Ia merasa menjadi orang yang paling bersalah di dunia. Lee Donghae adalah orang yang paling sabar dan paling baik hati yang pernah dikenalnya. Donghae tak pernah kasar pada orang lain. Narin bahkan tak pernah melihatnya benar-benar marah pada seseorang terlebih padanya. Sebagaimanapun jahatnya atau kejamnya Narin memperlakukannya atau mengabaikannya, Donghae tak pernah marah padanya, dia selalu tersenyum. Tapi sepertinya kali ini kesalahan yang dibuatnya sangat besar sampai-sampai membuat seorang penyabar seperti Donghae pun meledak marah padanya.

Narin gemetar, ketakutan. Belum hilang rasa takutnya akan bayangan motor tadi kini ia ketakutan akan amarah Donghae yang mengerikan ditambah rasa bersalah yang kini menderanya.

Narin menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Ia takut saat ia mencoba melihat yang ditemukannya bukankah mata bening nan lembut Donghae-nya melainkan mata penuh amarah yang tidak dikenalnya. Tubuhnya berguncang saat ia berusaha menahan isakan tangisnya. Narin menutup mulutnya agar tak ada suara yang keluar. Ia takut Donghae semakin mengamuk jika mendengar suara cengengnya.

Sampai beberapa saat sebuah tangan besar memeluknya dengan erat lalu mengelus-elus puncak kepalanya seperti berusaha menenangkannya. Dan memang benar, perlakuan itu langsung membuat isakannya berhenti. Dia tahu perasaan ini. Hal inilah yang selalu dilakukan appa-nya setiap ia merasa ketakutan, atau setiap kali ia menangis. Ia memang sangat senang setiap ada yang mengusap-usap kepalanya, siapapun itu. Ia merasa seperti anak kecil yang sangat dilindungi dan disayang.

“Sshh- uljima… uljima. Sudah tidak ada apa-apa. Berhentilah menangis Yeonng-” Donghae membisikkan kata kata itu di telinga Narin sambil mengeratkan pelukannya. Setelah itu Donghae menarik diri dan menatap Narin. Air matanya masih mengalir deras namun tak ada isakan yang terdengar. Hal ini justru terlihat tidak normal di mata Donghae.

Donghae mengangkat wajah Narin, menatap matanya lekat lekat. “Yeong, a..apa.. Apa aku menakutimu??” tanyanya hati-hati. Narin menunduk lalu mengangguk pelan. Donghae pun menarik Narin ke pelukannya.

“Mianhae, aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.” bisiknya. Narin hanya mengangguk angguk di dada Donghae.

Donghae memeluk Narin erat, membiarkannya melepaskan semuanya. Sampai akhirnya Narin terlihat sudah tenang, namun tiba-tiba terdengar isakan.

“Donghae-ya…. Donghae-ya…” Narin mencoba melepaskan pelukan Donghae saat bahunya terasa basah, namun Donghae menahannya.

“Ya!! Kau menangis ya?? Yang benar saja!!” kikik Narin geli.

Donghae memukul kepala Narin pelan, tetap tak ingin melepaskan pelukannya “Diam saja. Aku juga begini karenamu. Menurutmu apa yang akan terjadi, kalau saja motor itu benar-benar…,” Donghae tercekat, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Donghae memeluk Narin semakin erat dan Narin pun membalasnya. “Tentu saja, kau akan menyelamatkanku dan membawaku ke rumah sakit”

Donghae menggeleng-geleng di bahu Narin, kembali terisak. “Bagaimana…. Bagaimana kau begitu yakin?? Bagaimana kalau aku hanya bisa terdiam dan tak sanggup melakukan apa-apa?? Bagaimana kalau aku hanya bisa menangis seperti orang bodoh dan tidak berbuat apa-apa?? Kau nyaris membunuhku malam ini.”

“Mianhae…. Ya!! Kau ini tidak keren sekali.. Seharusnya akulah yang menangis sekarang, kenapa ini malah sebaliknya!!” pekik Narin berpura-pura marah namun tangannya mengelus-elus punggung Donghae mencoba menenangkannya juga.

“Tadi kan kau sudah, jadi sekarang giliranku.” Donghae tetap berkeras. “Aku belum puas!!” lanjutnya sambil kembali mempererat pelukannya.

“Ya!! Lee Donghae, jangan mencari kesempatan..”

***

“Jjinja?? Aku benar-benar bicara seperti itu??” pekik Donghae kaget.

Narin mengangguk sambil memegangi coklat panas yang dibelikan Donghae untuknya. Dia memang belum banyak bicara, sepertinya shock-nya belum hilang sepenuhnya.

“Mianhae….” Kali ini Donghae yang menunduk. “Aku tidak bermaksud mengatakan hal—“

“Aku tahu..” potong Narin. “Kau saat itu sedang mengigau. “Tapi…” Narin berhenti seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Tapi, apa kau benar-benar mengira kalau aku menyukai Kyu??”

Donghae terdiam, bingung ingin menjawab apa. Apakah harus jujur dengan resiko Narin akan marah padanya atau berbohong saja demi kelangsungan hidupnya.

“Eung..” Donghae mengangguk, memutuskan untuk jujur saja. “Bukankah itu benar?? Kau kan selalu bilang kalau Kyu itu sangat mengagumkan. Kau juga selalu memujinya. Bukankah dia juga tipe idealmu??” tanyanya takut-takut.

“Ya!!” Narin mengelus-elus dadanya, tak tahu harus berbuat apa dengan kebodohan kepolosan pemuda tampan disebelahnya. “Pabo…. Mengagumi bukan berarti menyukai kan??”

Donghae tanpa sadar sedikit meremas coklat panas miliknya, “Itu artinya kau tidak punya perasaan apapun pada Kyu??”

Narin memutar bola matanya, “Tentu saja tidak. Dia kan kekasih sahabatku. Mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya bilang aku mengaguminya.”

Donghae mencoba menjernihkan otaknya. Dia tidak sedang bermimpikan, atau sedang ada masalah dengan pendengarannya.

“Jadi, selama ini aku–” gumamnya.

“Ya, kau terlalu tinggi menilai otakmu yang bodoh itu dan mengambil kesimpulan seenaknya.” kesal Narin saat kembali harus mengingat igauan Donghae saat sakit kemarin.

Donghae melonjak dari tempat duduknya, tak bisa menyembunyikan antusiasnya, “Itu artinya aku punya kesempatan, ya kan??”

Narin terbelalak, jantungnya berdetak kencang, sepertinya ia tahu apa yang dimaksud Donghae. “Kesempatan apa maksudmu??” tanyanya pura-pura tak perduli.

Donghae memutar bola matanya, “Kau tahu apa maksudku, Yeong….”

“Tidak. Aku tidak tahu. Dan jangan memanggilku seperti itu lagi..”

“Kau tahu. Kau sudah tahu. Perlukah aku mengatakannya lagi??”

Donghae pun berlutut dihadapan Narin, mengangkat gelas coklatnya seakan-akan itu adalah sebuah buket mawar indah.

“Cho Narin, Saranghae. Maukah kau jadi puteri dari pangeran yang tampan ini?? Terimalah ini..”

“Tidak.” sambar Narin cepat.

Donghae memberengut kesal lalu bangkit dan menepuk-nepuk kotoran di celananya.

“Ya!! Tidakkah kau merasa itu terlalu kejam?? Setidaknya kalau memang kau tidak menyukaiku, berpura-puralah berpikir untuk beberapa  saat agar aku tidak terlihat begitu menyedihkan!”

“Untuk apa kau ingin pacaran denganku?? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau aku ini jahat??” sungut Narin.

“Yeoong…” rengek Donghae. “Aku kan sudah berkali-kali minta maaf untuk hal itu, tak bisakah kau memaafkanku?? Lagipula kan kau memang selalu galak padaku…”

“Mwo??” Narin terlihat kesal lalu bangkit dan beranjak pergi namun Donghae menariknya ke pelukannya.

“Cho Narin-ssi, apa kau pikir saat ini aku sedang bercanda?? Berkali-kali aku mengatakannya padamu. Saranghae.. Saranghae.. Saranghae.. Apakah sampai sekarang pun kau tidak juga mempercayainya. Apa kau tak juga bisa merasakannya. Aku tidak main-main. Aku tidak pernah bermain-main untuk hal ini. Apa perasaanku terasa seperti mainan untukmu??” bisik Donghae di bahu Narin, nada suaranya berubah menjadi sangat serius namun terdengar seperti sedang terluka.

Narin membeku. Perkataan Donghae menusuknya tajam. Apa benar ia tidak tahu perasaan Donghae padanya. Benarkah ia tidak merasakannya?? Tidakkah segala perhatian Donghae padanya seharusnya cukup membuatnya menyadari itu semua?

Atau memang dialah yang selama ini berpura-pura tidak tahu?? Bersikap seolah-olah tidak perduli padahal membutuhkan. Selalu mencoba menutup mata dan hatinya.

Narin memejamkan mata, mencoba membayangkan.

Benarkah ia tidak merasakan perasaan itu?

Benarkah Donghae tidak berarti apa-apa untuknya?

Apa yang terjadi padanya bila Donghae pergi dan mengacuhkannya?

Relakah ia bila tawa konyol itu tak lagi untuknya?

Siapkah ia kehilangan Donghae-nya itu?

Narin menggeleng keras, “Tidak. Kau tidak main-main. Aku tahu kau tidak main-main. Maaf, aku tidak menyadarinya.”

“Kau bukan tidak menyadarinya. Kau pura-pura tidak menyadarinya.”

Narin  mengangguk-angguk, “Mianhae… Aku memang keterlaluan.”

“Kau memang keterlaluan” respon Donghae. Narin memberengut mencoba melepaskan pelukannya namun lagi-lagi Donghae menahannya.

“Jadi kalau begitu, ayo ucapkan!!”

Kening Narin mengerut, “Ucapkan apa??”

Donghae memukul puncak kepala Narin pelan, “Oh ayolah, Yeonng.. jangan berpura-pura tidak tahu lagi. Ayo sekarang ucapkan!!”

“Baiklah.. Baiklah..” Narin menyerah lalu mencoba membersihkan kerongkongannya, “err.. Lee.. Donghae.. Saranghae”

Donghae melepaskan pelukannya, sebuah senyuman yang sangat lebar terpeta di wajahnya.

“Kau kelihatan senang sekali..” ledek Narin.

Donghae bergerak-gerak aneh seperti sedang menahan tubuhnya agar tidak melonjak-lonjak. “Tentu saja… Maukah kau mengatakannya lagi?? Sekali lagi saja” pinta Donghae setengah memohon.

“SHIREO!!” tolak Narin, dia tidak pernah dalam situasi bermanis-manis seperti ini, dan ini membuatnya malu.

“Yeonng… Jebal..” kali ini Donghae memohon mengeluarkan puppy eyes andalannya, membuat Narin akhirnya luluh. “Yang keras ya,,,” tambah Donghae lagi, membuat Narin ingin protes namun ditahannya juga.

“eerr… LEE DONGHAE SARANGHAEYO…” teriak Narin, lalu memicingkan matanya menatap Donghae. “Kau puas??”

Donghae kembali tersenyum lebar. “Puas sekali. Senang bisa mendengarnya darimu langsung. Jadi, sekarang kau pacarku kan??”

Narin mendecak kesal. Pertanyaan bodoh macam apa itu. “Tidak, siapa bilang aku mau jadi pacarmu??” balas Narin tak acuh, dan berbalik hendak berjalan pulang.

Donghae mengerucutkan bibirnya lalu mengikuti Narin berjalan, “Tch- kau benar-benar tidak romantis.”

“Aku memang tidak romantis. Kalau kau tidak suka, cari saja pacarmu yang lain yang seperti puteri-puteri di buku dongeng bodoh yang sering kau baca itu” kesal Narin mencoba mempercepat langkahnya.

“Itu bukan buku dongeng Yeongg.. tapi Romance Novel, dan kau bilang apa tadi ‘cari saja pacarmu yang lain’?? Itu artinya, kau mengakui kalau kau itu pacarku, iya kan?? iya kan??”

Narin merutuki bibirnya, bisa-bisanya ia mengucapkan hal memalukan seperti itu, ” Sudah diamlah dan berhenti tersenyum selebar itu, kau kelihatan seperti orang gila saja”

Donghae tidak perduli, ia masih tersenyum lebar,” Mimpi apa aku semalam, seorang Cho Narin mengakui dia adalah pacarku.. Yeonng, aku tidak benar-benar gila kan??”

“Kalau kau tidak juga menutup mulutmu, aku akan benar-benar membuatmu gila Lee Donghae, dan berhenti memanggilku seperti itu. Ayo pulang!!!”

-enD-

“Kyaaa…” Narin menjerit. “Dasar cicak bodoh, berani-beraninya kau mengejutkanku, ayo pergi!!” Narin mengibas-ngibaskan lap tangan yang sedari tadi dipegangnya, mengusir cicak yang tiba-tiba melompat ke tangannya.

Donghae yang datang sedikit terlambat, memajukan bibirnya. “Kenapa kau mengusirnya sendiri, seharusnya kan kau meminta pangeranmu yang tampan ini untuk mengusirkannya Yeonng, seperti itulah seorang pangeran menjaga puterinya..”

“LEE DONGHAE!!! Kau ingin aku membakar semua buku-buku bodohmu itu????””

-Foul Love Story-

Finally.. Ending is Here….

Mianhae, waktunya lama banget…
hehehe*cumabisacengengesan*

seperti yang aku bilang kemaren, setelah yang ini end
bakalan lama banget kayaknya untuk ff series yang baru..

buat readers kamsaHAE udah mau baca en komen
walopun jarang update, sering2 mampir ya*lha buat apa coba??*😄


And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove,

23 thoughts on “Foul Love Story – Foul End

  1. kyaaaaaa hahhahhahha
    lucuuuuuu
    ketawa ngakak malam2
    pdhl lgi dengerin sad song zia-the way i am
    tp haeppa sukses bikin ngakak

    haeppa bnr2 pnya prince syndrom dsni kkkkk
    ahhhhh jadi pengen peluk hyukppa^^
    daebak saeng

    ditunggu crta lainna tp tetep couple ini ya ><
    fightingggggggggggggggg

    • malam2 ngakak, awas lihat belakng tuh..
      sapa tw ada yg putih2…

      ngetawain haehae, tapi koq pengen meluk enyuk??
      tapi gapapa deh…

      Nde, Kamsahae onnie..
      ditunggu ya,,

      tentu aja couplenya tetap ini..
      mana rela saya ngasih haehae sama yang lain..*kabur*

      • kkkkk yg putih2 udah temenan ma aku koq
        jd mereka gak ke ganggu lol

        knp hyukppa yg dipeluk?
        kan dy suami ku *evil laugh
        klu haeppa yg dipeluk ntar ada yg nangis lg kekkekke

      • temenan?? Koq jadi saya yg ngeri ya??..

        hehe.. gomawo onnie, atas perhatiannya..
        tau aja bakal ada yg nangis, kalo haehae dipeluk orang lain..🙂

      • koq jadi kamu yg ngeri hahhahha
        itu cuma just kidding
        yang bener ntu aku penakut abz kekkeke
        tapi kalau becanda kayak gitu malah seneng lolol

        aku juga bakal nangis kalau my anchovy dipeluk ma orang lain TT____TT
        ANDWEEEEEEEEEEE
        eunhyuk oppa is MINE^0^

  2. ^o^ jinjha lee donghae~
    ngakak abis, ayo narin bakar aja semua buku2nya kkk~
    donghae bener-bener terobsesi jadi pangeran kerajaan hahah~ #ngakak guling-guling

    tapi ga puas nih bacanya, kependekan~ #dibakar
    ayo semangat bikin lagi ff, hwaiting narin-ssi~~~ \^o^/

    • Bakar… Bakar…Bakar…*agakkasihantapi*
      pangeran kerajaan dari negri manga..*gaklucu*

      kependekan ya??
      maklum, penghabisan… *kwak..kwak*

      Hwaiting…
      ThankU.. Sering2 mampir…

  3. akhirnya lumut2 pergi bersamaan dengan kluarnya chapter trakhir ini..
    duhh, gemes banget sih sama hae..
    kenapa unyu gitu siihhh.. ><

    • kyaaaa…..
      jadi malu..
      kirain kalo dibiarin makin lama tu lumut2 jadi tambah imut2…
      *ngeles aja kayak abang odong2*

      kekeke–
      gomawo dibilang unyu..
      saya kan jadi blushing *-*/slapped/

    • tenkyu, tenkyu…
      anda tidak melakukan kesalahan apapun, tidak perlu minta maap🙂

      silahkan baca2..
      sekalian titip komennya ya.. *puppyeyes*

      Gomawo…
      Jgn bosan2..

  4. ahhh ini ending akhirnya… #plakk
    so sweet banget…
    ya begitulah org yg sabar kalo marah emang mengerikan…
    *gak lagi-lagi bikin hae marah*
    dan ceritanya manis, *gigit pipi yeong*
    *digigit hae*

    sumpah ceritanya manis, ayo bikin lagi

    • wahhh,, ada JinHae…
      osso useeoo…*salah benar urusan cicak di dinding*

      yesseu, ini endingnya…
      hehehe,, jadi blushing gitu dibilang manis.. =bb=
      *gigitbalik*

      Gomapseumnida….
      masih belajar bikin yg lebih baik lagi…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s