[HyukRaStory] This is The End…

Lee Hyukjae Lee Hyora

“Geumanhae…”

Aku melirik ke sebelah. Lelaki itu mengucapkannya dengan nada datar, pandangan matanya lurus ke depan membuat kesan kalau ia sedang serius. Tak ada sosoknya yang selalu tertawa bersamaku selama ini.

“Aku… tidak akan pernah bisa..” lanjutnya, menekankan setiap katanya. Sepertinya ia sedang berusaha membuatku mengerti arti dari setiap kata yang ia ucapkan.

Aku tersenyum. Bagiku, bagi seorang Lee Hyora, ini bukanlah kali pertama. Lelaki itu selalu memberikan jawaban yang sama setiap kali aku menyatakan hal itu.

“Apa kali ini kau serius??” tanyaku. Selalu, selalu saja aku berharap ia hanya bermain-main, selalu saja berharap ia tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Berharap. Ya, berharap.

“Aku tak pernah main-main. Semua yang kukatakan adalah serius..” Wajahnya masih terarah lurus ke depan, sepertinya ia berusaha keras untuk tidak menatap mataku.

Aku lagi-lagi tersenyum. Lelaki itu, Lee Hyukjae, selalu bisa membuatku tersenyum bahkan disaat ia sedang melukaiku. Bodoh. Aku memang bodoh setiap kali berhadapan dengannya.

“Apa mengganggu??” Aku lagi-lagi bertanya. “Semua pernyataan cintaku, apa sangat mengganggumu??”

Aku memandanginya, mencoba merekam setiap inchi dirinya. Lelaki ini adalah orang yang menjadi penyebab kegilaanku. Aku sadar, selalu saja jadi orang konyol saat bersama dengannya. Tak ada satupun hal masuk akal yang kulakukan setiap kali mengingatnya. Dia, dialah penyebabnya.

Tapi aku juga harus sadar, aku bukanlah siapa-siapa untuknya. Perasaan itu hanya aku yang memiliki. Semua itu hanya aku yang merasakan, sementara ia tidak. Tidak sama sekali.

“Lebih tepatnya membebaniku..” jawabnya mencoba tenang. “Aku hanya tak ingin melukai siapapun. Kuharap kau bisa mengerti. ”

Ia melempar pandang ke sembarang arah, mencoba mencari sudut pandang yang lebih baik. Aku bertanya-tanya kapan bola mata indah itu menatapku.

“Tidak bisakah kau mencobanya dulu?? Tidak bisakah kau coba belajar mencintaiku??”

Aku senang menemukan kata-kata itu, karena dengan itu ia berbalik memandangku. Mata coklat itu menatapku. Walaupun rahangnya mengeras dan terdengar geraman rendah dari kerongkongannya, aku tetap senang. Senang hanya dengan satu fakta bahwa saat ini ia sedang menatapku.

“Perasaanmu bukan untuk kucoba, dan cinta bukan untuk dipelajari. Sampai kapan kau akan mengerti?!” tegasnya.

Aku memandangi matanya yang terlalu indah itu, mencoba mencari tahu seberapa besar keseriusannya kali ini. Aku tahu selama ini ia selalu serius, namun aku selalu bisa menemukan setitik keraguan dimatanya. Keraguan saat ia memintaku benar-benar pergi dari sampingnya. Namun kali ini aku tak bisa menemukannya, keraguan itu. Ia benar-benar serius kali ini. Mungkinkah sudah ada orang lain yang menghapuskan keraguan itu untuknya??

Aku tersenyum miris, teringat janji itu. Janji pada diriku sendiri. Janji, saat aku sudah tak lagi bisa menemukan keraguan itu dimatanya. Aku harus pergi. Benar-benar pergi.

Aku menengadah ke langit, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. Dua tahun aku bersamanya. Dua tahun, kulakukan segala cara membuatnya mengenalku, menyukaiku, mencintaiku. Berkali-kali menyatakan cinta padanya, berkali-kali pula ia menolakku. Semuanya sudah kulalui. Tak terhitung air mata yang kukeluarkan untuknya, walau tetap saja selalu ada tawa yang terselip diantaranya. Selalu saja ada senyum setiap kali aku ada di dekatnya. Itulah, hanya itulah yang menjadi penopangku selama ini. Yang membuatku bertahan walau sangat menyakitkan.

Benarkah ini saatnya untuk berhenti? Benarkah sudah saatnya aku menyerah? Benarkah ini waktunya?

Aku memandang wajahnya lagi yang kini sudah kembali berpaling.”Apa menurutmu ini benar-benar saatnya untukku berhenti?” tanyaku mencoba mencari jawaban darinya.

Ia menyender kebelakang, menjadikan kedua tangannya sebagai penopang. Matanya menerawang jauh ke langit. Langit senja yang sangat indah, membuatnya terasa seperti sedang mengejekku.

“Tidakkah kau merasa lelah?” bibirnya berucap. “Aku… Aku bahkan sudah tak sanggup lagi melakukannya. Setiap kali melihat luka di matamu membuatku tersiksa. Luka karenaku, karena penolakanku. Akulah pelakunya.” Ia mendesah, mengeluarkan raut wajah menyesal, dan aku tidak suka itu. Yang kuinginkan hanyalah kebahagiannya, senyumnya yang indah, yang sangat indah walaupun tak pernah dan tak akan pernah untukku.

“Menolakmu seperti ini bukanlah hal yang mudah bagiku..” lanjutnya. “Kau bukan lagi orang asing untukku. Setiap kali sadar telah melukai perasaanmu, aku merasa sangat berengsek. Tapi aku tak ingin melukaimu jauh lebih dalam lagi jika tetap memaksakan diri untuk mencoba. Perasaanmu bukan untuk dicoba, Hyora-ya!!” desahnya.

“Intinya kau ingin aku berhenti, benar begitu kan??” tanyaku memastikan.

Tanganku bergerak menghapus sesuatu yang meluncur turun di pipi sebelah kananku. Air mata. Aku tak ingin air mata ini menghalangiku melihat wajahnya dengan jelas, karena mungkin inilah terakhir kalinya aku bisa melihatnya sedekat ini. Terakhir kalinya.

“Sampai disini saja. Carilah orang lain yang tidak sepertiku. Tidak sebodoh aku yang hanya bisa melukaimu.”

Aku menarik bibirku, berusaha keras membentuk sebuah senyuman. Aku tau apa yang ia maksud, “Jadi, itu artinya ‘selamat tinggal’ ??”

Ia berbalik menatapku untuk yang kedua kalinya di senja ini.

“Tidak bisakah kau memilih ‘sampai nanti’ saja?” ia mengucapkannya dengan pandangan menyesal, atau kalau aku tidak salah, kasihan.

“Tidak. Ini memang yang terbaik. Dan sebenarnya sejak dulu memang hanya ini pilihan yang ku punya, hanya saja aku terlalu takut menerima kenyataan itu”

Ia kembali menatap mataku, membuatku mengutuk diriku sendiri, kenapa aku selalu jatuh pada perangkap mata indah itu. Aku menggeleng, aku harus bisa. Mulai saat ini aku harus belajar. Belajar hidup tanpa mata indah itu, belajar tanpa senyum gusi itu, belajar tanpa tawa konyol itu. Belajar tanpa dirinya disampingku.

“Tidak bisakah kau mencoba melup–”

“Tidak, tidak bisa.” potongku. “Aku tidak akan bisa melupakan perasaan ini dan menjadi teman biasa denganmu. Itu… terlalu berat untukku. Ini memang sudah saatnya untukku menyerah.”

“Jadi kau tetap memilih selamat tinggal??” ulangnya memastikan.

Aku mengangguk mantap, ” Itu yang terbaik.”

Aku bangkit dari sisinya, “Kalau begitu, selamat tinggal..” ucapku lalu beranjak pergi. Di langkah yang kesekian, aku berbalik, ia masih disana, berdiri, mungkin menatapi siluet punggung gadis yang sangat menyedihkan ini.

“Ini yang terakhir kalinya, jadi ijinkan aku mengucapkannya” ucapku dengan segenap kekuatan yang kupunya sambil tersenyum miris, “Saranghae Lee Hyukjae… Saranghae… Saranghae……”

Aku kembali berbalik dan berlari sekuat yang aku bisa, tak perduli sampai kapan paru-paru ku sanggup bertahan tanpa udara, tak perduli air mata yang mengalir deras. Aku terus berlari mengejar matahari yang hampir terbenam.

Dan disinilah kisahku berakhir. This is the end. Bye, Hyukjae-ya….

 -enD-

This is a new couple in Haelien Home
Hope you like it…🙂

Lee Hyora a.k.a Uri Umma
This is for you…./muach/

jangan protes kalo aku bikin yang galau2
pasti cast-nya umma ama si Unyuk,
soalnya ane kagak rela bikin haehae galau
kekeke–

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove

17 thoughts on “[HyukRaStory] This is The End…

  1. wow ni ff bikin aq berkaca-kaca
    apalagi aq smbl dgerin instrument clementine
    kyaaaaaaa malam2 baca ff sad ending gni bikin mood jd jlek dh

    bagus,dalem,n sukses bikin galau TT____TT
    biasanya di ff hyukppa sll knyol tp dsni hyukppa sungguh kejam (?)
    ada sekuelnya gak?
    bikin hyukppa yg ngejar2 hyora^^

    • waahh.. daebak..
      yang didengerin instrumen, saya gak tahan denger yang gituan..
      bawaan langsung ngorok..*gakpenting*

      wahh… mianhae udah bikin moodnya jelek..
      saya tidak bermaksud lho..🙂

      sekuel??
      boleh juga, tapi tunggu mas ilham datang dulu ya ngasih ide..😄

      Gomawo…

      • kamu jg daebak
        bs nulis ff^^
        aq pengen bgt nulis ff cz sk bgt ngehayal
        tapi mood nya yg sll bikin gagal hahhaha

        dengerin instrument piano,gitar,biola itu asik lho kekeke

        ok dtgu crta slnjtnya,cz castnya biasku^^
        aq suruh mas ilham datang ke kmu deh kakakkakkaka

      • ah saya masih amatiran..
        saya juga gak bisa, cuma modal nekad aja buat nih blog..
        ketauan dari jarangnya update
        kwak.. kwak.. kwak…

        kalo mau buat coba aja,
        nekad2 juga ntar jadi ff koq…:-)

        kalo dengerin instrumen piano masih mungkin,
        tapi kalo biola yg laen2.. kayaknya masih blom kuat..

        kutunggu mas ilham-nya, kalo bisa yang mirip Hae ya….😄

      • yg mrip hae????
        maybe hrs nyari di glodok dlu tp plg jg yg KW tuh kakakkakka
        klu aq dpt yg mirip haeppa dh aq tksir dluan
        #mianhe hyukppa^^

      • kya..kya..
        koq jadi ngebayangin orang yang mirip hae tapi namanya ilham ya??
        *gak bangeeeet…*

        bole deh tu donghae, tapi sehari aja ya..
        abis tu kembalikan pada saya…
        karena dy milik saya ..XD
        *sergapHyuk*

      • oh my gosh gak banget mrip haeppa tp namanya ilham
        wuaaaaaa pst aq bkl ktwa ngkak deh and sruh tu org gnti nmanya kekeke

        jangan sergap my lovely monkey lol
        gak jadi ah pinjem haeppa
        #amankan hyukppa jauhkan dr haeppa
        >________<

    • Kyaaa, ada hyora ahjumma….
      Tuh kan saia jadi malu..

      seberat apa?
      seberat Lee Hyukjae?? *kwakkwak*

      Gomawo umma…
      ntar dibuat lagi..
      apa sih yang gak buat ahjumma???🙂

  2. Pingback: [HyukRaStory] It’s Still The End… (Sequel) « == HaeLien ==

  3. Aaa anyyeong author (boleh nggak panggil eonni? kkkk) reader baruuuu, baru mampir dan baca baca dulu.. Heheh aaah beneran bikin nyesek deh ini eon, hyora kita sama sama susaaah ngelupain gusi bang hyukjae *eeh *plak

    • Annyeong juga…
      Boleh koq dipanggil onnie. Saya memang harus menerima kenyataan itu.

      Jiyah… Gak bisa ngelupain gusinya, bukannya orangnya…

      Gomawo udah mampir en baca2… Jgn lupa tinggalin tapak kakinya yah#baca:komen

      Salam kenal juga… Sering2 mampir yah…

  4. Aku baca ini sambil denger lagu growing pains. Wadaw T.T
    Palagi wkt hyora lari itu tepat bagian hyukjae ngerap. Aduh aduh gakuku.😥
    Jadi ini sbnrnya hyukjae sm hyora sahabat? Tp hyukjae gamau nyoba nerima hyora soalnya takut hyora tmbah sakit? Ohmy.😦
    Jadi dari awal ituyah, emng kalok sahabatan sm lawan jenis itu rada apalah apalah/? Gaboleh baper/? kalok gapengen persahabatanya rusah. :’D
    Tp aku gaperna baper tuh kalok sahabatan sm cowok/? .-. /okeh ini curhat :v

    • Its okey…. curhat colongan gak dilarang kok…
      Jadi sebenarnya si hyukjae itu dah tau dari dulu hyora suka sama dy, tpi dia emg awalnya gak suka tapi setelahnya nti jadi sadar gtu deh, bisa juga sih krna mereka sahabatan… hihihi complicated bgt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s