[Onespace] Vanilla Birthday…

Donghae membuka pintu yang jarang sekali dikunci itu. Padahal ia sudah berkali-kali memperingatkan sang pemilik rumah untuk selalu ingat mengunci pintu saat sedang sendiri, namun sepertinya gadis itu punya ingatan yang sangat payah.

Donghae masuk dan mendapati Narin, sang pemilik rumah, sedang tertidur pulas diatas sofa. Donghae hanya menggelengkan kepalanya. Ia mengangkat kaki Narin, lalu duduk di ujung kursi, kemudian meletakkan lagi kaki gadis itu dipangkuannya.

Namun gerakan itu justru membuat Narin terbangun. Ia mengerjap-ngerjap lalu tersentak bangun.

“Ah, Donghae-ya…” desahnya lega setelah tau siapa yang duduk di depannya. “Jangan membuatku terkejut!”

Donghae memutar bola matanya, “Sudah berapa kali kukatakan gadis jelek, jangan lupa kunci pintu. Ingatanmu itu kenapa payah sekali, eh??” ucap Donghae sambil merapikan rambut Narin yang berantakan. “Lalu kenapa kau tidur di sofa? Apa punggungmu tidak sakit??”

Narin tidak menjawab pertanyaan Donghae. Ia malah kembali berbaring.

“Ya!! Bocah!!, dengarkan orang lain kalau sedang bicara. Kau tidak tau yang namanya sopan santun, eh??” protes Donghae.

“Aaargh….” Narin mengerang.

“Arrasso… Ngantuk sekali ya??” tanya Donghae namun Narin tetap memejamkan matanya.

Donghae pun menarik kedua tangan Narin, memaksanya bangkit lalu meletakkan kepala gadis itu di dadanya. Ia menghidupkan televisi dengan remote yang ada didekatnya dan mulai menonton. Matanya ada di tv sementara tangannya ada di kepala Narin, mengusap-usap rambut gadis itu.

“Apa yang kau kerjakan semalam, sampai mengantuk sekali seperti ini Yeong??” tanyanya.

Narin tidak menjawab, kepalanya justru bergerak-gerak di dada Donghae mencari posisi enak, sesekali memukul-mukulkan kepalanya pelan ke dada Donghae membuat pemuda itu mengernyit heran. Tak berapa lama, gadis itu membuka mulutnya, “Kenapa keras sekali sih?!” tanyanya.

“Ya!!”

Donghae refleks mendorong kepala gadis itu pelan. Namun gerakan itu terlalu tiba-tiba untuk Narin yang tidak punya pegangan dan bersandar sepenuhnya pada Donghae. Ia terhuyung membuat kepalanya membentur lengan kursi.

“Aarrgh…” Narin mengerang lagi. Kali ini karena kesakitan.

“Omo….”

Donghae yang tidak menyangka, buru-buru menarik Narin ke pelukannya dan mengusap-usap bagian yang terbentur, “Mianhae… Mianhae… Appo??”

“Kau begitu membenciku ya??” protes Narin. “Jjinja appo” rengeknya..

“Wah, bengkak…” ucap Donghae sambil memijat-mijat kepala Narin, membuat Narin merengek semakin keras..

“Aniya.. aniya.. Aku cuma bercanda” Donghae kembali mengelus-elus kepala Narin. “Ya!! Jangan tidur lagi!! Ada yang ingin kubicarakan!!” pekik Donghae yang sadar kalau Narin berniat tidur lagi.

“Aku punya rencana.” lanjut Donghae, yakin kalau Narin mendengarkan. “Bagaimana kalau kita merayakan ulang tahunmu ber–”

“Shireo!!” dengan sangat cepat Narin menjawab. Ia melepaskan pelukannya dan berbaring menjauh.

“Ya!! Dengar dulu!!”

“Na shireo!!” Narin menggeleng, menolak mendengarkan. “Aku masih mengantuk. Jangan membicarakan hal-hal berat”

“Sejak kapan pembicaraan tentang ulang tahun menjadi pembicaraan berat??”

“Membicarakan ulang tahun artinya membicarakan umur. Dan umur itu persoalan yang sensitif dan berat untukku”

Donghae menaikkan sebelah alisnya, “Apa maksudnya itu??”

“Aku tidak suka ada yang mengingatkanku tentang ulang tahun, itu artinya aku harus mengingat fakta bahwa aku bertambah tua dan dewasa, dan aku tak suka itu!!” tegas Narin.

“Ya!! Kau sakit ya??” Donghae mendekat, memeriksa dahi gadis itu. “Sepertinya tidak, hanya sedikit gila kurasa..” gumam Donghae. “Jadi maumu apa?? Maksudmu kau ingin seperti ini terus??” lanjutnya lagi.

Narin bangkit lalu menyender pada lengan kursi yang sepertinya sudah membuat bukit kecil di kepalanya, “Ya, aku ingin seperti Isabella Swan. Yang umurnya berhenti di 20 karena digigit vampir, setelah itu hidup bahagia selamanya tanpa pernah bertambah tua sedikit pun.

Donghae mengerutkan keningnya, “Siapa nona Swan ini? Dan hebat sekali dia, bukankah seharusnya dia mati setelah digigit vampir??”

“Dia itu… Aah, sudahlah” Narin mendesah. “Kau tidak akan mengerti.”

Donghae menangkupkan wajah mungil Narin dengan kedua tangannya, “Berhentilah membaca buku- buku yang tebalnya membuat orang gila itu Rin-rin ku sayang. Lihat, sekarang kau jadi setengah gila!”

“Aku tidak gila!!” protes Narin.

“Aku tidak bilang kau gila, Aku hanya bilang kau setengah gila.”

Narin menggeram kesal, lalu kembali menjaga jarak dari Donghae, ke sudut sofa.

“Na, Lee Donghae shireo!!” pekiknya.

Donghae hanya tersenyum dan mendekat membuat Narin terpojok.

“Na, Cho Narin joha. Terserah kau mau bilang apa, aku tetap akan merayakan ulang tahunmu.” Ia lalu melirik jam tangannya. “Aku pulang saja, moodmu jelek sekali setiap bangun tidur. Aku sampai takut kau menggigitku” ucapnya sambil mengacak-acak rambut Narin membuat Narin kembali menggeram.

Donghae bangkit lalu beranjak keluar, “Benar-benar mirip anjing Nyonya Kang” gumamnya.

***

Donghae masuk ke rumah Narin. Kali ini gadis itu sedang duduk mengerjakan tugasnya di sebuah meja pendek. Di depannya, televisi hidup dengan suara pelan menampilkan drama yang dimainkan Lee Seunggi. Di sampingnya, si Gogi, notebook hitam miliknya sedang memutar video Coagulation yang disambungkan dengan headphone yang dipakai gadis itu, sementara ia sendiri sibuk menulis di sebuah kertas. Donghae menggeleng heran. Penasaran bagaimana caranya gadis itu berkonsentrasi mengerjakan tugasnya.

Donghae lalu duduk di sofa di belakang Narin, namun sepertinya kekasihnya itu tidak menyadari kedatangannya. Ia  mengambil coklat hangat milik Narin yang ada di atas meja dan berniat menyesapnya. Gerakan itu refleks membuat Narin berbalik.

“Ah, Donghae-ya. Berhenti mengejutkanku” desahnya sambil menghembuskan nafas lega.

“Kan sudah kubilang, kunci pintu, kunci pintu, kunci pintu. Kenapa kau tidak pernah mendengarkan??”

“Arrasso…” ucap Narin. “Untuk apa kau kesini? Membicarakan ulang tahun lagi??”

“Bingo!!” seru Donghae keras, “Aigoo, Rin-rin ku ternyata pintar sekali..

“Kan sudah kubilang, aku tak mau, tak mau, tak mau!!” balas Narin.

Donghae kembali menyesap coklat hangat Narin kemudian bersandar di sofa, sambil menyilangkan tangan, “Beri aku alasan kenapa kau tidak mau. Tapi tolong kali ini yang masuk akal!!

“Alasanku masuk akal!!”protes Narin tak mau kalah.

“Kenapa? Kau takut jadi tua?? Kau takut jadi tambah jelek??” tanya Donghae mengabaikan perkataan Narin. “Tenang saja, walaupun jelek, aku tetap sayang kok.” ledeknya.

“Bukan itu maksudku!!” tegas Narin. “Aku tak perduli menjadi jelek atau apa, aku hanya tak ingin jadi dewasa. Kau tau, jadi dewasa itu sangat mengerikan!!”

“Apanya yang mengerikan?? Sekarang kan kau sudah dewasa, dan sampai sekarang tidak ada sesuatu yang terjadi kan??”

“Jadi dewasa itu harus… ” Narin mendesah lagi, tak jadi melanjutkan. “Sudahlah, kau tidak akan mengerti!”

“Kalau begitu jelaskan agar aku mengerti!!”

Narin akhirnya memutuskan untuk menyerah, “Tapi kau harus janji tidak tertawa!!” ancamnya.

Donghae mengangguk lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya mengisyaratkan Narin untuk duduk disampingnya.

Narin menurut, ia bangkit lalu duduk disebelah Donghae. Gadis itu menunduk, memandangi lantai dibawahnya, sementara tangannya sibuk memainkan boneka alien yang sejak tadi ada didekatnya.

“Aku… Jadi dewasa itu menakutkan.” mulainya. “Semua harus kau lakukan sendiri. Kau harus memutuskan sesuatu sendiri, dan harus menanggung resikonya sendiri”

Donghae mengernyitkan dahinya, namun tetap menutup mulut.

“Kau juga harus mulai memikirkan tentang masa depanmu, dimana kau harus bekerja, mencari pasangan hidup, menikah, lalu punya anak, oh.. memikirkannya saja membuatku merinding” lanjut Narin lagi.

Gadis itu mendongak dan mendapati Donghae yang tersenyum lebar sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar. Ia pun beringsut dan memeluk Donghae.

“Aigoo.. Uri Narin-ie, baru kali ini aku melihatmu sebodoh ini” ucap Donghae membuat Narin memukul punggungnya. Donghae pun mengusak-usak rambut Narin, hal yang selalu ampuh menenangkan gadis itu.

“Aku tak tahu harus bilang apa, seharusnya kau meminta nasehat orang tua, kalau..”

“Kau kan orang tua!!” potong Narin.

“Tapi tak setua itu!!” protes Donghae. “Sebenarnya tak ada yang perlu kau takutkan. Hal seperti itu bukan untuk dipikirkan, tapi untuk dijalani.” ucap Donghae. “Tak perlu takut tentang menentukan pilihan. Kalau kau salah memilih, kau bisa menjadikannya pengalaman, dan mencoba untuk tidak mengulanginya. Kau mengerti maksudku kan??”

Narin mengangguk angguk.

“Dan soal menikah dan punya anak, lucu sekali sebenarnya, bukankah itu adalah impian setiap wanita??” tanya Donghae.

Kali ini Narin menggeleng, “Tidak semua berpikiran seperti itu.”

Donghae tersenyum, “Saat ini mungkin kau merasa takut. Tapi beberapa tahun nanti kau pasti akan menginginkannya”

Narin kembali menggeleng, membuat Donghae memukul kepalanya pelan, “Keras kepala!! Apa sekarang kau sudah merasa sedikit lega, eh, gadis bodoh?” Narin mengangguk-angguk di dada Donghae.

“Itu artinya, pesta ulang tahunnya jadi kan??”

“Shireo!!” tolak Narin cepat.

“Oh, ayolah Rin..”

“Shireo!!”

***

‘Rin-rin ku, alien tampanmu sedang membutuhkan perhatian. Ayo diangkat..’

Narin membuka ponselnya, tak perlu ditanya lagi siapa yang mengiriminya pesan.

 Yeong, kutunggu jam 9, di tempat kita pertama kali bertemu

Narin hendak menutup ponselnya saat sebuah pesan kembali masuk.

 Kau harus datang kalau tidak aku akan marah besar padamu.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Dia benar-benar tak ingin datang. Selain tidak suka merayakan ulang tahun. Ia juga tidak terlalu suka pesta apalagi dialah yang jadi pusat perhatiannya.

Tapi tunggu dulu, tempat mereka pertama kali bertemu? Apa Donghae mau membuat pesta di taman itu?? Yang benar saja, bagaimana kalau ada fans yang melihat?

Narin mengangkat bahunya, menolak berpikir. Ia bangkit dan beranjak ke kamar saat ponselnya kembali berdering dari orang yang sama.

 Jangan sampai aku harus kesana dan menyeretmu Yeong..

Narin menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu. Donghae kadang bisa sangat nekad, namun ia menggeleng, dan memutuskan untuk tidak pergi dan lebih memilih mengganti bajunya dengan piyama tidurnya.

***

Jam menunjuk ke angka 10.00. Narin gelisah, bahkan Hyun Bin yang sedang menebarkan senyum mautnya pun tak mampu mengurangi kegelisahannya. Ia melirik ponselnya yang bisu. Ia sendiri tidak tahu apa yang ia harapkan. Apakah Donghae yang menelepon dan marah-marah padanya atau Donghae yang tiba-tiba datang dan benar benar menyeretnya?? Aissh, tapi keduanya lebih baik daripada di diamkan seperti ini.

Narin memeluk lututnya, mencoba memfokuskan diri pada senyum maut Hyun Bin, saat pintu rumahnya tiba-tiba terbuka dan Donghae muncul dengan wajah berapi-api.

“Neo, jjinja…” Donghae mencubit kedua pipi Narin gemas. “Kau membuatku kesal malam ini, kau tau itu??”

Narin membuka mulutnya hendak membela diri namun dengan gerakan tiba-tiba, tangan kanan Donghae sudah ada di belakang lututnya semantara tangan kirinya ada di punggung gadis itu dan mengangkatnya..

“Kyaa… Donghae-ya oediga..???”

***

Narin memandangi sekitarnya. Ini taman tempat ia pertama kali bertemu dengan pemuda itu. Pemuda yang beberapa bulan belakangan ini menjadi alasannya tersenyum. Di taman inilah ia pertama kali bertemu dengan Lee Donghae, Super Junior namun tidak mengenalnya.

Saat itu ia sedang mengerjakan tugas klubnya yaitu mencari titik sebuah bintang. Dan Donghae datang dengan wajah kagumnya memandangi teleskop manual yang dibuat Narin bersama teman klubnya dan dari situlah kisah mereka dimulai.

Taman itu sepi. Berbeda sekali dengan apa yang dibayangkannya. Tak ada pesta, tak ada balon, tak ada keramaian, dan tak ada member Super Junior lainnya. Yang ada hanyalah, dia, Donghae dan sebuah teleskop juga lilin-lilin kecil yang mengelilingi mereka. Tak lupa sebuah selimut yang dihamparkan ditanah diantara lilin tesebut.

Angin berhembus sedikit kencang membuat Narin menggigil. Ia melirik bajunya dan baru sadar kalau ia hanya menggunakan piyama tidurnya.

“Hae-ya, dingin…” rengeknya. “Kita pulang saja ya..”

Donghae melirik piyama Narin dan mendecak, “Ya!! Kenapa kau tidak memakai jaketmu??”

“Kau yang tiba-tiba datang dan menyeretku kesini, apa kau sudah lupa tuan?”

“Aissh…” decak Donghae lagi. Ia lalu membuka jaketnya dan memberikannya pada gadis itu. “Tunggu disini aku akan mengambil jaket lain di mobil!”

Narin mengangguk, “Jangan lama-lama. Aku takut.”

Donghae berlari ke arah luar taman sementara Narin memandangi sekitarnya. Apa Donghae akan memberinya kejutan, apa mungkin saat ini member lain sedang bersembunyi dan tiba-tiba meloncat keluar dan mengejutkannya?? Sepertinya tidak.

Donghae kembali, setengah berlari dengan sebuah ransel dan sebuah jumper di tangannya dan memberikannya pada kekasihnya itu.

Narin kemudian duduk diatas selimut, memandangi Donghae yang sedang sibuk dengan teleskopnya. Gadis itu tersenyum, Donghae ternyata sudah mahir menggunakannya. Ia ingat saat mereka pertama kali bertemu, Donghae dengan noraknya bertanya, “Apa kita juga bisa melihat alien dengan benda ini??”🙂

“Donghae-ya..” panggil Narin, namun Donghae meletakkan telunjuk kanannya dibibir menyuruh Narin diam.

“Sebentar lagi selesai. Nah, sudah..”

“Apanya yang sudah??” tanya Narin namun Donghae mengabaikannya, kemudian mengambil posisi duduk disebelah gadis itu.

“Aissh.. dingin sekali!!” Donghae menggosok-gosokkan kedua tangannya mencoba mencari kehangatan lalu melirik jam tangannya yang menunjuk angka 11, “Kenapa lama sekali sih??” decaknya. “Kita mulai sekarang saja ya??”

“Mwo??” Narin mengeluarkan wajah bingungnya, “Apa sih yang kau bicarakan dari tadi??”

Donghae kembali mengabaikan pertanyaan Narin. Ia lalu berbalik dan meraih ranselnya, membuat Narin tak bisa melihat apa yag dilakukannya.

“Jjan– Saengil chukahamnida.. Saengil chukahamnida.. Saranghaneun uri Narin. Saengil chukahamnida..”

Donghae mengeluarkan sebuah cupcake berwarna vanilla dengan sebuah lilin diatasnya dan mulai menyanyi sementara Narin hanya diam terpana.

Saat Donghae selesai menyanyi, Narin melirik sekelilingnya seperti mengharapkan sesuatu terjadi, lalu beralih menatap Donghae lagi.

“Benar-benar tidak ada pesta?”

Donghae menggeleng masih memegangi cupcake-nya sambil melindungi lilin dari tiupan angin, “Seperti permintaan tuan putri, tak ada pesta. Puas??” cibir Donghae.

“Jadi, tak ada member lain yang sedang bersembunyi?”

Donghae menaikkan pelipisnya “Mwo??”

“Jadi kau membawaku kesini, kedinginan, hanya untuk sebuah cupcake?”

“Bukankah kau yang tak ingin ada pesta? Dan siapa maksudmu yang kedinginan? Bukankah kau sudah memakai jumper-ku??”

“Baiklah, kau yang kedinginan.” ucap Narin menyerah. “Lalu, apa hadiah untukku pun tak ada?”

“Tidak bisakah kau membuat suasananya sedikit romantis?? Make a wish dulu baru tiup lilinnya SAYANGKU!!” ucap Donghae sambil memberi penekanan pada kata sayangku, mencoba menahan rasa kesalnya yang mulai datang.

Narin lalu memejamkan matanya, membuat sebuah permohonan lalu meniup lilin. Donghae kemudian meletakkan cupcake tersebut di kedua tangan Narin lalu kembali meraih ranselnya mengambil sesuatu.

“Apa ini??” tanya gadis itu.

Star Certificate

Name : Rin-Rin LOVE
In honor of : Cho Narin
Registration date : 7/11/2011

“Itu sebuah bintang. Untukmu.”

“Bintang??” mata gadis itu melebar. “Benar-benar bintang? Seperti yang diberikan ELF untukmu?”

Donghae mengangguk, “Lihat saja, aku sudah menyetel koordinatnya.”

Narin segera bangkit dari duduknya menuju teleskop, dan kemudian melihatnya. Sebuah bintang yang cantik sekali. Bersinar sangat indah. “Yeppuda…” bisiknya.

Donghae ikut bangkit lalu berdiri di belakang gadis itu sambil ikut tersenyum memperhatikan gerak-geriknya. Narin berbalik lalu memeluk Donghae erat, “Donghae-ya gomawo..” lalu mulai melonjak-lonjak sambil berputar memaksa Donghae juga ikut berputar sambil memegangi pinggang gadis itu agar mereka tidak oleng.. “Kyaa… Aku punya bintang.. Aku punya bintang.. Kyaa…”

Donghae tertawa kencang melihat tingkah gila gadis kesayangannya itu, “Kau suka, eh??” tanyanya setengah berteriak demi mengalahkan teriakan nyaring Narin.

“Suka… Suka sekali. Hae-hae gomawo…” ucap Narin lalu mengecup pipi Donghae kilat, sementara Donghae hanya bisa memutar bola matanya, namun ikut tersenyum.

“Hatsyi… Hatsyi..” Donghae tiba-tiba saja bersin. Ia kemudian melepaskan pelukan Narin lalu mulai membereskan barang-barang.

“Kalau begitu, ayo pulang. Aku kedinginan disini.”

“Mwo?? Ah, waeyoo??” Narin terkaget. Ia merengut sebal. Gadis itu menarik tangan kanan Donghae dan melirik jam tangannya, “Lihat, ini bahkan belum jam 12. Kita terlalu cepat merayakannya. Kenapa harus pulang??” rengeknya.

“Itu tidak penting.” Donghae tetap melakukan kegiatannya melipat selimut yang tadi mereka gunakan untuk duduk. “Yang penting, kita sudah merayakannya.”

Narin mengerucutkan bibirnya, “Kejam sekali. Kau ini sama sekali tidak romantis.”

“Tidak ada kata romantis, saat kau hampir membeku sepertiku. Dan sejak kapan kau suka hal-hal romantis??” balas Donghae. Ia pun membereskan teleskopnya lalu beranjak ke luar taman, sementara Narin dengan langkah terpaksa mengikuti dari belakang.

“tch- Lee Donghae kejam. Setidaknya kau kan bisa membeli kue yang sedikit lebih besar. Strawberry cake atau yang lainnya yang lebih keren dari sebuah cupcake kecil??” ujar Narin.

“Jangan coba-coba mengeluh SAYANGKU,” ucap Donghae dengan bibir rapat. “Itu semua salahmu. Aku sudah membeli kue yang besar, penuh strawberry kesukaanmu, tapi akhirnya aku harus merelakannya masuk ke perut Shindong hyung dan si monkey. Aku juga harus mencabut kembali semua dekorasi yang sudah kupasang di dorm yang seharusnya untuk merayakan pestamu bersama member lain. Kau tau itu??” cecar Donghae. “Jadi semua salahmu. Kau menghancurkan semua rencana yang kususun selama sebulan hanya dalam satu hari. Kau benar benar mengerikan!!”

“Hehehe…” Narin tertawa, mencoba meredakan amarah Donghae.

“Jangan nyengir seperti itu. Kau kira kau dimaafkan, eh??”

“Gomawo Hae-ya. Kau tau kan kalau aku sangat menyayangimu?” Narin mengedip-ngedipkan matanya, mencoba aegyo-nya.”

Donghae mencubit kedua pipi gadisnya itu gemas. “Tapi aku membencimu..” sahutnya. “Hari ini..”

enD-

Annyeong, I’m back dengan ff gak penting

actually, 7 nov kemaren was my b’day (gak nanya)..
tepat sehari setelah anniversary-nya SUJU (gak ada urusan)
berharap ada yang mau nulisin ff bwt b’day saya,
tapi itu mus to the ta to the hil, mustahil..
jadi dengan pedenya nulis buat diri sendiri sambil ngebayangin
si Haehae bener-bener ngasih kado (ngarepamatbuk,,)

Oh ya, adakah perasaannya yang sama dengan saya /tunjuk2atas/
tentang umur??

 

Yang ini gak dikomen juga gak papa
gak penting soalnya—-

Love, Love and Only HaeLove,

16 thoughts on “[Onespace] Vanilla Birthday…

  1. setuju, aku super setuju sama narin. Jadi dewasa itu mengerikan, penuh dgn tanggung jawab yg berat, yg harus d tanggung sendiri /tidaaaak/ mmbyangkan.a saja sudah menakutkan -___-
    Hebat bgt it narin dlm sehari aj bisa mnggagalkan rencana yg donghae susun selama sebulan /daebak narin-ya/ kkk~

  2. saya….. *tunjuk jari….
    ketakutan jdi tua…. tkut jdi istri… punya ank… bertanggung jawab…. bnar2 nggak bgt……
    ketakutan tiap umur nmbah…. mo x gak dpikir tpi selalu kpikiran gra2 yg laenn pda gingtin….
    dlu q kira cma aq yg aneh…. hohoho… trnyta ada jga yg sma #clap….. *EH

    • Hahahaha..
      ada teman juga nih..
      aku juga suka dibilangin aneh kok sama temanku gra2 itu..
      tapi bodo amat, kan itu pribadi masing2..

      Hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s