Foul Love Story – Foul 4

before–

“Yeonng..”

“Ya?? Ada apa?? Kau mengigau ya??” kikik Narin pelan, mengira Donghae benar benar mengigau.

Namun Donghae membuka matanya, menatap Narin dengan pandangan sayu. “Kenapa kau begitu membenciku??” bisik Donghae. Narin terdiam. Berharap pendengarannya sedang tidak benar.

***

Foul Love Story – Foul 4


“Mwo??Mworago??” tanyanya berharap kali ini ia salah dengar.

Donghae masih menatap Narin dengan pandangan sayunya. “Kenapa kau begitu membenciku Yeong?? Padahal dulu tidak begitu. Kenapa kau selalu marah padaku tanpa ada alasan yang jelas? Kenapa kau selalu mengabaikanku?? Kenapa kau selalu mengacuhkan keberadaanku?? Kau jahat sekali Yeong.. ” ucap Donghae pelan dan lambat seperti berbisik.

Narin terdiam. Lagi. Seperti ada yang baru saja menamparnya. Seperti itukah yang dirasakan Donghae selama ini. Apakah selama ini tanpa sadar ia sudah bersikap keterlaluan?? Jahat sekali dia. Padahal Donghae begitu baik padanya. Selalu menolongnya, membantunya dan tak pernah meninggalkannya sendirian.

Karena aku takkan pernah membiarkanmu sendirian, untuk alasan apapun itu

Inikah balasan yang diberikannya untuk orang yang sudah begitu baik padanya?? Dengan menyakitinya??

Narin menghapus air matanya, yang entah sejak kapan mulai membasahi pipinya. Dipandanginya Donghae yang sudah kembali terpejam dan bernafas teratur. Tapi.. Tapi Narin tidak pernah membenci Donghae. Sekalipun tidak pernah. Donghae memang selalu membuatnya kesal tapi ia tidak pernah berpikir untuk membencinya. Bagaimana bisa kau membenci orang yang begitu baik padamu?? Itu tidak mungkin.

“Kau hanya ingin mengejekku-kan?? Ya!! Ayo bangun.” Narin menepuk-nepuk pipi Donghae.

Donghae mengerang, lalu membalikkan badannya dan menenggelamkan wajahnya di perut Narin. Membuat Narin terkesiap.

“Berhentilah membanding-bandingkanku dengan Kyu. Aku memang tak setampan dia, tapi kau tak perlu mengatakannya terus-terusan di depanku.”

“Kyu??” Narin mengerutkan dahinya bingung.

“Tak apa kalau kau menyukainya. Aku baik-baik saja. Aku pasti akan baik-baik saja.”

“Donghae-ya apa maksudmu?? Aku?? Kyu??”

“Selagi Kyu dan Hyuna sedang bertengkar, kau bisa mendekatinya. Siapa tahu Kyu juga ternyata menyukaimu dan kalian bisa bersama”

“Yaa!! Apa yang kau bicarakan Lee Donghae??” teriak Narin keras, semuanya mulai terasa jelas baginya.

Donghae mengira kalau dia menyukai Kyu, lalu menyuruhnya mendekati Kyu selagi Kyu sedang bertengkar dengan Hyuna. Apa sebenarnya yang ada dipikiran si bodoh ini. Kyu dan Hyuna adalah sahabatnya, bagaimana mungkin dia melakukan hal sejahat dan sehina itu?? Seburuk itukah dirinya di hadapan Donghae sampai berpikir kalau dia akan melakukan hal seperti itu??

“Tak apa Yeonng.. Aku baik baik saja”

“Kau… Kau” ucap Narin terbata-bata, tak tau ingin mengucapkan apa. “Bukan hanya aku, kau juga jahat. Lee Donghae bodoh. Aku benci padamu” Narin mengusap air matanya dengan kasar. Kesal, diangkatnya kepala Donghae lalu diletakkannya dengan kasar di atas sofa. Disaat yang bersamaan terdengar suara Yoojin dari depan.

“Aku pulang-, oh Rin, kau- ”

“Onnie, aku pulang dulu” pamit Narin tanpa mendengarkan Yoojin terlebih dahulu.

“Rin, ada apa??” teriak Yoojin mencoba mencegah kepergian Narin tapi Narin tetap berjalan kembali ke rumahnya.

“Ada apa sih??” gumamnya bingung. Yoojin pun masuk ke ruang tamu dan mendapati Donghae yang tertidur di sofa ditemani televisi yang hidup dengan suara pelan. Sebuah mangkuk kecil terletak di atas meja dengan sebuah handuk di dalamnya.

Yoojin mendekati Donghae dan menempelkan telapak tangannya ke kening Donghae memeriksa suhu badannya. Saat itulah dia mendengar suara igauan Donghae yang seperti bisikan. “Yeong, tak apa bersama Kyu. Aku baik baik saja”

Yoojin mengernyit “Narin? Kyu? Ada apa ini??”

***

Donghae terbangun keesokan paginya, melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Ia menyentuh keningnya sebentar lalu bangkit duduk diatas tempat tidurnya. Tempat tidur?? Bukankah dia semalam tidur di sofa ditemani Narin? Dan Narin, kemana dia? Apa dia ada diluar? Apa Narin yang semalam membawanya ke kamar? Bagaimana caranya? Tak mungkin Narin menggendongnya kan??

Donghae berjalan keluar kamar sambil menggosok-gosok matanya menghilangkan rasa kantuk. Dia merasa sudah sehat, walaupun badannya masih terasa hangat, entah mengapa kalau sudah terserang demam, ia perlu berhari-hari dulu untuk sembuh, tapi saat ini ia merasa sudah baik-baik saja.

Donghae berjalan ke dapur dan mendapati Yoojin yang sedang duduk di meja malam sambil mengolesi selembar roti dengan selai jeruk.

“Noona..” panggilnya.

“Ah, Hae-ya..” Yoojin berbalik dan tersenyum,”Kemarilah” ucapnya lalu mengulurkan tangannya mengisyaratkan pada Donghae untuk mendekatinya.

Donghae mendekat lalu menunduk saat Noonanya ingin menyentuh keningnya “Hmm, masih hangat. Kau sudah merasa baikan??”

Donghae mengangguk. “Eung, aku ada kuliah jam 10 nanti.”

“Kau yakin??” Donghae kembali mengangguk.

“Kalau begitu ayo sarapan dulu, kau tidak makan dengan benar dua hari ini” Yoojin menarik kursi disampingnya dan menepuknya, menyuruh Donghae untuk duduk di sampingnya. Memberinya sepiring roti dengan selai jeruk dan segelas susu putih.

“Gomawo Noona” Donghae mengigit rotinya lalu melirik ke kiri dan kanan. “Noona, Narin oediya??”

“Narin?? Dia tidak ada disini. Dia kan sudah pulang dari semalam.”

“Dari semalam?? Bukannya dia menemaniku semalaman?? Lalu siapa yang membawaku ke kamar?? Bukankah semalam aku tertidur di sofa??”

“Tidak. Dia tidak menemanimu. Dia langsung pulang semalam. Apa kau tidak ingat? Akulah yang dengan susah payah membangunkanmu dan menyeretmu hingga sampai ke kamar. Kau sama sekali tidak ingat??”

Donghae menggeleng pelan. Ia memang tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam, tapi ia sedikit kecewa. Saat sedang sakit pun, Narin tetap tidak perduli padanya. Sebenarnya saat terbangun, ia berharap menemukan Narin yang tertidur di dekatnya karena kelelahan menjaganya semalaman. Tapi harapan memang hanya harapan. Kapan sih seorang Narin perduli padanya??

“Tapi ada yang aneh” ucap Yoojin. “Semalam saat aku baru saja datang, dia langsung pulang begitu saja sambil menangis”

“Menangis??” pekik Donghae.

“Hmm, aku melihatnya menghapus air mata, lalu berlari pulang begitu saja, aku berusaha memanggilnya tapi dia tidak mau berbalik”

“Ada apa sebenarnya??” gumam Donghae pada dirinya sendiri namun ternyata Yoojin mendengarnya,

“Mana aku tahu, aku kan baru saja pulang, justru seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan padanya??” tanya Yoojin galak.

Donghae hanya menggeleng. Narin menangis? Apa yang sebenarnya terjadi semalam?? Apa tanpa sadar ia melakukan sesuatu yang aneh semalam?? Tidak mungkin. Dia sangat yakin semalam ia bahkan tak sanggup untuk berdiri tegak. Atau tanpa sadar ia mengatakan sesuatu?? Aissh, apa sih yang sebenarnya terjadi??

***

Donghae melirik jam tangannya. Seorang temannya meminta bantuan untuk proyek yang dibuatnya. Walaupun sebenarnya dia ingin sekali cepat-cepat ke cafe untuk bertemu Narin menanyakan hal yang terjadi semalam, namun ia tidak sampai hati untuk menolaknya.

Donghae berjalan cepat, ia sampai tepat saat Narin berjalan keluar cafe. Dilihatnya juga Noona-nya yang sedang bersama Eunhyuk masih ada didalam cafe. “Rin..” panggilnya kencang.

Narin berbalik memandangnya dengan tatapan menusuk lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun kembali berjalan menuju halte bus.

“Ada apa sih??” pikir Donghae. Memang Narin tak pernah bersikap manis padanya, tapi setidaknya Narin masih berbicara -lebih tepatnya mengomelinya- tidak diam dan pergi begitu saja. Dan apa maksud dari pandangan itu?? Aissh…

Donghae membuka pintu cafe lalu berteriak. “Noona kau pulang bersama Eunhyuk kan? Aku mau pulang bersama Narin. Hati hati.”

Donghae langsung berlari cepat mengejar Narin tanpa memperdulikan Yoojin yang berteriak-teriak memanggilnya.

“Rin… Rin chakaman..” teriaknya tapi Narin malah mempercepat langkahnya, hingga akhirnya Donghae berhasil menemui Narin yang sudah duduk di halte bus.

“Haah… Teganya kau Rin,” ucap Donghae setelah menarik nafas sebanyak yang ia bisa, “Aku kan baru saja sembuh, kau malah membuatku berlari malam-malam begini”

Narin hanya mencibir kesal dan langsung naik begitu saja ke dalam bus yang baru datang, Donghae mengikutinya dan langsung mengambil tempat di sebelah Narin.

Bus malam memang sepi. Hanya ada 5 orang di dalam bus selain mereka berdua. Ada sepasang kekasih yang duduk di belakang. Dua orang wanita pekerja kantoran dan seorang lelaki paruh baya. Hal ini membuat Donghae lebih leluasa untuk berbicara.

“Rin, ada apa sih denganmu?? Kenapa kau diam saja?? Biasanya kan kau selalu mengomel, mengapa hari ini tidak??” tanya Donghae berusaha mencairkan suasana namun Narin tetap membisu.

“Rin..” rengek Donghae. “Kenapa sih?? Oh ya, semalam Yoojin Noona bilang kau pulang sambil menangis, ada apa?? Apa semalam aku melakukan kesalahan??”

Narin menarik nafas dalam seperti sedang mengumpulkan semua kesabarannya yang hanya tersisa sedikit, “Lee Donghae, diamlah. Dan jangan sebut-sebut soal semalam lagi, aku tidak mau mendengarnya.”

Donghae mengerutkan keningnya, “Waeyo?? Memangnya apa yang terjadi semalam?? Ayolah Rin, kau mau membuatku mati penasaran ya?? Kau kejam sekali. Jangan jahat begitu.” rengek Donghae lagi kali ini dengan nada manja berharap Narin luluh, namun ternyata justru membuat Narin meledak.

“Geurae.. Seperti yang kau katakan semalam, aku memang orang jahat. Jadi kau tak perlu dekat-dekat lagi denganku dan kau tak perlu menjemputku lagi. Kau juga tak perlu baik lagi padaku, karena aku ini orang jahat yang bisa melakukan apa saja, bahkan merebut pacar sahabatku sendiri”

Bus berhenti dan Narin langsung turun meninggalkan Donghae dan berlari sampai ke rumahnya. Donghae terdiam. Shock. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu. Apa sebenarnya yang sudah kukatakan semalam? Apa aku mengatainya jahat?? Oh yang benar saja Lee Donghae.

***

Narin menatapi langit-langit kamarnya. Tak ada hal lain yang melintas di pikirannya selain wajah menyebalkan Lee Donghae. Narin sadar dia sebenarnya tak semarah itu pada Donghae dan merasa sedikit keterlaluan karena mengabaikan Donghae seperti itu, tapi entah mengapa saat berada di dekat Donghae, semuanya terasa sangat menyesakkan. Apa sebenarnya alasannya? Karena Donghae menganggapnya jahat? Karena Donghae berprasangka buruk padanya? Lalu mengapa? Bukankah dia tidak punya perasaan apa-apa pada Donghae selama ini? Lalu untuk apa memperdulikan apa pandangan Donghae tentang dirinya?? Biarkan saja…

Kau membuatku kaget Rin, kau mau kupeluk??

Kenapa kau selalu mempertanyakan hal yang sama?? Aku suka menjemputmu. Dan aku ingin melakukannya, jadi biarkan aku melakukannya.

Bukankah seorang lelaki memang harus selalu menjaga orang yang disukainya??

Karena aku tak akan pernah membiarkanmu sendirian untuk alasan apapun itu.

Rin??

Ne??

Jinjja johaeyo..

“Arrgh” Narin berteriak frustasi sambil menutup matanya dengan bantal. “Jinjja michigeta”

***

Donghae duduk disudut cafe, didekat pintu masuk. Dia sudah muncul sejak sejam yang lalu menunggu Narin selesai shift. Donghae bertekad harus mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi kemarin sampai Narin tak lagi mau bicara padanya.

“Rin..” panggilnya saat Narin lewat dengan tas selempang putihnya sama sekali tak memberi tanda-tanda menyadari keberadaan Donghae, atau berpura-pura tak menyadarinya.

Donghae menyambar ponsel, topi, jaket, dan ranselnya lalu secepat mungkin mengejar Narin yang sudah keluar terlebih dahulu.

“Rin, kenapa sih? Kau masih marah padaku?” rengek Donghae sesaat setelah berhasil menyamakan langkah dengan Narin, namun Narin tetap bungkam.  “Berikan aku alasan kenapa kau mendiamkanku? Sampai kapan kau berencana tidak mau bicara padaku? Ayolah jangan kejam begini…”ucap Donghae sambil berusaha meraih tangan Narin namun langsung ditepis sang pemilik.

“Ya, aku memang kejam dan jahat. Jadi kau tidak usah memperdulikanku lagi. Pergilah dan jangan ikuti aku” bentak Narin kesal sambil terus berjalan.

“Kenapa sih dari semalam kau terus mengatakan kalau kau jahat? Apa aku yang mengatakan seperti itu? Arrasso, mianhae. Jeongmal mianhae”

“Untuk apa kau minta maaf. Kau bahkan tidak ingat apa-apa”

“Hey, ayolah tolong maafkan aku, semalam itu kan karena aku sedang mengigau.”

Narin tiba-tiba berhenti. Memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya lalu menatap Donghae dalam, membuat pemuda itu meneguk ludah. “Aku tahu aku jahat, tapi seburuk itukah aku dimatamu Hae? Bagaimana bisa kau mengira aku tega merebut pacar sahabatku sendiri?” ucapnya pelan dan dalam.

Donghae terdiam, mencoba mencerna kalimat Narin satu persatu.  “Merebut… pacar… sahabat?? Nugu??” gumamnya pelan bertanya pada dirinya sendiri.

“Sahabatku tidak banyak Hae,”ucap Narin lalu pergi menaiki bus yang datang meninggalkan Donghae yang masih sibuk dengan pikirannya.

“Sahabat? Hyuna? Kyu?”

***

Donghae masuk ke rumah dengan frustasi. Dilemparkannya sembarangan sepatunya dan tanpa memberikan salam langsung menuju kamarnya, tak memperdulikan Yoojin yang baru saja selesai makan terbengong melihatnya. Dia ingin cepat-cepat mencerna semua informasi yang baru saja di dapatnya hari ini.

Aku tahu aku jahat, tapi seburuk itukah aku dimatamu Hae? Bagaimana bisa kau mengira aku tega merebut pacar sahabatku sendiri?

Apa aku mengatakan hal seperti itu saat mengigau? Apa aku mengatakan kalau Narin tega merebut Kyu dari Hyuna? Apa benar yang dimaksud adalah Kyu dan Hyuna?

Sahabatku tidak banyak, Hae.

Geurae. Pasti yang dimaksud adalah Kyu. Aissh jinjja, apa benar aku mengatakan semua itu saat mengigau?? Oh, tamat riwayatmu Lee Donghae. Bagaimana caranya agar Narin mau memaafkanmu??

“Donghae-ya”

Donghae langsung tersentak dari lamunannya saat mendengar panggilan Noonanya.

“Nde, noona” balasnya setengah berteriak.

“Aku sudah menyiapkan makan malammu, ppali mokgo”

“Ah noona, aku sedang tidak berselera” Donghae memang belum makan malam, namun ia sedang tidak ingin melakukan apapun malam ini. Yang ia perlukan adalah berfikir.

“Mwo?? Ya!! ppalli” bentak Yoojin kali ini.

“Ah noona, andwaeyoo–”

Setelah itu tak ada lagi suara. Donghae mengira kalau Noonanya sudah menyerah dan membiarkannya namun tak disangka Yoojin masuk lalu menyeretnya paksa ke meja makan dan meletakkan makanan di hadapannya.

“Makan!!” perintah Yoojin dengan mata membesar dan tangan di pinggang.

“Noona….” rengek Donghae mencoba menghindar namun Yoojin semakin membesarkan matanya, dan kali ini tak ada yang bisa dilakukan Donghae lagi. Yoojin memang sangat menyayanginya, tapi kalau sedang marah, galaknya mengalahkan Narin.

“Makan. Aku tak suka melihatmu sakit.”

Donghae lalu menyuap nasi ke mulutnya malas-malasan, sama sekali tidak berniat.

“Ya!! Apa kau dan Narin sedang bertengkar??” tanya Yoojin. Donghae menoleh dengan enggan lalu mengangkat bahunya, “Entahlah, dia tidak mau bicara padaku.”

“Wae?? Ada masalah??”

Donghae menghela nafas, “Aku juga tidak tahu, Noona. Sepertinya aku melakukan kesalahan saat sakit kemarin. Kemungkinan aku mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya saat mengigau kemarin.”

“Jinjjaro?? Apa karena itu dia pulang sambil menangis? tanya Yoojin lagi sambil menatap langit-langit seperti berpikir.

Donghae meletakkan sumpitnya lalu menelungkupkan kepalanya ke atas meja. “Andai saja aku tahu apa yang kukatakan.. Tapi Narin sama sekali tidak mau memberitahuku” desahnya. “Apa kau mendengar sesuatu saat aku mengigau kemarin Noona??” tanya Donghae masih sambil menyembunyikan wajahnya.

“Tidak. Aku tidak mendengar apa-apa” jawab Yoojin sambil memandang sedih Donghae. “Hmm..aku hanya mendengar kau menyebut nyebut Narin dan Kyu, itu saja, tak-”

Donghae mendongak tiba-tiba membuat Yoojin tersentak. “Noona, apa yang kukatakan? Apa? Apa?” tanyanya penuh harap.

“Hmm… Aku hanya ingat kau mengatakan, Rin pergilah bersama Kyu. Aku baik baik saja, kira-kira seperti itulah” jawab Yoojin sedikit ragu.

“Apa ada lagi Noona? Apa lagi yang kukatakan??”

Yoojin menggeleng, “Sepertinya tidak ada. Hey, apa maksud se–”

Donghae langsung beranjak dari tempat duduk, meletakkan piringnya yang masih bersisa ke dalam bak cuci dan langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Yoojin yang sibuk mengomelinya.

***

“Aku membencimu Donghae-ya. Aku membencimu. Tak usai ikuti aku lagi. Anggap saja kita tidak saling kenal. Jadi kau tak perlu lagi bersusah payah untuk berteman dengan orang jahat sepertiku. Aku pergi” teriak Narin lalu berbalik meninggalkan Donghae yang menundukkan kepala.

Donghae memang sengaja datang untuk menjelaskan semuanya pada Narin. Setelah berhasil menyimpulkan apa yang sebenarnya menjadi penyebab kemarahan Narin padanya, ia ingin minta maaf dan menghentikan perang dingin antara mereka, tapi kenyataannya benar-benar tidak sesuai dengan yang ia harapkan.

Donghae menundukkan kepalanya mencoba menahan air matanya yang berteriak minta dikeluarkan. Ia sudah tahu kalau selama ini Narin memang membencinya, tapi mendengar hal ini langsung sungguh berbeda. Sangat menyakitkan, membuat dadanya sesak dan memaksanya berjuang keras menahan diri agar tidak menangis di tengah jalan seperti orang bodoh.

‘Anggap saja kita tidak saling kenal’

Bagaimana bisa?? Bertahun-tahun ia habiskan bersama Narin. Segalanya ia lakukan bersama Narin. Bagaimana bisa berupa pura tidak saling kenal??

Donghae menggeleng. Tidak. Tidak boleh seperti ini. Mengapa memangnya kalau Narin membencinya?? Apa karena itu ia menyerah? Membiarkan Narin-nya pergi begitu saja? Bukan baru hari ini saja Narin membencinya. Bertahun tahun ia bisa bertahan, lalu mengapa hari ini ia harus menyerah? Tidak bisa. Narin-nya akan selalu disisinya.

Donghae menegakkan kepalanya dan mendapati punggung Narin yang sudah jauh didepannya.

“Tunggu aku, Rin” Donghae berlari mencoba mengejar, namun Narin yang mendengar derap langkahnya malah ikut berlari berharap menghilang dari pandangan Donghae.

Tanpa pikir panjang gadis itu menyebrangi jalan raya yang padat. Yang ada diotaknya saat ini hanyalah bagaimana agar Donghae tidak mengejarnya lagi. Tak dilihatnya sebuah motor yang melaju kencang ke arahnya. Narin tercekat dan menutup matanya.

“YEONNG!!”

-tbC-

uda part 4 aja, itu artinya satu part lagi ending.
Buat yang nungguin ni cerita/kalo ada/ Mianhae, lama banget
baru publish. Harap maklum..

Setelah ini ending kayaknya bakalan lama baru
bisa publish series, soalnya belum
berbakat membuat series dalam waktu singkat..

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove,

14 thoughts on “Foul Love Story – Foul 4

  1. huwaa, kasian hae..
    kan niatnya pengen bikin narin bahagia.. =(
    mana tbc di saat2 yg menegangkan..
    smoga narin baik2 aja..

    • Emang si hae mukanya bikin orang kesian😀
      pasti baek koq, gak mungkin saya tega nyelakain diri sendiri../slapped/

      tunggu kelanjutannya…😀
      Annyeong~~~

  2. hallo! saya reader baru, salam kenal😀
    maaf saya cuma comment di part ini aja, maaf banget *bow*
    saya baca part ini sambil dengerin lagu kiss the rain yang ada yang nyanyinya dan itu sukses bikin tambah galau hehehehehe, keren ceritanya, saya suka😀
    semangat author!😀

    • Annyeong…. Salam kenal juga…😀
      gapapa koq, gak perlu minta maaf, uda rela komen juga udah seneng…=b=
      lagu kiss the rain?? sapa yg nyanyi?? Gak update bgt saya… Hehehe/timpuk/

      ThenKyu dibilang keren.. sering2 mampir ya…:D
      Semangat!!! Annyeong~~~

  3. kasian hae nya di diamin… nggak dimaafin narin lagi..
    narin bakal ditabrak ya?? gimana tu?
    penasaran…
    tbc nya pas banget… lagi seru serunya..

    ditunggu lanjutannya thor🙂

    • si narin agak oon soalnya,,
      cowok cakep malah dianggurin…

      koq kesian sih?? bukannya bikin palak ya?? – -”

      Gomawo sudah baca…
      Jangan bosan2 mampir
      Annyeong~~~/lambailambaibarengHae/

  4. Dosini feelnya dpt bngt. Nyeseknya jg dpt bngt. :””
    Kasian hae T.T
    Tp kesanya manis gitu. Mereka tengkar krn hal sepele. Kek orng pcran aja.><
    Waduuu itu si narin gimana?? Segitunya ngindarin donge😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s