Foul Love Story – Foul 3

before–

Donghae mendengus kesal. “Arrassoyo.. Aku tak akan merepotkanmu lagi Noona. Kami pulang.Rin kajja, Annyeong” Donghae menarik tangan Narin dan membawanya keluar.

Narin membalikkan badannya dan melambai. “Onnie annyeong, Hyukkie oppa, annyeong”pamitnya, tak lupa “Kyunnie, sampai jumpa besok–”

***

Foul Love Story – Foul 3

Udara malam ini benar-benar sangat menusuk. Donghae merapatkan jaketnya. Ini benar benar menyiksanya, apalagi mereka harus berjalan kaki agak jauh untuk sampai ke halte bis.

“Dingin sekali, kau mau kita naik taksi saja??” tanya Donghae sambil meniup-niup tangannya.

Narin menggeleng, “Gwenchanna.Tidak sedingin itu kok.Lagipula untuk apa naik taksi, membuang-buang uang” tolak Narin.

Mereka berdua serempak merapatkan jaket saat tiba-tiba angin berhembus agak kencang. Musim dingin baru saja dimulai, tapi anginnya sudah seperti ini. Mereka kembali berjalan sambil mengobrol. Narin bercerita tentang bagaimana seharian ini dia pergi berbelanja stok barang bersama Kyu, dan bagaimana Kyu bisa membuatnya begitu terpesona dengan hal-hal kecil.

“Haatsyii–” Narin tiba-tiba bersin. Ia merogoh saku jaketnya mencari sapu tangan dan melap hidungnya sambil terus berjalan.

“Kau tahu Hae, tadi Kyu memarahiku karena berjalan terpisah dengannya. Dia bilang kalau dia hampir kena serangan jantung saat tau aku menghilang dan memaksaku untuk selalu berjalan di dekatnya.  Saat dia mengatakan seperti itu, dia benar-benar se–” Narin berhenti saat dia tidak menemukan Donghae disampingnya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Donghae sedang berdiri di depan mesin minuman. Narin pun datang mendekatinya. Donghae membeli 4 buah minuman kaleng panas rasa coklat dan stroberi dan menggenggamnya sangat erat.

“Aaa… panas..panas” pekik Donghae pelan.  Narin pun mengambil dua kaleng dari tangan Donghae agar dia tidak terlalu kerepotan. “Bodoh, kau kan tahu ini panas, kenapa kau memegangnya se–”

Narin terdiam saat kedua tangan Donghae menempel di pipinya.Hangat sekali. Panas dari kaleng yang dipegang Donghae menjalar di pipinya.

“Bagaimana? Sudah lebih hangat??” tanya Donghae. “Cepat masukkan ini ke saku jaketmu dan masukkan tanganmu ke dalam agar kau tidak kedinginan” suruh Donghae sambil memasukkan kaleng kaleng itu ke saku kiri dan kanan Narin.

Entah mengapa Narin hanya bisa terdiam memandangi Donghae yang masih sibuk dengan kaleng-kalengnya. Jantungnya terasa berdegup tidak biasa dan ia yakin sekarang wajahnya memerah. Tidakkah ini sangat… manis??

“Ya!! Narin-ah, wae??” Donghae menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Narin dan membuatnya tersadar. “Ehh?? Ani..”

“Ya sudah. Ayo cepat pulang. Aku sudah tidak kuat lagi. Kepalaku pusing sekali. Jangan sampai kau harus menggendongku sampai ke rumah karena aku tiba-tiba pingsan.”

Narin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Donghae. “Kepalamu pusing? Kau sakit??”

Donghae menutup mulutnya, merutuk. “Ani- gwenchana. Hanya sedikit pusing. Makanya ayo cepat pulang” elaknya sambil berjalan pergi namun Narin menariknya.

“Lee Donghae. Gotjimal. Kalau kau sakit kenapa kau mesti datang menjemput?? Aku kan sudah bilang kalau aku bisa pulang sendiri. Kau seharusnya tidur di rumah kalau memang sakit” Campuran kesal dan khawatir malah membuat Narin mengomeli Donghae.

“Aku tak apa apa Rin. Aku tak mungkin membiarkanmu pulang sendiri malam-malam seperti ini. Berbahaya. Lagipula aku senang menjemputmu dan aku memang ingin melakukannya, jadi–”

“Jadi biarkan aku melakukannya” sambar Narin cepat. “Apa kau tak punya alasan lain selain itu? Aku bosan mendengarnya..”

“Kalau begitu berhentilah bertanya. Karena memang hanya itu satu-satunya alasan yang kupunya. Dan lagi berhentilah mengatakan kalau kau bisa melakukannya sendiri. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri untuk alasan apapun itu.” jawab Donghae mantap.

Narin menatap Donghae. Kata-kata Donghae begitu menyentuhnya. Bagaimana bisa ada orang yang begitu ingin melindunginya, begitu memperhatikannya. Tak ingin dia sendirian. Apa yang sebenarnya ia punya? Apa yang sudah ia lakukan sampai sampai namja satu ini begitu memperdulikannya?? Benarkah lelaki ini benar-benar menyayanginya??

Narin tiba-tiba menggenggam kedua tangan Donghae. Diangkatnya tangan kiri Donghae dan ditempelkannya di pipinya. Sementara punggung tangan kanannya diletakkan di kening Donghae masih sambil menggenggam tangan Donghae.

Donghae merinding. Narin tidak pernah sedekat ini dengannya sebelumnya. Narin yang selama ini dilihatnya adalah Narin yang selalu marah-marah dan ketus padanya. Narin yang selalu terlihat kesal padanya. Narin yang sepertinya membencinya. Tapi Narin yang ada di hadapannya ini adalah Narin yang sedang mengkhawatirkannya, kelihatan dari wajahnya. Kalau seperti ini Donghae rela kalau dia sakit berhari-hari, hal bodoh yang sempat terlintas di otaknya.

“Kau itu benar-benar sakit bodoh, kau itu demam. Apa kau tidak sadar??” suara keras Narin membuyarkan semua lamunan manisnya.

“Aku tak apa-apa Rin” desah Donghae lemah. Hilang sudah Narin-nya yang manis yang mengkhawatirkannya, kembali ke Narin yang biasa yang galak dan suka marah-marah.

“Kau yakin tak apa-apa Hae?? Kalau kau pusing biar kita naik taksi saja.” tanya Narin kembali khawatir, dan itu membuat Donghae tersenyum lebar.

“Gwenchanna.Sudah tanggung kalau naik taksi.Kita jalan saja. Seperti katamu tadi, untuk apa membuang-buang uang naik taksi”

***

“Kau yakin benar-benar tak ingin ke dokter??” tanya Narin untuk kesekian kalinya. Donghae mengangguk.Dia benci dengan dokter dan segala yang berhubungan tentangnya.Narin tau itu, karena mereka sama-sama membencinya, sehingga Narin tak memaksanya lagi.

Mereka telah sampai di rumah. Donghae langsung masuk ke kamarnya, melepas sepatu dan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Sakit kepalanya sudah tak bisa dikompromi lagi. Badannya benar-benar tak bertenaga ditambah ia sekarang menggigil. Angin malam hanya memperburuk keadaannya.

Ia masuk ke dalam selimut tebalnya dan meringkuk di dalam tanpa mau bersusah payah mengganti bajunya lebih dahulu. Narin yang baru saja selesai melepas sepatunya, masuk ke kamar dan membongkar lemari pakaian Donghae.

“Donghae-ya, ayo ganti bajumu dulu, bajumu ini pasti sudah lembab kau pakai seharian, nanti kau malah tambah sakit” Narin mengguncang-guncang tubuh Donghae, tapi yang bersangkutan tidak bergeming. Kalau saja tidak sedang tidak dalam keadaan tidak bertenaga seperti ini pasti Donghae akan melakukan apa saja yang diminta Narin.

“Donghae-ya, ayo ganti bajumu dulu” Narin menarik-narik selimut yang dipakai Donghae dan kembali mengguncang-guncangkan tubuhnya.

“Dingin Rin..” rengek Donghae sambil menarik kembali selimut dari tangan Narin dan menyusup masuk semakin dalam.

“Donghae-ya, jangan manja. Ayo cepat”

“Aku tidak manja. Aku sakit kepala” protes Donghae namun Narin tidak memperdulikannya. Ia kembali menarik selimut Donghae dan cepat-cepat menjauhkannya membuat Donghae  mau tak mau hanya bisa menurut.

“Cepat ganti bajumu. Aku mau menelepon Yoojin onnie dulu dan kau jangan kemana-mana.” ancam Narin.

Donghae menghela nafas, ” Aku sedang tidak bisa kemana mana, Rin”

***

“Nde onnie. Cepatlah pulang.Annyeong” Narin menutup teleponnya. Yoojin sudah berjanji akan pulang secepatnya dan membelikan obat pesanan Narin untuk Donghae. Narin mengambil bubur instan yang dibuatnya sebelum menelepon tadi dan membawanya ke kamar Donghae.

“Hae, ayo makan dulu. Aku sudah membuatkanmu bubur” Donghae membuka matanya sekilas lalu memejamkannya lagi. “Tapi aku tidak lapar” bisiknya pelan.

Narin memukul-mukul tangan Donghae pelan. “Donghae-ya ayolah, jangan membuatku khawatir”

Donghae mengangkat selimutnya hingga menutupi kepala. “Kepalaku pusing sekali, tidak bisakah aku tidur saja??” pintanya memohon dari balik selimutnya.

Narin menggeleng keras dan membuka selimut Donghae, “Tidak bisa. Kau bisa tidur puas setelah ini. Perutmu tidak boleh kosong. Itu malah akan membuat sakitmu tambah parah. Lagipula kau juga kan belum makan malam.”

Narin membantu Donghae bangun lalu mulai menyuapinya dengan susah payah. Tak jarang memaksanya membuka mulut, hingga akhirnya ia menyerah. Buburnya masih bersisa banyak namun Narin tak tau lagi bagaimana caranya memaksa Donghae makan. Sekarang Donghae sudah berada di balik selimutnya. Narin pun berlalu ke dapur, menyimpan mangkuk kotor,  mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air hangat.

Narin menempelkan punggung tangannya ke kening Donghae, memeriksa. Panas sekali. Pantas saja Donghae rewel sekali. Pasti tubuhnya sangat tidak nyaman sekarang ini. Narin memeras handuk kecil dengan air hangat yang dibawanya tadi lalu menempelkannya ke kening Donghae. Donghae tersentak bangun saat handuk basah itu menyentuh kulitnya yang panas.

“Otte?? Lumayan nyaman kan??” tanya Narin. Donghae hanya mengangguk lemah. Narin mengusap wajah Donghae dan menyuruhnya memejamkan mata. “Tidurlah”

Donghae sudah tertidur sejak 15 menit yang lalu. Suara tarikan nafasnya terdengar berat sekali, menandakan tidurnya tidak lelap. Narin mendesah pelan. Dipandanginya wajah Donghae yang pucat. Entah mengapa dia benar-benar khawatir, padahal biasanya kalau Donghae sakit dia merasa biasa-biasa saja.

Donghae memang jarang sakit, namun bila sudah sakit pasti butuh berhari-hari untuk sembuh. Biasanya YooJin onnie yang kalang kabut kalau Donghae sakit, karena harus dia sendiri yang merawatnya. Sudah pasti Donghae menolak ke rumah sakit.

Narin menggenggam tangan Donghae. Ia teringat kejadian saat tadi Donghae menempelkan tangannya ke pipi Narin. Donghae sengaja membeli minuman panas, menahan diri menggenggamnya lalu menempelkannya di pipi Narin hanya agar ia merasa hangat. Hal ini benar-benar menyentuhnya. Ia merasa sangat..dilindungi. Sudah lama ia tidak merasa seperti ini, semenjak orang tuanya pergi. Ia merasa tidak akan pernah lagi ada orang yang akan benar-benar menyayanginya seperti yang orang tuanya lakukan. Dia tahu keluarga Lee menjaganya selama ini namun tetap saja ada yang berbeda. Tapi kali ini Donghae membuatnya merasakan perasaan itu lagi. Perasaan bahagia saat kau tau kalau ada orang yang benar-benar menyayangimu. Yang akan selalu menjagamu.

Narin kembali mengingat semua yang sudah dilakukan Donghae untuknya. Bagaimana Donghae melindunginya, bagaimana Donghae memperhatikannya, menemaninya saat ia butuh, menolongnya, begitu sabar menghadapi semua tingkahnya. Selalu menjemputnya walaupun sudah dilarang karena tak ingin ia sendirian, bahkan saat sakit pun Donghae memaksa menjemputnya. Semua itu tiba-tiba berputar-putar di otaknya.

Donghae selama ini selalu blak-blakan mengatakan kalau ia menyukai Narin. Namun Narin tak pernah menganggapnya serius, karena Donghae memang adalah tipe orang yang senang bercanda jadi dia mengabaikannya begitu saja.

‘Benarkah seorang Lee Donghae menyayanginya?? Benarkah dia punya posisi lebih di hati Donghae? Benarkah yang selama ini dikatakan Donghae kalau ia menyukai dirinya??’

“Tidak..Tidak” Narin menggeleng. Lee Donghae itu tidak pernah serius. Yang dia tahu hanyalah bercanda. Semua yang dikatakannya itu pasti bercanda. Dia memang baik ke semua orang. Donghae tidak punya perasaan apa-apa untuknya. Pasti tidak.

***

Donghae terbangun esok paginya, kepalanya terasa berat sekali. Perutnya terasa kosong tapi dia sedang tidak berselera untuk makan saat ini. Terdengar suara berisik dari arah dapur. Ia pun beranjak bangun, berhenti sebentar untuk menstabilkan kepalanya yang terasa berputar-putar lalu berjalan keluar dengan mata setengah terpejam belum sepenuhnya di ambang kesadaran. Merasa tak lagi sanggup melanjutkan perjalanan, ia berhenti tepat di depan pintu, menyandarkan kepalanya di pintu lalu memejamkan mata, kembali menstabilkan diri.

“Noona, kaukah itu?? Kau tidak pergi bekerja??” tanyanya dengan suara yang terdengar begitu parau. “Aku baik baik saja Noona. Pergilah bekerja” kalimat terakhirnya diikuti dengan batuk-batuk yang sangat tidak enak didengar.

“Hae..”

Donghae langsung membuka matanya dan terlihat bingung. “Aissh..Ternyata demamku lebih parah dari yang ku kira, aku mulai berhalusinasi” Donghae berbisik dan menutup matanya lagi.

“Pabo..”

Donghae membuka matanya lagi dan mendapati Narin berdiri dihadapannya.”Rin-ah??Kaukah itu?? Aku tidak sedang bermimpi kan??” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.

“Bukan. Aku Song Hye Kyo . Tch-Pabo. Yoojin onnie sudah pergi bekerja”

Donghae menekan-nekan pelipisnya, “Kau tidak pergi kuliah? Aku tidak apa apa. Pergilah!” usir Donghae.  Dia tidak ingin merepotkan orang lain, walaupun sedikit enggan membayangkan harus sendirian dengan keadaannya yang seperti ini.

“Tak masalah. Aku hanya ada kuliah tambahan. Tak masalah tertinggal sekali saja. Yoojin onnie juga memintaku untuk menjagamu. Jadi sekarang kembalilah ke kamarmu dan istirahat”

“Ani. Aku tak ingin tidur lagi. Baunya tidak enak.”

Narin mengerutkan keningnya, berfikir. Namun mengurungkan niatnya untuk bertanya. “Ya sudah, duduklah dulu di sofa, biar aku bereskan kamarmu dulu. Setelah itu kau bisa tidur lagi.”

Wajah Donghae berbinar senang walau masih tidak bisa menutupi bibirnya yang pucat. “Benarkah??” Narin mengangguk.

“Rin..” bisik Donghae.

“Ne??”

“Jinjja Johaeyo”

Narin mati-matian berusaha menahan senyumnya. Hatinya sedikit bergetar, padahal Donghae bukan sekali ini Donghae seperti ini padanya, tapi sekarang… ahh molla.. Ia menggeleng, menolak untuk memikirkannya.

Narin akhirnya menggenggam tangan Donghae yang dari tadi menempel erat di dinding untuk menopang tubuhnya, menegakkan tubuh Donghae yang sedikit oleng dan menuntunnya ke sofa. Ia mendudukkan Donghae yang sudah kembali menutup matanya. Nafasnya naik turun. Sepertinya dia sudah kelelahan walau hanya berjalan sedikit. Melihat itu Narin jadi tidak tega.

“Donghae-ya bagaimana kalau kau tidur disini saja dulu untuk sementara, daripada harus pindah lagi ke kamar. Otte??” tanya Narin.

“Ne, Gomawo. Keundae, aku baik baik saja. Jjinja. Kau pergilah kuliah. Aku tak mau kau jadi ketinggalan gara-gara aku”

Narin mendengus kesal, “Kenapa sih?? Kau tak senang aku disini??” tanya Narin defensif.

Donghae menggeleng keras dan langsung menyesalinya karena kepalanya terasa berguncang sekarang. “Anniya. Bukan seperti itu. Tentu saja aku sangat senang kau ada disini. Hanya saja aku tak ingin-”

“Percuma saja, kalau pun aku pergi sekarang sudah terlambat. “Narin meletakkan tangannya di pinggang lalu mendelik galak. “Jadi, kau diam saja, turuti apa kataku lalu tinggal ucapkan terima kasih.Arraseo!!”

Donghae meneguk ludah lalu mengangguk takut-takut. “Nde….”

Narin tersenyum lalu mengacak-acak rambut Donghae, “Good Kid”

Narin pun masuk ke kamar Donghae dan langsung tahu apa yang dimaksudnya tadi. Dari kamar Donghae menguar bau obat yang sedikit pekat, terlebih lagi saat  Narin mengambil bantal dan selimut dari tempat tidur Donghae. Untuk orang yang benci obat seperti mereka, hal ini tentu saja mengganggu. Narin lalu mengambil bantal dan selimut baru dan membawanya ke ruang tengah. Dilihatnya Donghae yang sedang berbaring sambil sesekali menggigil. Narin pun mengangkat kepala Donghae dan menyelipkan bantal di bawahnya.

“Donghae-ya, kenapa demammu belum turun juga, padahal semalam kan aku sudah mengompresmu?? Apa kau tak meminum obat yang dibeli Yoojin onnie??”

Narin menyelimuti Donghae dengan selimut biru bermotif ikan yang diambilnya tadi. Semalam Narin memang langsung pulang sesaat setelah Yoojin datang. Dia merasa sangat mengantuk sehingga memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Donghae pada Noonanya. Walau sedikit khawatir, tapi Yoojin pasti bisa menjaga Donghae dengan baik.

Donghae mengangguk tanpa membuka matanya. “Hmm.. tapi aku memuntahkannya lagi.”

Narin memutar bola matanya. “Pantas saja, kenapa kau memuntahkannya babo??”

“Mana aku tahu Rin..dia-nya yang tidak mau masuk ke dalam perutku” jawab Donghae pelan, terlalu lemah untuk membantah.

“Aissh, jinjja”

Narin kembali ke kamar Donghae, membuka jendelanya lebar-lebar dan membiarkan angin segar masuk ke dalam. Ia mengganti seprai dan semua bantalnya dengan yang baru dan sedikit merapikan barang barangnya karena memang tidak terlalu berantakan. Narin menyemprotkan pengharum ruangan untuk menghalau bau obat sehingga ruangan terasa nyaman.

Sudah lama ia tidak masuk ke sini. Matanya tertuju pada topi biru-hijau yang terletak diatas piano Donghae. Topi itu Narin yang berikan saat Donghae ulang tahun yang ke 17. Lalu ditempat tidurnya ada boneka alien yang sudah agak jelek berwarna silver dengan antena di kepalanya yang dibelikan Narin saat ulang tahun Donghae yang ke 20. Sepertinya Donghae memakainya saat tidur. Donghae memang sangat menyukai hal hal yang berbau alien. Dia bahkan percaya kalau alien itu ada dan suatu saat akan datang ke bumi.. “Tch- khayalannya mengalahkan anak-anak”

Masih ada lagi kacamata milik Narin yang diminta Donghae. Walau awalnya Narin menolak mentah mentah karena dia baru saja membelinya, tapi melihat Donghae yang memohon-mohon seperti orang yang belum pernah melihat kacamata, akhirnya dia dengan terpaksa merelakannya. Lalu terakhir ia menemukan syal miliknya yang pernah dipinjamkannya namun tak juga dikembalikan oleh Donghae. Ia ternyata masih menyimpan semuanya. Tanpa sadar Narin tersenyum.

Benarkah selama ini kalau Donghae menyayanginya?? Benarkah ia tidak main-main?? Apa semua itu serius?? Lalu apa perasaannya pada Donghae?? Apakah dia juga menyukai Donghae?? Atau hanya karena sudah terbiasa bersama?? Narin menggaruk-garuk kepalanya kesal. Semua ini membuatnya gusar. “Aissh..Sudahlah lebih baik aku memasak saja” kesalnya.

Saat hampir selesai menata sup ayam yang dimasaknya ke dalam mangkuk, Narin mendengar suara batuk-batuk dari arah ruang tengah. Ia pun bergegas dan mendapati Donghae yang terbatuk-batuk dan menggigil. Narin pun menempelkan tangannya di dahi Donghae dan bisa merasakan suhu badan Donghae yang meninggi dan wajahnya yang basah penuh keringat, lagi ia juga bergerak-gerak gelisah.

“Aissh..Ottokhe??” panik Narin. Dia benar benar bingung. Ia tidak bisa menelepon Yoojin karena sedang ada tamu spesial hari ini di cafe, pasti onnie-nya itu sibuk sekali.

“Hae.. Hae..Donghae-ya” panggil Narin coba membangunkan Donghae yang masih bergerak gerak gelisah.

Donghae tersentak bangun, nafasnya naik turun dan keringatnya mengucur deras. Sesaat dia kelihatan bingung melihat Narin lalu mulai sedikit tersadar. “Ah, Rin” bisiknya pelan.

“Hae-ya, gwenchanna??” tanya Narin yang hampir menangis saking khawatirnya.

“Ah, gwenchanna. Aku hanya bermimpi”

“Kau yakin?? Lebih baik kita ke dokter saja ya?? Kumohon” pinta Narin. Dia takut ada apa apa dengan Donghae.

Donghae tetap bersikeras menolak, “Anniya.Gwenchana.Jjinja.”

“Tapi kau sudah berjanji menurutiku hari ini, jadi kita ke dokter. Ok??” paksa Narin.

“Andweyo..Jebal, tidak untuk yang itu Rin. Jebal–“Donghae memohon-mohon.

“Ya sudah, kalau begitu kau makan dulu, lalu minum obat yang sudah dibeli Yoojin onnie.” perintah Narin. “Aku tak menerima penolakan lagi” tambahnya membuat Donghae yang hendak membantah langsung menutup mulutnya.

***

Narin terduduk di sofa dengan Donghae yang terkantuk-kantuk di pangkuannya. Sepertinya obat yang diminumnya sudah mulai bekerja. Donghae berhasil memaksanya agar tidak pergi dan menemaninya sampai ia tertidur.

“Yeonng..” panggil Donghae pelan dengan mata terpejam. Itu panggilan yang sudah lama tidak didengarnya. Dulu sekali semua orang didekatnya selalu memanggilnya seperti itu karena memang itu panggilan kecilnya, namun sejak orang tuanya meninggal ia selalu terlihat kesal setiap ada orang yang memanggilnya dengan nama itu, alasan sebenarnya karena ia jadi teringat dengan kedua orangtuanya dan itu bisa membuatnya sedih. Ia selalu menatap galak pada orang yang masih memanggilnya seperti itu sampai akhirnya tak ada lagi yang memanggilnya  begitu, namun tentu saja ada si paboHae yang sepertinya sudah kebal dengan segala omelan dan tatapan galaknya dan bersikeras tetap memanggilnya seperti itu walaupun hanya sesekali.

“Hmm..” jawab Narin sambil memeras kain yang sedari tadi digunakannya untuk mengompres Donghae. Diusapkannya kain itu ke wajah Donghae berharap bisa sedikit mendinginkan rasa panasnya. Diambilnya remote televisi yang tadi memang sengaja dihidupkannya untuk menghilangkan rasa bosan, lalu mengecilkan volumenya agar tidak menganggu Donghae yang sepertinya sebentar lagi akan tertidur.

Tak ada jawaban sama sekali, membuat Narin mengira bahwa Donghae sudah tertidur sampai tak berapa lama Donghae kembali memanggilnya.

“Yeonng..”

“Ya?? Ada apa?? Kau mengigau ya??” kikik Narin pelan, mengira Donghae benar benar mengigau.

Namun Donghae membuka matanya, menatap Narin dengan pandangan sayu. “Kenapa kau begitu membenciku??” bisik Donghae. Narin terdiam. Berharap pendengarannya sedang tidak benar.

-tbC-

uda part 3 aja, doanya tetep sama,
mudah2an ada yg mau baca

P.s/ Lagi seneng dengerin oops, RapperHae beraksi… CHU~

And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove,

17 thoughts on “Foul Love Story – Foul 3

  1. narin udah mulai suka ya dengan hae? sihiyyyyyyyyy
    hae sakit ya??? minum obat ya hae.. jangan membantah terus..
    cepat sembuh.. narin perhatian banget sama hae..
    hae kok nanya itu? hayooo apa yang bakalan dijawab narin..
    narin aja sampai terkejut dengan pertanyaan hae..
    ditunggu lanjutannya thor🙂

    • sihiyyyyyyyyy, ada yg ngomen…
      bahagia nih kalo yg ngomen sepnjang ini..

      narin suka gak ya??//think*think//
      iya tuh, si haehae udah diperhatian, banyak tanya lagi…

      lanjutannya ditunggu ya…/semangat45ngetik/
      gomawo uda komen..

      sering2 mampir.. CHU~~

  2. Waaaa…so sweet bgt ..disini baru keliatan ya ,kalau narin perhatian Sama hae…jadi ngak sabar baca lanjutannya..ttp smgt buat yg berikutnya y .di tunggu lanjutannya..:)

    • emang tuh dasarnya ajada suka, tapi malu malu bada..😄
      sabar ya,, saya lagi belajr ngetik cepat nih….
      baru pande sebelas jari kke–

      ditunggu ya…..
      jgn lupa datang lagi..
      annyeong~~~~

  3. woaaah…
    hae ngigo wkwkwkwk…
    tp kenapa benci rumah sakit?
    bahaya juga lho kalo bener2 gak mau…
    si narin baru ngerasa deg deg serr sekarang ya…
    hahahaha kemaren kemana aja? wkwkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s