[OneSpace] Too Good to be True…

Donghae menuangkan susu strawberry kesukaan Narin –hanya karena Eunhyuk menyukai susu strawberry membuat Narin sebagai fans ikut-ikutan menyukainya dan akhirnya tergila-gila pada minuman berwarna pink itu, yang sukses membuat Donghae cemburu berat– ke dalam gelas.

Diam-diam ia melirik ke arah Narin yang sedang duduk di ruang tengah, sibuk browsing sesuatu lewat ponselnya. Wajahnya terlihat muram, dan Donghae tidak tahu apa penyebabnya. Menurutnya ia tidak melakukan kesalahan apapun belakangan ini. Tidak membuat skandal, tidak menyebut gadis lain cute di acara manapun, tidak bertingkah aneh, tidak terluka atau yang lainnya. Lalu apa yang dilihat gadisnya itu di internet sampai wajahnya muram seperti itu??

Ini sudah hampir 30 menit semenjak Donghae datang ke rumah Narin dan gadis itu mengabaikannya dengan wajah murung tidak sedap dipandang, sampai akhirnya Donghae memutuskan membuat minuman untuk mereka. Donghae beranjak dari dapur membawa dua gelas susu strawberry dingin dan kembali duduk di sebelah Narin.

“Rin… ada apa sih??” panggilnya setelah meletakkan gelas Narin di atas meja sementara ia menyesap miliknya.

Narin masih menatapi ponselnya dengan wajah yang sama, membuat Donghae kesal. Ia mengangkat gelas miliknya lalu menempelkannya di pipi Narin.

“Aww…” Narin memekik, kaget dengan dinginnya gelas yang menempel di pipinya, lalu menoleh, “Kenapa- ”

Belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya, namun Donghae sudah memotongnya.

“Karena ini sudah hampir 33 menit semenjak aku datang dan kau terus mengabaikanku. Terlalu sibuk menatapi ponselmu dengan pandangan aneh seperti itu. Ada apa?? Aku berbuat salah??” protes Donghae meminta perhatian.

Narin menggembungkan kedua pipinya, lalu menghela nafas berat. Ia menarik gelas dari tangan Donghae, “Ini untukku??” tanyanya lalu menyesapnya tanpa menunggu jawaban dari Donghae.

Donghae hanya diam memandangi Narin lalu menyerah dan mengambil gelas yang seharusnya milik Narin dari atas meja lalu meminumnya. Matanya tak lepas dari gadis di sebelahnya yang sudah untuk keberapa kalinya menghela nafas, seperti orang yang sedang menahan sesuatu.

“Rin… apa yang sedang kau pikirkan??” tanya Donghae lembut. Narin hanya menggeleng. Ia menekuk kedua kakinya dan memeluknya, lalu menopangkan dagunya ke atas lutut.

Kali ini Donghae yang menghela nafas, tidak suka dengan posisi duduk Narin sekarang. Ia menarik kedua tangan Narin hingga bebas, memaksa Narin mengubah posisinya. “Apa kau tidak lihat aku ada disini?? Tidak boleh duduk seperti itu. Itu hanya dilakukan orang-orang yang sedang kesepian, dan ada apa denganmu kalau aku boleh tahu??”

Narin menatap mata Donghae, tak lama, karena ia langsung menunduk dan menggeleng. Donghae akhirnya mendekat dan mulai mengusap-ngusap kepala Narin, “Yeonng, kau sedang ada masalah??” tanya Donghae lagi selembut mungkin.

Narin mendesah. Selalu saja seperti ini. Selalu saja pertahanannya runtuh kalau sudah ada yang mengusap-usap kepalanya. Donghae sudah tahu kelemahannya, dan Narin hanya bisa mengangguk. “Tapi kau tidak akan suka mendengarnya” ucapnya pelan.

“Katakan, aku akan mendengarkan”

Narin kembali menggeleng, “Aku yakin kau akan marah kalau aku mengatakannya.”

Donghae mendekat lalu mulai memain-mainkan ujung rambut Narin ke pipinya,” Aku akan berusaha tenang, jadi katakan sekarang atau aku akan marah padamu”

“Baiklah, kalau begitu jawab pertanyaanku” Narin berbalik menghadap Donghae dan mulai memainkan jari tangan Donghae yang bebas. “ Apa yang kau lakukan kalau ada orang yang memukulmu??” tanyanya.

Kening Donghae mengerut, “Eh??”

“Jawab saja”

Donghae diam beberapa lama, meneliti setiap ekspresi gadis dihadapannya dan mencoba menebak apa yang ada dipikirannya, sampai akhirnya ia menjawab, “Aku akan meminta alasan kenapa ia memukulku.”

“Lalu??”

“Kalau ternyata aku salah aku akan minta maaf padanya, namun kalau ternyata aku tidak salah, aku akan tetap minta maaf padanya..”

“Mengapa??” tanya Narin. “Kau kan tidak salah??”

“Karena pasti ia punya alasan, walau seremeh apapun alasan itu, untuk memukulku. Mungkin saja aku pernah tanpa sengaja melukai hatinya atau tidak sengaja menyenggolnya atau tanpa sengaja berbicara jelek tentangnya atau apapun itu. Untuk itu aku harus tetap minta maaf, bukan??”

Narin kembali mendesah, tampangnya semakin muram “ Baiklah. Lalu apa yang kau lakukan kalau ada orang yang menginginkan barang kesayanganmu??” tanyanya lagi.

Donghae masih memandang Narin bingung, masih belum bisa menebak ke arah mana pembicaraan mereka, namun tetap memutuskan untuk menjawab, “ Tergantung barang apa itu dan seberapa penting barang itu untuknya.” jawab Donghae sambil mengambil boneka alien milik Narin dari lantai.

“Anggap saja kalau ia tidak bisa hidup tanpa barang itu.”

“Kalau sampai seperti itu, tentu saja aku akan merelakan barang itu untuknya.”balas Donghae cepat.

Narin menggigit bibirnya,” Lalu bagaimana kalau kau juga tak bisa hidup tanpa barang itu, apa kau tetap akan merelakannya??”

Donghae menggigiti kuping boneka alien Narin yang kini ada dipangkuannya sambil mengerucutkan bibirnya, berpikir sejenak, “Entahlah, aku juga tidak tau apa yang akan kulakukan dalam situasi seperti itu. Mungkin saja aku akan bersikap egois dan mempertahankan benda itu, atau… entahlah-” Donghae mengangkat bahunya. “Hanya saja aku berharap aku tidak terlalu egois untuk melakukannya dan membiarkan orang lain menderita karena aku.”

Narin menatap Donghae tidak percaya, “Jadi kau punya pikiran untuk tetap memberikannya?? Walaupun kau tau kalau kau bisa mati tanpanya??”

Donghae lagi-lagi mengangkat bahunya. ”Aku tidak bilang seperti itu. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Karena aku tidak pernah dan berharap tidak akan pernah dalam situasi seperti itu”

Wajah Narin semakin muram dari sebelumnya, “ Lalu apa yang akan–“

“Yeonng..” Donghae mengerang. “Apa lagi sih, sebenarnya ada—“

“Ini yang terakhir, please jawab saja” potong Narin. “Apa yang kau lakukan kalau ada orang asing yang tidak kau kenal sama sekali meminta pertolongan??”

“Tentu saja membantunya” jawab Donghae setengah hati, mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Narin yang entah apa maksudnya ini.

Narin mengangguk-angguk,”Apa kau tidak takut?? Bagaiman kalau ternyata dia orang jahat?? Bagaimana kalau ia hanya berpura-pura dan memanfaatkanmu??”

Donghae mendorong boneka alien itu ke lantai dengan sedikit kesal, “Pertama-tama adalah menolongnya, kalau ternyata dia orang jahat, itu urusan belakangan. Kalau itu terjadi, anggap saja kau sedang tidak beruntung” Donghae menarik hidung gadis itu pelan, memaksa Narin menatapnya. “Sekarang berhenti bertanya dan katakan padaku ada apa dengan semua pertanyaan-pertanyaan aneh itu??”

Narin mengerang lalu menyembunyikan wajahnya kedalam telapak tangannya, “Oh man, you’re too good to be true”

Donghae lagi-lagi menarik tangan Narin, “Yeonng, sudah kukatakan berkali-kali, jangan pakai bahasa aneh yang tidak kumengerti kalau sedang bersamaku” protesnya. “Apa artinya itu?? Dan kau belum menjawab pertanyaanku!!”

Narin menunjuk ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja dengan dagunya, mengisyaratkan Donghae untuk mengambilnya. Donghae mengambil ponsel itu dan membacanya.

 Donghae Dipuji Sebagai “Malaikat” Karena Membantu Fan Melalui Twitter!

Super Junior Donghae memperoleh pujian dari netizens setelah merespon pesan putus asa fansnya untuk meminta bantuan di twitter.

Baru-baru  ini, seorang fan meminta bantuan di twitter karena saudara perempuannya butuh operasi darurat dan  memerlukan kartu donor darah. Setelah membaca pesan, Donghae membalas tweet dan menawarkan bantuannya, “Hi, Saya Donghae Super Junior! Saya mengirimkan pesan untukmu karena saya melihat post-anmu. Saya memiliki kartu donor darah. Jika kamu bisa meninggalkan no tlpmu, saya akan menghubungimu. “—————

Donghae menatap Narin dengan kening berkerut, “Lalu ada apa dengan ini?? Aku kan tidak meminta nomor teleponnya untuk macam-macam. Aku hanya ingin membantunya. Yeonng, jangan marah. Aku tidak bermaksud apa-apa” rengek Donghae mengira kalau Narin marah karena ia meminta nomor telepon orang lain -atau tepatnya- gadis lain.

“Bukan itu maksudku–” ucap Narin terdengar putus asa. “Kau baik, kau tampan, kau artis, kau punya banyak uang, dan kau punya banyak fans. Kau hampir sempurna. Tidakkah kau merasa kalau kau terlalu berlebihan untukku??”

Donghae menatap Narin , mulai mengerti arah pembicaraan mereka,”Aku mulai tidak suka mendengarnya Yeonng—“ ucapnya pelan dan dalam, memastikan Narin melihat rasa tidak sukanya.

Narin menggeleng, menggenggam tangan Donghae erat, “Tidak, kau harus mendengarkanku. Aku sudah bilang padamu kalau kau tidak akan suka mendengarnya, tapi kau memaksa, jadi sekarang dengarkan aku” ucap Narin keras kepala.

“Yeonng—“

Nada suara Donghae yang berat sebenarnya membuat Narin takut. Ia sangat tahu kalau Donghae membenci pembicaraan tentang hal seperti ini, dan mereka sudah pernah berjanji untuk tidak pernah membicarakan hal bodoh ini.

Tapi tidak. Ini bukan hal bodoh bagi Narin. Bagi Donghae mungkin saja hal ini adalah hal bodoh, tapi tidak untuk Narin. Setiap saat, setiap bertemu dengan Donghae, hal ini pasti terbersit di pikirannya walau hanya sesaat. Mereka berbeda, sangat berbeda. Ia tidak ingin kehilangan Donghae, tapi setiap kali ia mengingat ketidakseimbangan mereka, rasanya ia mau menyerah saja.

Narin menunduk lalu menarik nafas panjang “Dengar, kau itu terlalu baik untukku Donghae-ya. Aku tidak baik untukmu” tukasnya. “Aku?? Kalau ada orang yang memukulku, aku pasti akan memarahinya atau balas memukulnya. Kalau ada orang yang meminta barang kesayanganku pasti aku tidak akan memberikannya. Dan aku pasti tidak akan menolong orang asing tanpa terlebih dahulu mencurigainya. Kita berbeda Donghae-ya. Kau terlalu baik untukku. Aku bahkan terkadang tidak percaya, apa benar ada manusia sepertimu”

Donghae mengacak-acak rambutnya gusar, “Demi Tuhan Rin, itu hanya sebuah kartu donor darah. Bukan apa-apa. Aku tidak memberikan barang kesayanganku padanya seperti yang kau bilang. Tidakkah kau merasa perumpamaanmu berlebihan??? Aku bukannya melakukan sesuatu yang sangat hebat. Aku bukannya memberikan jantungku padanya!!” ucapnya geram.

Narin setengah terisak, mendengar nada suara Donghae, apalagi setelah melihat ekspresi wajah lelaki di hadapannya mengeras, tapi ia tetap berusaha membantah, “Tapi, kau—“

“Dengar, itu hanya sebuah kartu donor darah dan semua orang bisa melakukannya. Bahkan begitu banyak orang didunia ini yang melakukan jauh lebih hebat dari itu.” ucap Donghae tegas. “Dan aku tidak sebaik yang mereka katakan, mereka hanya melebih-lebihkan”

“Tapi—“

“Kau ingin aku pulang??” tanya Donghae akhirnya.

Narin menatap kedua bola mata Donghae yang sedang menatapnya. Mata itu jelas tampak marah dan terluka. Ia terdiam merasa sangat bersalah. Donghae yang tidak mendapat jawaban apapun, mengambil jaketnya dan beranjak pergi namun Narin menarik tangannya, “Mianhae… Mianhae” kali ini ia benar-benar terisak.

Donghae kembali duduk lalu mendekap Narin erat, “Pabo-”dengusnya. “Pabo. Pabo. Cho Narin Pabo” ucapnya sambil membelai-belai rambut Narin mencoba menenangkan kekasihnya yang masih terisak itu, sementara Narin sibuk meminta maaf dibalik dada Donghae.

Donghae lalu melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Narin yang basah, “Kau-lah yang kuinginkan bersamaku, dan kuharap kau juga merasakan hal yang sama. Itu sudah cukup. Tidak ada yang terlalu berlebihan, terlalu hebat, terlalu baik atau apapun itu, arrachi!!”

Narin mengangguk, lalu Donghae mulai memain-mainkan bulu mata Narin yang juga masih basah, membuat gadis itu memejamkan mata, “Tak ada lagi pembicaraan seperti ini, janji??”

Narin kembali mengangguk, masih dengan mata terpejam, merasakan gerakan jari telunjuk Donghae kekiri dan kekanan di bulu matanya.

“Hhhh….” Donghae mendesah. “Kau nakal sekali hari ini Yeong. Padahal aku ada fanmeeting besok, tapi kau malah membuatku menangis”

Narin secara refleks langsung membuka matanya dan memang benar, Donghae menangis. Matanya merah dan berkaca-kaca. Padahal Narin yakin tidak ada air mata di pipi Donghae sesaat yang lalu.

“Mianhae..” hanya itu yang bisa diucapkannya.

“Gwenchanna. Aku tahu kau terlalu mencintaiku. Kau tidak suka kan aku memamerkan mataku yang indah ini pada fans-fansku yang cantik, jadi kau membuatku harus memakai kacamata besok. Benar seperti itu kan??”

Narin hanya bisa tersenyum.

“Jadi karena kau nakal, sebagai hukuman kau harus memasakkan ramen untukku. Aku lapar” ucap Donghae.

“Arraso”  Narin bergerak hendak berdiri namun Donghae menariknya hingga ia terjatuh di pangkuan Donghae.

“Tapi nanti saja, itu bisa menunggu. Aku belum puas memelukmu karena dari tadi kau hanya mengabaikanku,.”

“Yaa!!! Lee Donghae… Lepaskan!!!!”

“Diam saja dan nikmati pelukan hangat dari namja paling tampan didunia, Super Junior Lee Donghae!!”

“YAA!!!”

 -enD-

Hhhhh–apa2an itu??

As always, ending geje/terjunbebas/

En soal berita diatas, temanku bilang itu cuma hal biasa,
tapi kenapa aku merasa itu hebat ya??
Orang sehebat dan sesibuk dia masih sempat2nya nolong orang…
Hhh- alienbabo, kau membuatku makin cemburu az,,

 And as always
Need- Need ur Comment Please—-

Love, Love and Only HaeLove,

16 thoughts on “[OneSpace] Too Good to be True…

  1. Pengen gantiin tu boneka yar kuping q digigit2in donghae :p
    *dlirik tajam eunhyuk dr jarak 100km

    tp ffnya too real hae ya, saran miss park bwt lbh trasa fictionnya key ^
    namany jg ff😉

    • ihhh umma, emang mau digigitin??!! /belagak polos/
      hey monkey, ada yg minta digigitin tuh!!!😄

      hehe, kalo ini emang ceritanya sesuai dengan apa yg lagi kejadian,, gitu lho…
      jadi seakan2 real tp ternyata fiction??/pasti gak ngerti?? saya juga.. ;B

  2. donghae manis bgt deeeh~ pesen satu dong.😄
    terkadang egois itu perlu ya, kalo dalam kondisi begini. wkwkwkwk. <– komen apa ini??

  3. annyeeooong~ baru nemu blog mu dan langsung suka ama ff ini..
    donghae manis bangeeett..
    pembawannya yang bisa kalem dan kekanakan pada saat yang bersamaan ngga tau kenapa, buat aku manis pisan, wkwkw…
    good job~

    • kyaaa.. ada shaund the sheeps..
      Annyeongggg juga….

      setuju!!! Donghae emank manis bangggeett…

      ThanKyu syuda suka…
      sering2 mampir..

      Aku juga udah lihat blogmu,,
      lain kali juga bakalan mampir..
      tunggu kedatanganku..🙂

      Annyeong……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s