Foul Love Story – Foul 1

Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri untuk alasan apapun itu
Lee Donghae-

Donghae melihat Narin berjalan pulang. Ada apa lagi dengannya? pikir Donghae. Beberapa hari ini dia terlihat murung sekali. Apa yang ada di pikirannya?? Donghae ingin sekali berlari dari kamarnya dan menyapa Narin. Dia khawatir, tentu saja. Itu tidak perlu dipertanyakan. Tapi Donghae mengurungkan niatnya, hari ini dia sedang tidak ingin mengganggu Narin. Sia-sia, karena hanya omelan-omelanlah yang akan keluar dari bibirnya. Donghae sudah berpengalaman 7 tahun untuk hal ini. Dan ia juga tidak ingin  menambah pekerjaan otak Narin yang sepertinya sudah menumpuk, hanya untuk memikirkan omelan-omelan apa yang cocok untuknya malam ini.

“Onnie… Kau dirumah??”.  Donghae mendengar teriakan Narin. Haha…Ternyata dia kerumahku, pikir Donghae lagi. Donghae mendengar suara noona-nya menyahut. Dia pun bergegas turun kebawah, ingin tahu ada apa sebenarnya dengan Narin.

“Omo… Uri Narin, kenapa malam sekali baru pulang?? Kenapa tak minta aku menjemputmu??” Donghae mendekati Narin sambil tersenyum lebar .

“Jangan menggangguku hari ini Hae. Onnie…, apa ada makanan?? Aku lapar sekali.” Ucap Narin dengan wajah datar sambil berlalu dari hadapan Donghae begitu saja. Ya seperti itulah Narin, sangat moody. Kalo dia senang, bisa sangat hyperaktif, tapi jika sedang ada masalah, seperti orang yang kehilangan separuh jiwa.

“Oh, Rin-ah. Aku sedang masak ramen. Tunggulah sebentar lagi.” Jawab Yoojin tanpa mengalihkan pandangannya. ” Dan jangan seperti itu, kau kejam sekali. Kau tak tau kan kalo dari tadi si pabo itu gelisah terus gara-gara menunggumu pulang.”

“Aissh….. noona. Jangan bicara lagi.” sahut Donghae kesal plus malu.

“Geuraeyo???” tanya Narin masih dengan wajah datar. Anak ini memang sedang benar-benar ada masalah.

“Geurae!!”. Yoojin  dengan semangatnya menjawab sambil meletakkan sebaskom penuh ramen di meja makan.

“Gomawo noona” balas Donghae kesal sambil menyendokkan ramen ke piringnya.

***

“Rin-ah… Sebenarnya ada apa denganmu??” tanya Donghae akhirnya. Dia sudah tidak tahan melihat tingkah Narin. Narin bukan sedang makan. Dia hanya menyendok ramen dan memasukkan ke mulutnya, menyendok dan memasukkannya lagi. Sama sekali tak mengunyahnya. Dia sudah menghabiskan separuh dari ramen yang dibuat Yoojin , padahal itu porsi untuk bertiga. Makan, adalah salah satu pelariannya kalau sedang ada masalah. Semua yang dekat dengannya tau hal ini. Tapi ini sudah keterlaluan, dan dia sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan.

Donghae menarik mangkuk ramen yang tinggal sedikit itu dari hadapan Narin, membuatnya mendelik galak pada Donghae.

“Donghae-ya, kembalikan. Aku masih lapar” pintanya kesal sambil berusaha menarik mangkuk itu dari tangan Donghae, tapi Donghae mengelak.

“Bagaimana mungkin kau masih lapar, kau hampir menghabiskan semuanya”.  Donghae menunjuk mangkuk ramen yang tinggal sedikit. “Aku yakin sebentar lagi kau akan mengeluh sakit perut”

Narin merajuk dan memandang Yoojin dengan pandangan memohon. Tapi Yoojin mengabaikannya. “Jangan makan lagi. Bisa-bisa perutmu meledak kalau kau masih memaksa memasukkan makanan kedalamnya”.  Narin pun menyerah dan meletakkan sumpitnya.

“Sebenarnya ada apa denganmu??” tanya Donghae lagi. Narin meneguk minumannya dan menatap Donghae galak.

“Kenapa memangnya denganku?? Aku baik-baik saja. Aku hanya lapar. Apa aku tidak boleh makan banyak??”

Donghae menghembuskan nafasnya. Tak ada yang bisa melawan Narin kalau sudah seperti ini. Percuma saja, dia tidak akan mendengarkan. Bahkan Yoojin  pun terkadang diabaikannya.

“Bukan seperti itu maksudku. Mana mungkin aku melarangmu makan. Kau tau sendiri setiap hari aku memaksamu makan banyak agar kau tak sekurus ini, tapi ini-“

“Aku baik-baik saja. Aku tidak kenapa-kenapa”. Jawab Narin ketus, padahal Donghae belum selesai berbicara, tapi ia sudah memotongnya.

“Cho Narin, kau ini benar-benar… Cepat katakan ada apa.” Kali ini Yoojin  yang berbicara. “Jangan bilang kau galau lagi, dan tidak tau apa sebabnya. Tidak ada orang yang tiba-tiba merasa sedih tanpa ada sebab, tidak ada orang yang tiba-tiba menangis tanpa ada yang membuatnya, itu namanya orang gila”. Sepertinya kali ini Yoojin yang kesal.

Donghae lagi-lagi menghela nafasnya. Ya, seperti itulah dia, Narin-nya. Bisa tiba-tiba merasa sedih tanpa tahu sebabnya. Seharian akan murung, dan bila ditanya ada apa, dia sendiri  tidak tau jawabnya. ‘Dasar, si bodoh satu ini’ gumam Donghae.

Dia jadi teringat saat Narin pernah galau dan murung terus seharian, Narin masuk ke rumahnya dan makan sebanyak-banyaknya. Saat itu tidak ada noonanya yang bisa menghalangi.  Dia?? Tentu saja Narin tidak akan mendengarkannya. Sampai beberapa saat Narin merengek-rengek sakit perut. Donghae panik melihatnya yang berguling-guling di atas sofa. Dia menelfon noonanya yang datang sambil membawa obat. Saat itu Donghae mengira itu obat sakit perut atau sejenisnya, ternyata itu adalah obat tidur. Tapi diakuinya noona-nya itu sangat jenius, karena obat itu cukup ampuh. Narin langsung tertidur dan tak lagi berguling-guling.

Namun, hal yang paling lucu adalah Narin mengigau, dan igauannya benar-benar membuat dia dan noona-nya tertawa terbahak-bahak.

“Hyuna-ya mianhae. Aku tak sengaja. Jeongmal mianhae. Aku tak bermaksud bilang kalau pacarmu itu galak. Jangan marah padaku… Jangan marah Hyuna-ya”.  Narin menangis masih sambil tidur, tapi yang bisa mereka lakukan hanyalah tertawa terbahak-bahak.

Keesokan harinya saat Donghae bertanya tentang hal itu, Narin malah menangis sesenggukan. Dia bercerita kalau tanpa sadar dia bilang kalau Kyuhyun -pacarnya Hyuna- itu galak. Donghae mengenal keduanya dan dia tahu kalau Kyuhyun itu tidak galak hanya terkadang sering marah-marah, setipe dengan Hyuna sih.. Setelah itu ternyata Hyuna tak lagi berbicara dengannya dan langsung pulang begitu saja tanpa memberitahunya. Narin bilang kalau Hyuna marah besar padanya. Jadi Donghae berinisiatif menelepon Hyuna dan bertanya padanya, dan jawaban Hyuna membuat Donghae terkikik.

“Bagaimana aku bisa berbicara padanya oppa sementara dosen galak sedang memperhatikan kami dari mejanya disana. Lalu saat akan pulang, dia bilang dia mau ke kamar mandi karena sudah tidak tahan, dia lari begitu saja padahal saat itu aku ingin bilang kalau Kyu sudah menjemputku, dan oppa tahu kan kalau Kyu itu paling tidak tahan disuruh menunggu, jadi aku langsung pergi dengan Kyu. Saat ingin meneleponnya ternyata pulsaku habis jadi aku pikir aku bicara besok saja dengannya. Benar-benar anak itu” .

***

“Apa lagi sekarang?? Kau tak sengaja mengejek Kyu lagi dan membuat Hyuna marah??” tanya Yoojin tak sabar. “Atau kau menghilangkan buku Hyuna lagi??”

Narin menggeleng, lalu mulai sesenggukkan. ” Sebenarnya aku … menghilangkan …. gelang yang onnie berikan kemaren…. maaf onnie…..” Kini tangisannya semakin keras.

Donghae tersentak. Apa??? Gelang itu hilang?? Itu kan gelang hadiah ulang tahun Narin bulan lalu. Gelang yang dia pesan khusus untuk Narin. Gelang yang bagus sekali dan lumayan mahal. Donghae menguras setengah tabungannya untuk itu. Dia memang berbohong dengan mengatakan kalau gelang itu dari Yoojin, karena Narin pasti takkan mau menerimanya kalau tahu gelang itu dari dia. Narin pasti bertanya-tanya dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu, dia kan tidak bekerja dan kalau dia tau itu dari tabungan dia pasti akan marah. Awalnya Narin juga tidak mau menerimanya walau itu dari Yoojin, tapi karena Yoojin memaksanya terus menerus dan mengancam tak lagi mau bicara dengannya akhirnya Narin menerimanya. Ahh,, seharusnya dia sudah siap dengan kecerobohan tingkat tinggi Narin…

” Kau… kau menghilangkannya Narin-ah?? ” Yoojin bertanya sambil melirik Donghae yang memang sedari tadi diam saja…

Narin menganggguk pelan ” Maaf…… onnie”.

” Ya sudah, berhenti menangis” jawab Yoojin sambil menepuk-nepuk  tangan Narin.  ” Tapi–” Yoojin melirik Donghae ” Kau harus minta maaf sama Donghae”.

Donghae refleks langsung menatap  noona-nya. “Noona….. Jebal-” pintanya kesal,  tapi Yoojin mengabaikannya. Narin mendongak, menatap Donghae dan Yoojin bergantian.. “Kenapa onnie?? Kenapa aku harus minta maaf pada Donghae??”

Donghae menatap noona-nya dengan pandangan memohon, dan sekali lagi Yoojin mengabaikannya.. ‘Dalam hal mengacuhkanku mereka berdua memang selalu kompak’ batin Donghae.

***

“Benarkah?? Jadi gelang itu darimu??” Narin mengusap air matanya dan menatap Donghae, membuatnya gelisah. Dia tidak tau apa yang harus dikatakan, bagaimana kalau Narin marah besar padanya.

“Iya, itu dariku dan– dan Yoojin noona. Iya, kami berdua yang membelinya”. Donghae menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Susah sekali rasanya untuk berbohong saat dua pasang mata sedang menatapmu dengan lekat seakan-akan kau adalah seorang teroris yang baru saja tertangkap.

Yoojin mengibaskan tangannya tak perduli. “Jangan berbohong lagi Donghae-ya” katanya sambil beranjak ke dapur dan tanpa merasa bersalah sama sekali meninggalkan Donghae berdua dengan Narin yang saat ini sedang menyipitkan matanya tanda meminta penjelasan.

Tangan Donghae sudah basah dengan keringat sekarang. Dia benar-benar tidak tau apa yang harus dikatakan. Ia takut Narin marah padanya karena dia sudah berbohong. Semakin lama mata Narin semakin menyipit menandakan dia sudah tak lagi sabar menunggu penjelasan dari Donghae.

“Aku…aku…” wajah Narin semakin mengerikan dan membuat Donghae gugup. “Nde, mianhae. Gelang itu…. itu memang aku yang membelinya.”

“Lalu kenapa kau berbohong dan bilang kalau itu dari Yoojin onnie??” tanyanya.

“Itu karena–karena aku tau kalau aku bilang itu dariku pasti kau tidak akan mau menerimanya.”

“TENTU SAJA AKU TAKKAN MAU MENERIMANYA. DARIMANA KAU MENDAPAT UANG UNTUK MEMBELI GELANG SEMAHAL ITU?? KAU INI KAN MASIH SEKOLAH. KENAPA KAU HARUS MENYIA-NYIAKAN UANGMU UNTUK MEMBELI GELANG SEPERTI ITU. KALAU KAU MEMANG MAU MEMBELIKAN HADIAH ULANG TAHUN KAN BISA APA SAJA YANG TIDAK TERLALU MENGHABISKAN UANG. KAU INI BODOH ATAU APA???” Narin mengamuk. Bagaimana bisa dia mengucapkanya hanya dengan satu tarikan nafas, pikir Donghae.

“Arraso.. Mianhae.. Omelan inilah yng sebenarnya kuhindari sehingga aku berbohong.”

“SIAPA YANG MENGOMEL?? AKU TIDAK MENGOMEL. AKU HANYA TAK INGIN KAU MENYIA-NYIAKAN UANGMU HANYA UNTUK SEBUAH KADO ULANG TAHUN, KAU KAN BISA MENGGUNAKANNYA UNTUK KEPERLUAN YANG LAIN.” Narin kembali mengomel.

“Arraso..Arraso.. Aku kan sudah minta maaf Rin-ah. Jadi berhentilah mengomel. Apa kau tidak capek??”

“YA!!! KAU IT-” Teriakannya terhenti saat Donghae menutup mulutnya. Narin menatap Donghae tajam dan menggigit tangannya. Dia benar-benar menggigitnya.

“Aisshh… Appo”. Donghae mengibas-ngibaskan tangannya yang digigit Narin.

“Rin, apa kau sudah selesai mengomel? Ini sudah malam. Kalau kau belum selesai lanjutkan saja besok. Aku tak mau kita dimarahi tetangga karena mendengar teriakanmu.” Yoojin muncul dari dapur.

“Aissh… onnie. Kau juga sebenarnya bersalah dalam hal ini”.

Yoojin hanya mengangkat bahunya tidak perduli. “Aku kan hanya disuruh si pabo itu. Kalau dia tidak merengek-rengek minta tolong padaku, aku juga tidak mau melakukannya.”

“Aissh.. sudahlah “ Narin duduk di sofa sambil mengerang pelan memegangi perutnya. “Arrgh “

“Gwenchana Rin?” tanya Donghae khawatir.

“Rin-ah, waegure??” Yoojin mendekat.

“Hikksss.. perutku sakit onnie, sepertinya aku kebanyakan makan ramen.. hikss”

” Aissshh… Cho Narin Jjinja.”

***

Hari ini Kyu menjemput Hyuna lagi, dan Narin ditinggal sendiri. Lagi. Sebenarnya bisa saja dia meminta Donghae menjemputnya, pasti anak itu takkan pernah menolak entah apa alasannya Narin pun tak tahu. Tapi dia tidak mau bergantung padanya. Narin merasa sudah terlalu banyak menyusahkan keluarga Lee. Tak perlu menambahnya lagi dengan kemanjaan yang tidak penting.

Melihat Kyu dan Hyuna seperti itu diakui Narin ada sedikit rasa iri. Ya, dia iri pada Hyuna. Hidupnya bisa dibilang indah, dia masih punya keluarga lengkap, hidupnya tidak susah, dia pintar dan dia punya Kyu. Bukannya Narin menyesali hidupnya, dia sudah merelakan ayah dan ibunya sejak mereka pergi 3 tahun yang lalu dan sudah ada Yoojin yang dengan baik hati selalu menjaganya tanpa pernah meminta apa-apa. Dia sudah bersyukur dengan hidupnya sekarang. Hanya saja rasa iri itu kan hal yang manusiawi, semua orang mengalaminya.

“Bye Rin, aku duluan”. Hyuna berteriak dan melambaikan tangannya pada Narin, dilihatnya juga Kyu membungkuk padanya. Dipandanginya mereka sampai benar-benar menghilang.

Dan soal Kyu rasanya yang ini membuat Narin ingin tertawa. Selama ini dia tidak pernah cemburu atau iri pada orang-orang yang punya pacar. Walaupun diumurnya yang sudah 19 ini dia belum pernah merasakan yang namanya punya kekasih, tapi dia tidak pernah ambil pusing. Sendiri itu menyenangkan baginya.

Tapi sejak mengenal Kyu dan Hyuna, ada rasa iri yang perlahan-lahan muncul. Dia juga ingin memiliki sesosok “Kyu”. Bukan, bukan dia mau merebut Kyu dari Hyuna. Dia masih waras, tidak mungkin dia menyukai kekasih sahabatnya sendiri. Dia juga tidak punya perasaan apapun pada Kyu. Mereka hanya berteman. Hanya saja Kyu itu persis seperti sosok kekasih yang ingin dimilikinya jika memang dia punya pacar. Dia ingin punya kekasih yang perhatian padanya. Bukan romantis karena Narin benci hal-hal seperti itu. Baginya itu menggelikan. Perhatian tapi bukan romantis. Dua hal itu punya definisi yang berbeda baginya. Dia suka tipe sedikit bad boy seperti Kyu, yang bersikap seperti tidak perduli padahal perhatian. Yang pura-pura marah padahal khawatir. Hihii.. Dia tersenyum membayangkannya.

Seperti saat Narin mendengar Kyu bertanya, “Ya!! Hyuna-ya, kau sudah makan?? Ini sudah jam berapa?? Kau mau cari mati ya?? Cepat makan!!”. Walaupun Kyu mengucapkannya seperti orang yang mengajak perang tapi Narin bisa merasakan bahwa seperti itulah bentuk perhatian Kyu terhadap Hyuna. Tidak perlu mengucapkan kata-kata gombal seperti “Jagiya, kenapa kau belum makan?? Aku tak ingin kau sakit. !!”. Ihh membayangkannya saja membuat Narin merinding. Dia alergi yang romantis-romantis. Terlalu menggombal.

Itulah salah satu yang disukainya dari Kyu. Dia menyukai sikapnya yang mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara yang berbeda. Sekali lagi bukan karena dia menyukai Kyu, tapi sikapnyalah yang disukainya. Tanpa sadar dia jadi sering memuji-muji Kyu didepan Yoojin onnie dan Donghae. Mengatakan bahwa orang seperti Kyulah tipe idealnya jika dia punya pacar nanti..

“Ya!! Jangan bilang kau cemburu melihat mereka!!”.

Narin tersentak dari lamunannya dan mendapati Donghae sudah duduk di depannya.

“Sejak kapan kau ada disini?? Kau mengejutkanku!!”. Dielusnya dadanya pelan.

“Sejak Kyu dan Hyuna pergi sampai mereka tidak terlihat lagi. Dan selama itu aku duduk disini dan kau tidak menyadarinya, karena kau terlalu sibuk menatapi mereka.” jawab Donghae. “Kenapa?? Kau cemburu pada mereka??” tanyanya lagi.

“Apa maksudmu??” Narin gelagapan. Bagaimana bisa Donghae tau apa yang difikirkannya.

Donghae menggelengkan kepalanya, wajahnya sedih. “Kau tak boleh seperti itu Rin, dia sahabatmu” ucapnya pelan dan lirih.

“Kau bilang apa??”

“Tidak ada. Ayo pulang.” tarik Donghae.

“Sebenarnya untuk apa kau datang?? Aku kan tidak minta kau datang.” tanya Narin sambil melepaskan genggaman tangan Donghae. Donghae memandang sedih tangannya yang dihempaskan Narin pelan, “Tentu saja untuk menjemputmu, apa tidak boleh??” tanyanya lesu.

Kenapa sih anak ini?? pikir Narin, tidak biasanya dia selesu ini. ” Untuk apa kau capek-capek melakukannya,kau kan bisa melakukan pekerjaan yang lebih penting misalnya membantu Yoojin onnie atau apa. Aku bisa pulang sendiri. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tak perlu dibantu terus.” ucap Narin ketus.

Donghae menghela nafas. “Bagiku ini juga penting Rin. Aku senang melakukannya, jadi biarkan aku melakukannya.”

“Terserahmu sajalah.”

-tbC-

Kyakyakyakya….

FF series pertama, sangat tidak pede, membosankan gak ya,

nyambung gak ya, menarik gak ya, layak dibaca gak ya—-

Stress saya memikirkannya..

Berharap ada yang mau baca plus ngomen, benar-benar

butuh pencerahan dari orang nih…😄

Annyeong—/lambailambaibarenghae/

Need ur Comment Please—-

12 thoughts on “Foul Love Story – Foul 1

  1. bagus kok.. cuman aku ngerasa pengenalan tokohnya telat gitu.. jadinya pas awal baca gatau mereka berdua siapa, hubungannya apa, gitu.. mungkin bagus juga kali ya, bikin pembaca penasaran.. hehe..

    oiya, annyeong saya reader baru.. =) *bungkuk

    • bikin bingung ya??
      keke- harap maklum, masih amatir, ntar blajar lagi deh..

      annyeong juga,, saya juga masih baru koq…
      salam kenal juga. Anggap aja rumah sendiri….

      sering2 mampir ya..
      Annyeong~~~~~~

  2. annyeong ^^
    mendarat disini hehehe…
    ternyata gaya tulisan kmu memang manis hehehe…
    suka deh bacanya…

    karena aku ketinggalan disini aku mw blg suka sama konflik dasarnya…
    dan sedikit penasaran sama background keluarga Narin dan Donghae.
    Aku lanjut yaaa

  3. anyeong~ reader baru disini ^^
    bagus nih ceritanya
    aq sukaaaaa bangettt bahasa kamu yang dibagian ngejelasin ingin memiliki sesosok “Kyu” >.<

  4. Narin greget. Dia gagal peka/? Pen aku tampol itu pala si narin biar sadar/? :v
    Donge disini ternistakan ya. Bhay. ><
    Banyak yg kasian itu sm si ikan. :p
    Dongenya aja yg kurang teges apa narinya sih yg kelewat bodoh/? Kan gereget kalok gitu. :v
    Dr awal uda jelas donge suka narin. Tp narin msh blm ada tanda tanda. Mdh mdhan si donge gapatah hati aja/?

    • Tampol aja deh, saya ikhlasin…
      Emg si donge ternistakan ya? Hahaha, padahal saia gak bermaksud kejam lho ama dy.. Dy nya aja yg mukanya bikin org pengen menistakan dy..
      Hehhehe… mianhae haehae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s