[OneSpace] Stay Here, Please

“Pergilah..”

Gadis itu tersenyum pedih lalu perlahan melepaskan tangannya dari gengaman Donghae lalu berbalik hendak pergi menerobos hujan, tak memperdulikan sweater putihnya yang mulai basah.

Donghae terpaku di tempatnya. Tidak. Ini semua tidak benar. Tidak bisa seperti ini. Tidak boleh. Dia pun berlari mengejar gadisnya, menarik tangannya dan memaksanya berbalik.

“Tidak bisa. Kenapa?? Ada apa?? Kenapa harus seperti ini??” tanyanya frustasi. Hujan deras kini telah membasahi seluruh tubuhnya.

Gadis itu tersenyum lalu menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”

“Lalu kenapa??” Donghae berteriak tidak puas dengan jawaban yang diberikan gadis itu.

Gadis itu terdiam menatap mata Donghae. Mereka saling bertatapan. Sepasang lelaki dan perempuan berdiri di bawah hujan sambil berpegangan tangan. Bagi sebagian orang pemandangan ini mungkin saja terlihat romantis, walau mungkin bagi sebagian yang lain menganggap ini adalah hal bodoh. Tapi bagi mereka berdua tak ada yang lebih menyakitkan dari ini semua. Derasnya suara hujan tak sanggup memecah keheningan antara mereka berdua. Tak ada yang berniat untuk memulai duluan. Keduanya terdiam bagai membisu. Hanya bertatapan pedih berharap semua ini tidak terjadi.

“Hae-ya…” Gadis itu akhirnya mengalah. “Tidak ada apa-apa. Hanya saja… Hanya saja aku merasa ini tidak benar.” Gadis itu diam menunggu reaksi, tapi Donghae hanya diam menanti, menuntut gadis itu untuk melanjutkan. Sang gadis pun mendesah tahu bahwa dia memang harus melanjutkan.

“Ini tidak benar. Aku tidak seharusnya bersamamu. Aku tidak pantas ada disampingmu. Bahkan untuk berjalan di belakangmu pun aku seharusnya tidak boleh. Kita tidak sama. Kita memang tidak sama. Kau dan aku sama-sama tau itu. Jadi…” Gadis itu diam menghela nafas. Memejamkan matanya untuk beberapa waktu lalu kembali menatap mata Donghae dan tersenyum.

“Jadi teruslah berjalan lurus ke depan. Tak perlu melirik ke samping atau ke belakang. Kau tau aku pasti akan selalu mendukungmu walau kau tak lagi bisa melihatku… Pergilah.” Gadis itu melebarkan senyumnya walaupun matanya kelihatan sekali dia sedang menahan tangisnya. Lalu perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Donghae untuk yang kedua kalinya.

“Kenapa?? Kenapa kau bisa tersenyum seperti itu?? Apakah ini semua terasa lucu bagimu?? Apakah selama ini semuanya hanyalah lelucon bagimu?? Semuanya ini hanya sekedar main-main untukmu??” Donghae terisak tak lagi sanggup menahan. Semua ini terlalu berat untuknya. Terlalu tiba-tiba.

Tangan gadis itu bergerak menghapus air mata  di pipi Donghae. Walaupun tertutupi hujan dia sangat tahu kalau lelaki yang ada dihadapannya ini menangis. Air matanya yang jatuh terasa hangat di tangan gadis itu. Dia mengelus pipinya pelan, tak suka dengan kenyataan bahwa dialah yang membuat orang yang sangat disayanginya ini menangis.

“Hae-ya…, aku tersenyum karena aku bahagia. Aku bahagia aku pernah menjadi bagian penting dari hidupmu, aku bahagia aku pernah menghabiskan waktuku bersamamu. Aku bahagia akan semua hal yang kita lewati bersama. Aku bahagia kau pernah menyayangiku, karena itu aku tersenyum.”

“Sampai saat ini pun aku tetap menyayangimu..” lirih Donghae.

“Aku tahu. Aku tahu itu. Karena aku juga akan tetap menyayangimu sampai kapanpun.” Gadis itu mengangguk meyakinkan.

“Lalu menga-??” Donghae terdiam saat jari telunjuk gadis itu menyentuh bibirnya menyuruhnya berhenti berbicara.

“Ssshhh..Berhentilah bertanya Hae. Kau pasti akan mengerti. Suatu saat nanti kau pasti akan mengerti”

Donghae kembali menangis. Badannya yang basah kuyup membuatnya menggigil. Dia tak tau lagi apa yang harus dilakukan. Gadis di depannya ini begitu yakin dengan semua yang diucapkannya. Membuatnya terdiam tak lagi bisa memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk membuat gadis ini tetap tinggal. Tetap disisinya. Dia hanya bisa menangis pedih. Mengasihani dirinya sendiri. Berusaha mempersiapkan dirinya untuk benar-benar kehilangan, walaupun dia yakin sampai kapanpun dia tidak akan pernah siap. Tubuhnya bergetar campuran antara tangisnya dan dinginnya air hujan.

“Berhentilah menangis alienku sayang dan pergilah..” Gadis itu berusaha membuatnya tertawa tapi tak ada yang bisa mengalihkannya dari rasa sakit ini sekarang. Dia hanya bisa terdiam, memandangi gadisnya yang berjalan menjauhinya. Tidak. Tidak bisa. Jangan Pergi. Otaknya menyuruhnya untuk mengejar gadisnya itu tapi kakinya seperti dipaku ditempat, sama sekali tidak bisa bergerak mengikuti perintah otaknya.

Gadis itu semakin lama semakin menjauh. Air hujan dan air matanya menghalanginya untuk melihat gadisnya itu lebih jelas. Tidak . Tidak . Jangan pergi. Dia ingin berteriak namun sialnya lidahnya pun terasa kaku. Tidak. Tetaplah tinggal disini. Kumohon…. pintanya dalam hati tapi gadis itu terus saja berjalan hingga akhirnya menghilang, tak terlihat lagi. Pergi.

Donghae terduduk lemas, dia menjerit menyakitkan dalam hatinya, merutuki semuanya. Hujan turun semakin deras seakan ingin mengejeknya. Dia menangis dan terus menangis. Jangan pergi. Jangan pergi. Tinggallah disini, kumohon.. pintanya terus menerus.

Stay here, please…..

***

Donghae tersentak bangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Rambut dan wajahnya basah dengan keringat. Tapi dia yakin yang membasahi pipinya adalah air matanya. Dia kembali mengingat mimpinya tadi, mimpi yang menakutkan. Mimpi yang tak pernah ia harapkan terjadi. Mimpi… Ya, mimpi. Dia sedikit lega itu hanya mimpi, walaupun ada perasaan takut tapi dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu memang hanya mimpi.

Dia menghapus air matanya asal lalu bergerak menggapai handphonenya, memencet nomor yang sudah sangat dihapalnya dan menunggu suara gadis yang sangat disayanginya itu terdengar. Gadis yang dalam mimpinya tadi meninggalkannya sendirian. Gadis yang tadi membuatnya menangis begitu kencang dibawah dinginnya hujan malam.

“Yoboseyo??” Terdengar suara dari seberang. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir. Itu suara gadisnya. Dia tidak pergi seperti dalam mimpinya tadi. Dia masih ada disini. Masih tetap disampingnya.

“Hae-ya…” panggil suara itu lagi karena tak mendapat jawaban.

“Hai..” sapa Donghae pelan, hanya itu yang bisa diucapkannya sekarang karena memang yang sekarang diinginkannya hanyalah mendengar suara gadis itu, meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya mimpi.

“Ada apa?? Kau ada masalah??” tanya gadis diseberang. Sepertinya dia tahu ada yang tidak beres.

“Kau belum tidur??” tanyanya balik mengalihkan pembicaraan

“Ini masih jam 10 malam dan aku masih mengerjakan tugasku. Jangan mengalihkan pembicaraan. Ada apa??”

Donghae kembali mengingat mimpinya tadi dan tanpa sadar membuatnya terisak. Cepat-cepat dia menutup mulutnya tak ingin gadis itu tahu dia sedang menangis. Tapi sayang dia kalah cepat.

“Kau menangis?? Ada apa?? Leeteuk Oppa memarahimu?? Atau kau bertengkar dengan Eunhyuk Oppa??” tanya gadis itu lagi sedikit khawatir.

Donghae menggeleng lalu cepat-cepat menjawab setelah sadar bahwa gadis itu tak bisa melihatnya. “Tidak.”

“Lalu??”

“Apa kau menyayangiku??”

Tak terdengar suara dari seberang sana untuk beberapa lama.

“Hae… apa yang terjadi?? Kenapa tiba-tiba kau-”

“Tolong jawab saja.” desak Donghae tak sabar.

Terdengar helaan nafas dari seberang. ” Tentu saja aku menyayangimu Lee Donghae. Masihkah kau harus mempertanyakan hal itu??” tanya gadis itu.

“Apa kau mau berjanji tidak akan meninggalkanku untuk alasan bodoh apapun??” tanyanya lagi.

“Demi Tuhan Lee Donghae. Walaupun aku tak tahu ada apa denganmu sekarang tapi aku barjanji tidak akan meninggalkan alienku.” jawab gadis itu tegas.

“Terima Kasih. Hanya itu yang sangat ingin kudengar saat ini. ” desahnya lega.

“Lalu, maukah kau menjadikanku pendengarmu?? Tapi tak apa kalau kau belum mau bercerita. Aku tak kan memak-”

“Aku mimpi buruk.” Donghae memotong perkataan gadis itu lalu menceritakan tentang mimpinya tadi. Seluruhnya. Sambil kembali menangis. Such a cry baby. Tapi dia tak perduli. Itulah yang dirasakannya sekarang. Tanpa dia sadari, dia telah membuat gadis diseberang sana pun ikut menangis.

“Itu semua hanya mimpi alienku sayang. Jangan mengingat-ingatnya lagi. Berjanjilah, ok?? Itu hanya mimpi.” ucap gadis itu menenangkannya.

“Aku sedang berusaha.”

“Good kid. That’s my alien.”

“Berjanjilah untuk terus disampingku. Jangan pernah meninggalkanku.” pintanya untuk yang kedua kali.

“Aku berjanji.”

Perasaan lega merasuki perasaannya. Mendengar janji itu dia merasa tenang. Air matanya sudah berhenti mengalir. Senyum pun muncul di wajahnya.

“Please, Stay beside me” ucapnya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

“I promise you. I will beside you. Eventhough, that the fact that we are not the same but I will try as my best to stay beside you. I love you the way you are, not to make who you are become a problem between us. I love you and thanked you for loving me back..”

“Eeerrr… Apa artinya??” tanya Donghae sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Aku hanya tau I love you saja.”

“Aissh… sudahlah, percuma aku mengatakannya” jawab gadis itu kesal. “Pergilah tidur lagi. Kalau Leeteuk Oppa tidak ada, cari Eunhyuk Oppa atau siapa saja untuk menemanimu agar kau tidak sendirian.”

“Tidak. Aku ingin kau yang menemaniku. Teruslah bicara sampai aku tertidr. Kau mau kan??” pintanya dengan nada memelas.

“Tapi apa yang harus kuucapkan???” tanya gadis itu sedikit histeris.

“Apa saja.”

“Tapi apa?? Aku tidak bisa memikirkannya…”

“Apa saja, kumohon.” pintanya lagi.

“Apa saja??”

“Hmm”

“Baiklah.. Baiklah.. Bagaimana kalau aku mengucapkan semua yang sudah kuhapal untuk ujianku besok. Sekalian membantuku untuk lebih mengingatnya.” tawar gadis diseberang. Donghae pun tertawa pelan.

“Terserah padamu Miss Genius, asal aku bisa mendengar suaramu.”

“Baiklah. Aku mulai. Hipotesis Nebula Kant menyebutkan bahwa ehm… bahwa tahap awal tata surya adalah kabut raksasa terbentuk dari debu, es dan gas yang disebut nebula dan sebagian Hidrogen. Gravitasi menyebabkan kabut menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa atau disebut-”

***

Gadis itu berhenti saat mendengar dengkuran pelan dan mencoba memastikannya. “Hae…” panggilnya pelan. Tak ada jawaban yang artinya bahwa aliennya itu sudah masuk ke alam mimpi. Semoga saja mimpinya kali ini indah bersama alien-alien lain di luar angkasa.

“Akulah yang seharusnya mengatakan hal itu padamu alienku sayang. Karena kaulah yang setiap saat bisa saja meninggalkanku. Jangan pernah tinggalkan aku. Stay here beside me, please.” bisiknya pelan lalu menutup flip handphonenya.

16 thoughts on “[OneSpace] Stay Here, Please

  1. Hai
    saia reader baru hehe
    jalan2 trnyata nemu ni wp hoho
    hanna imnida,, d suju donghae bias aq hehe

    sukaa bgt ma ff ini…
    Kykny ni bkal jd couple favorit aq hoho

    • Hai jugaaaaaaaaaaaa Hannnnaaaa…..//pake toa//
      ceritanya ketemu ditengah jalan donk?? Ada duitnya kagak??/taboksaya/

      bias-nya donghae?? Saya juga lho!! *pamer*

      couple fav??? Saya jadi blushing kayak bada nih!!!!
      terima kasih udah suka..
      Sering2 mampir.~~~~ CHU~

    • annyeonnng jugaaaa….
      saya juga masih baru koq..

      so suit suit….
      gak usah iri, ntar juga kebagian koq..kke–

      dipanggil onnie, ketauan deh tuanya saya..
      tpi gpp deh..

      sering2 mampir….
      Annyeon~~~~

  2. eiiiyyy~ abang donghae manja deeeh~ mimpi buruk aja sampe nangis2 gitu. wkwkwkwk. kalah sama aku, aku gak pernah inget udah mimpi apa tiap malem. *gak nyambung amat ini omongannya??* O,o

    • udah manja, suka merengek, ganteng, cakep, keren(??)*gaknyambung…

      saya juga, kalo udah mimpi, kagak pernah ingat apa yg diimpiin…

      TenKyu udah komen, sering2 mampir…
      Anyyeong~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s